260510 Pelindo II Cari Mitra Bangun Pelabuhan Karawang

JAKARTA—PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II  mencari mitra untuk  membangun Pelabuhan dan Terminal Karawang, Jawa Barat melalui tender terbatas.

“Kami butuh mitra untuk membangun infrastruktur di sana karena dana yang dibutuhkan lumayan besar yakni sekitar 6 triliun rupiah,” ungkap  Direktur Utama Pelindo II Richard Jose Lino di Jakarta, Rabu (26/5).

Menurutnya,   strategi pengembangan pelabuhan baru itu  harus bekerjasama dengan perusahaan perkapalan. “Kami akan mengundang setidaknya lima perusahaan untuk ikut tender terbatas. Saat ini yang menyampaikan minat sudah banyak, mayoritas perusahaan asing,” ungkapnya.

Diungkapkannya, salah satu perusahaan yang berminat  berasal dari   Perancis  yakni CMA-CGM   “CMA-CGM sebelumnya pernah berminat membangun pelabuhan di Batam tetapi tidak jadi.. Mungkin karena itulah mereka akhirnya berminat ke Karawang,” jelasnya.

Dijelaskannya, saat ini proses perizinan untuk membangun dan mengoperasikan pelabuhan tersebut sedang di proses di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Kalau mau buat Pelabuhan besar dengan cara biasa, selesai dalam waktu 10 tahun sudah bagus. Tetapi kami inginnya pemerintah menerbitkan Keppres khusus untuk proyek ini, sehingga seluruh tahapan pembebasan tanah sampai pembangunan bisa selesai dalam 5 tahun saja. Saya yakin Menko Perekonomian akan mendukung rencana ini, karena Pelabuhan itu vital perannya bagi arus ekspor-impor barang. Sementara Pelabuhan Tanjung Priok sudah terbatas sekali pengembangannya,” jelasnya.

Sekretaris Perusahaan Pelindo II Rima Novianti menambahkan,pelabuhan Karawang akan difungsikan sebagai multi-purpose port alias pelabuhan multi fungsi. “Disana banyak industrinya, sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan industri dengan layanan terminal kontainer,” kata Rima.

Diperkirakannya,  pelabuhan Karawang akan memiliki kapasitas tampung 10 juta TEUs kontainer per tahun.   Karawang dipilih sebagai lokasi karena dengan dengan puluhan kawasan industri di Cikarang, Karawang, Purwakarta, dan Subang yang saat ini memasok 70 persen barang ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Secara terpisah, Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Laut (Depalindo) Toto Dirgantoro  mengakui diperlukannya dibangunnya sebuah pelabuhan yang lebih dekat dengan pusat produksi industry karena dapat menekan biaya pengiriman dari dan menuju pelabuhan Tanjung Priok sampai 40 persen.

Tuntutan Karyawan
Berkaitan dengan   tuntutan serikat pekerja Terminal Petikemas (TPK) Koja yang menghendaki kenaikan gaji sampai 83,6 persen, Lino memastikan tidak akan meluluskan.

Lino menjelaskan, setidaknya ada dua alas an tuntutan serikat pekerja tidak dipenuhi.  Pertama, tahun ini manajemen sudah menetapkan kenaikan gaji 9,6 persen  untuk seluruh pekerja. Sehingga anggaran
gaji seluruh pegawai yang tadinya sudah ditetapkan 104,6 miliar rupiah naik menjadi  114,7 miliar rupiah.  Kedua, standar gaji 485 pekerja di TPK Koja sudah sangat tinggi. Rinciannya,  total take home pay meliputi gaji pokok, gaji ke 13, tunjangan cuti, THR dan bonus .

Namun, Serikat Pekerja TPK Koja Tedy Hardian membantah seluruh data gaji pekerja yang disampaikan Lino. Menurutnya gaji pekerja TPK Koja ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Dirut Pelindo II dan PT Hutchinson Ports Indonesia Nomor HK.56/5/7/PI.II-09 dan SKB
Nomor 023/SKB-HII/IX/09 tanggal 1 september 2009.

“Dia menyebutkan operator head truck gajinya  12,5 juta rupiah , padahal
dalam SKB ini gajinya hanya  2,621 juta rupiah  plus tunjangan perumahan
462 ribu rupiah  dan tunjangan transportasi 975 ribu rupiah. Saya tidak tahu data yang dia gunakan itu yang mana,” kata Tedy.

Rima mencatat, aksi mogok kerja 1-3 Mei yang diprakarsai Serikat Pekerja TPK Koja telah menimbulkan kerugian tidak hanya bagi perseroan tetapi juga pengguna
jasa pelabuhan.

“Dalam satu hari, kerugian yang dialami mencapai  727 juta rupiah  yang berasal dari pendapatan lapangan dan 195.782 dollar AS. Kehilangan pendapatan dari kegiatan bongkar muat petikemas di dermaga,” kata Rima.

Sementara Anggota  Komisi V DPR RI, Yudi Widiana Adia meminta konflik antara karyawan Terminal Peti Kemas Koja (TPK) dengan pihak manejemen Kerja Sama Operasi TPK (KSO TPK) dan Direksi PT Pelindo II sebaiknya diselesaikan secara kekeluargaan.

“Banyak pihak dirugikan seperti pengusaha, buruh pabrik dan sopir serta masyarakat luas akibat konflik tersebut . Jika konflik dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian maka kerugian yang dicapai akan terus membesar,” katanya. [dni]

1 Komentar

  1. waw…ada apa dengan karawang….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s