010610 Teknologi yang Mulai Diragukan

Belum lama ini kabar tak sedap menerpa teknologi  Worldwide interoperability for  Microwave Access (Wimax). Salah satu pemain besar yang selalu digadang-gadang oleh Wimax Forum,  Scartel asal Rusia atau yang dikenal dengan merek dagang Yota, mengalihkan fokusnya dari Wimax ke Long Term Evolution (LTE).

Padahal Yota sudah mengeluarkan dana sebesar 500 juta dollar AS untuk mengembangkan Wimax di  Moscow dan St. Petersburg. Yota rencananya akan  menggelar LTE di spektrum  2.5GHz  yang sebelumnya digunakan untuk Wimax.

Masalah ketersediaan perangkat secara global dituding alasan beralihnya Yota ke LTE. Hal ini karena perangkat LTE banyak tersedia  untuk frekuensi 2,5 GHz. Langkah Yota ini diyakini akan diikuti oleh sejumlah operator di kawasan Timur Tengah.

Saat ini di dunia, Wimax dan LTE sedang berkompetisi memikat para petinggi operator digunakan sebagai penasbihan masuknya era 4G dengan kecepatan data mendekati 100 Mbps.

“Fenomena yang dilakukan oleh Yota itu bisa saja terjadi di Indonesia karena para pemenang BroadBand Wireless Access (BWA) lokal membayar Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi berbasis pita. Jika tidak ada kejelasan dari pemerintah untuk investasi dengan menggunakan azas teknologi netral, bisa saja mereka beralih ke LTE,” ungkap Pengamat Telematika Gunawan Wibisono kepada Koran Jakarta, Senin (31/5).

Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan meragukan kejadian seperti di Rusia terjadi di Indonesia. “Operator yang seperti Yota belum ada di Indonesia. Jika pun ada pemain BWA lokal ingin pindah ke LTE itu tidak gampang, mereka belum punya core jaringan sehingga akan lebih mahal investasinya. Selain itu pemerintah masih melindungi dengan regulasi yang pro manufaktur lokal,” tukasnya.

Praktisi telematika Raherman Rahanan menyakini Indonesia  tetap membutuhkan  Wimax  untuk meningkatkan penetrasi broadband internet. “Wimax itu bagus untuk menjadi backhaul dan last mile. Walaupun ada teknologi  LTE  yang sama-sama 4G, tetapi itu tidak bisa menafikan hadirnya Wimax,” jelasnya.

Menurutnya, teknologi Wimax memiliki daya jangkau yang luas sehingga cocok sekali untuk melayani kondisi geografis Indonesia yang belum dijangkau broadband internet.

Ling of Sight (LOS) Wimax  bisa mencapai 40-50 km untuk backhaul, sedangkan sebagai  last mile (ke pelanggan) bisa mencapai 3-10 km radius.  Sementara untuk last mile hanya  500 meter, paling jauh 3-4 km di areal terbuka.

Investasi untuk mengembangkan LTE sendiri diyakini lebih besar ketimbang Wimax  karena membutuhkan Mobility Management yang terdiri atas IP backbone semacam  Carrier Ethernet,   Core network seperti IP/MPLS, dan   Home Subscribers Server (HSS). Ketiga infrastruktur itu dibutuhkan oleh operator Wimax yang ingin beralih ke LTE.

Sedangkan operator wimax tidak membutuhkan HSS, sementara untuk   Access Network bisa difungsi gandakan dari WiMAX sendiri karena inovasi ini  seperti Microwave terresterial.

“Saya yakin jika pun LTE nantinya diimplementasi hanya dinikmati oleh masyarakat di perkotaan. Lantas bagaimana dengan mereka yang tinggal di rural. Wimax ini adalah solusi bagi mereka yang mengakses internet di perumahan. Karena itu kedua teknologi ini sebaiknya dibiarkan berjalan beriringan,” katanya.

Disarankannya, operator dalam memilih teknologi harus tepat guna dan sesuai dengan kebutuhan segmen yang dibidiknya. “Operator jangan tergoda dengan rayuan vendor yang ingin menjual perangkat. Pasar Wimax itu besar di Indonesia khususnya jika ingin membidik korporasi untuk mencari keuntungan,” katanya.

Ketua Umum Mastel Setyanto P Santosa pun menyarankan, para pelaku usaha dalam memilih teknologi baru  berpegang kepada pedoman inovasi itu  sudah “operationally-proven” dan “commercially- proven”.

“Jangan bereksperimen karena biayanya akan sangat mahal , contohnya 3G yang sampai saat ini belum menguntungkan. Biarkan negara lain menggunakannya kita tidak perlu terburu-buru karena berbagai persiapan harus dilakukan termasuk re-design alokasi frekuensi,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s