220610 Uji Coba LTE Telkomsel : Upaya Menarik Simpati Penguasa

PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) akhirnya merealisasikan janjinya untuk melakukan uji coba teknologi Long Term Evolution (LTE) menjelang tutup semester pertama tahun ini.

Uji coba  dilakukan di Jakarta dengan  menggandeng   mitra penyedia jaringan dari China, Huawei. Sedangkan untuk  uji coba secara outdoor  direncanakan mulai dilakukan sejak Juni 2010 dengan lokasi di Garut, Jawa Barat.

LTE  adalah lanjutan dari teknologi seluler generasi ketiga (3G),  setelah high speed downlink packet access (HSDPA), dan HSPA +. LTE adalah satu set perangkat tambahan ke universal mobile telecommunications system (UMTS) yang diperkenalkan pada 3rd generation partnership project (3GPP) release 8.

Inovasi ini memberikan tingkat kapasitas downlink sedikitnya 100 Mbps, dan uplink paling sedikit 50 Mbps dan RAW round-trip kurang dari 10 ins.  Layanan LTE pertama di dunia dibuka oleh TeliaSonera di dua kota Skandinavia yaitu Stockholm dan Oslo pada 14 Desember 2009.
Aksi yang dilakukan oleh penguasa pasar seluler ini bisa dikatakan maju selangkah dibandingkan dua pesaingnya (Indosat dan XL) yang juga telah menyatakan berminat untuk mengembangkan LTE.

XL rencananya akan memulai uji coba LTE pada semester kedua 2010, sedangkan Indosat sedang berkutat mengembangkan Double Carrier untuk High Speed Access Plus (HSPA+).

Dalam uji coba tersebut  Telkomsel melakukan pengkajian teknis maupun bisnis teknologi LTE, terutama kebutuhan akan sumber daya, seperti alokasi frekuensi, kebutuhan investasi  , serta pendayagunaan investasi existing yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan implementasi LTE.
Hasil  sementara uji coba didapatkan kecepatan maksimal pada 69,5 Mbps dengan bandwidth 10 MHz di alokasi 1.800 MHz. “Kami menggunakan frekuensi untuk 3G yang diberikan kepada Telkomsel. Karena itu kecepatan maksimal seperti idealnya LTE di atas 100 Mbps belum tercapai,” ungkap VP Technology and Masterplan Telkomsel Siswanto Dasijo di Jakarta, Senin (21/6).
Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno meminta tidak melihat hasil dari yang dicapai secara teknis untuk tahap awal tetapi lebih kepada  upaya perseroan untuk  terus memperbaharui teknologi mobile broadband yang saat ini telah menjangkau lebih dari 16 juta pelanggan dari total 86 juta pelanggan.
“Ini bentuk kesiapan dalam mengujicoba teknologi terbaru. Seiring dengan perkembangan mobile broadband yang masih pada initial stage, di mana teknologi yang dimanfaatkan masih berbasis 3G, yang telah berevolusi ke HSDPA/HSUPA dan HSPA+,” kata Sarwoto.
Siswanto menambahkan, kebutuhan akan akses data setiap tahun akan meningkat walau saat ini kontribusinya kepada pendapatan perusahaan masih belum signifikan. “Kita butuh transport dibangun terlebih dulu. Uji coba ini untuk menunjukkan kepada pasar, LTE itu tidak perlu mengganti perangkat, cukup menambah perangkat lunak, maka teknologi ini sudah jalan,” jelasnya.
Dijelaskannya, bagi operator sekelas Telkomsel mengikuti roadmap teknologi GSM dibutuhkan untuk mengamankan investasi jangka panjang, memastikan keberlanjutan bisnis, mencari sumber pendapatan baru, dan mempersiapkan ekosistem. “LTE sepertinya akan lebih difokuskan bagi masyaraat perkotaan. Karena dari sisi teknis teknologi ini bisa menekan Total Cost Ownership (TCO),” jelasnya.
Tidak Masalah
Menkominfo Tifatul Sembiring yang pada awalnya terkesan tidak memberikan izin untuk uji coba pun  suaranya melunak menanggapi aksi Telkomsel dengan memberikan lampu hijau untuk kegiatan tersebut. “Tidak ada masalah dengan uji coba. Ini dilakukan di laboratorium, belum disambungkan ke jaringan,” katanya.
Tifatul menegaskan, implementasi komersial dari LTE masih panjang di Indonesia. “Jika pun ada tender itu makan waktu 8 bulan. Saya perkirakan 2012 baru LTE komersial di Indonesia. Untuk jangka pendek wimax jalan dulu,” tegasnya.

Anggota  Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M.Ridwan Effendi mengungkapkan, jika uji coba dilakukan di frekuensi eksisting yang ditempati tidak ada penarikan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi.

“Jika di luar spektrum yang dimiliki tentu ada tarikan BHP, walau digunakan hanya satu hari, biayanya untuk satu tahun. Sedangkan jika meminta  tambahan kanal di spektrum 2,1 GHz, kemungkinan dilakukan lelang dengan harga dasar 160 miliar rupiah,” katanya.

Ridwan pun memastikan, LTE akan dikenakan regulasi layaknya Wimax yang mensyaratkan peggunaan kandungan lokal 30 hingga 40 persen untuk perangkat akses.

Sementara Direktur Standarisasi Ditjen Postel Azhar Hasyim mengakui mengeluarkan sertifikasi bagi penyedia perangkat untuk memasukkan barang karena demo dilakukan untuk evolusi teknologi dan berjalan di frekuensi eksisting. “Setelah uji coba usai perangkat harus di re-ekspor. Soalnya pemerintah belum memiliki regulasi yang jelas untuk LTE. Terutama masalah kandungan lokal,” tegasnya.

Upaya Memikat

Sekjen Indonesia Wireless Broadband (IdWibb) Y. Sumaryo Bambang Hadi menilai  uji coba LTE yang digelar Telkomsel  tak bisa dilepaskan sebagai upaya untuk menarik simpati dari penguasa agar teknologi itu secepatnya diadopsi di Indonesia.

“Jelas sekali ini bagian dari propaganda operator dan vendor untuk menekan pemerintah agar secepatnya mengadopsi LTE walau di Indonesia akan hadir juga Wimax yang sama-sama berbasis Internet Protocol (IP),” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah harus secara tegas bersikap dengan adanya ujicoba yang digelar karena sebelumnya Menkominfo Tifatul Sembiring pernah menegaskan belum mengeluarkan izin untuk dilakukan kegiatan tersebut.
“Pernyataan itu dimentahkan dengan adanya uji coba ini. Perangkat yang masuk berarti mengantongi izin sertifikasi dari Postel. Artinya, pemerintah bermain dua kaki. Kalau begini bagaimana nasib Wimax yang tak kunjung juga digelar,” sesalnya.
Praktisi Telematika Suhono Harso Supangkat mengatakan, sebenarnya tak layak mempertentangkan antara Wimax dan LTE yang sama-sama diklaim sebagai akses data 4G karena dua teknologi itu bisa berjalan beriringan. “Kita hanya perlu mencari jalan agar dari teknologi itu ada manfaat yang diambil oleh negeri ini. Baik dari sisi akses atau perkembangan infrastruktur,” katanya.
Sedangkan penggiat internet Enda Nasution mengatakan, di masa depan kebutuhan akses data yang diperlukan pengguna adalah bertarif murah, bisa digunakan dari berbagai perangkat, dan terjamin kesediaanya. “Pengguna sebenarnya tidak peduli teknologi yang digunakan, asal kebutuhannya terpenuhi,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s