170610 Kontroversi di Angkasa

Indonesia bisa dikatakan kurang ketat dalam mengawasi asetnya di angkasa. Hal itu terlihat dari munculnya klaim Filipina atas  filing satelit pada slot orbit 107,7o bujur timur (BT) dan orbit 146o BT belum lama ini.

Filing satelit pada orbit 107,7o BT dikelola oleh PT Media Citra Indostar (MCI), sementara orbit 146o BT dikelola oleh PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN).

Selama ini, slot 146o BT ditempati satelit Mabuhay milik Filipina. Di Indonesia, Mabuhay bekerja sama dengan PSN dalam pemanfaatan satelit bersama. Selain di slot 146o BT, ACeS (induk perusahaan PSN) juga terlibat kerja sama dengan Inmarsat dalam mengelola slot satelit milik Indonesia 123o BT.

Filing satelit merupakan data teknis perencanaan satelit suatu negara yang nantinya diwujudkan pada fisik satelit yang didaftarkan ke International Telecommunication Union (ITU) agar tidak terjadi interferensi.

Metode pemrosesan setiap filing di ITU adalah first come first served (siapa lebih dulu, dia yang dapat) dengan beberapa aturan, yang paling utama adalah soal batasan waktu yang dapat menyebabkan satu filing tidak bisa lagi diteruskan (supressed).

Selain masalah filling, kontroversi lainnya adalah tentang kepemilikan dari Indostar II dan rencana digesernya satelit itu dari slot orbit milik Indonesia karena pemilik baru ingin mengoptimalkan Ku-band.

Untuk diketahui, pada tahun lalu kepemilikan Protostar II (nama lain Indostar II) berubah seiring bangkrutnya mitra MCI yakni Protostar Ltd. SES World Skies (SES) membeli satelit tersebut seharga  185 juta dollar AS, sehingga kepemilikan satelit sekarang diklaim oleh MCI adalah milik bersama dengan perusahaan Perancis itu.

Menanggapi hal itu, Direktur Kelembagaan Internasional Ditjen Postel Ikhsan Baidirus menegaskan, soal klaim Filipina tidak masuk di akal karena filing itu terdaftar di ITU sebagai milik Indonesia. “Filipina mendaftarkan satelitnya ke ITU. Filing itu seperti tanah, kalau ada pemilik toko mendaftarkan tokonya itu biasa saja,” katanya.

Namun, banyak kalangan tidak sependapat dengan Ikhsan. Hal ini karena jika negara lain di dalam kawasan setuju filing satelit itu diambil oleh Filipina, Indonesia kalah dan kepemilikan beralih.

Sedangkan terkait  MCI, Ikhsan menegaskan, telah meminta klarifikasi bentuk kerjasamanya dengan SES World Skies (SES).  “Prioritas Kemenkominfo adalah masalah kerjasama dulu. Soal ada rencana pemindahan slot orbit satelit tersebut belum ada surat masuk secara resmi ke kami,” tegasnya.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia (ASSI) Tonda Priyanto mengungkapkan, dalam pertemuan ITU bulan lalu, filing di kedua orbit itu didaftarkan  oleh  Filipina walau

pemerintah merasa telah memberikan hak pengelolaan kepada perusahaan lokal yang mengklaim telah meluncurkan dan mengoperasikan satelit milik Indonesia.

“Saat ini kedua slot tersebut masih digunakan dan satelit masih mengorbit. Suatu filing akan mati (hilang) bila sudah tidak ada satelitnya selama lebih dari 2 tahun,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s