150610 Kemenhub Koordinasi Kesiapan Moda Lebaran

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) mulai melakukan persiapan moda untuk mudik Lebaran 2010 guna meningkatkan kualitas layanan bagi masyarakat.

“Kami mulai lakukan koordinasi persiapan antarmoda lebih awal dengan instansi terkait. Ini agar layanan ke masyarakat terus membaik,” ungkap Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Suroyo Alimoeso di Jakarta, Senin (14/6).

Diprediksinya, volume penumpang moda transportasi darat, laut, udara, dan kereta api pada masa angkutan lebaran tahun ini diperkirakan meningkat hingga 15 persen  dibandingkan dengan 2009 yang sekitar 25 juta orang.

Misalnya, total jumlah penumpang angkutan udara pada masa mudik tahun lalu  mencapai hingga 18 juta orang. Jumlah penumpang terbesar dari total arus pemudik itu  dilayani oleh Bandara Soekarno-Hatta, mencapai hingga 60 persen.

“Belum ada angka pastinya  untuk jumlah penumpang, tapi dari setiap tahunnya rata-rata meningkat 10 – 15 persen. Kami masih menunggu laporan dari daerah mengenai jumlah pemudik,” katanya.

Dijelaskannya,   masa angkutan lebaran untuk moda transportasi darat jatuh pada H-7 hingga H+7, angkutan laut H-15 hingga H+15, kereta api H-10 sampai H+10, dan angkutan udara H-7 hingga H+7. “Untuk masalah  kapasitas yang tersedia bagi  angkutan bus dan angkutan penyeberangan dinilai masih mencukupi,” katanya.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub Bambang S. Ervan mengatakan jumlah feri yang tersedia di tujuh lintasan penyeberangan sebanyak 119 unit.

“Jumlah itu berkurang karena pada tahun lalu jumlah feri sebanyak 122 unit. Berkurang karena di lintasan Ujung-Kamal beberapa feri dipindahkan ke rute perintis, sebab sudah ada Jembatan Suramadu,” jelasnya.[dni]

150610 Pergantian Direksi Telkom Tidak Pengaruhi Kinerja

JAKARTA—Rencana Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan pergantian dewan direksi dari PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) diyakini tidak akan mempengaruhi kinerja dari penguasa pasar telekomunikasi itu.

“Organisasi sebesar Telkom itu sudah memiliki mesin produksi yang berjalan dengan baik. Perusahaan itu tidak akan tergantung pada satu sosok. Transformasi telah dilakukan sejak era Cacuk Sudaryanto, jika pun ada pergantian, tidak akan berpengaruh pada kinerja perseroan,” tegas Pengamat Keuangan Yanuar Rizky kepada Koran Jakarta, Senin (14/6).

Menurutnya, sebagai penguasa pasar di segmen telepon kabel dan seluler, Telkom tetap akan stabil menguasai pasar karena memiliki infrastruktur yang kuat. “Jangan berfikir jika ada pergantian direksi pelanggan berpindah. Pelanggan itu hanya memikirkan kualitas layanan, bukan direksinya,” katanya.

Yanuar mengingatkan, hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah memberikan kepastian kepada pasar tentang nasib direksi. “Pemerintah jangan bicara berubah-ubah. Jika masih mempertahan kan gaya lama, akhirnya yang muncul Telkom hanya dijadikan mainan dari tarik-menarik kepentingan para penguasa,” katanya.

Sebelumnya, Menneg BUMN Mustafa Abubakar menjanjikan   akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) beragendakan perubahan direksi dan komisaris dalam satu setengah bulan ke depan atau sekitar bulan Agustus.

“Mungkin butuh waktu sekitar satu sampai satu setengah bulan untuk dapat hasil dari TPA (Tim Penilai Akhir) sampai RUPS Luar Biasa nanti,” katanya.

Mustafa menegaskan, mundurnya perombakan jajaran direksi dan komisaris emiten berkode TLKM itu karena belum rampungnya seleksi di TPA, bukan karena intervensi politik.

“Karena belum turun dari TPA saja, bukan karena lain-lain. Ini normal sekali, tidak dibawa kepentingan lain-lain.  Saya bukan orang politik, dan saya tidak punya kepentingan bisnis. Yang ada kepentingan semuanya, kepentingan publik,” tambahnya.

