290610 PPNBM Pesawat Latih Kemungkinan Dihapus

JAKARTA–Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPNBM) milik pesawat latih kemungkinan besar bisa dihapus tahun ini seiring mulai ada titik temu antara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan  Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam mengeliminir pungutan tersebut.

“Diskusi dengan  Ditjen Pajak dan Bea Cukai hampir selesai. Sepertinya sudah ada kesepahaman. Kita berharap pencabutan PPNBM atas pesawat latih bisa dilakukan tahun ini,” ungkap Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Dedi Darmawan di Jakarta,  Senin (28/6).

Diungkapkannya, dalam berdiskusi dengan lembaga tersebut  Kemenhub meminta agar Kemenkeu tidak hanya mengurangi besaran pajak tetapi benar-benar menghapus PPNBM pesawat latih tersebut.

“Penghapusan pajak pesawat latih   bukan hanya untuk Sekolah Tinggi Penerbang Indonesia (STPI) Curug, Kita harapkan berlaku   untuk seluruh sekolah penerbang di Indonesia,” jelasnya.

Untuk diketahui,  PPNBM sebesar 50 persen  dari harga beli yang dikenakan Kemenkeu atas impor pesawat latih belakangan dikeluhkan oleh banyak sekolah penerbangan dan maskapai pengguna pilot hasil didikan sekolah tersebut.

Pengenaan PPNBM mengacu pada Pasal 1 ayat (5) huruf b Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6/2003 tentang Kelompok Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Yang Dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Regulasi itu menyebutkan impor pesawat udara dikenakan pajak dengan tarif 50 persen kecuali
untuk keperluan negara atau angkutan udara niaga. Sementara, Kemenkeu sama sekali tidak mengenakan pajak untuk pesawat niaga.

Saat ini, STPI memiliki dua helikopter latih yang tidak bisa dioperasikan karena importirnya harus membayar pajak sebesar  19 miliar rupiah. Padahal importir tersebut mengaku ke pemerintah hanya mendapatkan untung sebesar satu   miliar rupiah  dengan mendatangkan helikopter tersebut untuk STPI.

Dampak dari pajak yang tinggi mengakibatkan mahalnya biaya pendidikan pilot di Indonesia sehingga menciutkan minat calon siswa untuk mengikuti
sekolah penerbangan. Akibatnya sekolah penerbangan juga membatasi jumlah lulusan yang diwisudanya setiap tahun karena sepi peminat.

Menurut Dedi,  jika PPNBM dihilangkan  biaya pendidikan pilot bisa berkurang hingga  30 sampai 40 persen. Saat ini biaya pendidikan penerbang di Indonesia selama 12 bulan sampai 18 bulan berkisar antara  500 juta sampai  600 juta rupiah.

Masih menurutnya, pembebasan PPNBM untuk pesawat latih sangat penting   karena sekarang adalah saat yang tepat untuk membeli pesawat latih.
“Dalam beberapa tahun ke depan industri penerbangan Indonesia akan berkembang pesat. Seiring dengan semakin tingginya jumlah penumpang domestik dan internasional dari Indonesia, banyak maskapai yang terus menambah jumlah pesawatnya. Sehingga dibutuhkan pilot yang semakin banyak,” katanya.

Berdasarkan catatan, sekolah pilot di Indonesia sekarang ada 10. Sementara kebutuhan pilot per tahunnya sebanyak 400 penerbang. STPI Curug hanya bisa menghasilkan 160 penerbang setiap tahun, sisanya  disediakan sekolah swasta. “Tapi kalau belum memenuhi terpaksa pakai pilot asing,” jelasnya.[dni]

290610 Menanti Munculnya Entitas Baru

Seandainya Menneg BUMN Mustafa Abubakar tidak “membocorkan” adanya surat dari direksi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) tentang rencana manajemen untuk mengonsolidasikan layanan Fixed Wireless Access (FWA) Flexi dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) pada pertengahan bulan ini, satu entitas baru hasil joint venture dari kedua perusahaan bisa saja hadir dalam waktu dua bulan mendatang.

