260510 Indonesia Tetap Membutuhkan Wimax

JAKARTA—Indonesia dinilai tetap membutuhkan teknologi Worldwide Interoperability for Microwave Access (Wimax) untuk meningkatkan penetrasi broadband internet.

“Wimax itu bagus untuk menjadi backhaul dan last mile. Walaupun ada teknologi Long Term Evolution (LTE) yang sama-sama 4G, tetapi itu tidak bisa menafikan hadirnya Wimax,” ungkap Praktisi Telematika Raherman Rahanan kepada Koran Jakarta, Rabu (26/5).

Menurutnya, teknologi Wimax memiliki daya jangkau yang luas sehingga cocok sekali untuk melayani kondisi geografis Indonesia yang belum dijangkau broadband internet.  Ling of Sight (LOS) Wimax  bisa mencapai 40-50 km untuk backhaul, sedangkan sebagai  last mile (ke pelanggan) bisa mencapai 3-10 km radius.  Sementara untuk last mile hanya  500 meter, paling jauh 3-4 km di areal terbuka.

“Saya yakin jika pun LTE nantinya diimplementasi hanya dinikmati oleh masyarakat di perkotaan. Lantas bagaimana dengan mereka yang tinggal di rural. Wimax ini adalah solusi bagi mereka yang mengakses internet di perumahan. Karena itu kedua teknologi ini sebaiknya dibiarkan berjalan beriringan,” katanya.

Pada kesempatan lain, salah satu vendor perangkat LTE, Alcatel-Lucent (ALU) , terus memamerkan kecanggihan teknologi ini kepada dunia.

Kali ini ALU membantu stasiun TV menyajikan siaran video secara langsung lomba German Grand Prix World Match Racing Tour menggunakan LTE 4G  menggantikan video streaming tradisional.

“Peristiwa unik ini menunjukkan bahwa Alcatel-Lucent berada di garis depan untuk

memperkenalkan manfaat baru secara teknologi dan komersial melalui portofolio teknologi mobile dan fixed generasi mendatang,” ujar, Dr. Erich Zielinski, end to end 4G/LTE solutions Alcatel-Lucent.

Pada kesempatan lain, VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo, mengungkapkan, pihaknya sudah memasuki  tahap akhir untuk persiapan uji coba teknologi LTE bersama kedua induk perusahaannya, Telkom dan SingTel.
“Semua vendor LTE akan kita pakai untuk uji coba, NSN (Nokia Siemens Network), Ericsson, Huawei. Semua vendor yang support Telkomsel harus bisa running LTE. Untuk LTE, BTS Node B-nya akan disiapkan dari kita. Kemudian, backbone-nya pakai Telkom, dan SingTel untuk jaringan internasionalnya,” katanya.[dni]