100610 Masih Mampu Bersaing

Layanan Fixed Wireless Access (FWA) milik Telkom, Flexi, sebenarnya masih mentereng alias tidak kalah bersaing dengan Bakrie Telecom (BTEL) melalui Esia.

Simak saja jumlah pelanggan yang dimiliki Flexi yang diperkirakan mencapai sekitar 16 juta nomor dengan 5.500 BTS yang hadir di 320 kota di seluruh Indonesia. Belum lagi jenis layanan yang variatif dan penawaran harga ke pelanggan yang kompetitif. Flexi masih menguasai sekitar 56,3 persen pangsa pasar FWA.

Sedangkan Esia pada kuartal pertama lalu memiliki 11 juta pelanggan dan melayani 76 kota di seluruh Indonesia. Raihan laba bersih dari BTEL pun sebenarnya hanya “secuil” jika dibandingkan dengan Telkom secara grup.

Lantas kenapa Telkom seperti khawatir sekali dengan agresifitas Esia sehingga muncul ide untuk secepatnya melakukan aksi konsolidasi di industri. Kabar beredar mengatakan hal itu tak bisa dilepaskan dari akan digelarnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Telkom pada Jumat (11/6) nanti.

“Isu konsolidasi dijadikan alat untuk mendekati sumber kekuasaan. Sudah bukan rahasia umum lagi pemilik Bakrie Telecom dekat dengan  penguasa. Sepertinya ada pihak yang ingin masuk ke manajemen Telkom dan menggunakan isu itu untuk mendekat ke sumber kekuasaan. Saat ini yang menikmati keuntungan dari isu ini adalah BTEL karena sahamnya naik terus,” ungkap sumber Koran Jakarta, Rabu (7/6).

Untuk diketahui, tiga nama sudah dikantongi oleh Tim Penilai Akhir (TPA) guna ditentukan menjadi Direktur Utama Telkom. Ketiganya dari kalangan internal yakni Rinaldi Firmansyah (Dirut), Ermady  Dahlan (Direktur Network & Solution), dan Arief Yahya (Direktur Wholesale and Enterprise).

Pengamat telematika Bayu Samudiyo ​mengakui, semestinya Flexi masih bisa bersaing dengan  Esia. “Flexi hanya kalah dari kreativitas pemasaran. Ibaratnya memiliki produk bagus, tetapi mengemasnya belum canggih,” katanya.

Hal itu bisa dilihat dari banyaknya program pemasaran yang dilakukan ke distributor dan pelanggan dalam setahun. “ Esia terlihat jauh mendominasi baik dari variasi program dan seringnya melakukan promosi dalam setahun. Dan program itu efektif, hal itu bisa dilihat dari   dampak yang ditimbulkan, baik itu dari pertumbuhan pelanggan  ataupun kenaikan pendapatan yang dihasilkan,” jelasnya.

Namun, Bayu mengakui,  di beberapa area, Flexi  masih memimpin, terutama di Jawa Timur. “Esia hanya kuat di Jabodetabek, Jabar, dan Banten (JBJB), diluar itu sengsara. Jika konsolidasi terjadi, kanal di JBJB digabung saja ke Esia, sedangkan area lainnya digabung ke Flexi. Itu akan membuat ekspansi lebih kencang,” sarannya.

Menurutnya,   konsolidasi menjadi hal yang penting bagi Telkom  jika berkaca pada kasus merger Satelindo dan Indosat beberapa tahun lalu. Kala itu Indosat membeli Satelindo senilai 10 triliun rupiah selain harus menanggung  hutang yang banyak dan perangkat yang tidak bisa dipakai senilai puluhan juta dollar AS.

Tetapi, jika aksi itu tidak dilakukan, Indosat tidak akan mengalami pertumbuhan yang besar karena IM3 yang dijadikan andalan di seluler   sedang megap-megap. Sekarang IM3 berhasil menyumbang setengah pendapatan seluler Indosat. Ini adalah cerita sukses merger dalam rangka mempertahankan pertumbuhan dan mengamankan investasi.  “Sepertinya Telkom ingin menjadikan Flexi seperti IM3,” katanya.

Sementara Praktisi telematika Suryatin Setiawan mengakui kekuatan Flexi pada jangkauan yang luas karena didukung infrastruktur Telkom grup. Sementara Esia terkenal dengan kemampuan mengolah dana yang terbatas menjadi hasil maksimal. “Kalau terjadi sinergi tentu akan menjadi hasil yang optimal,” katanya.

