250610 BTEL Bantah Cari Pendanaan untuk Beli Flexi

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) membantah tengah mencari pendanaan ke luar negeri dalam usahanya untuk membeli unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), Flexi.

“Tidak benar kami melakukan road show untuk mencari pendanaan dalam rangka konsolidasi tersebut. Road show dilakukan belum lama ini dalam rangka penerbitan global bond senilai 250 juta dollar AS yang telah selesai pada 5 Mei lalu dengan respon oversubscired dari pasar,” ungkap Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya N. Bakrie di Jakarta, Kamis (24/6).

Diakuinya, saat ini terjadi pembicaraan yang serius dengan Telkom terkait konsolidasi Flexi dengan BTEL, tetapi teknis dari pembicaraan tidak bisa diungkap karena negosiasi sedang berlangsung. “Kedua perusahaan tercatat di bursa. Tidak bisa sembarangan mengeluarkan pernyataan,” katanya.

Sebelumnya beredar kabar, dalam aksi konsolidasi antar kedua perusahaan, Telkom yang berposisi melepas Flexi tetapi dengan syarat menjadi simple majority di entitas baru yang dibentuk. Strategi ini diyakini akan membuat Telkom mendapatkan uang dari monetize unit usahanya itu.

BTEL pun dikabarkan sedang membuat Private Equity Fund guna membeli Flexi atau membuat anak perusahaan yang valuasinya setara BTEL dan kemudian mengakuisisi Flexi untuk kemudian digabungkan dengan BTEL. Langkah ini dianggap menguntungkan BTEL karena nantinya dalam ekspansi Telkom tetap menanggung belanaja modal sebagai simple majority.

Resmikan BCONNECT
Pada kesempatan sama, Anindya meresmikan hadirnya anak usaha milik BTEL yakni Bakrie Connectivity (BCONNET) yang bergerak dibidang jasa mobile broadband dengan kecepatan minimal mulai dari 3,1 Mbps melalui teknologi Evolution Data Optimized (EVDO) Rev A yang menelan investasi 100 juta dollar AS.

“Dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan anak usaha ini diharapkan berkontribusi 30 persen bagi BTEL. Kalau tahun pertama ini, BCONNECT masih menjadi bagian dari mendukung target BTEL mencapai 14 juta pelanggan pada akhir tahun nanti,” ungkapnya.

Presiden Direktur BCONNECT Erik Meijer menjelaskan, alasan BTEL membentuk anak usaha yang khusus bermain di data karena di masa depan pasar ini sangat menjanjikan. “Di Indonesia penetrasi internet baru sekitar 15 persen. Pemainnya banyak, tetapi penetrasi terbatas. Jika BCONNECT masuk ke pasar dengan strategi disruptive innovation, bisa meningkatkan penetrasi,” tegasnya.

Wakil Direktur Utama Bidang Jaringan Bakrie Telecom M. Danny Buldansyah mengungkapkan sebanyak 30 hingga 40 juta dollar AS belanja modal BCONNECT terserap untuk memasang modul EVDO Rev A di BTS, sedangkan untuk transmisi backhaul juga menyerap anggaran 30 juta dollar AS, dan sisanya untuk backbone dan IT System.

BCONNECT sendiri mendedikasikan satu kanal atau setara 1,25 MHz untuk akses data sehingga diklaim kecepatan yang didapat bisa 3,1 Mbps. Rencana ke depan untuk pengembangan jaringan adalah membangun serat optic disepanjang ruas toal Kanci-Pejagan, milik PT Bakrieland Development Tbk selain pengembangan jaringan kabel dan infrastruktur tower di wilayah Jawa dan Sumatera.

Tahap pertama BCONNECT dengan merek dagang AHA akan hadir di lima kota yakni Bogor, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Hingga akhir tahun jumlah tersebut diharapkan naik menjadi 10 kota.

Secara terpisah, Pengamat Ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiskus Paschalis menyakini aksi BTEL meluncurkan BCONNECT akan menaikkan valuasi dari perusahaan secara keseluruhan di mata pasar. “BTEL itu sudah memiliki Sambungan Langsung Internasional (SLI), akses data, dan pelanggan Esia yang besar di wilayah gemuk yakni Jabodetabek, Jabar, dan Banten. Nilai perusahaan ini akan lebih kuat ketimbang Flexi,” katanya.

Frans pun menyakini, pembentukan BCONNECT adalah awal dari skenario besar BTEL untuk merambah akses data karena secara logika dengan spektrum 1,25 MHz sangat terbatas untuk mengembangkan pelanggan.

“Kanal sebesar itu hanya bisa melayani 4 juta pelanggan. Pasti ada langkah lain disiapkan BTEL dalam akses data ini, bisa saja mendekati pemain wireline atau bekerjasama dengan perusahaan yang memiliki backbone kuat,” katanya.

Sementara Sekjen Indonesia Wireless Broadband (Idwibb) Y. Sumaryo Bambang Hadi menilai hadirnya BCONNECT bukan sesuatu yang baru karena jasa data sudah pernah diberikan oleh BTEL melalui produk Wimode dan gagal.

“Ini hanya bungkus pemasaran. Selain itu saya tidak yakin kecepatannya bisa stabil di 3,1 Mbps. Kalau menggunakan frekuensi sebagai saluran tentu ada sharing bandwidth ketika pemakai dilakukan bersamaan. Apalagi kanalnya cuma 1,25 MHz, teknologi GSM yang dua kanal saja masih seret kestabilannya,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s