210910 Konsolidasi Flexi-Esia Picu Monopoli

JAKARTA–Rencana konsolidasi  antara Flexi dan Esia yang akan dilakukan oleh PT Telekomunikasi Indonesia  Tbk (Telkom) dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dikhawatirkan akan memicu praktik monopoli di pasar Fixed Wireless Access (FWA) mengingat dua pemain adalah penguasa di jasa tersebut.

Plh. Kepala Biro Humas dan Hukum
Kepala Bagian Advokasi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)
Zaki Zein Badroen mengharapkan, untuk mencegah monopoli kedua pemain  melakukan konsultasi kepada lembaganya seperti  diatur dalam  PP No. 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

“Kedua perusahaan tersebut mendominasi pasar FWA, jika digabung kita mengharapkan  tidak melanggar Pasal 28 dan 29 Undang – Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat,” tegasnya di Jakarta, Senin (20/9).

Berdasarkan catatan, kedua perusahaan menguasai 80 persen pelanggan FWA. Flexi
memiliki 16,2 juta pelanggan, sementara Esia sekitar 11,1 juta pengguna. Hal yang sama berlaku untuk alat produksi, Flexi memiliki 5.600 BTS sedangkan Esia sekitar 4 ribu BTS.

Ditegaskannya, jika hasil kajian berpotensi mengakibatkan praktek monopoli  KPPU berwenang untuk membatalkan merger tersebut.

Secara terpisah, pengamat keuangan Yanuar Rizky menyarankan Telkom  untuk melakukan ekspansi ke luar negeri ketimbang melakukan konsolidasi dengan pemain lokal.

“Saat ini Telkom adalah operator yang over likuiditas dibanding pemain lainnya. Harusnya mulai berfikir untuk melebarkan sayap ketimbang melirik pemain lain yang dililit hutang,” ungkapnya.

Menurut Yanuar, jika Telkom melakukan aksi konsolidasi dengan BTEL maka perusahaan itu sama saja ikut menalangi hutang BTEL yang menumpuk dan Flexi tidak dibawah kendali Telkom.

Berdasarkan laporan keuangan BTEL  per Juni 2010, pada 16 Juli 2010 salah satu emiten Grup Bakrie ini kembali berutang sebesar 30 juta dollar AS.Setelah itu pada  12 Agustus 2010 berhutang RMB 2 miliar dari Industrial and Commercial Bank of China dan Huawei Technologies Co. Ltd.

Tambahan utang ini membuat  beban bunga yang dibayarkan oleh BTEL kembali menanjak sehingga menekan bottom line perseroan. Tercatat,  laba bersih BTEL pada semester I lalu anjlok drastis 96,29 persen dari 72,8 miliar rupiah menjadi tinggal 2,7 miliar rupiah.

Sementara Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menegaskan, konsep tidak adanya keluar dana dari perseroan dalam bersinergi dengan BTEL tetap akan dijaga.

“Hingga kini pembahasan sinergi  sudah pada tingkat struktural dan bersifat penting, seperti valuasi. Perseroan pun sedang memproses izin dari KPPU dan BRTI untuk mendapatkan restu. Kalau sudah tercapai kesepakatan, kami akan membuat dulu MoA,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s