240610 Dimanja di Udara dan Darat

Pengguna telekomunikasi memang paling dimanja untuk akses data di darat dan udara.  Lihat saja, Garuda Indonesia lebih mengutamakan akses Internet dan SMS ketimbang suara karena sadar pengguna semakin haus berselancar di dunia maya.

Data terbaru mengungkapkan di Indonesia pada empat tahun mendatang bakal ada   234 juta pelanggan selular. Dari jumlah tersebut 20 persen  diproyeksikan akan menjadi pelanggan mobile data. Di Indonesia saat ini penetrasi pasar dalam bisnis layanan data  baru berkisar 10 persen. Inilah yang membuat operator berlomba-lomba menawarkan jasa tersebut.

Terbaru adalah Telkom Flexi dan First Media. Telkom Flexi walau memiliki keterbatasan dalam frekuensi berani membidik tambahan satu juta pelanggan mulai Juni hingga September nanti untuk jasa data  FlexiNet Unlimited.

“Sejak diluncurkan Agustus 2009 sampai dengan pertengahan Juni 2010 pelanggan aktif FlexiNet sudah mencapai 200.000. Jika target tiga bulan ini tercapai, maka total pengguna FlexiNet mencapai 1,2 juta nomor,” kata Deputy Executive General Manager Business dan Development Telkom Flexi Judi Achmadi di Jakarta, Rabu (23/6).

Untuk mencapai target tersebut, Flexi menyiapkan sebanyak satu juta modem yang dikemas melalui program kegiatan Gebyar Sejuta FlexiNet (JUFE) di seluruh kota-kota besar di Indonesia.

Menurut Judi, Gebyar JUFE yang berlangsung mulai Juni 2010 hingga akhir September 2010, menawarkan modem seperti ZTE, IVIO, Huawei, Olive, Data Card dengan harga murah.

“Hanya dengan 275 ribu rupiah masyarakat dapat memiliki modem mobile internet dan menikmati layanan akses internet tanpa batas secara triwulan, semester dan tahunan. Kita mengalokasikan 30 persen kapasitas untuk layanan data. Kami berharap kontribusi layanan data terhadap pendapatan bisa meningkat menjadi 15 persen dari sebelumnya sekitar 10 persen,” ujarnya.

Sementara First Media yang bergerak di Fixed Broadband   menawarkan layanan baru FastNet meliputi paket Express, Premium, Profesional dan Ultimate dengan speed akses mulai dari 1,5 Mbps hingga 10 Mbps.

Presiden Direktur First Media, Hengkie Liwanto mengungkapkan, perseroan sudah melakukan  peningkatan kapasitas akses FastNet mulai awal Juni hingga dua kali lipat., di mana pelanggan lama secara otomatis dapat menikmati fasilitas akses dalam hitungan Megabit pada setiap paket langganannya.

Product Development & Marketing  First Media Dedy Handoko mengungkapkan, perseroan  berencana akan menaikkan kapasitas dari 500 ribu menjadi 700 ribu home pass guna meraih 480 ribu pelanggan hingga akhir tahun nanti.
“Saat ini kami memiliki 285 ribu pelanggan. Jika kapasitas sambungan serat optik ditingkatkan, target raihan pelanggan bisa dicapai,” ungkapnya.

Diungkapkannya, investasi untuk membangun satu homepass sekitar satu hingga tiga juta rupiah. “Jika ada tambahan 200 ribu home pass dihitung saja. Target kami pada 2011 kita bisa mencapai satu juta home pass,” katanya.

Penggiat internet Enda Nasution mengungkapkan, di masa depan kebutuhan akan akses data kian tinggi karena ada pergeseran dalam mengakses informasi. “Beberapa tahun lagi semua orang bisa menjadi media karena ada situs-situs yang mengakomodasi citizen journalism. Belum lagi aktifitas jual beli secara online. Ini memerlukan akses data yang besar,” katanya.[dni]

240610 Tarik Menarik Akses Telekomunikasi di Pesawat

Kemajuan teknologi telekomunikasi tak pelak membuat semua sektor usaha harus mengikuti perkembangannya. Hal ini karena telekomunikasi telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat.

Sadar akan  pentingnya telekomunikasi, maskapai penerbangan pun berinovasi dengan memberikan layanan tersebut bagi penumpangnya selama di udara. Praktik semacam ini di luar negeri sudah biasa.

Di luar negeri, terwujudnya penumpang berhalo-halo di atas pesawat tak bisa dilepaskan dari teknologi yang dimiliki oleh beberapa perusahaan seperti AeroMobile Communications Ltd (Inggris), OnAir (Swiss), dan Aircell (Amerika Serikat) yang menyediakan perangkat ke berbagai maskapai.
OnAir tercatat memiliki pelanggan terbanyak dengan 15 maskapai yang sudah menggunakan peralatan yang dijualnya seperti  France Air, TAP Portugal atau British Midland Airways.  Sementara AeroMobile memiliki empat maskapai pelanggan salah satunya adalah   Emirates Airline.   Terakhir, Aircell memiliki pelanggan sebanyak lima maskapai asal Amerika diantaranya   American Airlines dan  Virgin America.

Di Indonesia, maskapai yang sedang meretas jalan untuk membuka akses telekomunikasi bagi penumpangnya adalah PT Garuda Indonesia (Persero).

