260610 Tarif Kapal Ferry Segera Naik.

JAKARTA–Kementrian Perhubungan (Kemenhub) memastikan tarif kapal penyeberangan segera naik menjelang Lebaran 2010.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Suroyo Alimoeso memastikan  usulan kenaikan tarif  tinggal ditandatangani  oleh Menteri Perhubungan Freddy Numberi.

“Menjelang September nanti sudah ada penyesuaian tarif baru. Ini  bukan karena aji mumpung untuk mendapatkan keuntungan penyelenggara penyeberangan sebesar-besarnya, namun dikarenakan sudah dua tahun tarif tidak naik,” katanya di Jakarta, Jumat (25/6).

Dijelaskannya, sesuai aturan tarif kapal feri harusnya disesuaikan setiap semester, namun realisasinya hingga saat ini belum juga disesuaikan.  Kemenhub pun menerima usulan pengusaha kapal feri untuk menyesuaikan tarif itu pada tahun ini.

Dalam proses penyesuaian tarif itu, instansinya telah membentuk tim tarif yang terdiri dari perwakilan Kemenhub dan perwakilan pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Angkutan SungaiDanau dan Penyeberangan (Gapasdap).

Tim tarif itu menghitung besaran tarif berdasarkan inflasi dan kemampuan bayar (willingnessto pay) di setiap lintasan penyeberangan.

Besaran tarif di setiap lintasan tak sama, meski mungkin jaraknya sama. Karena inflasi dan kemampuan bayarnya juga berbeda.
Berdasarkan catatan,  penyesuaian tarif kapal feri terakhir kalinya dilakukan awal 2009.

Sementara itu Sekjen Gapasdap Luthfi Syarief menyatakan dukungan atas rencana penyesuaian tarif sebelum Lebaran tersebut.

“Sebenarnyadiharapkan kenaikan terjadi pada bulan Juni ini saat liburan sekolah, sehingga pengusaha bisa mendapatkan margin keuntungan.Namun demikian, bila kenaikannya menjelang Lebaran juga tetap memberi keuntungan bagi para pengusaha penyeberangan,” katanya.

Dijelaskannya, keuntungan itu akan digunakan untuk meremajakan armada kapal.

Tarif yang diusulkan oleh Gapasdap adalah penyesuaian sebesar 65 persen. Namun kemungkinannya tidak naik sekaligus tetapi bertahap,pada kenaikan pertangahan tahun ini bisa sebesar 20 persen dan sisanya dilakukan pada tahun berikutnya.

“Bisa saja tahun ini naiknya 20-30 persen dan kemudian dilanjutkan pada 2011,” katanya.

Operator kapal feri menikmati kenaikan tarif terakhir kalinya pada pertengahan 2008. Namun pada Januari 2009, tarif tersebut justru diturunkan pemerintah sejalan dengan turunnya harga bahan bakarminyak (BBM).

Ketentuan tarif yang kini masih berlaku adalah KM No2 Tahun 2009 tentang Tarif Penyeberangan Lintas Antarprovinsi yangberlaku per 15 Januari 2009. [Dni]

250610 BTEL Bantah Cari Pendanaan untuk Beli Flexi

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) membantah tengah mencari pendanaan ke luar negeri dalam usahanya untuk membeli unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), Flexi.

“Tidak benar kami melakukan road show untuk mencari pendanaan dalam rangka konsolidasi tersebut. Road show dilakukan belum lama ini dalam rangka penerbitan global bond senilai 250 juta dollar AS yang telah selesai pada 5 Mei lalu dengan respon oversubscired dari pasar,” ungkap Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya N. Bakrie di Jakarta, Kamis (24/6).

Diakuinya, saat ini terjadi pembicaraan yang serius dengan Telkom terkait konsolidasi Flexi dengan BTEL, tetapi teknis dari pembicaraan tidak bisa diungkap karena negosiasi sedang berlangsung. “Kedua perusahaan tercatat di bursa. Tidak bisa sembarangan mengeluarkan pernyataan,” katanya.

Sebelumnya beredar kabar, dalam aksi konsolidasi antar kedua perusahaan, Telkom yang berposisi melepas Flexi tetapi dengan syarat menjadi simple majority di entitas baru yang dibentuk. Strategi ini diyakini akan membuat Telkom mendapatkan uang dari monetize unit usahanya itu.

BTEL pun dikabarkan sedang membuat Private Equity Fund guna membeli Flexi atau membuat anak perusahaan yang valuasinya setara BTEL dan kemudian mengakuisisi Flexi untuk kemudian digabungkan dengan BTEL. Langkah ini dianggap menguntungkan BTEL karena nantinya dalam ekspansi Telkom tetap menanggung belanaja modal sebagai simple majority.

Resmikan BCONNECT
Pada kesempatan sama, Anindya meresmikan hadirnya anak usaha milik BTEL yakni Bakrie Connectivity (BCONNET) yang bergerak dibidang jasa mobile broadband dengan kecepatan minimal mulai dari 3,1 Mbps melalui teknologi Evolution Data Optimized (EVDO) Rev A yang menelan investasi 100 juta dollar AS.

“Dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan anak usaha ini diharapkan berkontribusi 30 persen bagi BTEL. Kalau tahun pertama ini, BCONNECT masih menjadi bagian dari mendukung target BTEL mencapai 14 juta pelanggan pada akhir tahun nanti,” ungkapnya.

