060910 Garuda Andalkan Sistem Rotasi

JAKARTA—Maskapai Garuda Indonesia (Garuda) mengandalkan pola rotasi pesawat untuk menghadapi lonjakan penumpang selama musim mudik nanti.

“Selain mengantongi tambahan frekuensi penerbangan, kami juga melakukan rotasi pesawat, terutama armada berbadan lebar yang digunakan untuk rute ke luar negeri melayani lonjakan pemudik di domestik,” ungkap Direktur Teknologi Informasi dan Strategis Elisa Garuda Elisa Lumbantoruan, di Jakarta, akhir pekan ini.

Diungkapkannya, salah satu contoh rotasi adalah memanfaatkan pesawat berbadan lebar (wide body) Boeing 748-400  yang selama ini melayani rute  Jakarta-Jeddah (Arab Saudi) melayani para pemudik.

“Jadi, meskipun sekarang tiket sudah hampir 100 persen terjual, masih ada kemungkinan pemudik bisa berangkat. Misalnya kalau permintaan di Jakarta-Medan terus naik, kami langsung akan ganti pesawat dengan Boeing 747-400 yang artinya kapasitas angkut penumpang menjadi lebih banyak. Strategi rotasi pesawat ini  relatif lebih mudah dilakukan, dibandingkan dengan meminta izin penerbangan tambahan,” katanya.

Diungkapkannya, saat ini untuk tiket mudik  rute Jakarta-Surabaya, Jakarta-Medan, Jakarta-Yogyakarta, dan Jakarta-Denpasar telah nyaris habis terjual

Berdasarkan catatan, Kementerian Perhubungan menerbitkan sebanyak 23.716 kursi tambahan untuk Garuda. Rute yang mendapat kursi tambahan itu adalah Jakarta-Denpasar, Jakarta-Padang, Jakarta-Yogyakarta, Jakarta-Solo, Surabaya-Denpasar, Jakarta-Medan, dan Jakarta-Singapura.

Berkaitan dengan tertabraknya armada oleh mobil groundhandling di bandara Schippol, Amsterdam, Belanda, Kamis (2/9), Juru bicara Garuda Pujobroto mengakui terjadi kerusakan signifikan, sehingga harus diperbaiki minimal hingga 5 September 2010

Dikatakan, sedianya  Airbus A330-200 dengan nomor  GA  809 dengan muatan 212 yang dipiloti  Capt Suryo Tamtomo  itu  akan berangkat Jumat kemarin sekitar pukul 11 waktu setempat.

“Pada saat sedang memuat barang, pintu kargo tertabrak dan pintu mengalami kerusakan. Statusnya damage parah sehingga  butuh waktu tiga atau empat hari untuk memperbaikinya,” kata Pujo.

Dijelaskannya, perbaikan butuh waktu karena ada komponen yang harus didatangkan dari pabriknya di Toulouse, Prancis. Garuda memutuskan, untuk jadwal penerbangan saat itu sebagian penumpang  dialihkan ke penerbangan lain seperti KLM sebagian lagi ada yang diinapkan.

Sementara pesawat Airbus itu dalam perbaikan, Garuda mendatangkan pesawat yang biasa dioperasikan ke Sydney dan Melbourne ke Amsterdam. Sedangkan pesawat yang ke Autralia tersebut diganti dengan Boeing 747-400 yang beroperasi ke Tokyo, Jepang sehingga penerbangan sedikit bergeser. “Setiap harinya kita sudah siapkan dua pesawat saat normal. Jadi penerbangan yang  dari Jakarta ke Amsterdam tidak berpengaruh lagi,” ujarnya.

Sriwijaya Air
Pada kesempatan lain, maskapai penerbangan Sriwijaya Air menargetkan mendatangkan sebanyak 60 unit pesawat hingga 2012 mendatang untuk mendukung pola penerbangan shadow hub. Saat ini Sriwijaya telah mengoperasikansebanyak 27 unit pesawat, dan pada akhir 2010 akan genap menjadi 30 unit.

Presiden Direktur Sriwijaya Air, Chandra Lie mengatakan, pihaknya mempertimbangkan untuk mengadakan pesawat-pesawat kecil dengan kapasitas di atas 30 penumpang sebagai feeder bagi pesawat yang lebih besar.

“Nantinya pesawat yang kecil ini akan dijadikan feeder (pengumpan)dan kemudian akan dibawa ke bandara pengumpul (hub). Kita butuhs etidaknya beberapa pesawat kecil,” kata Chandra.

Diungkapkannya,  dengan kebutuhan pesawat-pesawat kecil tersebut, maka Sriwijaya menargetkan bakal mengoperasikan sebanyak 60 unitpesawat pada 2012 mendatang. Sejauh ini ada beberapa produsen yang sudah dikaji yakni  ATR, Afro RG, Embraer dan Bombardier dari Norwegia.

“Saat ini kita sedang memilih, pesawat mana yangpaling efisien dan berguna untuk rencana operasi Sriwijaya Air,”ujarnya.

Bila pesawat-pesawat kecil tersebut telah ada, jelasnya, operasi penerbangan shadow hub bakal dilaksanakan. Strategi ini  berbeda dengan pola hub and spoke yang banyak dilakukan oleh maskapai dimana  menentukan sendiri bandara mana yang dijadikan pengumpul. Sedangkan pada shadow hub, setiap bandara memiliki potensi menjadi bandara pengumpul.

Rencananya Sriwijaya akan mengincar daerah dengan bandara pendekseperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.  Sebelumnya, Lion Air juga telah menggunakan pola penerbangan hub and spoke, di mana anak usahanya Wings Air mengoperasikan pesawatªpesawat kecil yaitu ATR 72 sebagai pengumpan dari bandara-bandara kecil ke bandara yang lebih besar lagi. Penumpang kemudian dikumpulkan di bandara yang lebih besar (hub) dan diterbangkan dengan Boeing 737-900 ER milik Lion Air.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s