310510 Layanan Mobile Music Sumbang 6 % Pendapatan BTEL

JAKARTA—Layanan mobile music milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) berhasil menyumbang 6 persen bagi total pendapatan pemilik merek dagang Esia itu hingga kuartal pertama 2010.

“Jumlah itu merupakan yang tertinggi dibandingkan perusahaan telekomunikasi lainnya di Indonesia ditengah tingginya angka pembajakan yang hampir menguasai 90 persen angka pembelian lagu,” ungkap Wakil Dirut Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer melalui keterangan tertulisnya, Minggu (30/5).

Layanan mobile music milik esia adalah Ring Back Tone (RBT), Music Messaging dan Mobile Radio. Pada tahun lalu total pendapatan BTEL 3,436 triliun rupiah. Jika musik menyumbang 6 persen bagi total omset, maka angkanya sekitar 206,16 miliar rupiah.

Erik menjelaskan, RBT tetap sebagai kontributor utama dari layanan mobile musik setelah dikeluarkannya inovasi paket pembayaran harian dan mingguan, serta menciptakan mekanisme mencoba sebelum membeli atau Pre Listen sebagai proses edukasi pelanggan. Inovasi lainnya untuk RBT adalah menyederhanakan proses pencarian bagi pelanggan melalui layanan seperti “TEKAN BINTANG”, pencarian lagu dengan suara atau M-Search, pusat layanan telepon untuk NSP, dan berbagai layanan lainnya.

Inovasi-inovasi tersebut menghasilkan tingkat penetrasi 20 persen di pelanggan Esia, atau setara dengan dua juta pelanggan yang aktif. “Rata-rata pemasukan dari RBT sebesar 11-12 miliar rupiah untuk perusahaan. Pencapaian ini merupakan kesuksesan karena rata-rata industri untuk penetrasi RBT adalah 5-12 persen,” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk penetrasi layanan berbayar unduh musik digital (Full Track Download) telah lebih dari 70 persen di antara pengguna perangkat musik. Ini berarti terdapat lebih dari 120.000 pengguna aktif layanan tersebut. Selain itu lebih dari 1 juta lagu telah diunduh dalam kurun waktu 200 hari sejak peluncuran layanan tersebut.

Menurutnya, menjual musik digital tidak gampang di Indonesia karena terkait banyak pihak, keterbatasan geografi dan pola pembayaran. “Produk yang bagus saja tidak cukup, harus bisa dibungkus dengan komunikasi pemasaran yang jitu,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, masalah harga dan ketersediaan masih menjadi kendala sehingga banyak konsumen tetap memilih yang gratisan alias illegal. “Perlu usaha besar untuk mengubah pola itu. Itulah salah satu tujuan kenapa esia sangat agresif dalam promosi dan inovasi musik legal di Indonesia karena industri ini harus diselamatkan dari pembajakan,” tegasnya.

Ketua Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (MIKTI) Indra Utoyo mengungkapkan, bisnis dari industri musik bagi pelaku usaha digital lumayan besar. Tercatat, pada tahun lalu dari layanan Ring Back Tone (RBT) saja ada uang berputar sebesar 1,2 triliun rupiah.

“Sayangnya, untuk lagu yang diunduh lengkap (Full Track Download) jumlahnya masih kecil hanya sekitar 62 miliar rupiah, sedangkan untuk tahun ini diperkirakan tumbuh 30 persen,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s