Ia menuturkan, TPA kini tengah memproses 3 paket direksi BUMN yakni paket direksi Telkom, paket direksi PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan paket direksi PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri).

Mustafa mengatakan, rencananya pemerintah akan melakukan perombakan pada posisi Direktur Utama, satu orang Direksi, dua Komisaris Independen, dan Komisaris Utama. Karena masa jabatan semuanya sudah habis.

Calon-calon yang masuk dalam bursa Direktur Utama Telkom yakni Rinaldi Firmansyah, Arief Yahya dan Ermady Dahlan serta 1 calon kuda hitam yang disiapkan BUMN yakni Kiskenda Suriahardja mantan Direktur Utama PT Telkomsel.[dni]

150610 KemenKominfo “Rujukkan” Pemangku Kepentingan BWA

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berusaha “merujukkan” para pemangku kepentingan (stakeholder) Broadband Wireless Access (BWA) dengan mengadakan kunjungan ke pabrik perangkat lokal di Batam, pekan ini.

“Kami ingin mempertemukan kepentingan operator dan pemilik perangkat lokal. Tidak ada agenda lain selain ingin mempercepat digelarnya layanan BWA di Indonesia,” ungkap Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi di Jakarta, Senin (14/6).

Diungkapkannya, selain melakukan inspeksi ke pabrik di Batam, pemerintah juga akan melakukan sidak ke perusahaan sejenis di Bandung. “Di Bandung ada Hariff. Selai itu kami juga akan melihat pabrik milik Xirka yang mebuat perangkat BWA untuk standar 16e,” katanya.

Ridwan menegaskan,  meskipun pemerintah melakukan kunjungan ke pabrik milik Xirka bukan berarti stadarisasi dari BWA akan dipindah dari 16 d menjadi 16e. “Pemikiran untuk menerima 16e itu ada. Tetapi bukan dalam waktu dekat. Kita biarkan dulu 16d berkembang,” katanya.

Sementara itu, sumber Koran Jakarta mengungkapkan, terdapat ambivalensi dari sikap pemerintah terkait undangan ke pabrik perangkat di Batam.

“Kemenkominfo mengundang semua pemenang BWA, termasuk Internux, Comtronics, dan Wireless Telecom Universal (WTU). Para pemenang itu diminta untuk membeli perangkat lokal dengan kompensasi izin prinsipnya tidak dicabut,” katanya.

Menanggapi hal itu, Ridwan membantah keras regulator bertindak ala makelar bagi operator dan vendor. “Tidak ada itu kami memainkan peran makelar. Kita hanya memberikan ruang bagi pemain untuk mencari titik temu. Soalnya selama ini ada suara-suara yang mempertanyakan kualitas perangkat lokal. Soal undangan yang dibawa ke Batam, tiga peamin yang dicabut izinnya itu tidak diajak,” tegasnya.[dni]

150610 Perang Akses Data Makin Seru

JAKARTA—Kompetisi untuk memberikan layanan data terbaik bagi pelanggan seluler yang dilakukan oleh tiga operator besar kian seru. Kali ini tiga operator yang terlibat adalah PT XL Axiata Tbk (XL), PT Indosat Tbk (Indosat), dan PT Telkomsel.

XL menawarkan kartu micro chip untuk layanan broadband internet yang notabene ingin menggoda pelanggan iPhone dan iPad, Telkomsel membanting harga layanan BlackBerry menjadi 70 ribu rupiah, sementara Indosat menggandeng Nokia Siemens Network (NSN) untuk meningkatkan kemampuan jaringannya.

”Tren dari ponsel ke depan adalah mengakomodasi kartu mini alias micro chip. Kami memulainya tanpa ada target untuk membidik pelanggan iPhone 4 atau iPad. Tanpa promosi pun sekitar 20 ribu pelanggan iPhone menggunakan jaringan XL,” tegas Head of Marketing Mobile Data Services XL, Budi Harjono di Jakarta, Senin  (14/6).

Dijelaskannya, untuk tahap awal XL menyediakan inovasi baru itu sebanyak 5 ribu unit bagi pelanggan pascabayar dengan  paket layanan internet 150 ribu rupiah per 30 hari. ”Kartu  ini murni  untuk  akses data  tidak melakukan atau menerima panggilan maupun SMS. Saat ini kami sudah memiliki 13,5 juta pelanggan yang aktif mengakses data,” katanya.