Hal ini karena Telkom sudah melakukan persiapan untuk mengonsolidasikan anak usahanya itu dengan salah satu pemain Code Division Multiple Access (CDMA) (tak hanya BTEL) sejak 18 bulan lalu. Tetapi, karena isu surat itu muncul menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom, maka isu politik lebih kental ketimbang bisnis.

Sebenarnya, Telkom secara sadar melihat  dengan menguasai bandwidth hanya 5 MHz, Flexi akan susah berkembang. Kapasitas pelanggan secara maksimal yang bisa dilayani oleh Flexi diperkirakan hanya 25-30 juta pelanggan. Saat ini Flexi sudah memiliki 16 juta pelanggan. Artinya, jika tidak dikonsolidasikan sekarang, maka nilai dari Flexi akan turun di masa depan.

Telkom pernah terlibat pembicaraan dengan Indosat atau Mobile-8. Tetapi tidak ada sinyal positif dari kedua operator itu. Hal ini berbeda dengan BTEL yang sepertinya serius menanggapi pinangan Telkom.

Skenario yang diinginkan oleh Telkom dalam konsolidasi ini adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu melepas Flexi ke BTEL, tetapi memliki hak simple majority dari 41 persen saham strategis yang dikuasai oleh Bakrie Brothers. Strategi ini diyakini akan membuat Telkom mendapatkan uang dari monetize unit usahanya itu.

Langkah ini sebenarnya sama dengan kala  35 persen saham Telkomsel di lepas ke SingTel. Kompensasinya adalah SingTel menempatkan eksekutifnya di  direktorat  pemasaran dan teknologi. BTEL pun diperkirakan nantinya akan meminta dua hal itu sebagai kompensasi.

BTEL pun dikabarkan sedang membuat Private  Equity Fund guna membeli Flexi atau membuat anak perusahaan yang valuasinya setara BTEL dan kemudian mengakuisisi Flexi untuk kemudian digabungkan dengan BTEL. Langkah ini dianggap menguntungkan BTEL karena nantinya dalam ekspansi Telkom tetap menanggung belanja modal sebagai simple majority.

Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya N. Bakrie membantah  melakukan cari pendanaan ke luar negeri untuk membeli Flexi. “Tidak benar kami melakukan road show untuk mencari pendanaan dalam rangka konsolidasi tersebut. Road show dilakukan belum lama ini dalam rangka penerbitan global bond senilai 250 juta dollar AS yang telah selesai pada 5 Mei lalu dengan respon oversubscired dari pasar,” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.

Analis politik-bisnis dari Aspirasi Indonesia Research Institute Yanuar Rizky  menggambarkan Flexi sebagai unit usaha yang memanfaatkan utilisasi jaringan yang ada dan BTEL sebagai operator yang berinvestasi atau berhutang. “Sebenarnya sangat disayangkan jika kapitalisasi Telkom yang sangat sehat digabungkan dengan perusahaan lain yang memiliki hutang besar,” katanya.

Sementara itu Pengamat Ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiskus Paschalis menyakini akan terjadi negosiasi yang alot antara kedua perusahaan terutama masalah valuasi aset.

“Perhitungan valuasi   BTEL bisa lebih menggiurkan karena menguasai tiga kota besar (Jabodetabek, Jabar, dan Banten). Belum lagi kemampuan   menjaga pertumbuhan pelanggan, Earning Before Interest, Taxes Depreciation and Amortization (EBITDA) dobel digit selama tiga tahun terakhir,” katanya.

Belum lagi aksi korporasi dari BTEL yang akan mengembangkan bisnis infrastruktur melalui Bakrie Network (BNET) dan Bakrie Interconectivity (BCONNECT) yang bisa menaikkan nilai BTEL  karena  pasar di masa depan adalah layanan data.

“Akhirnya nilai hutang dari BTEL yang diperkirakan mencapai 6 triliun rupiah itu bisa hilang oleh nilai perusahaan yang besar. Ini tentu membuat nilai konsolidasi itu bisa mendekati merger Satelindo-Indosat beberapa tahun lalu yang mencapai 10 triliun rupiah jika tim Telkom tidak pintar bernegosiasi,” jelasnya.