“Saat ini kami sedang menyeleksi dua perusahaan penyedia perangkat teknologi informasi untuk memasok alat telekomunikasi di pesawat. Perusahaannya dari Amerika Serikat dan Eropa. Jika terealisasi, Garuda adalah maskapai nasional pertama yang menyediakan akses internet dan SMS di atas udara,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, untuk  merealisasikan rencana tersebut, perseroan menyiapkan  investasi sekitar  17,5 juta dollar AS untuk membeli perangkat teknologi telekomunikasi di pesawat. Alatnya sendiri diperkirakan seharga   250 ribu dollar AS dan diimplementasikan pada 70 unit armada Garuda untuk rute  domestik maupun internasional. “Jika semua lancar, tahun depan sudah bisa dinikmati,” katanya.
Dikatakannya, Garuda hanya berani memberikan   hanya layanan SMS dan internet yang bisa digunakan penumpang sepanjang perjalanan karena tidak mau mengambil resiko terganggunya perjalanan jika layanan suara diberikan. Hal ini karena  karena frekuensi panggilan telepon lebih besar dan bisa mengganggu navigasi penerbangan.
“Memang ada regulasi yang melarang menggunakan fasilitas telekomunikasi diatas pesawat, tapi kami akan konsultasikan dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk bisa menggunakan alat tersebut. Kami juga akan mengkonsultasikan penggunaan alat tersebut kepada seluruh operator seluler lokal,” katanya.

Sedangkan operator lokal pertama yang menyelenggarakan layanan teleponi adalah Indosat sejak akhir tahun lalu. Anak usaha Qatar Telecom tersebut menggandeng AeroMobile  guna memberikan akses teleponi  di Malaysia Airlines dan Emirates.
Untuk dapat berhalo-halo, pelanggan Matrix dikenakan  tarif  55 ribu rupiah. Untuk pesan singkat atau SMS yang disalurkan, pelanggan dikenakan biaya  15 ribu rupiah. Sementara untuk akses data, tiap kilobyte-nya akan ditagih  350 rupiah. Tarif ini lebih mahal dibanding penggunaan fitur jelajah atau roaming internasional.

Grup Head Vas and Brand Marketing Indosat Teguh Prasetya mengungkapkan, penggunan layanan yang diberikan masih sedikit, hanya  sekitar ratusan. Tetapi pertumbuhannya lumayan menjanjikan. “Kami  menggunakan satelit Inmarsat sebagai backhaul. Bagi kami  ini adalah wujud Indosat hadir di mana saja melayani pelanggan,” katanya.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno pun tergoda mengikuti jejak Indosat dengan menjadikan Garuda Indonesia sebagai mitra. “Kalau Garuda mengajak Telkomsel itu sudah tepat. Pelanggan kami 86 juta nomor. Kita siap mendukung,” katanya.

Terbentur Regulasi

Operator dan maskapai boleh saja bersemangat, tetapi Undang-undang Penerbangan No 1/2009 sepertinya akan menjadi benturan dari layanan tersebut. Dalam regulasi itu disebutkan melarang
penggunaan seluruh alat yang mengeluarkan frekuensi selama berada di
dalam pesawat.

Namun, sikap melunak diberikan oleh Kemenhub melalui Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub Bambang S Ervan yang berjanji tidak akan  menghalangi rencana maskapai yang ingin memberikan fasilitas lebih bagi penumpangnya.
“Sebaiknya sebelum digunakan, dilihat dulu alatnya seperti apa. Otoritas penerbangan bisa mengeluarkan sertifikasi setelah dilakukan kalibrasi atas alat itu. Apakah benar frekuensi yang dikeluarkan oleh alat telekomunikasi bisa diredam oleh alat tersebut sehingga tidak mengganggu navigasi penerbangan,” jelasnya.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bhakti Singayudha Gumay mengatakan, maskapai yang ingin menyediakan layanan teleponi harus disertifikasi terlebih dulu.  “Maskapai  harus mendaftarkan dulu pesawat-pesawat mana saja yang akan melayani SMS dan  internet, kemudian pihak regulator yang memberikan sertifikasi,” katanya.
Sementara Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengungkapkan terdapat beberapa hal yang harus tegas diatur soal layanan teleponi di pesawat terutama jika armada berada di   wilayah udara RI yang membutuhkan  penyelenggara  telepon  berizin.

“Adanya izin tentu memaksa munculnya hak dan kewajiban seperti Biaya Hak Penggunaan (BHP) telekomunikasi, sumbangan Universal Service Obligation (USO), dan masalah interkoneksi,” jelasnya.

Belum lagi jika layanan berbasis telepon satelit  yang membutuhkan adanya landing right. “Tetapi yang paling utama adalah masalah frekuensi karena menyangkut aspek keselamatan,” katanya.
Heru sendiri mengaku kecolongan dengan langkah Indosat yang telah mengomersialkan sejak tahun lalu karena merasa tidak mengeluarkan izin. “Kami baru tahu dari media Indosat ternyata telah mengomersialkan layanan teleponi itu sejak akhir tahun lalu. Setahu saya masih ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi jika mau komersial, seperti yang saya paparkan di atas,” sesalnya.

Pada kesempatan lain, Pengamat telematika Miftadi Sudjai menjelaskan, spektrum frekuensi GSM yang berada di 900/1800 MHz memang rentan berinteferensi dengan navigasi pesawat. Tetapi hal itu bisa diakali dengan translasi frekuensi jika dilakukan sambungan melalui satelit.

Sedangkan untuk isu penarikan BHP dari frekuensi tidak relevan karena pesawat berada di kawasan satu negara tentunya akan sangat cepat. “Solusinya adalah secepatnya menggunakan tarikan BHP berbasis pita agar pemerintah tidak rugi dengan manipulasi teknologi di frekuensi,” katanya.[dni]