091010 Biarkan “Merah Putih” Berkibar

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mempublikasikan total dividen bagian pemerintah dari semua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 27 Juli 2010 mencapai 26 triliun rupiah.

Sebanyak 10 BUMN menjadi penyumbang terbesar dividen bagi pemerintah pusat. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menjadi penyumbang kedua terbesar setelah Pertamina dengan kontribusi bagi total dividen mencapai 12,8 persen.

Kinerja Telkom sendiri pada semester I 2010 tidaklah begitu jelek. Tercatat, perseroan membukukan laba bersih 6,003 triliun rupiah atau turun 0,7 persen dibanding periode sama sebelumnya 6,043 triliun rupiah. Sedangkan pendapatan naik lima persen dari 32,61 triliun rupiah menjadi 39,87 triliun rupiah.

Penurunan tersebut dikarenakan melonjaknya pos beban usaha dari 21,03 triliun rupiah menjadi 22,88 triliun rupiah atau naik 9 persen.

Pemicu lainnya adalah adanya selisih kurs, juga karena adanya investai besar-besaran di awal tahun yang mengakibatkan terjadinya depresiasi. Belum lagi perseroan juga memajukan pembayaran hak cuti karyawan yang seharusnya dibayar pada semester I, serta pos pengeluaran untuk Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi untuk tahun 2009 yang dibayarkan pada 2010.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menegaskan, perseroan sudah berada dalam jalur yang benar menghadapi persaingan industri telekomunikasi, khususnya langkah mentransformasi perusahaan menjalankan visi bisnis Telecommunication, Information, Media, dan Edutainment (TIME).

“Kami sudah berjalan dua langkah di depan ketimbang pesaing. Ini karena pengalaman membuat Telkom menjadi matang. Selama ini kami terantuk-antuk sehingga menjadi lebih dewasa,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Secara kinerja keuangan jajaran manajemen Telkom memang menunjukkan hasil yang positif. Hal itu dapat dilihat dari nilai kapitalisasi perseroan yang mencapai 180 triliun rupiah. Namun, harus diingat nilai dari satu perusahaan tidak hanya masalah kinerja keuangan. Terdapat faktor lain yang mempengaruhi seperti pertumbuhan industri terkait, indikator makro ekonomi di pasar, psikologi investor, dan aksi korporasi yang membangun dan memanfaatkan momentum.

Berbicara membangun dan memanfaatkan momentum, bisa dikatakan Telkom sering agak kedodoran. Semua ini tak bisa dilepaskan dari masih dijadikannya BUMN sebagai mainan dari penguasa sehingga peluang yang harusnya bisa dioptimalkan menjadi lepas.

Untuk kasus ini bisa banyak hal yang bisa diapungkan. Contohnya, penetapan jajaran direksi baru, khususnya untuk posisi Telkom-1 (Dirut) yang masih terkatung-katung sehingga membuat beberapa aksi korporasi menjadi tertunda. Belum lagi kiprah Telkom di luar negeri melalui Telkom Internasional yang seyogianya menjadi alat untuk melebarkan sayap “Merah Putih” menjadi lamban karena segala sesuatunya harus mendapatkan persetujuan dari pemegang saham.

Padahal, jika birokrasi bisa dipotong, niscaya “Merah Putih” sudah berkibar di beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Kamboja berupa masuknya Telkom sebagai pemain utama di kedua negara tersebut.

Sekarang semua tergantung kepada pemerintah sebagai pemegang saham, sudah puaskah Telkom hanya sebagai jago kandang atau membiarkannya menjadi macan yang menakutkan bagi industri telekomunikasi global [dni]