Frans pun memprediksi untuk menjaga tidak ada dana keluar dari kantongnya, maka  BTEL akan menawarkan hutang dikonversi saham. “Bagi saya kecil kemungkinannya Telkom bisa dapat uang dari aksi korporasi ini,” tegasnya.[dni]

290610 Peluncuran BCONNECT : Mengoptimalkan Kesempatan Kedua

Tak mau menyerah. Ungkapan inilah yang pantas diberikan pada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) melalui aksinya membuat anak usaha baru yakni  Bakrie Connectivity (BCONNET). Anak usaha ini  bergerak dibidang jasa mobile broadband dengan kecepatan minimal mulai dari 3,1 Mbps melalui teknologi Evolution Data Optimized (EVDO) Rev A.

EVDO Rev A adalah evolusi dari teknologi Code Division Multiple Access (CDMA 1x) yang menawarkan  kecepatan maksimum  3,8 Mbps untuk download dan 1,8 untuk upload.  Tahap pertama BCONNECT dengan merek dagang AHA akan hadir di lima kota yakni Bogor, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Hingga akhir tahun jumlah tersebut diharapkan naik menjadi 10 kota.

Rencana ke depan untuk pengembangan jaringan adalah membangun serat optic  disepanjang ruas toal Kanci-Pejagan, milik PT Bakrieland Development Tbk selain pengembangan  jaringan kabel dan infrastruktur tower di wilayah Jawa dan Sumatera.

Sebenarnya BTEL sudah pernah mencoba bermain di akses data beberapa tahun lalu melalui produk Wimode, namun gagal total. Hal ini karena spektrum yang dimiliki  hanya 3 kanal sehingga Wimode sering diidentikkan koneksi lemot oleh penggunanya.

Namun, berkat kemurahan hati dari pemerintah tahun lalu, BTEL akhirnya memiliki empat kanal alias   lebar pita frekuensi sebesar lima MHz. Tambahan satu kanal sebesar 1,25 MHz inilah yang digunakan oleh BCONNECT  untuk menggelar  EVDO Rev A.

Sejak enam bulan lalu, BCONNECT digeber  dilahirkan dengan menelan investasi 100 juta dollar AS. Sebanyak 30 hingga 40 juta dollar AS belanja modal BCONNECT terserap untuk memasang modul EVDO Rev A di 70 persen total 3.900 BTS milik BTEL, sedangkan untuk transmisi backhaul juga menyerap anggaran 30 juta dollar AS, dan sisanya untuk backbone dan IT System.

Wakil Direktur Utama Bidang Jaringan Bakrie Telecom M. Danny Buldansyah membantah jika dulunya Wimode gagal. “Itu bukan gagal, tetapi hanya tidak fokus saja. Kita dulu punya tiga kanal. Sekarang ada 4 kanal, sehingga tiga bisa buat suara, satu untuk data,” katanya.

Menurutnya,  satu kanal untuk data masih mampu melayani 50-60 pengguna EVDO dalam satu jangkauan BTS  dengan akses masing-masing pengguna 500-600 Kbps. Sedangkan kapasitas satu kanal itu bisa menampung 4 juta pelanggan. “Kapasitas sebesar itu bisa memberikan keuntungan yang lebih besar dari investasi yang dikeluarkan. Soalnya Average Revenue Per User (ARPU) dari pelanggan data itu sekitar 100 ribuan rupiah,” jelasnya.

Presiden Direktur BCONNECT Erik Meijer menjelaskan, alasan BTEL membentuk anak usaha yang khusus bermain di data karena di masa depan pasar ini sangat menjanjikan. “Di Indonesia penetrasi internet baru sekitar 15 persen. Pemainnya banyak, tetapi penetrasi terbatas. Jika BCONNECT masuk ke pasar dengan strategi disruptive innovation, bisa meningkatkan penetrasi. Tahap awal kami sediakan modem AHA sebanyak 100 ribu unit,” ungkapnya.

