210910 Pelajaran dari Sidak RI-1

Pemeriksaan Mendadak (Sidak) yang dilakukan oleh Presiden SBY di Pospol AJU Cikopo dalam rangka memantau arus balik Lebaran 2010 pekan lalu harusnya menjadi  pelajaran bagi pemangku kepentingan di industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Seperti diketahui, RI-1 merasa terganggu dengan buruknya  koneksi CCTV yang terdapat di  Pospol tersebut.  Tanpa berfikir panjanga karena menganggap akses komunikasi identik dengan Telkom grup, maka RI-1 langsung “menyemprot”  dua petinggi  perseroan (Dirut Telkom dan Telkomsel) karena tidak memberikan layanan yang optimal. Bahkan, Menneg BUMN Mustafa Abubakar sebagai bos langsung tidak mau ketinggalan, tanpa pikir panjang surat peringatan dikeluarkan kepada dua eksekutif itu.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno adalah sosok pertama yang memberikan respon dengan mengatakan untuk CCTV tidak menggunakan jaringan 3G Telkomsel walaupun operator ini memiliki layanan serupa dengan kode akses 9119. “Beberapa sites yang kami miliki memang sensitif, tetapi ini tidak ada hubungan dengan sidak yang dilakukan RI-1,” ungkapnya kepada Koran Jakarta, pekan lalu.

Lantas jika bukan menggunakan jaringan Telkomsel, tentu mata beralih kepada Telkom.  Menkominfo Tifatul Sembiring mengungkapkan,  sejak H-7 hingga H+7, Telkom memasang 6 CCTV dan 10 operator telekomunikasi lainnya untuk ikut membantu layanan. Layanan itu terhubung langsung ke Kementerian Perhubungan dan Polri.

Namun, kabar beredar mengatakan, sebenarnya untuk conference call dan CCTV di Pospol tersebut kala RI-1 Sidak menggunakan pihak ketiga, sedangkan jaringan yang digunakan walaupun milik Telkom tetapi  dipakai bersama-sama untuk publik.

Padahal, untuk menyelenggarakan layanan Conference Call atau CCTV membutuhkan konsumsi data yang tinggi sehingga diperlukan jalur Virtual Private Network (VPN) alias dedicated line bagi layanan ini. Konon, persiapan untuk menyambut hadirnya RI-1 di jalur tersebut juga tidak maksimal, karena Pospol AJU tidak termasuk dalam rute awal.

Alhasil, RI-1 diibaratkan melalui jalanan protokol di waktu sibuk tanpa pengawalan khusus. Tentunya kemacetan ditemukan dimana-mana.

Pelajaran yang dipetik dari kejadian ini  adalah pentingnya membangun  backbone jaringan data  di Indonesia  karena selama ini pembangunannya tidak menjadi prioritas layaknya jembatan atau jalan raya. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pun dana untuk TIK sangat kecil karena bukan infrastruktur dasar.

Padahal, Boston Consulting Group Inc belum lama ini sudah memasukkan Indonesia bersama  Brazil, Russia, India, dan  China pada 2015 nanti sebagai lima negara dengan total  1.2 miliar pengguna Internet. Saat itu, akses Internet akan banyak datang dari komputer pribadi dan ponsel. Telkom Grup sebagai pemilik 111 juta pelanggan akan menuai keuntungan besar dari kondisi tersebut.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menegaskan, saatnya pemerintah mengoptimalkan penggunaan dana Universal Service Obligation (USO) untuk pembangunan serat optik hingga tingkat kecamatan dan menambah Indonesia Internet Exchange  agar broadband ekonomi terwujud.

“Dana untuk membangun backbone dari serat optik  itu ada yakni kutipan USO yang diatas 1,2 triliun rupiah setiap tahunnya. Kendalanya tidak ada payung hukum yang jelas penggunaanya untuk infrastruktur broadband,” keluhnya.

Berdasarkan catatan, di Indonesia  95 persen trafik data dibawa oleh wireless. Bandingkan dengan negara maju dimana wireless hanya kebagian 60 persen trafik dan sisanya melalui serat optik. Kondisi ini banyak disayangkan karena esensi broadband adalah terjaminnya ketersedian serat optik mengingat konsumsi data terus meningkat, seperti memantau arus balik melalui CCTV atau bekrkomunikasi melalui video conference.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s