Sementara VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo mengungkapkan, paket layanan BlackBerry 70 ribu rupiah per bulan dapat dinikmati  dengan membeli paket bundling BlackBerry Bold 9700 White Edition seharga  4.899 juta rupiah.

Dijelaskannya, paket BlackBerry Unlimited (full services)   70 ribu rupiah per bulan diperoleh pada bulan kedua, ketiga, dan keempat setelah berlangganan paket  120 ribu rupiah  di bulan pertama.

“Layanan BlackBerry Telkomsel kini telah dipilih oleh lebih dari 480.000 pelanggan.  Kami tetap fokus memberikan pelayanan yang terbaik dengan paket layanan variatif yang semakin hemat, keunggulan jaringan layanan berkapasitas besar, juga layanan purna jual yang semakin lengkap,” katanya.

Sedangkan kapasitas jaringan layanan BlackBerry Telkomsel telah ditingkatkan 100 persen menjadi 400 Mbps dari sebelumnya yang hanya 200 Mbps. Begitu pula dengan one stop solution shop layanan BlackBerry Telkomsel Mobilife yang kini telah hadir di Senayan City Jakarta dan Bandung Electronic Center.

Pada kesempatan lain, Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko mengatakan, telah menunjuk NSN guna  meningkatkan kekuatan jaringan 3G Indosat.

“Kami bangga telah meluncurkan layanan akses internet tercepat, yang menyediakan kecepatan DC-HSPA+ hingga 42 Mbps per pengguna. Hal ini membuat kami menjadi operator Asia pertama dan kedua di dunia yang melakukan hal ini,” ujarnya.[dni]

150610 GM CSL Mobile Indonesia Edmundus Leonard: Kami Mengutamakan Kualitas

Nama CSL Indonesia mulai banyak dibicarakan pasar sejak keberhasilannya menyodok dalam posisi 10 besar untuk penjualan ponsel merek lokal pada Maret lalu. Pasalnya, perusahaan ini baru hadir di Indonesia sejak Desember tahun lalu.

CSL sendiri sebagai satu perusahaan tergolong unik karena produknya dihasilkan di pabrik Shenzen, China. Pada 1998, di Malaysia mulai didirikan merek CSL. Setelah itu CSL hadir di Singapura dan Thailand.

Pola ekspansi perusahaan ini meniru franchise sehingga secara pemasaran memiliki keunggulan  dimana pelanggan bisa memperbaiki perangkat jika sedang berada di negeri para mitra CSL secara gratis

Situs resmi CSL sendiri mencatat perusahaan ini secara grup  berhasil melakukan penjualan sebesar satu miliar ringgit dengan memperkerjakan 500 karyawan.

Lantas bagaimana langkah perusahaan yang memiliki slogan Commitment, Service & Loyalty itu bersaing di pasar Indonesia? Berikut petikan wawancara wartawan Koran Jakarta Doni Ismanto dengan GM CSL Mobile Indonesia Edmundus Leonard di kantornya beberapa waktu lalu

T: Bisa ceritakan tentang CSL Indonesia

J: Perusahaan ini hadir di pasar Desember lalu dan berhasil menyodok ke peringkat 10 besar untuk merek lokal. Pabriknya ada di Shenzen, China, tetapi inisator untuk CSL itu dari Malaysia. Masing-masing negara memiliki wewenang sendiri. Jadi, bisa dikatakan walau merek lokal, tetapi jaringan sudah internasional

T: Apa yang ditawarkan CSL Indonesia

J: Kami menawarkan produk yang berkualitas dengan desain yang dinamis. Kami salah satu inisator ponsel Qwerty dengan desain mini. Harga produk kami berkisar dari 500 hingga 1,3 juta rupiah dengan fitur yang ditawarkan lumayan komplit. Belum lagi service center yang tersebar hingga ke kawasan timur Indonesia.

T: Ada rencana produk lainnya yang akan diluncurkan

J: Kami berencana bulan depan meluncurkan modem dan netbook dengan harga yang ramah kantong. Rencananya akan dibundling dengan tiga operator besar untuk akses data.