Sementara Komisaris Utama BCONNECT Anindya N Bakrie mengharapkan, dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan anak usaha ini  berkontribusi 30 persen bagi BTEL. Saat ini pendapatan dari data bercampur dengan Value Added Services (VAS) dan berkontribusi 10 persen.  “Kalau tahun pertama ini, BCONNECT masih menjadi bagian dari mendukung target BTEL mencapai 14 juta pelanggan pada akhir tahun nanti,” ungkapnya.

Klarifikasi

Pada kesempatan lain, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menegaskan akan meminta klarifikasi tentang BCONNECT kepada BTEL karena tidak ada pemberitahuan resmi tentang entitas baru itu.

“Kami tidak mendapatkan pemberitahuan sama sekali. Ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi agar tidak ada dusta diantara kita,” selorohnya.

Hal yang perlu diklarifikasi adalah tentang spektrum frekuensi yang digunakan, jenis usaha yang dipilih, jangkauan, dan standar layanan.

“Masalah jangkuan itu harus jelas, soalnya BTEL itu lisensinya Fixed Wireless Access (FWA). Jika pengguna AHA bisa menggunakan akses data layaknya seluler, itu  tidak boleh karena penomoran di FWA berlaku di satu kode area,” katanya.

Heru pun mengingatkan masalah istilah  Broadband Wireless Access (BWA) yang digunakan dalam tagline AHA. Jika merujuk pada aturan BWA maka kecepatan yang diberikan ke pelanggan mulai 256 Kbps. “Itu harus stabil kecepatannya. Padahal di radio itu ada sharing bandwidth. BTEL harus hati-hati dalam pemasaran karena pelanggan internet itu kritis,” tegasnya.

Senang

Head of Core Product and Branding Smart Telecom  Smart Ruby Hermanto mengaku senang dengan hadirnya BCONNECT yang sama-sama mengandalkan teknologi Rev A. “Itu bagus. Jadi, Smart ada teman mengedukasi pasar melawan teknologi High Speed Access (HSPA) dari GSM di pasar,” katanya.

Smart telah menggelar EVDO Rev A di 32 kota dan Rev B di satu kota.   EVDO Rev B merupakan pengembangan dari jaringan EVDO Rev A yang menawarkan kecepatan maksimum 9,3 Mbps untuk  download dan 5,4 Mbps (upload). Operator ini memiliki enam kanal sehingga sangat leluasa memanjakan 600 ribu pengguna akses datanya.

Ruby mengaku tidak khawatir dengan BCONNECT karena di pasar data masalah kualitas akan sangat menentukan. “Kalau hanya memiliki satu kanal itu lumayan berani. Bagaimana nanti menghadapi lonjakan trafik di padat populasi. Jika mengandalkan menambah BTS  itu  akan  berbiaya tinggi,” katanya.

Ruby menyakini, hadirnya BCONNECT belum akan memulai perang tarif di akses data pada tahap awal. “Hal yang mungkin terjadi adalah perang penawaran perangkat ke konsumen. Soalnya mereka mau membuka segmen baru,” jelasnya.

GM Direct Sales XL Axiata Handono Warih melihat masuknya BTEL ke pasar data semakin menyakinkan tren bahwa data adalah masa depan bagi pendapatan. “Perang tarif data akan semakin ketat ke depan. Tetapi untuk jangka pendek XL tidak akan terjebak dalam perang tarif akses data jika BCONNECT memancing,” jelasnya.

Pengamat  telematika Bayu Samudiyo mengharapkan, BCONNECT tidak hanya bermain di tarif untuk memenangkan persaingan, tetapi pada kualitas. “Sebaiknya jangan bermain di pasar unlimited karena di luar negeri model pemasaran itu sudah ditinggalkan dan beralih ke berbasis volume. Ini karena mereka sadar unlimited itu tidak mengembalikan investasi,” jelasnya.  [dni]

280610 Wings Air Operasikan 5 Rute Baru

JAKARTA—Wings Air mulai akhir Juni dan awal Juli 2010 akan mengoperasikan 5 lima rute baru untuk mendukung mobilitas pelanggannya.

