290510 Opsel Siap Bayar Airtime Wartel

JAKARTA—Operator Seluler (Opsel) yang tergabung dalam Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) bersedia membayar kewajiban airtime kepada pengusaha wartel asalkan basis perhitungan bisa dipertanggungjawabkan.

“Tidak ada satupun operator yang mengelak dari kewajiban membayar airtime ke pengusaha wartel. Masalahnya, harus jelas dulu basis perhitungan dan periodenya,” ungkap Ketua Umum ATSI Sarwoto Atmosutarno kepada Koran Jakarta, Jumat (28/5).

Airtime adalah biaya penggunaan jaringan seluler dari telepon jaringan tetap. Biaya ini dihilangkan sejak berlakunya Permenkominfo No 5/2006 karena interkoneksi dijalankan berbasis biaya.

Sebelumnya, operator seluler telah membayarkan biaya airtime periode Agustus 2002 hingga Maret 2005 ke pengusaha wartel melalui APWI senilai total 120 miliar rupiah.

Pembayaran itu berdasarkan KM 46/2002 tentang penyelenggaraan wartel yang menyatakan pendapatan airtime dari penyelenggara jaringan bergerak seluler sekurang-kurangnya 10 persen.

Airtime selama berlaku, oleh pengusaha wartel disetorkan melalui Telkom. Setelah itu oleh Telkom disetorkan ke operator seluler.

Sarwoto yang juga Dirut Telkomsel mengaku, perusahannya siap melakukan pembayaran untuk periode yang tidak bermasalah dan sekarang sedang menunggu rincian data dari Telkom.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia (APWI) Srijanto Tjokrosudarmo mengakui, pihaknya dengan Telkomsel sudah mencapai kata sepakat, tetapi belum dengan opsel lainnya untuk periode April 2005 hingga Desember 2006 dimana total tunggakan mencapai sekitar 54,093 miliar rupiah.

Padahal, kewajiban membayar airtime ke wartel masih melekat pada Keputusan Menkominfo sebelumnya dan penegasan Dirjen Postel atas hak pengusaha wartel periode April 2005 hingga 31 Desember 2006 melalui surat yang dikeluarkan pada awal Mei lalu.

“Kalau dengan Telkomsel sudah ada kata sepakat untuk tunggakan airtime senilai 37,007 miliar rupiah. Telkomsel tinggal menunggu surat perintah pencairan dari Telkom sebagai induk usaha,” katanya.

Sementara VP Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia menegaskan, Telkom tidak punya kewajiban membayar airtime karena hanya sebagai fasilitator saja. “Kami ini bukan penjamin pembayaran hak airtime Wartel kepada para penyelenggara wartel melainkan hanya sebatas fasilitator,” katanya.

Sebagai fasilitator, lanjutnya, Telkom sebatas membantu menyiapkan data wartel dan data panggilan dari Wartel ke Opsel, melakukan proses splitting untuk mengetahui jumlah panggilan dari Wartel ke masing-masing Opsel, sehingga diketahui jumlah hak airtime yang semestinya dibayarkan oleh para Opsel kepada para penyelenggara Wartel.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menegaskan, masalah pembayaran airtime sekarang tergantung itikad baik dari Opsel karena untuk jangka waktu sudah ditetapkan oleh lembaganya yakni April 2005-Desember 2006. “Tadinya APWI minta hingga Januari 2007, sekarang mereka sudah mengalah. Tinggal kita lihat itikad baik opsel saja,” katanya.

Sebelumnya, APWI menuntut tujuh operator(Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Mobile-8 Telecom, Smart Telecom, Natrindo Telepon Seluler, dan Sampoerna Telecom Indonesia) untuk membayar tunggakan airtime periode April 2005 hingga Desember 2006.

Telkomsel dengan airtime 37,007 miliar rupiah merupakan penunggak yang terbesar (68,4%). Lainnya, Indosat 12,1 miliar rupiah (22,3%), XL Axiata 4,174 miliar rupiah (7,7%), Mobile-8 729 juta rupiah (1,4%), Smart 75,1 juta rupiah (0,1%), dan Axis 5,8 juta rupiah. (0,01%).[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s