280610 Wings Air Operasikan 5 Rute Baru

JAKARTA—Wings Air mulai akhir Juni dan awal Juli 2010 akan mengoperasikan 5 lima rute baru untuk mendukung mobilitas pelanggannya.

Kelima rute itu adalah Jakarta-Kolaka p.p (via Makassar), rute Jakarta-Maumere p.p. (via Denpasar), rute Jakarta-Ende p.p. (via Denpasar) , Jakarta-Natuna p.p (via Batam) dan Jakarta-Malaka p.p. (via Pekanbaru).

“Rute-rute tersebut dioperasikan secara sinergi oleh Lion Air dan Wings Air karena keberangkatan dari Jakarta ke kota transit menggunakan pesawat jet (Lion Air) dan penerbangan lanjutan ke kota tujuan dengan pesawat propeller (Wings Air),” ungkap Direktur Umum Lion Air Edward Sirait di Jakarta, Minggu (27/6).

Dijelaskannya, kelima rute baru tersebut dilayani sehari sekali (daily) dengan menggunakan pesawat Boeing 737-900 ER dari Jakarta dan penerbangan lanjutannya menggunakan pesawat ATR 72-500. Rute Jakarta-Kolaka p.p dioperasikan mulai 26 Juni 2010, rute Jakarta-Maumere p.p mulai 8 Juli 2010, rute Jakarta-Ende p.p. mulai 8 Juli 2010, rute Jakarta-Natuna mulai 8 Juli 2010, rute Jakarta-Malaka p.p. mulai 9 Juli 2010.

Diprediksinya, tingkat isian penumpang pesawat alias load factor rute-rute baru tersebut akan mencapai 90 persen dan target penumpangnya dari semua kalangan (segmen). “Kami akan terus melakukan pengembangan operasi penerbangan rute-rute tersebut dengan penambahan frekuensi penerbangan dan menambah rute baru di seluruh wilayah Nusantara serta negara tetangga sejalan dengan adanya penambahan armada baru baik jet maupun propeller,” jelasnya.

Lion Air saat ini mengoperasikan 51 pesawat yang terdiri dari 2 pesawat Boeing 747-400, 34 pesawat Boeing 737-900ER, 9 pesawat Boeing 737-400, 2 pesawat Boeing 737-300, 4 pesawat MD-90.

Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan penerbangan di Indonesia, Lion Air memilih Boeing 737-900ER karena pesawat tersebut lebih efisien, terbang lebih nyaman dengan ketinggian 40 ribu kaki dan sudah menggunakan perangkat teknologi mutahir yang dimiliki pesawat saat ini.

Untuk itu Lion Air sudah mengoperasikan 32 pesawat dari 178 pesawat Boeing 737-900ER yang sudah dipesan dari pabrik Boeing di Seattle Amerika dan direncanakan sampai pertengahan tahun 2010 akan diterima lagi 6 pesawat baru Boeing 737-900ER. Adapun Wings Air saati ini mengoperasikan 14 pesawat terdiri dari 5 pesawat ATR72-500, 2 pesawat MD-80 dan 3 DHC8-300.[dni]

280610 Tarif Internet Segera Terpangkas 40%

JAKARTA—Tarif akses internet dalam waktu tiga bulan ke depan diperkirakan terpangkas hingga 40 persen karena munculnya pemain baru dengan teknologi Worldwide interoperability for Microwave Access (Wimax) yang menawarkan tarif kompetitif.

Wimax sendiri adalah teknologi berbasis data yang bekerja pada spektrum pita lebar layaknya Wi-Fi namun dengan jangkauan lebih luas dan kemampuan transmisi lebih cepat yakni mencapai 75 Mbps.

“Kami mulai Senin (28/6), resmi meluncurkan merek Sitra 4G Wimax. Mulai tiga bulan ke depan kami mengajak masyarakat mendaftar untuk mencoba layanan Wimax, setelah itu kita resmi komersial. Hadirnya Wimax akan mengubah peta kompetisi akses data,” ungkap Chief Marketing Officer Sitra, Jerome Teh, di Jakarta, Minggu (27/6).