Kelima rute itu adalah Jakarta-Kolaka p.p (via Makassar), rute Jakarta-Maumere p.p. (via Denpasar), rute Jakarta-Ende p.p. (via Denpasar) , Jakarta-Natuna p.p (via Batam) dan Jakarta-Malaka p.p. (via Pekanbaru).

“Rute-rute tersebut dioperasikan secara sinergi oleh Lion Air dan Wings Air karena keberangkatan dari Jakarta ke kota transit menggunakan pesawat jet (Lion Air) dan penerbangan lanjutan ke kota tujuan dengan pesawat propeller (Wings Air),” ungkap Direktur Umum Lion Air Edward Sirait di Jakarta, Minggu (27/6).

Dijelaskannya, kelima rute baru tersebut dilayani sehari sekali (daily) dengan menggunakan pesawat Boeing 737-900 ER dari Jakarta dan penerbangan lanjutannya menggunakan pesawat ATR 72-500. Rute Jakarta-Kolaka p.p dioperasikan mulai 26 Juni 2010, rute Jakarta-Maumere p.p mulai 8 Juli 2010, rute Jakarta-Ende p.p. mulai 8 Juli 2010, rute Jakarta-Natuna mulai 8 Juli 2010, rute Jakarta-Malaka p.p. mulai 9 Juli 2010.

Diprediksinya, tingkat isian penumpang pesawat alias load factor rute-rute baru tersebut akan mencapai 90 persen dan target penumpangnya dari semua kalangan (segmen). “Kami akan terus melakukan pengembangan operasi penerbangan rute-rute tersebut dengan penambahan frekuensi penerbangan dan menambah rute baru di seluruh wilayah Nusantara serta negara tetangga sejalan dengan adanya penambahan armada baru baik jet maupun propeller,” jelasnya.

Lion Air saat ini mengoperasikan 51 pesawat yang terdiri dari 2 pesawat Boeing 747-400, 34 pesawat Boeing 737-900ER, 9 pesawat Boeing 737-400, 2 pesawat Boeing 737-300, 4 pesawat MD-90.

Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan penerbangan di Indonesia, Lion Air memilih Boeing 737-900ER karena pesawat tersebut lebih efisien, terbang lebih nyaman dengan ketinggian 40 ribu kaki dan sudah menggunakan perangkat teknologi mutahir yang dimiliki pesawat saat ini.

Untuk itu Lion Air sudah mengoperasikan 32 pesawat dari 178 pesawat Boeing 737-900ER yang sudah dipesan dari pabrik Boeing di Seattle Amerika dan direncanakan sampai pertengahan tahun 2010 akan diterima lagi 6 pesawat baru Boeing 737-900ER. Adapun Wings Air saati ini mengoperasikan 14 pesawat terdiri dari 5 pesawat ATR72-500, 2 pesawat MD-80 dan 3 DHC8-300.[dni]

280610 Tarif Internet Segera Terpangkas 40%

JAKARTA—Tarif akses internet dalam waktu tiga bulan ke depan diperkirakan terpangkas hingga 40 persen karena munculnya pemain baru dengan teknologi Worldwide interoperability for Microwave Access (Wimax) yang menawarkan tarif kompetitif.

Wimax sendiri adalah teknologi berbasis data yang bekerja pada spektrum pita lebar layaknya Wi-Fi namun dengan jangkauan lebih luas dan kemampuan transmisi lebih cepat yakni mencapai 75 Mbps.

“Kami mulai Senin (28/6), resmi meluncurkan merek Sitra 4G Wimax. Mulai tiga bulan ke depan kami mengajak masyarakat mendaftar untuk mencoba layanan Wimax, setelah itu kita resmi komersial. Hadirnya Wimax akan mengubah peta kompetisi akses data,” ungkap Chief Marketing Officer Sitra, Jerome Teh, di Jakarta, Minggu (27/6).

Sitra adalah merek dagang dari pemenang tender Broadband Wireless Access (BWA) tahun lalu, First Media, yang memenangi zona Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) dan Jabodetabek untuk menyelenggarakan akses data kecepatan tinggi.

