090910 Penggunaan Frekuensi 2,5 GHz Harus Dikompromikan

JAKARTA—Pemerintah diminta untuk secara bijaksana memperlakukan frekuensi 2,5 GHz agar terjadi kompromi antara kepentingan pelaku usaha teresterial dan satelit.

“Secara global, frekuensi 2,5 GHz lebih diakui sebagai alokasi terrestrial ketimbang satelit. Namun, jika ada satelit Indonesia yang memakai frekuensi 2,5 GHz untuk kepentingan bangsa, itu tidak menjadi masalah. Banyak juga praktik seperti ini terjadi di luar negeri,” ungkap Pengamat Satelit Kanaka Hidayat kepada Koran Jakarta, Rabu (8/9).

Untuk diketahui, spektrum 2,5 GHz sebesar 150 MHz dikuasai oleh  Media Citra Indostar (MCI). Penguasaan sebesar itu dianggap  mubazir karena hanya bisa dinikmati oleh pelanggan TV  berbayar dengan maksimal  500 ribu jiwa. Sedangkan jika diberikan untuk akses teresterial bisa dinikmati oleh 10 juta pelanggan. Padahal, World Radiocommunication Conference 2000 (WRC) pun  menyatakan  frekuensi 2,5 GHz dilakosaikan  untuk teristerial baik itu  pengembangan 3G atau WiMAX.
Pada tahun lalu kepemilikan Protostar II (nama lain Indostar II) berubah seiring bangkrutnya mitra MCI yakni Protostar Ltd. SES World Skies (SES) membeli satelit tersebut seharga  185 juta dollar AS, sehingga kepemilikan satelit sekarang diklaim oleh MCI adalah milik bersama dengan perusahaan Perancis itu.
Kabar beredar karena ada dua kepemilikan, satelit ini memiliki nama  untuk penyiaran dengan S-band dinamai Indostar-II, sedangkan jasa KU-band diberikan nama  SES-7. KU-band digunakan melayani  Asia Selatan dan Tengah, serta menyerempet wilayah Sumatera.
Menurut Kanaka, masalah di spektrum 2,5 GHz bisa diselesaikan jika frekuensi yang ada penggunaannya berbagi dengan pelaku usaha teresterial. “Biasanya penyelenggara broadband itu butuh frekuensi 30 Mhz. Nah, sekarang tergantung negosiasi pemerintah dengan pemain lama di frekuensi 2,5 GHz untuk mengurangi jatahnya. Jika masalah ini tidak terselesaikan, masalah legalitas kepemilikan Indostar II akan terus dirongrong oleh industri,” katanya.

Berkaitan dengan wacana dari regulator yang akan melelang frekuensi teresterial yang ditempati oleh satelit, Kanaka meminta faktor uang tidak menjadi tumpuan utama sebagai tujuan. “Uang tidak menjamin kesejahteraan masyarakat. Hal yang ideal jika   mau lelang adalah menggunakan beberapa parameter selain uang seperti  kualitas layanan, bentuk badan usaha, jaringan terpencil, harga terjangkau , tanggung jawab sosial, layanan masyarakat  dan lainnya,” katanya.[dni]

090910 Uji Jaringan Flexi Memuaskan

JAKARTA—Layanan Fixed Wireless Access (FWA) milik Telkom, Flexi, berhasil menunjukkan kinerja yang memuaskan kala diuji secara langsung di lapangan dalam menghadapi lonjakan trafik komunikasi kala Lebaran nanti.

“Hasil pengetesan langsung di lapangan menunjukkan   End Point Service Availability  mencapai 99,2 persen alias di atas standar regulator yang   90 persen.  Hal ini menunjukkan tingkat  drop call berhasil dikurangi dan   ketersambungan komunikasi dijamin berhasil dengan baik,” ungkap EGM Telkom Flexi Triana Mulyatsa di Jakarta, Rabu (8/9).

Sedangkan  kinerja untuk  layanan SMS mencapai 97,9 persen atau diatas standar rata-rata sebesar   75 persen. “SMS tetap akan menjadi andalan untuk berkirim pesan ucapan selamat Lebaran. Tingkat kesuksesan pengiriman yang tinggi akan  menjamin pesan   diterima oleh nomor yang dituju, sehingga pesan komunikasi berjalan lancar,” katanya.

Diingatkannya, bagi pelanggan yang akan berpergian keluar kota untuk tidak lupa mengaktifkan layanan Flexi Combo dengan menekan *777 yes/ send dimanapun. Pengisisan pulsa juga bisa dilakukan di daerah combo baik itu melaui voucher elektronik dengan mengisikan ke nomor induknya atau voucher fisik langsung di daerah combo.

