310510 Kemenhub Awasi Harga Tiket Liburan Sekolah

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) melalui Ditjen Hubungan Udara berjanji akan mengawasi harga tiket pesawat terbang selama liburan sekolah agar tidak melanggar tarif batas atas sesuai yang diatur dalam KM 26/2010.

“Sesuai dengan azas penawaran dan permintaan, tentunya harga tiket pesawat selama musim libur sekolah akan menyesuaikan. Regulator tidak akan mencampuri ranah bisnis itu, tetapi kami akan awasi harganya tidak melampaui tarif batas atas sesuai regulasi,” ungkap Direktur Angkutan Udara Ditjen Hubungan Udara Tri S Sunoko kepada Koran Jakarta, Minggu (30/5).

Diharapkannya, maskapai mampu menjaga pelayanan selama musim libur sekolah walau permintaan meningkat karena pelanggan adalah aset dari operator. “Jangan sampai hak-hak pelanggan diabaikan. Pola pikir operator harus diubah yakni pelanggan adalah aset karena merekalah yang menentukan kelangsungan hidup perusahaan,” jelasnya.

Ditegaskannya, regulator tidak akan menindak tegas maskapai yang melakukan eksploitasi ke pelanggan karena permintaan yang meningkat “Pelanggan itu adalah subyek, bukan obyek yang bisa dimainkan. Ini dilindungi undang-undang,” jelasnya.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono berjanji akan meningkatan meningkatkan uji acak terhadap maskapai penerbangan nasional dari yang hanya tiga kali menjadi lima kali.

“Uji acak itu dijalankan bertepatan dengan masa liburan sekolah Juni-Juli.Ini akan menjadi pemanasan sebelum masa penerbangan lebaran,” jelasnya.

Diungkapkannya, jika sebelumnya pemeriksaan acak hanya tiga kali secara periodik, sekarang ditambah dua kali. “Kami tidak main-main, karena jika ada pelanggaran (standar keselamatan) tentu kami akan jatuhkan sanksi tegas (grounded pesawat),” tegasnya.

Menurutnya, semua itu dilakukan agar maskapai penerbangan memberikan keselamatan terbaik bagi penggunanya. “Nantinya hasil uji ini bisa diketahui masyarakat, sehingga mereka dapat menilai maskapai penerbangan yang ada. Prinsipnya, penerbangan yang nyaman dan aman. “Ada yang kita sebut no fear (tidak ada ketakutan,” jelasnya.

Secara terpisah, juru bicara Sriwijaya Airlines Ruth Hanna Simatupang menegaskan, maskapai siap kapan pun diperiksa oleh regulator karena keselamatan merupakan komitmen utama dari operator. “Sejauh ini memasuki masa libur sekolah tingkat isian (Load factor) sudah mengalami peningkatan 15 persen. Beberapa bulan terakhir load factor sekitar 73 persen. Sedangkan untuk harga belum ada kenaikan walau sudah regulasi baru,” jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Freddy Numberi telah menandatangani KM 26/2010 yang merupakan revisi KM No 9 Tahun 2002 tentang Tarif Penumpang Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Dalam perubahan regulasi, ditetapkan maksimum kenaikan tarif batas atas mencapai 10 persen dari harga tiket yang berlaku saat ini. Harga tiket yang berlaku saat ini adalah tarif batas atas versi 2002, ditambah pajak, asuransi, dan fuel surcharge.

Revisi itu juga memuat golongan dari maskapai yang bisa menggunakan tarif batas atas sesuai dengan golongannya. Golongan berdasarkan jasa yang ditawarkan itu adalah layanan maksimum (full service), menengah (medium services), dan minimum (no frill/ LCC).

Regulasi ini diyakini akan memicu harga tiket pesawat sejumlah maskapai penerbangan dalam negeri naik antara 10 hingga 20 persen dari tarif lama.[dni]

310510 Layanan Mobile Music Sumbang 6 % Pendapatan BTEL

JAKARTA—Layanan mobile music milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) berhasil menyumbang 6 persen bagi total pendapatan pemilik merek dagang Esia itu hingga kuartal pertama 2010.

“Jumlah itu merupakan yang tertinggi dibandingkan perusahaan telekomunikasi lainnya di Indonesia ditengah tingginya angka pembajakan yang hampir menguasai 90 persen angka pembelian lagu,” ungkap Wakil Dirut Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer melalui keterangan tertulisnya, Minggu (30/5).

Layanan mobile music milik esia adalah Ring Back Tone (RBT), Music Messaging dan Mobile Radio. Pada tahun lalu total pendapatan BTEL 3,436 triliun rupiah. Jika musik menyumbang 6 persen bagi total omset, maka angkanya sekitar 206,16 miliar rupiah.

Erik menjelaskan, RBT tetap sebagai kontributor utama dari layanan mobile musik setelah dikeluarkannya inovasi paket pembayaran harian dan mingguan, serta menciptakan mekanisme mencoba sebelum membeli atau Pre Listen sebagai proses edukasi pelanggan. Inovasi lainnya untuk RBT adalah menyederhanakan proses pencarian bagi pelanggan melalui layanan seperti “TEKAN BINTANG”, pencarian lagu dengan suara atau M-Search, pusat layanan telepon untuk NSP, dan berbagai layanan lainnya.

Inovasi-inovasi tersebut menghasilkan tingkat penetrasi 20 persen di pelanggan Esia, atau setara dengan dua juta pelanggan yang aktif. “Rata-rata pemasukan dari RBT sebesar 11-12 miliar rupiah untuk perusahaan. Pencapaian ini merupakan kesuksesan karena rata-rata industri untuk penetrasi RBT adalah 5-12 persen,” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk penetrasi layanan berbayar unduh musik digital (Full Track Download) telah lebih dari 70 persen di antara pengguna perangkat musik. Ini berarti terdapat lebih dari 120.000 pengguna aktif layanan tersebut. Selain itu lebih dari 1 juta lagu telah diunduh dalam kurun waktu 200 hari sejak peluncuran layanan tersebut.

Menurutnya, menjual musik digital tidak gampang di Indonesia karena terkait banyak pihak, keterbatasan geografi dan pola pembayaran. “Produk yang bagus saja tidak cukup, harus bisa dibungkus dengan komunikasi pemasaran yang jitu,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, masalah harga dan ketersediaan masih menjadi kendala sehingga banyak konsumen tetap memilih yang gratisan alias illegal. “Perlu usaha besar untuk mengubah pola itu. Itulah salah satu tujuan kenapa esia sangat agresif dalam promosi dan inovasi musik legal di Indonesia karena industri ini harus diselamatkan dari pembajakan,” tegasnya.

Ketua Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (MIKTI) Indra Utoyo mengungkapkan, bisnis dari industri musik bagi pelaku usaha digital lumayan besar. Tercatat, pada tahun lalu dari layanan Ring Back Tone (RBT) saja ada uang berputar sebesar 1,2 triliun rupiah.

“Sayangnya, untuk lagu yang diunduh lengkap (Full Track Download) jumlahnya masih kecil hanya sekitar 62 miliar rupiah, sedangkan untuk tahun ini diperkirakan tumbuh 30 persen,” katanya.[dni]