Jerome menyakini, hadirnya Wimax akan membuat pemain eksisting di pasar mengubah harga dari akses data namun dengan kualitas yang masih sama. “Sedangkan Sitra dengan Wimax bisa memberikan kualitas lebih tinggi, tetapi harganya sama. Soalnya regulasi BWA saja meminta kita untuk memberikan akses data mulai dari 256 Kbps,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, sebelum lelang BWA dimulai peserta tender memperkirakan harga internet akan turun menjadi 300 hingga 500 ribu rupiah satu Mbps per bulan. Saat ini harga akses internet sebesar itu ditawarkan sekitar 750 ribu rupiah per bulan.

Dijelaskannya, untuk tiga bulan ke depan Wimax milik Sitra akan hadir di Jakarta, Banten, Depok, Bekasi, dan Tangerang. “Kami menyediakan dana sekitar 236 miliar rupiah hanya untuk mendapatkan lisensi dan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi tahun pertama. Sedangkan untuk pengembangan infrastruktur bisa lebih dari itu,” jelasnya.

Sebelumnya, Direktur First Media Indra Djaja mengungkapkan untuk mengembangkan Wimax membutuhkan investasi 500 miliar rupiah hingga satu triliun rupiah. First Media mengharapkan dalam 3-4 tahun ke depan, satu juta pelanggan Wimax dapat diraih.

Untuk menunjang target tersebut, Sitra Wimax akan mengoptimalkan 5 ribu KM serat optik milik First Media sebagai backhaul dan 600 node sebagai last mile. Sedangkan untuk menara BTS menyewa kepada Protelindo, XL, Indosat, dan Indonesian Tower (IT). IT juga menjadi penyedia perangkat Wimax bagi Sitra melalui produk TRG.

“Keunggulan kami pada backhaul yang didukung serat optik. Jadi walau bandwitdh hanya 15 MHz, bisa ditutup masalah kapasitas,” katanya.

Dikatakannya, segmen yang akan dibidik adalah kaum profesional, kalangan pendidikan, dan masyarakat yang belum terjangkau oleh layanan fixed broadband First Media.

“Wimax ini sebenarnya pelengkap bagi layanan First Media. Selama ini First Media kesulitan memperpanjang serat optik masuk ke target pasar karena tingginya investasi. Dengan Wimax, 600 titik yang berada di pengujung target pasar itu tinggal di pasang BTS, maka pasar bisa digarap,” jelasnya.

Praktisi Telematika Suryatin Setiawan Suryatin mengakui, langkah cepat menggelar jaringan oleh Sitra adalah pemegang faktor terpenting untuk memenangkan persaingan. “Dalam telekomunikasi, khususnya wireless, penggelaran jaringan adalah faktor yang sangat penting. Jika tertunda- tunda jendela kesempatan bisnis menutup, seperti dialami oleh operator selular yang belakangan muncul di Indonesia,” katanya.

Suryatin mengingatkan, janganlah terlalu bergantung kepada teknologi wimax untuk memacu penurunan tarif internet. “Wimax belum tentu menimbulkan hype baru. Sangat bergantung waktu peluncurannya. Bisa saja muncul teknologi baru lain yang mungkin lebih popular dari Wimax,” katanya.

Menurut dia, harga akses internet adalah fungsi persaingan , bukan regulasi. Seandainya setelah para pemenang nanti beroperasi dan bersedia perang tarif harga akan turun cepat dan bisa drastis. “Nanti yang menjadi masalah siapa yang bisa bertahan menyangga arus kas perusahaan dalam jangka waktu lama karena bisnisnya dipastikan negatif di tahun-tahun awalnya,” jelasnya.[dni]

260610 Tarif Kapal Ferry Segera Naik.

JAKARTA–Kementrian Perhubungan (Kemenhub) memastikan tarif kapal penyeberangan segera naik menjelang Lebaran 2010.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Suroyo Alimoeso memastikan  usulan kenaikan tarif  tinggal ditandatangani  oleh Menteri Perhubungan Freddy Numberi.