Sebelumnya, Flexi telah  menyiapkan 3,5 juta nomor combo, bahkan secara sistem disiapkan kelonggaran 20-30 persen dari kapasitas tersedia guna mengatasi lonjakan permintaan kala pelanggan mudik  Sedangkan untuk mengantisipasi lonjakan pengiriman SMS, Flexi menyediakan dua SMS center yang mampu menangani 8 juta SMS per hari. Selain itu, untuk menangani pengiriman SMS ke operator GSM, disediakan gateway khusus yang mampu memproses 10 ribu SMS per detik.

Sementara  itu, Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan, telah mengalokasikan dana sekitar 4 miliar rupiah  untuk program “Mudik Gratis Bersama TelkomGrup 2010”, yang merupakan bagian dari dana corporate social responsibilty (CSR).

Diungkapkannya,  program mudik gratis TelkomGrup tahun ini memberangkatkan sekitar 4.000 orang dari kalangan mitra kerja, frontliner (tenaga penjual produk) Telkom, hingga pedagang pulsa di pinggir jalan.

Pada 2010 perseroan menganggarkan dana CSR sebesar 90 miliar rupiah dan baru sebesar 40 miliar yang sudah direalisasikan.

Adapun penggunaan dana CSR, selain untuk program mudik yang sudah dilakukan rutin dalam 10 tahun terakhir, juga seperti “internet goes to campus”, santri indigo, pelatihan guru, bantuan untuk mesjid dan rumah ibadah, termasuk bantuan bencana alam.[dni]

090910 Modernisasi Jarakses Telkom : Upaya Menghadirkan Data Kecepatan Tinggi

Usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melakukan modernisasi 8 juta Satuan Sambungan Layanan (SSL) jaringan kabel tembaga sejak tiga tahun lalu mulai membuahkan hasil. Sebanyak satu juta SSL dimana 40 persen berada di Jabodetabek telah berhasil diremajakan alias diganti dengan serat optik sehingga mampu menghadirkan akses data kecepatan tinggi.

Rencananya, sebanyak  70 persen  jaringan  dimodernisasi dengan Multi Service Access Network (MSAN) yang memiliki  kemampuan menyalurkan bandwidth hingga  20 Mbps dan 30 persen  melalui Gigabyte Passive Optical Network (GPON) dengan kemampuan menyalurkan bandwidth hingga  100 Mbps. Kedua komponen ini memegang peranan penting mengingat setelah jaringan tembaga diganti dengan serat optik dibutuhkan perangkat aktif untuk menyalurkan data ke pelanggan.

Selain  8 juta SSL yang akan diganti dengan serat optik, Telkom telah berhasil membuat jaringan akses fully copper (tembaga)  sebesar  2 juta SSL yang  mampu menyalurkan bandwidth antara 1 Mbps hingga 4 Mbps.

Executive General Manager Akses Telkom Muhammad Awaluddin mengungkapkan,  dalam lima tahun ke depan upaya pengembangan infrastruktur jaringan akses  akan fokus pada penyediaan akses optik secara penuh hingga ke rumah-rumah atau gedung-gedung dengan target komposisi jaringan akses FTTE (end-to-end copper) 15 persen, akses FTTC (Fiber to the Curb) yang menggunakan teknologi Multi-Service Access Node (MSAN), Gigabyte Pasive Optical Network (GPON) dan VDSL 70 persen , serta akses FTTB/H (Fiber to the Building/Home) 15 persen.

Rencana ini perlu direalisasikan karena kapasitas true broadband alias akses dengan kecepatan 20 Mbps dan 100 Mbps yang di tahun 2010 diperkirakan hanya mencapai 21 persen, maka pada 2015 akan berkembang menjadi 85 persen.

“Untuk tahun ini sudah disiapkan dana 1,2 triliun rupiah meremajakan jaringan tembaga. Rencananya tahun depan minimum alokasinya sama. investasi diambil dari belanja modal setiap tahunnya,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Berdasarkan catatan, pada tahun ini Telkom memiliki belanja modal sebesar 20,6 triliun rupiah lebih tinggi 6,25 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 19,2 triliun rupiah. Sedangkan pada 2011 direncanakan besarannya sekitar  20,4 triliun rupiah. Perseroan menargetkan   kontribusi pendapatan data, internet, dan teknologi informasi terhadap total pendapatan operasi perseroan mencapai  20 persen pada akhir tahun nanti.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan, jaringan tembaga diremajakan karena infrastruktur itu enabler berbagai layanan berbasis Telecommunication, Information, Media, Edutainment (TIME). “Peremajaan ini sebagai pintu masuk layanan  Home Digital Services (HDS) yang akan memenuhi berbagai kebutuhan pelanggan perumahan dalam berkomunikasi dengan cara-cara yang berbeda dan lebih maju,” jelasnya.