Sitra adalah merek dagang dari pemenang tender Broadband Wireless Access (BWA) tahun lalu, First Media, yang memenangi zona Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) dan Jabodetabek untuk menyelenggarakan akses data kecepatan tinggi.

Jerome menyakini, hadirnya Wimax akan membuat pemain eksisting di pasar mengubah harga dari akses data namun dengan kualitas yang masih sama. “Sedangkan Sitra dengan Wimax bisa memberikan kualitas lebih tinggi, tetapi harganya sama. Soalnya regulasi BWA saja meminta kita untuk memberikan akses data mulai dari 256 Kbps,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, sebelum lelang BWA dimulai peserta tender memperkirakan harga internet akan turun menjadi 300 hingga 500 ribu rupiah satu Mbps per bulan. Saat ini harga akses internet sebesar itu ditawarkan sekitar 750 ribu rupiah per bulan.

Dijelaskannya, untuk tiga bulan ke depan Wimax milik Sitra akan hadir di Jakarta, Banten, Depok, Bekasi, dan Tangerang. “Kami menyediakan dana sekitar 236 miliar rupiah hanya untuk mendapatkan lisensi dan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi tahun pertama. Sedangkan untuk pengembangan infrastruktur bisa lebih dari itu,” jelasnya.

Sebelumnya, Direktur First Media Indra Djaja mengungkapkan untuk mengembangkan Wimax membutuhkan investasi 500 miliar rupiah hingga satu triliun rupiah. First Media mengharapkan dalam 3-4 tahun ke depan, satu juta pelanggan Wimax dapat diraih.

Untuk menunjang target tersebut, Sitra Wimax akan mengoptimalkan 5 ribu KM serat optik milik First Media sebagai backhaul dan 600 node sebagai last mile. Sedangkan untuk menara BTS menyewa kepada Protelindo, XL, Indosat, dan Indonesian Tower (IT). IT juga menjadi penyedia perangkat Wimax bagi Sitra melalui produk TRG.

“Keunggulan kami pada backhaul yang didukung serat optik. Jadi walau bandwitdh hanya 15 MHz, bisa ditutup masalah kapasitas,” katanya.

Dikatakannya, segmen yang akan dibidik adalah kaum profesional, kalangan pendidikan, dan masyarakat yang belum terjangkau oleh layanan fixed broadband First Media.

“Wimax ini sebenarnya pelengkap bagi layanan First Media. Selama ini First Media kesulitan memperpanjang serat optik masuk ke target pasar karena tingginya investasi. Dengan Wimax, 600 titik yang berada di pengujung target pasar itu tinggal di pasang BTS, maka pasar bisa digarap,” jelasnya.

Praktisi Telematika Suryatin Setiawan Suryatin mengakui, langkah cepat menggelar jaringan oleh Sitra adalah pemegang faktor terpenting untuk memenangkan persaingan. “Dalam telekomunikasi, khususnya wireless, penggelaran jaringan adalah faktor yang sangat penting. Jika tertunda- tunda jendela kesempatan bisnis menutup, seperti dialami oleh operator selular yang belakangan muncul di Indonesia,” katanya.

Suryatin mengingatkan, janganlah terlalu bergantung kepada teknologi wimax untuk memacu penurunan tarif internet. “Wimax belum tentu menimbulkan hype baru. Sangat bergantung waktu peluncurannya. Bisa saja muncul teknologi baru lain yang mungkin lebih popular dari Wimax,” katanya.

Menurut dia, harga akses internet adalah fungsi persaingan , bukan regulasi. Seandainya setelah para pemenang nanti beroperasi dan bersedia perang tarif harga akan turun cepat dan bisa drastis. “Nanti yang menjadi masalah siapa yang bisa bertahan menyangga arus kas perusahaan dalam jangka waktu lama karena bisnisnya dipastikan negatif di tahun-tahun awalnya,” jelasnya.[dni]