T: Merek ternama mulai bermain di segmen CSL, bagaimana menghadapinya

J: Itu sama sekali tidak mengangggu karena masing-masing punya segmen.  Kami bertahan dengan terus meningkatkan kualitas produk dan memperluas kerjasama dengan seluruh operator. Pada akhirnya masyakarat yang menentukan produk mana yang dipilihnya.

T: Apa Anda optimistis merek lokal akan tetap bertahan

J: Ponsel merek lokal bisa bertahan kalau menjaga service dan kualitasnya. Nanti ini akan seperti produk elektronik. Untuk perangkat elektronik itu sudah banyak juga produk China digunakan, sekarang masyarakat banyak menggunakan elektronik China karena sadar yang dicari fungsi. Begitu juga dengan ponsel, banyak yang bilang merek lokal itu laris di daerah, tetapi kenyataan di Jakarta pun produk ini laku. Artinya, masyarakat mulai memahami value for money dari satu produk

T: Apa  pemicu booming-nya merek lokal itu

J:  Ini karena masyarakat banyak menggunakan multi Sim card. Mereka tidak mau lagi membawa banyak perangkat. Ponsel merek lokal menjawabnya dengan dual atau triple sim card. Selain itu kebutuhan akan fitur multimedia. Kami juga menjawab dengan aplikasi multimedia bahkan menciptakan komunitas dengan CSl messenger.

GM CSL Mobile Indonesia Edmundus Leonard:

Kami Mengutamakan Kualitas

Nama CSL Indonesia mulai banyak dibicarakan pasar sejak keberhasilannya menyodok dalam posisi 10 besar untuk penjualan ponsel merek lokal pada Maret lalu. Pasalnya, perusahaan ini baru hadir di Indonesia sejak Desember tahun lalu.

CSL sendiri sebagai satu perusahaan tergolong unik karena produknya dihasilkan di pabrik Shenzen, China. Pada 1998, di Malaysia mulai didirikan merek CSL. Setelah itu CSL hadir di Singapura dan Thailand.

Pola ekspansi perusahaan ini meniru franchise sehingga secara pemasaran memiliki keunggulan  dimana pelanggan bisa memperbaiki perangkat jika sedang berada di negeri para mitra CSL secara gratis

Situs resmi CSL sendiri mencatat perusahaan ini secara grup  berhasil melakukan penjualan sebesar satu miliar ringgit dengan memperkerjakan 500 karyawan.

Lantas bagaimana langkah perusahaan yang memiliki slogan Commitment, Service & Loyalty itu bersaing di pasar Indonesia? Berikut petikan wawancara wartawan Koran Jakarta Doni Ismanto dengan GM CSL Mobile Indonesia Edmundus Leonard di kantornya beberapa waktu lalu

T: Bisa ceritakan tentang CSL Indonesia

J: Perusahaan ini hadir di pasar Desember lalu dan berhasil menyodok ke peringkat 10 besar untuk merek lokal. Pabriknya ada di Shenzen, China, tetapi inisator untuk CSL itu dari Malaysia. Masing-masing negara memiliki wewenang sendiri. Jadi, bisa dikatakan walau merek lokal, tetapi jaringan sudah internasional

T: Apa yang ditawarkan CSL Indonesia

J: Kami menawarkan produk yang berkualitas dengan desain yang dinamis. Kami salah satu inisator ponsel Qwerty dengan desain mini. Harga produk kami berkisar dari 500 hingga 1,3 juta rupiah dengan fitur yang ditawarkan lumayan komplit. Belum lagi service center yang tersebar hingga ke kawasan timur Indonesia.

T: Ada rencana produk lainnya yang akan diluncurkan

J: Kami berencana bulan depan meluncurkan modem dan netbook dengan harga yang ramah kantong. Rencananya akan dibundling dengan tiga operator besar untuk akses data.

T: Merek ternama mulai bermain di segmen CSL, bagaimana menghadapinya

J: Itu sama sekali tidak mengangggu karena masing-masing punya segmen.  Kami bertahan dengan terus meningkatkan kualitas produk dan memperluas kerjasama dengan seluruh operator. Pada akhirnya masyakarat yang menentukan produk mana yang dipilihnya.

