030610 Komputasi Awan Akan Masuk Pasar Ritel

JAKARTA—Layanan komputasi awan (Cloud Computing) diyakini akan masuk ke pasar ritel seiring operator telekomunikasi mengoptimalkan server yang dimilikinya.

“Selama ini cloud computing banyak disasar untuk segmen perusahaan. Tetapi seiring makin sadarnya pengguna publik akan sekuriti data, peluang menjadikan layanan ini ditawarkan segmen ritel akan membeesar,” ungkap Senior Solutions Consultant  Hitachi Data System (HDS) Indra Wildan Nugraha di Jakarta, Rabu (2/6).

Cloud computing  adalah pemanfaatan teknologi internet untuk menyediakan sumber komputing.   Salah satu keuntungan utama dari cloud computing adalah si pengguna tidak perlu menyediakan infrastruktur mulai dari data center sampai ke aplikasi desktop untuk memiliki suatu sistem Teknologi Informasi, dan komunikasi (TIK) yang lengkap.

Dijelaskannya, untuk memulai komputasi awan ditawarkan bagi pasar ritel maka HDS akan menawarkan paket server terpadu tahun depan. “Sistem ini menawarkan unified compute platform (platform komputasi terpadu). Ini yang pertama di dunia. Kami akan membidik tiga pemain besar di seluler,” jelasnya.

Sementara Direktur Teknologi Informasi & Supply  Telkom Indra Utoyo menjelaskan, cloud computing bisa menjadi penyelamat bagi operator agar tidak menjadi hanya pipa pengantar data saja.

“Salah satu contohnya dapat dilihat dari aplikasi Enterprise Resources Planning (ERP) Bonastoco yang menawarkan kerjasama baik antara penyedia software dan operator,” katanya.

Bonastoco adalah sebuah perangkat ERP untuk memudahkan perusahaan berkomunikasi dan berbagi informasi antara staf, pelanggan , serta suplier yang meliputi modul inventory dan akunting.

“Kami menjual aplikasi itu ke pengusaha kecil dengan harga 265 ribu rupiah beserta paket akses internet Speedy. Harga aplikasi itu sendiri sekitar 70 ribu rupiah dimana ada sharing revenue 75 persen bagi pemilik aplikasi dan 25 persen untuk Telkom. Ini kerjasama yang menguntungkan,” jelasnya.

Indra mengungkapkan, tak lama lagi Telkom akan membuka semacam toko virtual untuk menawarkan aplikasi-aplikasi yang bisa digunakan untuk komputasi awan. “Pasar menjual aplikasi berbasis komputasi awan ini besar. Target kami hingga akhir tahun ada sekitar 60 ribu UKM yang menggunakan aplikasi dari Telkom,” ungkapnya.[dni]

030610 WTU Minta Klarifikasi Pencabutan Izin

JAKARTA—Konsorsium Wireless Telecom Universal (WTU) berencana akan meminta klarifikasi ke Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) terkait pencabutan izin prinsipnya sebagai pemenang  tender Broadband Wireless Access (BWA) di pita 2,3 GHz.

“Kami memohon klarifikasi dari Menkominfo tentang hal itu, karena kami tak tahu lagi harus mengadu ke mana jika benar izin kami dicabut. Kemarin (Selasa/16) kami sudah menemui Dirjen Postel  untuk meminta penjelasan. Menurut Pak Budi (M.Budi Setiawan/Dirjen Postel) itu  baru dipertimbangkan saja, belum dicabut,” ungkap Direktur Utama WTU Roy Rahajasa Yamin di Jakarta, Rabu (2/6).

Roy mengaku, terkejut izin yang sudah dikantongi dicabut  walau sudah membayar kewajiban  5,8 miliar rupiah  termasuk denda keterlambatan pembayaran 300 juta rupiah.

Dijelaskannya, konsorsium tidak ada memiliki niat untuk terlambat atau sama sekali tidak membayar kewajiban. Satu-satunya yang menjadi kendala adalah hal teknis karena konsorsium terdiri dari 20 perusahaan kelas menengah.