Konsep HDS sendiri meliputi digital home communication, digital home office, digital entertainment, dan digital surveillance & security. Layanan HDS  sudah mulai dan akan digelar di berbagai tempat, antara lain di seluruh High Rise Building (HRB), kawasan industri, Kawasan Bisnis, atau apartemen  yang  dikelola oleh Agung Sedayu Group (ASG).  Pengembang lainnya yang digandeng adalah Ciputra Grup di Surabya,  Pakuwon Grup untuk superblok Gandaria City, dan   FTTB untuk FX Plaza Senayan.

Tiga Isu
Menurut Rinaldi, terdapat  tiga isu kritikal yang dihadapi   dalam  pengembangan infrastruktur jaringan pita lebar ke depan seiring dengan usahanya mengembangkan portofolio bisnis TIME.

Isu-isu dimaksud adalah   menjaga teknologi agar senantiasa mampu mengakomodasi kebutuhan konsumsi bandwidth yang terus meningkat, menciptakan pendapatan baru (to generate new revenue),  dan mempertahankan mempertahankan biaya (to restrain the cost). “Isu-isu ini terkait langsung dengan tiga hal, yaitu Average Revenue per User (ARPU), bandwidth atau lebar pita, dan biaya,” katanya.

Upaya Telkom dalam menghadapi tantangan ini adalah mengoptimalkan variabel ARPU-bandwidth-biaya.. Di sisi bandwidth, kapasitas terus dikembangkan dengan memanfaatkan serangkaian teknologi. Di sisi ARPU, Telkom akan terus mengembangkan berbagai layanan seperti Mobile Internet Application, IPTV, Managed Lease Line, dan Wholesale. Sedangkan di sisi biaya (cost)   melakukan efisiensi melalui langkah-langkah penyederhanaan arsitektur jaringan, optimasi trafik point-to-point, sinergi Internet Protocol, serta pemeliharaan yang mudah dan penetapan lokasi secara cepat.

Pada kesempatan lain Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengingatkan, realisasi peremajaan jaringan Telkom hanya menyentuh perumahan baru dan perkotaan. “Puluhan ribu desa atau perumahan lama belum tersentuh. Telkom jangan lupakan pelanggan lama yang juga ingin meningkatkan akses data,” tegasnya..

Sedangkan praktisi telematika Raherman Rahanan mengungkapkan, modernisasi dari  akan menghadapi tantangan pada last mile, konten, dan konsumsi bandwitdh internasional.
Dikatakannya, Telkom harus memperhatikan titik-titik last mile yang perlu dioptimumkan untuk menghindari  overlay sehingga akses menjadi lambat. Selain itu  harus dipertimbangan keselarasan antara Last Mile through put dan kebutuhan Internasional bandwitdh.

“Telkom juga harus bisa menjamin memberikan konten yang fleksibel ke pelanggannya di tengah masih terpisah-pisahnya  unit yang memberikan layanan internet,   TV, dan telepon. Tantangan terberat adalah di ego sektoral internal Telkom sendiri,” tukasnya.[dni]

090910 FSSM Optimistis Goda Investor

JAKARTA–Forum Silahturahim Saudagar Minang (SSM) 2010 yang akan digelar di Kota Padang pada 15 dan 16 September nanti optimistis mampu menarik investor untuk berinvestasi di ranah minang.

“Acara ini ketiga kalinya digelar dengan tingkat partisipasi sekitar seribu saudagar dan intelektual. Untuk kegiatan ketiga ini akan secara kongkrit diusulkan ke pemerintah  hal-hal yang mendorong investasi di Sumatera Barat,” ungkap Bendahara Panitia SSM 2010 yang juga Ketua Umum Saudagar Muda Minang (SMM) Fahira Fahmi Idris di Jakarta, Kamis (9/9).

Dijelaskannya, hal yang paling utama perlu diperhatikan bagi investor adalah masalah penggunaan tanah ulayat untuk usaha dan edukasi ke masyarakat minang dalam melihat munculnya pendatang.

“Pada tahun ini pemerintah setempat berencana akan membangun berbagai infrastruktur dasar untuk membuka akses bagi investor di bidang pariwisata, perkebunan, dan pertanian. Ini harus dioptimalkan untuk memajukan perekonomian Sumbar,” katanya.

Diungkapkannya, pada tahun ini FSSM akan menghadirkan Saudagar minang tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari Amerika Serikat, Singapura, Brunei Darussalam, Timor-Timur, Malaysia. “Masyarakat minang harus mengoptimalkan kegiatan ini. Kami sudah menjembatani keinginan investor dan pemerintah. Sekarang bola di masyarakat setempat,” katanya.

