260510 Mengoptimalkan Pendapatan dari Musik

Musik bisa dikatakan sebagai “ibu” dari dunia seni. Hiburan yang satu ini berhasil menjadi pusat perhatian sejak dulu hingga sekarang. Bahkan di era digital sekalipun, keinginan manusia untuk menikmati alunan lagu sangat tinggi.

Simak saja data yang dipaparkan Google Trend untuk periode April bagi  situs di internet  yang kental dengan unsur musik. Situs ilike.com yang merupakan laman berbayar untuk mengunduh musik di kunjungi oleh 4,7 juta orang setiap harinya, dan Indonesia berada di peringkat ketiga untuk jumlah pengunjung. Padahal, ilike.com mengharuskan membayar untuk mengunduh lagu.

Selain itu juga ada laman Gudanglagu.com yang dikunjungi 2,1 juta orang dan seluruhnya berasal dari negeri ini. Situs ini menjadi favorit karena menawarkan lagu gratis. Sayangnya, lagu yang ditawarkan masuk kategori ilegal karena pemilik lagu tidak mendapatkan apa-apa dari setiap lagu yang diunduh dari situs ini.

“Diperkirakan di Indonesia terdapat 10 juta lagu ilegal diunduh sehari melalui berbagai portal. Sedangkan untuk yang legal hanya satu juta lagu dalam sebulan,” ungkap Komisaris Utama Generasi Indonesia Digital (GENiD) Heru Nugroho kepada Koran Jakarta, Rabu (26/5).

Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo mengungkapkan, bisnis dari industri musik bagi pelaku usaha digital lumayan besar. Tercatat, pada tahun lalu dari layanan Ring Back Tone (RBT) saja ada uang berputar sebesar 1,2 triliun rupiah.

“Sayangnya, untuk lagu yang diunduh lengkap (Full Track Download) jumlahnya masih kecil hanya sekitar 62 miliar rupiah, sedangkan untuk tahun ini diperkirakan tumbuh 30 persen. Ini karena derasnya aksi pembajakan di Indonesia. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Korea Selatan dimana pada 2009 dari  digital music download nilai bisnisnya mencapai  660 juta dollar AS,” ungkapnya.

Garap Pasar

Sadar akan besarnya potensi yang bisa diberikan dunia musik, Telkom pun menggandeng SK Telecom dari Korea Selatan untuk membuat anak usaha yang bergerak di bidang Digital Content Exchange Hub (DCEH).

DCEH adalah jenis baru hub untuk mendistribusikan konten digital, seperti file musik, permainan dan klip video yang nantinya dapat diakses  tidak hanya oleh konsumen tetapi juga toko musik online dan operator telepon baik yang berbasis kabel maupun selular. Dana sebesar 100 miliar ditanamkan oleh kedua perusahaan dimana komposisinya 51 persen untuk Telkom dan sisanya ditalangi SK Telecom.

“SK Telecom sudah memiliki proven bisnis di dunia untuk digital musik. Banyak perusahaan yang bergerak di portal musik, tetapi yang berhasil hanya segelintir, dan SK Telecom salah satunya. Selain itu kami ingin memanfaatkan  master license bank dari perusahaan itu yang menguasai hampir 2 juta lagu,” ungkap Indra.

Jika ini terwujud, Indra optimistis, anak usaha itu akan menjadi gudang besar (super warehouse) bagi penyaluran musik digital karena pemain lokal yang diwakili GENiD hanya memiliki  puluhan  ribu lagu lokal. “Kami pun tetap akan menggunakan GENiD sebagai pemasok lagu untuk portal Melon nantinya. Jadi, portal ini tidak head on dengan GENiD,” tegasnya.

GENiD adalah perusahaan lokal yang   mengembangkan  sistem kliring musik digital atau gudang digital sejak dua tahun lalu di Indonesia dengan menggandeng 11 label besar (anggota Asosiasi Industri Rekaman Indonesia/ASIRI) yang menguasai 80 persen industri musik.

Sistem kliring digital sendiri adalah fungsi  menghubungkan antara label musik besar dengan reseller yang meliputi operator telekomunikasi, penyedia portal Internet, konten, dan penyedia aplikasi ponsel. Saat ini sudah lebih dari 70 retailer yang sudah tersambung dengan digital warehouse tersebut dan lebih dari 60.000 full track song, dengan 16 tipe konten.

Selanjutnya Indra mengungkapkan, langkah ke depan yang dilakukan Telkom adalah menerapkan model bisnis yang dilakukan SK Telecom di Indonesia seperti membeli lagu per unduh, per hari, atau berlangganan per bulan. “Banyak model bisnisnya, kita akan cari mana yang bisa diterapkan di Indonesia. Selain itu kami juga akan mengembangkan handset  yang mempermudah untuk mengunduh lagu layaknya iPhone dengan iTunes,” jelasnya.

Penataan

Chief Executive Officer GENiD M. Gopal Utiarrachman mengakui, sebenarnya pasar musik legal di Indonesia sangat besar jika melihat  jumlah kunjungan pada situs lagu.

“Situs ilike.com itu berbayar dan tetap ada yang mengunduh. Sekarang tinggal bagaimana membuat kesadaran publik perlunya membeli sesuatu yang legal. Bayangkan jika dari 10 juta lagu ilegal itu berubah jadi legal, ini signifikan membantu dunia musik lokal,” jelasnya.

Salah satu langkah yang dilakukan oleh GENiD adalah membuat portal musiclegal.com yang menawarkan lagu secara gratis untuk dua kali putar. Hal ini dimungkinkan karena Digital Right Management (DRM) dari lagu sudah terdaftar. “Ini kami lakukan untuk menstimulus masyarakat sadar akan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Jika benar-benar suka satu lagu, beli dong yang legal,” katanya.

Musisi Senior James F Sundah menjelaskan, langkah untuk menata infrastruktur digital musik sebenarnya sudah terlambat. “Harusnya dilakukan 5-10 tahun lalu. Di Indonesia bisnis musik sudah jalan, infrastruktur digitalnya  compang-camping,” katanya.

Menurutnya, jika tidak dilakukan pembenahan secepatnya, maka bisa saja potensi devisa lari keluar negeri karena lagu-lagu lokal di-hosting di luar negeri karena era digital tidak memiliki batasan.

Disarankannya, sembari menyiapkan infrastruktur untuk era digital,  masalah regulasi juga harus dibereskan seperti pembagian hak cipta dan struktur bisnis. “Harus ada standar yang jelas untuk semua itu. Misalnya, pembagian hak pencipta jika hosting di Singapura lebih besar ketimbang di Indonesia, tentu pencipta lagu lari ke luar negeri,” katanya.

James pun meminta musisi lokal untuk lebih melek kemajuan teknologi dan sadar akan HAKI yang dimilikinya agar pembajakan tidak merajalela. “Membuat musik yang bagus saja tidak cukup di era sekarang jika tidak mengerti bisnis di masa depan,” ketusnya.

Wakil Dirut Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengingatkan, menjual musik digital tidak gampang di Indonesia karena terkait banyak pihak, keterbatasan geografi dan pola pembayaran. “Produk yang bagus saja tidak cukup, harus bisa dibungkus dengan komunikasi pemasaran yang jitu,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, masalah harga dan ketersediaan masih menjadi kendala sehingga banyak konsumen tetap memilih yang gratisan  alias illegal. “Perlu usaha besar untuk mengubah pola itu. Itulah salah satu tujuan kenapa esia sangat agresif dalam promosi dan inovasi  musik legal  di Indonesia karena industri ini harus diselamatkan dari pembajakan,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s