Lantas akankah konsolidasi benar terjadi atau ini hanya bumbu untuk memperhangat perebutan posisi Dirut yang selalu sarat dengan tarik-menarik kepentingan? Kita tunggu saja.[dni]

100610 Konsolidasi Telkom-BTEL : Bermanfaat atau Mudarat?

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akhirnya mendapatkan restu dari    Kementrian BUMN sebagai wakil pemegang saham mayoritas (pemerintah) untuk “menggoda” Bakrie Telecom Tbk (BTEL) melakukan aksi konsolidasi di sektor telekomunikasi.

Bahkan, Menteri BUMN Mustafa Abubakar memperkirakan konsolidasi tersebut akan terjadi menjelang tutup tahun ini. “Surat dari direksi Telkom untuk meminta izin melakukan kajian pengambilalihan BTEL sudah saya baca. Surat itu juga sudah disampaikan ke Kementrian Keuangan.   Kami sebagai kuasa pemegang saham mendukung rencana itu,” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.

Mustafa menyakini, jika konsolidasi terjadi, maka layanan CDMA milik Telkom (Flexi) akan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pasar. “Dengan sinergi menjadi kekuatan riil, bisa menumbuhkan perusahaan,” katanya.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah yang selama ini menutup rapat aksi korporasi itu pun akhirnya buka suara.    “Tidak hanya Bakrie Telecom, ada juga operator CDMA lainnya yang sedang dibidik,” ungkapnya.  .

Diungkapkannya, Telkom  membidik BTEL sebagai  satu unit perusahaan, bukan hanya layanan Esia. “Kalau Telkom mau konsolidasi, kami tentu akan ambil semuanya. Tidak mungkin hanya satu unit usaha,” tegasnya.

Untuk diketahui, belum lama ini BTEL membentuk dua anak usaha baru yakni Bakrie Connectivity (BCON) dan   Bakrie Network  (BNET). BCON bergerak di bidang jasa broadband dan telah digelontorkan investasi awal 100 juta dollar AS, sementara BNET berusaha di pembangunan jaringan BTEL.

Kabar beredar mengatakan, keluarga Bakrie tak akan melepaskan kedua anak usaha baru itu ke Telkom, tetapi hanya Esia sebagai penyedia jasa suara dan SMS dengan 11 juta pelanggan.

Pola konsolidasi sendiri dikaji dalam bentuk   merger, akuisisi, atau membeli saham. “Jika mau dikonsolidasikan dengan Flexi, maka unit usaha ini harus jadi PT dulu. Tidak mungkin unit usaha konsolidasi. Proses menjadi PT saja butuh waktu 4 bulan,” katanya.

Sumber Koran Jakarta mengungkapkan, proses kesepakatan melakukan due dilligence telah dilakukan Selasa (9/6) malam.

Sedangkan manajemen BTEL  ketika dikonfirmasi enggan menanggapi rumor yang berkembang. “Saya no comment,” tegas Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi.

Cegah Monopoli

Direktur Komunikasi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) A. Junaidi mengingatkan, jika seandainya aksi korporasi itu benar dilakukan maka harus ada notifikasi merger dikirim ke lembaganya. “Itu sesuai dengan  Peraturan Komisi (Perkom) No 1/2009 tentang pranotifikasi penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan perusahaan,” tegasnya.

Dikatakannya, pelaporan itu agar KPPU bisa menilai aksi tersebut berpotensi terjadinya perilaku monopoli atau tidak di masa depan. “Ini untuk melindungi perusahan juga. Jika  nanti ada perilaku tidak fair dari struktur atau unit baru hasil merger itu, KPPU tidak akan menggunakan kewenangan  membatalkan merger sebagaimana diatur dalam pasal 47 UU No 5/1999,” katanya.

KPPU wajar saja memiliki konsentrasi terkait masalah monopoli karena esia dan Flexi yang bermain di pasar Fixed Wireless Acces (FWA) adalah penguasanya. Jika kedua pemain ini digabung maka penguasaan pangsa pasar mencapai 90 persen.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengingatkan, sebagai perusahaan yang sahamnya dikuasai oleh negara, Telkom harus berhati-hati mendekati BTEL.

“Saya masih belum melihat ada yang menarik dari BTEL. Apalagi operator ini memiliki hutang hingga 4 triliun rupiah. Jika yang disasar masalah frekuensi, solusinya  sharing resources atau konvergensi manajemen lebih masuk akal,” katanya.

Nonot pun mengingatkan, seiring dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) untuk Biaya Hak Penggunaan (BHP) berbasis pita tahun ini maka isu lisensi juga tidak relevan karena izin seluler dan FWA tidak ada lagi. “Jadi, sebenarnya apa yang dicari oleh Telkom. Kementrian BUMN harusnya koordinasi dengan Kemenkominfo bertanya tentang kondisi industri,” ketusnya.