“Kami mendapatkan masalah ketika  semua perusahaan berusaha membentuk PT bersama di hadapan Notaris dan DepKeh, ternyata sebagian besar   belum melakukan penyesuaian PT sesuai Undang Undang PT (2007) yang menjadi persyaratan utama terbentuknya WTU. Lebih rumit lagi, Penyedia Jasa Internet (PJI)  di daerah-daerah memerlukan waktu yang panjang untuk pengesahan PT-nya masing-masing. Pada Maret 2010 semua PT baru dapat memenuhi seluruh persyaratan yang diminta,” jelasnya.

Diungkapkannya, WTU telah menyetorkan kewajiban pada 11 Mei 2010 dan mengirimkan surat pemberitahuan ke Postel pada 12 Mei 2010. “Untuk memenuhi kewajiban saja para PJI harus menyetorkan aset masing-masing agar mendapat bridging loan. Soalnya PJI itu dianggap tidak  “bank-able” oleh bank maupun lembaga keuangan,” keluhnya.

Roy meminta, Menkominfo mempertimbangkan kondisi para PJI yang sudah kembang-kempis di persaingan penyediaan akses internet. “Lisensi BWA itu harapan PJI untuk bersaing dengan pemain besar. Semoga Menkominfo mau mempertimbangkan keseriusan WTU,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, izin prinsip WTU beserta dua perusahaan lainnya, Internux dan Konsorsium Comtronics, resmi dicabut pemerintah setelah ditandatangani bersamaan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring tertanggal 27 Mei 2010.

Ketiga perusahaan itu dinyatakan tak boleh lagi menyelenggarakan jaringan pita lebar lokal Wimax 16.d berbasis paket switched karena dianggap gagal memenuhi kewajiban pembayaran up front fee dan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi hingga batas waktu yang ditentukan.[dni]

030610 Pertaruhan Sang Pemimpin Pasar

Telkomsel sepertinya tidak ingin kecolongan dalam memanfaatkan ajang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Hal itu dibuktikan dengan menggandeng  Electronic City Entertainment (ECE) dan MNC Group selama Piala Dunia 2010. Adanya kerjasama itu membuat Telkomsel bisa menggunakan merek Piala Dunia 2010 tanpa harus khawatir dituntut karena menggunakan identitas ajang tersebut tanpa izin dari ECE.

Kabar beredar dana yang dikeluarkan oleh anak usaha Telkom itu untuk mendapatkan izin resmi mencapai 45 miliar rupiah. Angka itu berasal dari 30 miliar rupiah untuk sponsor iklan di siaran langsung dan sisanya untuk acara off air.

“Kami harus melakukan hal itu untuk memantapkan posisi di pasar. Jika ini tidak dilakukan, citra sebagai pemimpin pasar bisa digoyang oleh kompetitor,” tegas VP Digital Music Content Management Telekomsel Krish Pribadi kepada Koran Jakarta, Rabu (2/6).

Menurutnya, Piala Dunia adalah ajang yang bergengsi dan sebagai pemimpin pasar Telkomsel haruslah terlibat. “Ini juga untuk menjaga eksklusifitas bagi pelanggan. Mereka akan semakin bangga menjadi pelanggan Telkomsel karena bisa menikmati konten-konten eksklusif. Apalagi kami juga bekerjasama dengan label musik untuk memberikan lagu-lagu khusus Piala Dunia,” tandasnya.

Memang, sejak Piala Dunia memasuki era millennium, FIFA sebagai penyelenggara mulai ketat dalam sesuatu berbau hak cipta. Dalam aturan merek Piala Dunia 2010 pun ditegaskan pelaku usaha yang tidak memiliki lisensi selama berlangsungnya ajang tersebut tidak boleh mencantumkan tiga hal dalam komunikasi pemasarannya. Ketiga hal itu adalah kata-kata South Africa, Piala Dunia, atau World Cup. Jika syarat itu dilanggar, maka siap-siap saja dituntut oleh ECE sebagai pemegang lisensi di Indonesia.

Vice President Brand Communication XL Axiata Turina Farouk menjelaskan, walaupun XL memanfaatkan momentum Piala Dunia, tetapi tidak melanggar dari syarat yang dibuat oleh pemegang lisensi. “Sepak bola itu adalah olahraga milik semua lapisan. Kami hanya memanfaatkan atmosfir itu dalam komunikasi pemasaran. Bahkan nama Bola Gila itu kepanjangannya bonus langsung segala-galanya,” katanya.