“Menjelang September nanti sudah ada penyesuaian tarif baru. Ini  bukan karena aji mumpung untuk mendapatkan keuntungan penyelenggara penyeberangan sebesar-besarnya, namun dikarenakan sudah dua tahun tarif tidak naik,” katanya di Jakarta, Jumat (25/6).

Dijelaskannya, sesuai aturan tarif kapal feri harusnya disesuaikan setiap semester, namun realisasinya hingga saat ini belum juga disesuaikan.  Kemenhub pun menerima usulan pengusaha kapal feri untuk menyesuaikan tarif itu pada tahun ini.

Dalam proses penyesuaian tarif itu, instansinya telah membentuk tim tarif yang terdiri dari perwakilan Kemenhub dan perwakilan pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Angkutan SungaiDanau dan Penyeberangan (Gapasdap).

Tim tarif itu menghitung besaran tarif berdasarkan inflasi dan kemampuan bayar (willingnessto pay) di setiap lintasan penyeberangan.

Besaran tarif di setiap lintasan tak sama, meski mungkin jaraknya sama. Karena inflasi dan kemampuan bayarnya juga berbeda.
Berdasarkan catatan,  penyesuaian tarif kapal feri terakhir kalinya dilakukan awal 2009.

Sementara itu Sekjen Gapasdap Luthfi Syarief menyatakan dukungan atas rencana penyesuaian tarif sebelum Lebaran tersebut.

“Sebenarnyadiharapkan kenaikan terjadi pada bulan Juni ini saat liburan sekolah, sehingga pengusaha bisa mendapatkan margin keuntungan.Namun demikian, bila kenaikannya menjelang Lebaran juga tetap memberi keuntungan bagi para pengusaha penyeberangan,” katanya.

Dijelaskannya, keuntungan itu akan digunakan untuk meremajakan armada kapal.

Tarif yang diusulkan oleh Gapasdap adalah penyesuaian sebesar 65 persen. Namun kemungkinannya tidak naik sekaligus tetapi bertahap,pada kenaikan pertangahan tahun ini bisa sebesar 20 persen dan sisanya dilakukan pada tahun berikutnya.

“Bisa saja tahun ini naiknya 20-30 persen dan kemudian dilanjutkan pada 2011,” katanya.

Operator kapal feri menikmati kenaikan tarif terakhir kalinya pada pertengahan 2008. Namun pada Januari 2009, tarif tersebut justru diturunkan pemerintah sejalan dengan turunnya harga bahan bakarminyak (BBM).

Ketentuan tarif yang kini masih berlaku adalah KM No2 Tahun 2009 tentang Tarif Penyeberangan Lintas Antarprovinsi yangberlaku per 15 Januari 2009. [Dni]

250610 BTEL Bantah Cari Pendanaan untuk Beli Flexi

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) membantah tengah mencari pendanaan ke luar negeri dalam usahanya untuk membeli unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), Flexi.

“Tidak benar kami melakukan road show untuk mencari pendanaan dalam rangka konsolidasi tersebut. Road show dilakukan belum lama ini dalam rangka penerbitan global bond senilai 250 juta dollar AS yang telah selesai pada 5 Mei lalu dengan respon oversubscired dari pasar,” ungkap Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya N. Bakrie di Jakarta, Kamis (24/6).

Diakuinya, saat ini terjadi pembicaraan yang serius dengan Telkom terkait konsolidasi Flexi dengan BTEL, tetapi teknis dari pembicaraan tidak bisa diungkap karena negosiasi sedang berlangsung. “Kedua perusahaan tercatat di bursa. Tidak bisa sembarangan mengeluarkan pernyataan,” katanya.

Sebelumnya beredar kabar, dalam aksi konsolidasi antar kedua perusahaan, Telkom yang berposisi melepas Flexi tetapi dengan syarat menjadi simple majority di entitas baru yang dibentuk. Strategi ini diyakini akan membuat Telkom mendapatkan uang dari monetize unit usahanya itu.

