250510 2012, LCC Angkut 217 juta Penumpang di Asia Pasifik

JAKARTA–Maskapai berbasis layanan Low Cost Carrier (LCC) dalam waktu dua tahun mendatang diperkirakan akan mengangkut 217 juta penumpang di Asia Pasifik karena perkembangan ekonomi dan jaringan internet yang semakin maju di kawasan itu.

“Diperkirakan hingga 2012 level CAGR dari segmen LCC sekitar 16 persen. Hal ini karena pada 2008, segmen ini mengangkut 116 juta penumpang,” ungkap  Country Director Frost & Sullivan Indonesia Eugene van de Weerd di Jakarta, Senin (24/5).

Diungkapkannya, faktor lain pemicu berkembangnya LCC di kawasan Asia Pasifik adalah  tenaga kerja yang murah, pariwisata yang berkembang, dan murahnya biaya sewa pesawat.

Menurutnya, terdapat  korelasi positif tingkat tinggi antara permintaan layanan udara dan aktivitas ekonomi.

Pendapatan perkapita dalam paritas daya beli untuk kawasan Asia Pasifik merupakan yang terendah di dunia. Diharapkan akan meningkat dari 4,181 dollar AS di 2008 menjadi 6,426 dollar AS  pada 2014.

Meskipun pandangan untuk pasar ini terlihat cerah, terdapat beberapa tantangan di dalam pergerakan pasar. Pengeluaran yang tinggi pada bahan bakar dan minyak telah berpengaruh pada keuntungan dari LCC.

Biaya bahan bakar mendekati 40 persen dari pendapatan LCC.”Kenaikan harga minyak mentah akan dapat berdampak buruk pada keuntungan LCC. Selain harga minyak mentah yang berubah-ubah, kurangnya infrastruktur juga berpengaruh pada pelaku pasar,” katanya.

Air Asia
Sementara itu, salah satu pemain LCC di Indonesia,   PT Indonesia AirAsia (IAA), berencana mulai  tahun depan akan secara intensif membicarakan komposisi kepemilika n saham untuk memenuhi kewajiban kepemilikan mayoritas tunggal (single majority) oleh pemodal nasional di perusahan penerbangan.

Salah satu pemilik IAA, Sendjaja Wijaja,  mengatakan masih terlalu dini jika pembicaraan komposisi saham dilakukan pada tahun ini.

“Peraturan itu kan berlakunya masih lama, yakni di 2012. Masih terlalu dini kalau bicara sekarang. Tapi, kami memang sudah diberi tahu kalau itu akan menjadi pembahasan utama, katanya.

Saat ini saham IAA dimiliki oleh AirAsia Group (Malaysia) sebesar 49 persen, sisanya dikuasai oleh pihak Indonesia melalui Sendjaja Wijaja 21 persen , keluarga Harris (Pin Harris) 20 persen, dan PT Fersindo Nusaperkasa 10 persen.

Dengan komposisi demikian, berarti AirAsia Group menjadi pemegang saham tertinggi karena pemegang modal nasional terbagi dalam tiga kepemilikan.

Sesuai dengan UU No. 1/2009 tentang Penerbangan, di Pasal 108 tentang Perizinan Angkutan Udara Niaga terdapat ayat yang menyebutkan maskapai yang beroperasi di Indonesia seluruh atau sebagian besar saham harus dimiliki badan hukum Indonesia atau WNI.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perhubungan Udara KementerianPerhubungan Herry Bakti Singayudha Gumay meminta agar IAAmenyesuaikan dengan komposisi yang diatur oleh UU Penerbangandengan batas waktu akhir 2011.

Sementara Direktur Angkutan Udara Kemenhub, Tri S Sunoko mengatakan,  hingga saat ini IAA belum melapor perubahan pemegangsaham maskapainya. Karena memang sesuai ketentuan dalam UU 1/2009,penerapan single majority akan mulai diberlakukan paling lambat bulan Januari 2012.

Selain IAA, jelasnya, tidak ada maskapai lain yang sama maskapailain di Indonesia. “Setahu kami airline lain tdk ada yg kasusnya sama dengan IAA,” tandasnya.[Dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s