170610 Telkomsel Kantongi Izin KUPU

JAKARTA—PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) akhirnya mengantongi izin Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU) dari Bank Indonesia untuk mengembangkan layanan dompet digital T-Cash.

“Kami mendapatkan izin itu pada 18 Februari lalu. Ini adalah izin pertama diberikan kepada operator telekomunikasi oleh bank sentral,” ungkap VP T-Cash Management Telkomsel Bambang Suprayogo kepada Koran Jakarta, Rabu (16/6).

Dompet digital adalah    layanan yang  memungkinkan ponsel  berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang  yang bisa digunakan  bertransaksi dengan cara yang mudah, cepat, dan aman.

Diyakininya, dengan dikantonginya izin KUPU maka akan membuat layanan T-Cash semakin berkembang karena inovasi itu memungkinkan masyarakat yang tidak memiliki akses ke bank menjadi bisa bertransaksi keuangan. “T-Cash diluncurkan tiga tahun lalu. Dua tahun pertama agak lambat perkembangannya karena keterbatasan merchant dan edukasi ke pengguna. Jika diizinkan pengguna mengirimkan uang ke pengguna lainnya layaknya transfer pulsa, ini akan meningkatkan jumlah pelanggan,” jelasnya.

Untuk diketahui, Telkomsel membenamkan  dana sebesar 50 juta dollar AS   guna mengembangkan T-Cash. Sebelumnya Telkomsel  optimistis, dalam waktu dua tahun dana itu akan kembali jika sepanjang tahun lalu ada 5 juta pelanggan yang menggunakan layanan tersebut. Namun, kenyataan berbicara lain. Hingga sekarang T-Cash hanya mampu menggoda 1,1 juta    dari 86 juta pelanggannya.

Sebelumnya, Peneliti dari Research ICT Africa Christoph Stork menyatakan, jika ingin  menggalakkan penggunaan dompet digital harus diciptakan kondisi pengguna dompet digital itu bisa menguangkan dan yang diterimanya dari pengirim lain.

“Ini agar penerima bisa memanfaatkan dana tidak hanya terbatas di merchant yang menjadi mitra operator,” jelasnya.

Disarankannya, kondisi lainnya yang harus diciptakan adalah mengembangkan standar untuk dompet digital sebagai prinsip open akses dan menciptakan regulator yang memungkinkan operator menjadi bank. “Perbankan sendiri baiknya fokus  sebagai intermiediasi bukan mencari fee dari transaksi,” katanya.

Diungkapkannya, berdasarkan studi yang dilakukan di Kenya, jasa Mpesa yang diusung Safari Comm mampu membuat masyarkat yang selama ini tidak tersentuh oleh perbankan merasakan jasa keuangan seperti pengiriman uang. “Ini membuat munculnya pengusaha kecil yang bisa mendorong perekonomian,” katanya.

Sementara Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengingatkan, isu utama berkaitan dengan dompet digital adalah amsalah pencucian uang dan Biaya Hak Penggunaan (BHP) jasa. “Kalau tidak ada pembatasan pengiriman bisa terjadi pencucian uang. Selain itu ini akan melibatkan jumlah fee yang besar, regulasi yang mengatur itu di telekomunikasi belum ada,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s