T: Apa Anda optimistis merek lokal akan tetap bertahan

J: Ponsel merek lokal bisa bertahan kalau menjaga service dan kualitasnya. Nanti ini akan seperti produk elektronik. Untuk perangkat elektronik itu sudah banyak juga produk China digunakan, sekarang masyarakat banyak menggunakan elektronik China karena sadar yang dicari fungsi. Begitu juga dengan ponsel, banyak yang bilang merek lokal itu laris di daerah, tetapi kenyataan di Jakarta pun produk ini laku. Artinya, masyarakat mulai memahami value for money dari satu produk

T: Apa  pemicu booming-nya merek lokal itu

J:  Ini karena masyarakat banyak menggunakan multi Sim card. Mereka tidak mau lagi membawa banyak perangkat. Ponsel merek lokal menjawabnya dengan dual atau triple sim card. Selain itu kebutuhan akan fitur multimedia. Kami juga menjawab dengan aplikasi multimedia bahkan menciptakan komunitas dengan CSl messenger.

150610 Nokia C3 : Alat Penguasa Menjawab Tantangan

Posisi Nokia sebagai penguasa pasar telepon seluler (Ponsel) di  Indonesia masih kokoh walau dalam waktu dua tahun belakangan ini mulai tergerus oleh merek lokal.

Simak data yang disajikan oleh lembaga riset GFK untuk Maret 2010 ini.  Secara nasional, penjualan total ponsel merek lokal  per triwulan pertama telah mencapai 22 persen alias rangking kedua di bawah  Nokia yang memiliki pangsa pasar 51,2 persen

Angka 22 persen milik merek  lokal itu berasal dari  Nexian (5,7%), HT Mobile  (4,1%), serta klasifikasi others atau gabungan ponsel merek lokal yang masing-masing pangsanya di bawah 2 persen  yang mencapai  12,2 persen.

Angka ini cukup fantastis jika melihat Nexian dan HT Mobile sebagai entitas telah melampaui capaian merek global yang lebih dulu beroperasi,  seperti LG (2,1%), HTC dan ZTE (0,1%), Huawei (0,4%), dan Motorola (1,1%).

Nokia pun sejak tahun lalu sudah menyadari ancaman dari merek lokal yang memiliki kekuatan pada harga murah dengan dukungan fitur melimpah serta desain Qwerty.

Setelah terkesan diam menghadapi gejolak pasar, akhirnya pada minggu pertama bulan ini, Nokia meluncurkan ponsel Nokia C3 di sejumlah kota besar seperti   Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Medan, Surabaya, Semarang, Denpasar, Makassar, Banjarmasin dan Palembang.

Ponsel ini   dilengkapi dengan fitur Nokia Messaging yang  memungkinkan pengguna untuk mengatur email dan chatting  langsung dari perangkat ponsel tanpa PC. Tak hanya itu, Nokia Messaging mendukung akun email seperti Ovi Mail, Gmail, Yahoo! Mail, Windows Live Hotmail, beberapa penyedia email lokal, dan juga chat lewat Ovi Chat, Yahoo! Messenger, Windows Live Messenger, dan Google Talk.

Ponsel berbasis platform S40 dari Symbian ini memiliki konektivitas Wi-Fi, dan EDGE, kamera 2 megapixel, layar warna, dan dukungan untuk kartu memori hingga 8GB. Nokia C3 tersedia dalam warna Golden White, Slate Grey dan Hot Pink.

Country Manager Nokia Indonesia  Bob McDougall mengungkapkan,  Indonesia adalah negara pertama tempat peluncuran C3. “Sebagai salah satu negara dengan pengguna jejaring sosial terbesar di dunia. Kami optimis Nokia C3 bisa memberikan sentuhan yang lain untuk tetap terhubung dengan siapapun melalui layanannya,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Reaksi pasar pun terhadap produk yang dibanderol  1.159.999 rupiah itu menggembirakan bagi Nokia. Di Bandung, hanya dalam waktu sehari dua ribu unit C3 ludes.