Lumrah

Pada kesempatan lain, Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Telekomunikasi Johnny Swandi Sjam menegaskan konsolidasi hal yang lumrah terjadi di industri.  “Konsolidasi memungkinkan terjadi   single network dan biaya maintenance serta operasional menjadi lebih murah. Ini nanti berpengaruh pada penawaran harga ke pelanggan. Isu utama sekarang adalah mengurangi  pemain sehingga skala ekonomis bisa tercapai,” katanya.

Praktisi telematika Suryatin Setiawan menilai, aksi korporasi itu akan menguntungkan Telkom. “Ini bisa menaikkan pangsa pasar Telkom dan daya tawar ke vendor perangkat. Langkah ini  sesuai dengan strategi pertumbuhan un organik Telkom,” katanya.

Menurutnya, aksi konsolidasi di industri   sudah diramalkan sejak 2 tahun lalu  karena  pemain-pemain yang terlalu kecil ukurannya makin sulit berkembang dan meraih pangsa pasar yang cukup. “Jika nanti konsolidasi terjadi, Telkom harus pandai-pandai mengelola dua anak perusahaan yang akan   mudah sekali saling bersaing,” ingatnya.

Pengamat telematika Suhono Harso Supangkat  mengingatkan, due dilligence harus dilakukan secara profesional terutama soal peta infrastruktur dan kondisi keuangan.

“Secara ideal konsolidasi memang menguntungkan  karena banyak hal yang bisa dibagi seperti aplikasi atau infrastruktur. Tetapi kondisi riil nilai tekno ekonomis mesti dievaluasi, misalnya, perangkat BTEL yang banyak di Jabodetabek mau diapakan jika konsolidasi terjadi. Keduanya sama-sama heavy membangun di area itu,” katanya.

Pengamat telematika Bayu Samudiyo mengakui jika konsolidasi  terjadi akan memperkuat posisi Telkom di industri karena semua  merek penguasa pasar dikuasainya.

“Hal yang harus diwaspadai itu adalah culture shock. Kedua perusahaan itu latar belakangnya berbeda. Telkom sebagai BUMN kental aroma birokrasi, sementara BTEL kan lebih lentur. Jika perbedaan ini tidak dijembatani, maka konsolidasi itu akan sia-sia,” katanya.

Analis dari Finan Corpindo Edwin Sinaga menyakini proses konsolidasi kedua perusahaan akan memakan waktu lama. “Prosesnya akan panjang jika yang dipilih merger. Tetapi jika dipilih akuisisi akan lebih cepat, namun Telkom harus waspada dengan laporan keuangan BTEL. Salah satunya masalah hutang,” katanya.[dni]

100610 PT KA Komersialkan Wisata Kereta

JAKARTA—PT Kereta Api tahun mulai melakukan komersialisasi terhadap kereta tua dan situs-situs bersejarah yang dimilikinya guna melestarikan aset bersejarah dan menaikkan pendapatan.

Kepala Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT KA Ella Ubaidi mengatakan, revitalisasi akan dilakukan pada sebagian dari 600 bangunan milik PT KA seperti bangunan stasiun dan lainnya.

“Kereta-kereta tua yang jumlahnya 140 unit dan tersebar di seluruh Indonesia akan dimanfaatkan untuk menarik para wisatawan. Selain mendapat dukungan dari Kementerian Perhubungan, kami juga dibantu oleh Pemerintah Kerajaan Belanda untuk melestarikan aset bersejarah PT KA,” katanya di Jakarta, Rabu (9/6).

Diungkapkannya, pemerintah Belanda akan memberikan bantuan berupa pengadaan barang-barang dan bantuan tenaga ahli yang dibutuhkan terkait pelestarian sejarah KA. Sementara Kementerian Perhubungan membantu pembiayaan revitalisasi.

Misalnya, dana untuk perawatan KA tiap tahunnya dialokasikan sebesar 300 juta rupiah pertahun untuk merawat tiga unit kereta uap yang masih dioperasikan. Dua bangunan yag saat ini sedang dalam revitalisasi didanai sebesar 700 juta rupiah. Sedangkan revitalisasi Stasiun Solo Jebres memakan dana 500 juta rupiah. Rencananya Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT KA akan dipusatkan di Lawang Sewu, Semarang.

Menurutnya, potensi wisata KA sangat besar. Hal itu dibuktikan selama dalam proses revitalisasi saja, beberapa objek telah mendatangkan pendapatan yang cukup lumayan.

“Pandapatan tiket dari Lawang sewu sebesar 30 juta rupiah per pekan, sedangkan wisata kereta di Ambarawa menghasilkan 180 juta rupiah per minggu. Kalau setahunnya ya tinggal dikalikan saja,” terang Ella.

