260510 Garuda Indonesia Kembangkan Sayap di KTI

JAKARTA—Garuda Indonesia (Garuda) mengembangkan sayapnya ke kawasan timur Indonesia (KTI) dalam rangka meningkatan pelayanan kepada para penggunanya.

Kawasan KTI yang dilayani mulai Selasa (25/05) ini adalah rute penerbangan baru Jakarta – Ternate (Maluku Utara) pp dengan melakukan transit di Menado.

Direktur Niaga Garuda Indonesia Agus Priyanto mengatakan pembukaan rute baru itu merupakan upaya perseroan untuk mengembangkan rute ke seluruh ibukota propinsi di Indonesia khususnya Indonesia Timur. “Upaya ini juga dimaksudkan untuk membantu peningkatan ekonomi kota – kota yang mempunyai potensi untuk berkembang, khususnya Ternate dan sekitarnya,” jelasnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (25/5).

Diungkapkannya, selain Ternate, Garuda Indonesia juga akan membuka beberapa rute baru di domestik antara lain rute penerbangan Jakarta – Ambon pada tanggal 3 Juni, serta Jakarta – Palu pada tanggal 3 Juli mendatang.

Selain itu, Garuda Indonesia juga akan membuka beberapa rute baru di internasional yaitu rute Jakarta – Amsterdam pada tanggal 1 Juni, serta rute Surabaya – Hongkong dan Denpasar – Hongkong masing – masing pada tanggal 1 Juni dan 3 Juli 2010 mendatang.

Sedangkan penerbangan Jakarta-Ternate dengan GA-600 berangkat dari Jakarta pukul 06.10 WIB, tiba di Menado pukul 10.30 WITA, berangkat kembali dari Menado pukul 11.10 WITA, tiba di Ternate pukul 13.00 WIT. GA-601 berangkat dari Ternate pukul 13.40 WIT, tiba di Menado pukul 13.30 WITA, berangkat kembali dari Menado pukul 14.10 WITA, tiba di Jakarta pukul 16.20 WIB. Penerbangan Jakarta – Ternate dilayani satu kali setiap hari dengan menggunakan pesawat Boeing 737-300 dengan kapasitas tempat duduk 16 dikelas bisnis dan 94 tempat duduk di kelas ekonomi. [dni]

260510 Penjualan Komputer Kuartal II Melemah

JAKARTA—Penjualan komputer pada kuartal II tahun ini diprediksi melemah dibandingkan kuartal pertama 2010 akibat diterapkannya sistem penarikan pajak baru bagi para pengusaha.

“Pada kuartal I lalu terjual sebanyak satu juta unit komputer, dimana 60 persennya dikuasai oleh komputer jinjing (Laptop). Namun, pada kuartal II ini akan melemah akibat adanya implementasi sistem pajak baru yang mulai berlaku 27 Maret lalu,” ungkap Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Suhanda Wijaya di Jakarta, Selasa (25/5).

Diungkapkannya, sistem pajak baru yang diperkenalkan pemerintah membuat para distributor dari segmen menengah atas tertekan karena harus menyesuaikan pola penjualan. Pola penarikan pajak baru adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) harus dibayar kala transaksi dilakukan atau barang diserahkan.

Pada pola penarikan pajak lama, pengenaan PPN bias dilakukan setelah transaksi atau tidak perlu disaat barang diserahkan. Pola ini mengakomodir sistem distribusi peranti teknologi informasi di Indonesia yang kerap membuat peritel baru membayar kepada distributor dengan kelonggaran waktu 30-40 hari.

“Hal yang menjadi masalah dengan pola penarikan PPN baru itu jika ada konsinyasi. Misalnya, barang dikembalikan, lantas pajak sudah dibayar, siapa yang menanggung kerugian. Kondisi makin pelik karena peritel belum tentu dapat membuat pembukuan yang baik dan standar, dari sisi pemasukan dan pengeluarannya,” katanya.

Menurutnya, dampak dari penarikan pola PPN baru itu penyaluran dari distributor besar tertahan sebesar 30 hingga 40 persen. “Tetapi ini tidak mengurangi optimisme pengusaha hingga akhir tahun nanti ada sekitar 3,8 juta unit computer yang terjual,” katanya.

Anggota Dewan Pembina Apkomindo Hidayat Tjokrodjojo mengusulkan model pemungutan PPN kembali ke model lama yang lebih sederhana yaitu ketika transaksi jual atau beli penjual langsung memungut pajak (PPN).

Di samping itu, pemungutan pajak penghasilan (PPh) juga dinilai masih belum sesuai dengan praktik di bisnis barang teknologi informasi karena PPh-yang seharusnya dibayarkan pada waktu penjual menerima uang-memberatkan penjual yang menerapkan jual rugi barangnya.

Menurutnya, langkah jual rugi itu terpaksa terjadi ketika penjual ingin menghabiskan persediaan barangnya dan inovasi produk Teknologi Informasi (TI) yang berubah pesat mengakibatkan model dan teknologi barang yang masih ada sudah tertinggal. Beban itu masih harus ditambah dengan pungutan retribusi lainnya.

Dipacu Akses
Berkaitan dengan pertumbuhan penjualan komputer pada tahun ini sebesar 23 persen dibandingkan tahun lalu, Suhanda mengungkapkan, hal itu tak bisa dilepaskan dari semakin tingginya akses internet di masyarakat. “Operator telekomunikasi berhasil memperbanyak titik akses, ini membuat penjualan computer jinjing tumbuh pesat, apalagi yang dibekali dengan modem internet,” katanya.

Dikatakannya, saat ini harga komputer jinjing kategori netbook semakin terjangkau yakni sekitar 3 hingga 4 juta rupiah yang membuat masyarakat semakin haus akan akses internet.

VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo mengatakan, operator telekomunikasi pun mulai sadar dengan pola penjualan computer yang membutuhkan akses internet. “Sekarang kami tidak mengharuskan akses internet di-bundling dengan modem dari Telkomsel. Kami melepas kartu perdana khusus broadband internet,” katanya.

Diungkapaknnya, kartu perdana yang diberikan merk dagang Flash Unlimited dibanderol sekitar 60 ribu rupiah. “Kita harapkan pengguna akses broadband bisa menjadi 5 juta nomor dari sekitar 2,4 juta pelanggan awal tahun ini,” katanya.[dni]