Presiden Direktur BCONNECT Erik Meijer menjelaskan, alasan BTEL membentuk anak usaha yang khusus bermain di data karena di masa depan pasar ini sangat menjanjikan. “Di Indonesia penetrasi internet baru sekitar 15 persen. Pemainnya banyak, tetapi penetrasi terbatas. Jika BCONNECT masuk ke pasar dengan strategi disruptive innovation, bisa meningkatkan penetrasi,” tegasnya.

Wakil Direktur Utama Bidang Jaringan Bakrie Telecom M. Danny Buldansyah mengungkapkan sebanyak 30 hingga 40 juta dollar AS belanja modal BCONNECT terserap untuk memasang modul EVDO Rev A di BTS, sedangkan untuk transmisi backhaul juga menyerap anggaran 30 juta dollar AS, dan sisanya untuk backbone dan IT System.

BCONNECT sendiri mendedikasikan satu kanal atau setara 1,25 MHz untuk akses data sehingga diklaim kecepatan yang didapat bisa 3,1 Mbps. Rencana ke depan untuk pengembangan jaringan adalah membangun serat optic disepanjang ruas toal Kanci-Pejagan, milik PT Bakrieland Development Tbk selain pengembangan jaringan kabel dan infrastruktur tower di wilayah Jawa dan Sumatera.

Tahap pertama BCONNECT dengan merek dagang AHA akan hadir di lima kota yakni Bogor, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Hingga akhir tahun jumlah tersebut diharapkan naik menjadi 10 kota.

Secara terpisah, Pengamat Ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiskus Paschalis menyakini aksi BTEL meluncurkan BCONNECT akan menaikkan valuasi dari perusahaan secara keseluruhan di mata pasar. “BTEL itu sudah memiliki Sambungan Langsung Internasional (SLI), akses data, dan pelanggan Esia yang besar di wilayah gemuk yakni Jabodetabek, Jabar, dan Banten. Nilai perusahaan ini akan lebih kuat ketimbang Flexi,” katanya.

Frans pun menyakini, pembentukan BCONNECT adalah awal dari skenario besar BTEL untuk merambah akses data karena secara logika dengan spektrum 1,25 MHz sangat terbatas untuk mengembangkan pelanggan.

“Kanal sebesar itu hanya bisa melayani 4 juta pelanggan. Pasti ada langkah lain disiapkan BTEL dalam akses data ini, bisa saja mendekati pemain wireline atau bekerjasama dengan perusahaan yang memiliki backbone kuat,” katanya.

Sementara Sekjen Indonesia Wireless Broadband (Idwibb) Y. Sumaryo Bambang Hadi menilai hadirnya BCONNECT bukan sesuatu yang baru karena jasa data sudah pernah diberikan oleh BTEL melalui produk Wimode dan gagal.

“Ini hanya bungkus pemasaran. Selain itu saya tidak yakin kecepatannya bisa stabil di 3,1 Mbps. Kalau menggunakan frekuensi sebagai saluran tentu ada sharing bandwidth ketika pemakai dilakukan bersamaan. Apalagi kanalnya cuma 1,25 MHz, teknologi GSM yang dua kanal saja masih seret kestabilannya,” katanya.[dni]

250610 Batavia Pensiunkan Boeing 737-200

JAKARTA–Maskapai swasta nasional, Batavia Airlines telah menghentikan operasional pesawat jenis Boeing 737- 200 karena boros bahan bakar.

“Dua unit Boeing 737-200 telah dihentikan penerbangan sejak 18 Mei lalu,” ungkap Juru bicara Batavia, Eddy Heryanto dalam keterangan persnya, Kamis
(24/6).

Dijelaskannya, pesawat yang dihentikan itu merupakan jenis pesawat dioperasikan Batavia pada saat pertama terbang.

“Pesawat itu telah tua, berusia lebih dari 30 tahun sehingga sudah
saatnya dibebastugaskan. Di samping usia, pesawat ini juga boros dalam konsumsi bahan bakar sehingga tidak efisien lagi,” kata.

Dengan berdatangannya pesawat- pesawat modern yang telah dipesan sebelumnya, maka Batavia akan lebih bisa mengefisienkan lagi
operasi penerbangannya. Selain untuk efisiensi, pembebastugasan
Boeing 737-200 dilakukan agar maskapai ini lebih cepat masuk dalam daftar maskapai yang boleh masuk Uni Eropa.

Saat ini, Batavia telah menerbangkan sebanyak 36 unit pesawat yang lebih modern yaitu 10 unit Boeing 737-400, 15 unit Boeing 737-300,
dua unit Airbus A319, tujuh unit Airbus A320 dan dua unit Airbus
A330-200.

Untuk A330-200 yang berbadan lebar saat ini dioperasikan
untuk menerbangan penumpang ke Jeddah, Arab Saudi.
“Dalam waktu dekat ini, kita juga akan menambah satu Airbus A 330-200 dan tiga buah Airbus A320,” terangnya.

Batavia saat ini mengoperasikan 170 penerbangan setiap hari dan
melayani 39 kota tujuan di seluruh Indonesia. Sedangkan untuk rute
internasional, Batavia telah menerbangi Guangzhou (China), Kuching (Malaysia) dan Singapura

Secara terpisah, Direktur Angkutan Udara Kemenhub Tri S Sunoko menyambut gembira langkah Batavia meremajakan armadanya. “Jenis Boeing 737-200 memang sudah lama. Kami memang menghimbau dilakukan peremajaan oleh maskapai agar mendapatkan kepercayaan dari penumpang,” katanya.[Dni]