Dijelaskannya, XL menggunakan payung komunikasi Bola Gila karena mengharapkan masa promosi yang panjang mengingat Ramadan datang di bulan Agustus. “Kami memulai promo sejak bulan lalu. Jadi komunikasi pemasaran ini menyasar libur sekolah dan penggila bola,” jelasnya.

Division Head Marketing Communication Indosat Andy Jobs mengaku tidak berminat membeli lisensi merek Piala Dunia karena terlalu mahal sedangkan masa promosinya pendek yakni satu bulan. “Tidak seimbang biaya dikeluarkan dengan hasil yang didapat. Karena itu kita pilih yang sesuai dengan segmen yakni Indonesian Idol. Program itu sudah ada sejak Desember 2009, masa edarnya lebih lama,” jelasnya.

Pengamat Telematika Bayu Samudiyo menilai langkah Telkomsel mengambil lisensi lokal untuk Piala Dunia wajar dilakukan karena sebagai pemimpin pasar harus menjaga citranya. “Tetapi saya ragu anggaran sebesar itu tidak akan impas. Namun, Telkomsel pun tidak rugi karena saya kira biaya itu akan ditanggung bersama dengan sponsor kontennya,” katanya.

Sedangkan Praktisi Telematika Faizal Adiputra mengakui XL lebih berhasil memanfaatkan momentum Piala Dunia untuk tahap awal ketimbang Telkomsel. “XL walau tidak memiliki lisensi resmi langsung agresif. Jika Telkomsel baru mulai agresif kala Piala Dunia bergulir, semoga bisa mengejar ketertinggalannya,” katanya.[dni]

030610 Promo Piala Dunia : Memanfaatkan Hiburan Rakyat

Ajang sepak bola Piala Dunia  bisa dikatakan sebagai hiburan bagi rakyat Indonesia. Olahraga yang satu ini selalu membetot perhatian besar dari seluruh lapisan masyarakat.

Operator telekomunikasi pun tidak ingin kehilangan peluang memanfaatkan ajang tersebut untuk berpromosi agar pundit-pundinya terus bertambah. Apalagi, ajang Piala Dunia datangnya bersamaan dengan liburan sekolah dimana secara periode pemasaran selalu berkontribusi positif bagi operator.

Untuk diketahui, biasanya setiap liburan sekolah terjadi pertumbuhan omset bagi operator sekitar 10 persen dibanding bulan biasa. Angka tertinggi tetap dipegang bulan Ramadhan dimana pertumbuhan bisa mencapai angka 20 hingga 60 persen.

Telkomsel sebagai pemimpin pasar menggebrak dengan mendukung Media Nusantara Citra (MNC) Group dan Electronic City Entertainment (ECE) menghadirkan siaran Piala Dunia 2010.  Berhasilnya Telkomsel menggandeng pemilik siaran resmi Piala Dunia itu membuat operator ini leluasa bermain pemasaran dengan menggunakan merek Piala Dunia 2010.

Sedangkan untuk meretensi pelanggan agar tetap menggunakan produknya, Telkomsel mengandalkan  layanan konten Dunia Bola Telkomsel dengan akses   *465# langsung di ponsel.

Sementara  pemain lain yang tidak memiliki lisensi resmi untuk bermain pemasaran dengan merek  Piala  Dunia 2010, juga  tidak mau ketinggalan memanfaatkan    momentum hiburan rakyat itu.

XL Axiata muncul dengan payung pemasaran “Bola Gila”  yang  menawarkan program  paket menelpon satu menit, gratis segalanya terdiri dari 1.000 sms dan gratis 100 menit nelpon dan gratis 1 MB. Selain itu juga dihadirkan  kuis Bola Gila 100 Juta, MMS Berita, Facebook Zero, Nokia Messaging, serta E-Buddy

Sedangkan Axis muncul dengan tema “Nendang Abiss!!!” yang menawarkan  program serupa seperti XL tetapi lebih berani dalam jumlah bonus. Axis menawarkan gratis  10.000 SMS ke semua operator di Indonesia dan  kses internet 10Mb/hari sepanjang waktu setiap hari. Selain itu  juga ada  bonus menerima panggilan hingga 100 rupiah per  menit.