Area Operations Manager Central Java-DIY Nokia Ikhwan Rudiyanto mengungkapkan, hadirnya C3 bisa menjawab tantangan berkompetisi di pasar karena saat ini produk yang laris adalah dengan kisaran harga satu hingga  1,5 juta rupiah. “Di area Jawa Tengah pertumbuhan penjualan kategori itu  rata-rata 20 persen  lebih tinggi dari nasional. Ponsel merek lokal main di harga itu. Hadirnya C3 diharapkan bisa mengangkat pangsa pasar Nokia di area ini,” katanya.

Tak Gentar

Komisaris TiPhone Hengky Setiawan mengaku tidak gentar dengan langkah Nokia melalui C3 karena produk yang dimilikinya masih lebih kompetitif. “Ponsel merek lokal dengan harga yang dibanderol Nokia, bisa memberikan fitur yang lebih seperti TV analog dan dual Sim card, atau banyak lainnya. Harga yang dibanderol Nokia masih belum kompetitif,” tegasnya.

Hengky pun menyakini segmen pasar yang akan diambil oleh C3 adalah pengguna Nokia sendiri. “Nanti para pengguna Nokia lama ingin naik tingkat beli C3. Untuk ponsel merek lokal segmennya ada sendiri,” katanya.

GM CSL Indonesia Edmundus Leonard mengungkapkan, jika tahap awal pembeli antri membeli satu produk dengan harga miring bukanlah kejutan karena ponsel merek lokal juga mampu melakukan hal yang sama. “Kami di daerah kalau meluncurkan satu produk, sampai antri satu lapangan bola. Perangnya itu nanti setelah masa penjualan,” katanya.

Menurutnya, harga yang dipatok oleh Nokia masih membuat aman para pemain merek lokal karena di atas satu juta rupiah. “Jika harganya sebesar itu, pelanggan akhirnya menabung untuk membeli BlackBerry. Sedangkan kami menawarkan ponsel dengan kemampuan setara BlackBerry tetapi harganya murah, segmen ini lumayan besar,” katanya.

Kerjasama

Sementara itu, Manager Brand Management Kartu As Telkomsel Tengku Ferdi Febrian mengatakan, masuknya Nokia C3 ke pasar memberikan alternatif bagi operator dalam penawaran bundling handset.

“Bagaimanapun merek Nokia itu memiliki daya magis di pasar. Telkomsel sendiri bekerjasama dengan Nokia untuk C3 melalui produk simPati,” katanya.

GM Direct Sales XL Axiata Handono Warih mengungkapkan, penjualan bundling dengan Nokia C3 yang bersifat terbuka melalui dealer sejauh ini menggembirakan. “Baru berjalan beberapa minggu, belum bisa dihitung,” katanya.

Menurutnya, langkah Nokia melalui C3 adalah pertaruhan melawan ponsel merek lokal. “Kita akan melihat dampaknya tiga bulan ke depan. Jika ternyata tidak mampu berbicara banyak di pasar alias menganggu merek lokal, berarti pimpinan Nokia harus berfikir ulang,” katanya.

Pada kesempatan lain Praktisi Telematika Faizal Adiputra mengakui C3 adalah sejarah baru bagi lini produk Nokia. “Secara teori produk ini menyasar segmen bawah  tetapi dengan harga yang dipatok maka skala ekonominya di atas perangkat sejenis,” katanya.

Menurutnya, hadirnya C3 tidak akan mematikan ponsel merek lokal karena masyarakat masih membutuhkan perangkat dengan harga 500 ribuan rupiah. “Tetapi bagi merek lokal yang hanya bermental pedagang,  bisa saja terlibas,” katanya.

Disarankannya, Nokia tidak terlena dengan keberhasilan tahap awal dimana perangkat laris manis tetapi tidak mengembangkan aplikasi. “Ponsel merek lokal sekarang sudah mengarah juga ke aplikasi. Jika Nokia terlena, maka bisa ketinggalan lagi,” katanya.

Masih menurutnya, walau Nokia adalah merek global, tetapi sebaiknya memberikan perhatian yang khusus bagi pasar Indonesia dimana anomali banyak terjadi di sini. “Di Indonesia yang disukai itu desain Qwerty, sementara global sedang tergila layar sentuh. Lambatnya Nokia mengantisipasi euforia Qwerty berhasil dimanfaatkan merek lokal dua tahun lalu, Nokia harus belajar dari kesalahan itu,” tuturnya.[dni]