BTEL pun dikabarkan sedang membuat Private Equity Fund guna membeli Flexi atau membuat anak perusahaan yang valuasinya setara BTEL dan kemudian mengakuisisi Flexi untuk kemudian digabungkan dengan BTEL. Langkah ini dianggap menguntungkan BTEL karena nantinya dalam ekspansi Telkom tetap menanggung belanaja modal sebagai simple majority.

Resmikan BCONNECT
Pada kesempatan sama, Anindya meresmikan hadirnya anak usaha milik BTEL yakni Bakrie Connectivity (BCONNET) yang bergerak dibidang jasa mobile broadband dengan kecepatan minimal mulai dari 3,1 Mbps melalui teknologi Evolution Data Optimized (EVDO) Rev A yang menelan investasi 100 juta dollar AS.

“Dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan anak usaha ini diharapkan berkontribusi 30 persen bagi BTEL. Kalau tahun pertama ini, BCONNECT masih menjadi bagian dari mendukung target BTEL mencapai 14 juta pelanggan pada akhir tahun nanti,” ungkapnya.

Presiden Direktur BCONNECT Erik Meijer menjelaskan, alasan BTEL membentuk anak usaha yang khusus bermain di data karena di masa depan pasar ini sangat menjanjikan. “Di Indonesia penetrasi internet baru sekitar 15 persen. Pemainnya banyak, tetapi penetrasi terbatas. Jika BCONNECT masuk ke pasar dengan strategi disruptive innovation, bisa meningkatkan penetrasi,” tegasnya.

Wakil Direktur Utama Bidang Jaringan Bakrie Telecom M. Danny Buldansyah mengungkapkan sebanyak 30 hingga 40 juta dollar AS belanja modal BCONNECT terserap untuk memasang modul EVDO Rev A di BTS, sedangkan untuk transmisi backhaul juga menyerap anggaran 30 juta dollar AS, dan sisanya untuk backbone dan IT System.

BCONNECT sendiri mendedikasikan satu kanal atau setara 1,25 MHz untuk akses data sehingga diklaim kecepatan yang didapat bisa 3,1 Mbps. Rencana ke depan untuk pengembangan jaringan adalah membangun serat optic disepanjang ruas toal Kanci-Pejagan, milik PT Bakrieland Development Tbk selain pengembangan jaringan kabel dan infrastruktur tower di wilayah Jawa dan Sumatera.

Tahap pertama BCONNECT dengan merek dagang AHA akan hadir di lima kota yakni Bogor, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Hingga akhir tahun jumlah tersebut diharapkan naik menjadi 10 kota.

Secara terpisah, Pengamat Ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiskus Paschalis menyakini aksi BTEL meluncurkan BCONNECT akan menaikkan valuasi dari perusahaan secara keseluruhan di mata pasar. “BTEL itu sudah memiliki Sambungan Langsung Internasional (SLI), akses data, dan pelanggan Esia yang besar di wilayah gemuk yakni Jabodetabek, Jabar, dan Banten. Nilai perusahaan ini akan lebih kuat ketimbang Flexi,” katanya.

Frans pun menyakini, pembentukan BCONNECT adalah awal dari skenario besar BTEL untuk merambah akses data karena secara logika dengan spektrum 1,25 MHz sangat terbatas untuk mengembangkan pelanggan.

“Kanal sebesar itu hanya bisa melayani 4 juta pelanggan. Pasti ada langkah lain disiapkan BTEL dalam akses data ini, bisa saja mendekati pemain wireline atau bekerjasama dengan perusahaan yang memiliki backbone kuat,” katanya.

Sementara Sekjen Indonesia Wireless Broadband (Idwibb) Y. Sumaryo Bambang Hadi menilai hadirnya BCONNECT bukan sesuatu yang baru karena jasa data sudah pernah diberikan oleh BTEL melalui produk Wimode dan gagal.

“Ini hanya bungkus pemasaran. Selain itu saya tidak yakin kecepatannya bisa stabil di 3,1 Mbps. Kalau menggunakan frekuensi sebagai saluran tentu ada sharing bandwidth ketika pemakai dilakukan bersamaan. Apalagi kanalnya cuma 1,25 MHz, teknologi GSM yang dua kanal saja masih seret kestabilannya,” katanya.[dni]