Meningkat

GM Marketing XL Axiata Riza Rachmadsyah memperkirakan trafik komunikasi akan naik saat Piala Dunia nanti terutama di kalangan penggila bola. “Untuk suara dan SMS diperkirakan terjadi kenaikan sebesar 15 hingga 20 persen. Inilah alasan promosi XL bonusnya disesuaikan dengan tren trafik,” katanya.

Riza optimistis selama Piala Dunia nanti XL mampu meningkatkan akuisisi pelanggan melalui program yang dibuat sebesar 15 persen. “Harapannya sebesar itu. Apalagi kami memiliki konten data dan suara yang lumayan memikat,” jelasnya.

Head of Marketing Mobile Data Service XL Budi Harjono mengatakan konten menjadi penting karena layanan ini dapat memaksimalkan manfaat dan kegunaan dari layanan seluler. ”Selama Piala Dunia sepertinya konten yang akan diminati berita skor, situs jejaring sosial, dan instant messaging. Diperkirakan trafik data akan meningkat 15 persen selama Piala Dunia nanti,” katanya.

Diungkapkannya, saat ini pelanggan XL yang mengakses MMS berita bola mencapai 35 ribu nomor. Sedangkan untuk pelanggan yang aktif menggunakan akses GPRS mencapai 12,4 persen dari total 32,6 juta pelanggan. “Saat ini jumlah pelanggan data sebesar 12,4 juta nomor dan memiliki kontribusi sebesar 7 persen bagi total pendapatan persroan,” katanya.

Sedangkan Chief Marketing Officer Axis Eric Mallia menyakini langkah untuk memperbaharui program promosi mampu membuat sekitar 6 juta pelanggannya semakin betah di jaringan anak usaha Saudi Telecom itu. “Sepak bola adalah hiburan nomor satu di Indonesia. Memanfaatkan momentum Piala Dunia tentu sah-sah saja dilakukan untuk meningkatkan jumlah pelanggan,” katanya.

VP Digital Music Content Management Telekomsel Krish Pribadi optimistis, pelanggannya tidak akan berpindah selama Piala Dunia nanti karena program yang ditawarkan memiliki nilai eksklusifitas. “Konten yang ditawarkan asli berbau Piala Dunia. Sebentar lagi akan ada konten cuplikan klip pertandingan dan gol-gol indah di Dunia Bola. Saya optimistis jumlah pengakses Dunia Bola akan naik 150 hingga 200 persen dari 50 ribu pelanggan saat ini kala Piala Dunia digulirkan,” ungkapnya.

Praktisi Telematika Faizal Adiputra menilai hal yang wajar operator memanfaatkan momentum Piala Dunia dengan memberikan konten yang berhubungan dengan kegiatan tersebut.

“Hal yang perlu di cermati adalah bagaimana operator menjaga pelanggan,  baik yang di akuisisi maupun yang teretensi dengan konten itu. Jangan sampai usai Piala Dunia pelanggan   menjadi pasif  atau bahkan hilang,” katanya.

Menurutnya, jika melihat konten yang ditawarkan oleh operator nyaris seragam, maka potensi untuk terjadinya churn tidak tinggi, tetapi akuisisi yang terjadi lebih besar mengingat potensi pelanggan di Indonesia yang cenderung memiliki lebih dari satu ponsel. Apalagi sekarang ada ponsel lokal yang memiliki harga murah sehingga piramida paling bawah dari segmen pasar bisa dijangkau.

Sebaliknya, Pengamat Telematika Bayu Samudiyo tidak yakin momentum Piala Dunia akan efektif untuk mengakuisisi pelanggan baru.  “Aktifitas pemasaran selama  Piala Dunia itu hanya untuk membangun citra dan menjaga pelanggan,” katanya.

Namun, dia menyakini trafik dan revenue operator akan naik karena pola komunikasi akan berubah selama Piala Dunia. “Kenaikan trafik itu pasti, apalagi untuk akses data,” katanya.

Senada dengan Bayu, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro  mengaku tidak bernafsu memanfaatkan momentum Piala Dunia. “Pemicu pendapatan itu saat Ramadan dan Libur sekolah. Piala Dunia memang akan membuat kenaikan trafik tetapi tidak signifikan. Jadi selama Juni-Juli nanti  kontribusi utama tetap masa libur sekolah. Inilah alasan Indosat tetap fokus pada program pemasaran yang lebih bermain di segmen anak muda melalui Indonesian Idol,” tegasnya. [dni]