Selanjutnya diungkapkan, revitalisasi akan dilakukan hingga 2012. “Jika proses itu selesai semua pendapatan dari wisata bangunan, benda dan kereta api PT KA bakal meningkat hingga 300 persen dari sekarang,” katanya.

Berkaitan dengan langkah untuk melebarkan jaringan bagi para wisawatan kereta, PT KA, juga meresmikan penggunaan laman http://www.indonesianheritagerailway.com. Situs ini akan menjadi panduan bagi para wisatawan yang ingin mencari informasi mengenai kereta api. Selain berbahasa Indonesia, website ini juga berbahasa Inggris untuk para turis asing baik yang sedang di Indonesia maupun di negeri mereka masing-masing.

“Situs ini i dibuat sangat sederhana agar mudah dibaca oleh para pencinta kereta api dalam kaitannya dengan upaya turut melestarikan kereta api di Indonesia,” tandasnya.[dni]

100610 ALU Janjikan Efektifitas Mobile Advertising

JAKARTA—Alcatel-Lucent (ALU) menjanjikan solusi yang membuat suatu layanan mobile advertising bisa efektif bagi operator dan pengiklan melalui solusi Optism.

“Solusi Optism bisa menjembatani kepentingan dari pengiklan dan operator. Hal ini karena Optism menyatukan kekayaan pengalaman di bidang periklanan dengan teknologi telekomunikasi,” ungkap Mobile Solution Manager Radio Access Alcatel-Lucent Ardo Fadhola di Jakarta, Rabu (7/6).

Mobile advertising adalah layanan beriklan melalui ponsel yang bersifat interaktif dengan pengguna. Di Indonesia diperkirakan nilai bisnis dari mobile advertising sebesar 150 miliar rupiah pada tahun ini. Dua operator, Telkomsel dan Indosat, sudah menggelar layanan ini sejak dua tahun lalu.

Dijelaskannya, keunggulan dari Optism adalah memiliki fasilitas user permission, preferensi pelanggan, jaminan privasi, dan mampu bekerjasama dengan semua sistem operasi. “Jika solusi sejenis biasanya harus mengganti Sim Card, Optism tidak perlu ganti kartu. Bisa berjalan di kartu eksisting. Apalagi kami didukung media agency internasional seperti Mediacomm yang memiliki klien berbagai merek terkenal,” katanya.

Diungkapkannya, mobile advertising akan menjadi tren di masa depan karena bisa menjadi mesin pendapatan, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan menekan churn. “Walaupun biaya Cost Per Milion (CPM) dari mobile advertising lebih mahal ketimbang beriklan di media konvensional, tetapi untuk efektifitas sangat tinggi. Di luar negeri dengan CPM 200 euro tetapi memiliki respons yang tinggi dari pengguna,” jelasnya.[dni]

100610 Kinerja ID-SIRTII Mandul

JAKARTA—Kinerja dari Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) dipertanyakan seiring semakin maraknya konten pornografi di dunia maya.

“Saya mempertanyakan kinerja dari lembaga tersebut. Harusnya maraknya peredaran video porno belakangan ini yang melibatkan artis terkenal bisa dicegah jika lembaga itu bekerja optimal,” tegas Praktisi telematika Heru Nugroho kepada Koran Jakarta, Rabu (9/6).

Dijelaskannya, sebagai lembaga yang memiliki tugas pokok melakukan pemantauan , pendeteksian , dan peringatan dini terhadap ancaman terhadap jaringan telekomunikasi dari dalam maupun luar negeri, lembaga itu bisa menghalangi maraknya beredar video porno yang diduga pelakunya artis top ibukota.

“Saya tidak mendengar ada suara dari ID-SIRTII untuk mencegah hal tersebut. Padahal peredaran itu jelas merusak kampanye internet sehat. Lebih ironis, mereka bisa mencegah dengan berbagai cara tanpa harus melakukan pemblokiran secara membabi-buta, tetapi kok malah adem ayem,” sesalnya.

Menurutnya, mandulnya kinerja ID-SIRTII tak bisa dilepaskan posisi lembaga tersebut yang berada di bawah Ditjen Postel sehingga tidak memiliki wewenang yang kuat. “Di negara seperti Malaysia, lembaga sejenis ini berada di bawah Perdana Menteri. Di Indonesia sepertinya belum paham ancaman dari dunia maya terhadap moral masyarakat,” tegasnya.

Sebelumnya, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengecam maraknya beredar video porno mirip artis ibukota. Kemenkominfo berjanji akan mencari penyebar konten yang merusak moral tersebut. Namun, para penyedia jaringan internet (PJI) mengaku kesulitan untuk membendung masuknya konten lokal karena server konten biasanya di-hosting di luar negeri.[dni]