Sekretaris Eksekutif Saudagar Muda Minang (SSM) Aslim Nurhasan Sutan Sati menambahkan,  dua kegiatan sebelumnya yang dilakukan FSSM telah berhasil menyakinkan satu investor besar membangun hotel di Padang dengan nilai 200 miliar rupiah. “Kami juga melakukan pemberdayaan untuk masyarakat setempat. Seperti memasarkan produk secara online dan berternak ikan dengan benar. Ada satu nagari (wilayah) yang menjadi percontohan,” katanya.

Fahira menambahkan, untuk menumbuhkan jiwa berdagang dari masyarakat minang rencananya akan  berkerjasama dengan Universitas Andalas mendirikan Institut bisnis. “Kegiatan semacam ini sangat mendukung masyarakat setempat. Buktinya selama seminggu kegiatan dua tahun lalu, penjualan Usaha Kecil Menengah (UKM) khususnya untuk oleh-oleh dan makanan meningkat.

Ketua Umum Saudagar Muda Minang DKI Jaya Iqbal Farabi mengatakan, gerakan pemberdayaan masyarakat minang tidak hanya untuk di Sumbar, tetapi juga di perantauan. “Kegiatan yang akan kami lakukan memberdayakan UKM dengan masuk ke pedagang pasar serta membuat unit bisnis bagi para anggota,” jelasnya.

Menurutnya, aksi tersebut sesuai dengan misi  organisasi sebagai lembaga,  bersifat independen, otonom, bisnis aplikatif, fungsional, demokratis, non politik, dan memperhatikan profesionalitas.[Dni]

JAKARTA–Forum Silahturahim Saudagar Minang (SSM) 2010 yang akan digelar di Kota Padang pada 15 dan 16 September nanti optimistis mampu menarik investor untuk berinvestasi di ranah minang.

“Acara ini ketiga kalinya digelar dengan tingkat partisipasi sekitar seribu saudagar dan intelektual. Untuk kegiatan ketiga ini akan secara kongkrit diusulkan ke pemerintah  hal-hal yang mendorong investasi di Sumatera Barat,” ungkap Bendahara Panitia SSM 2010 yang juga Ketua Umum Saudagar Muda Minang (SMM) Fahira Fahmi Idris di Jakarta, Kamis (9/9).

Dijelaskannya, hal yang paling utama perlu diperhatikan bagi investor adalah masalah penggunaan tanah ulayat untuk usaha dan edukasi ke masyarakat minang dalam melihat munculnya pendatang.

“Pada tahun ini pemerintah setempat berencana akan membangun berbagai infrastruktur dasar untuk membuka akses bagi investor di bidang pariwisata, perkebunan, dan pertanian. Ini harus dioptimalkan untuk memajukan perekonomian Sumbar,” katanya.

Diungkapkannya, pada tahun ini FSSM akan menghadirkan Saudagar minang tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari Amerika Serikat, Singapura, Brunei Darussalam, Timor-Timur, Malaysia. “Masyarakat minang harus mengoptimalkan kegiatan ini. Kami sudah menjembatani keinginan investor dan pemerintah. Sekarang bola di masyarakat setempat,” katanya.

Sekretaris Eksekutif Saudagar Muda Minang (SSM) Aslim Nurhasan Sutan Sati menambahkan,  dua kegiatan sebelumnya yang dilakukan FSSM telah berhasil menyakinkan satu investor besar membangun hotel di Padang dengan nilai 200 miliar rupiah. “Kami juga melakukan pemberdayaan untuk masyarakat setempat. Seperti memasarkan produk secara online dan berternak ikan dengan benar. Ada satu nagari (wilayah) yang menjadi percontohan,” katanya.

Fahira menambahkan, untuk menumbuhkan jiwa berdagang dari masyarakat minang rencananya akan  berkerjasama dengan Universitas Andalas mendirikan Institut bisnis. “Kegiatan semacam ini sangat mendukung masyarakat setempat. Buktinya selama seminggu kegiatan dua tahun lalu, penjualan Usaha Kecil Menengah (UKM) khususnya untuk oleh-oleh dan makanan meningkat.

Ketua Umum Saudagar Muda Minang DKI Jaya Iqbal Farabi mengatakan, gerakan pemberdayaan masyarakat minang tidak hanya untuk di Sumbar, tetapi juga di perantauan. “Kegiatan yang akan kami lakukan memberdayakan UKM dengan masuk ke pedagang pasar serta membuat unit bisnis bagi para anggota,” jelasnya.

Menurutnya, aksi tersebut sesuai dengan misi  organisasi sebagai lembaga,  bersifat independen, otonom, bisnis aplikatif, fungsional, demokratis, non politik, dan memperhatikan profesionalitas.[Dni]