250510 TiPhone Bidik Penggila Bola

JAKARTA—Pemilik ponsel merek lokal, TiPhone, membidik penggila olahraga sepakbola untuk memperluas pangsa pasarnya bersama Telkomsel.

“Kami menggandeng Telkomsel untuk  meluncurkan 2 paket ponsel  bundling Soccer bagi penggila bola. Kita sediakan 100 ribu unit untuk dua jenis ponsel yang dibundling,” ungkap Direktur Utama TiPhone Mobile Indonesia Hengky Setiawan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dijelaskannya, dua ponsel yang dibundling adalah  TiPhone T88 Soccer Edition dan TiPhone E88 Soccer TV Edition.  Kedua seri TiPhone Soccer tersebut menyajikan aplikasi sepakbola bernama Soccer Mobile.

Untuk bisa menikmati layanan tersebut, pelanggan hanya dikenakan tarif  2.000 rupiah per minggu per menu. “Dengan Soccer Mobile, pengguna TiPhone Soccer bisa mengakses beragam informasi seputar sepakbola secara komprehensif dan murah,” katanya.

Diungkapkannya, soccer mobile menyajikan beragam informasi tentang Tim Nasional Sepakbola Indonesia dan PSSI, Liga Super Indonesia, Liga Divisi Utama, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan liga-liga lain, serta Bola Dunia, Prediksi, Opini, Sekolah Sepakbola, Futsal, dan Gallery. Tersedia pula berita, jadwal pertandingan, klasemen, profil klub, dan profil pemain. Tak ketinggalan informasi seputar Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga Champions Eropa.

TiPhone T88 Soccer Edition dijual dengan harga  799 ribu rupiah.  sementara TiPhone E88 Soccer TV Edition seharga  899 ribu rupiah. Pembeli paket bundling TiPhone Soccer memperoleh perdana simPATI dari Telkomsel yang telah dilengkapi dengan gratis akses internet sebesar 4 MB per bulan selama 6 bulan. Bonus ini diperoleh setelah mengisi pulsa simPATI minimal Rp 50.000 per bulan.

Deputy VP Channel Management Telkomsel Agus Setia Budi mengatakan, kolaborasi dengan

TiPhone   merupakan bagian dari kemitraan Telkomsel dalam siaran pertandingan Piala

Dunia FIFA 2010.

Kabar beredar mengatakan Telkomsel menyiapkan dana pemasaran hingga 90 miliar rupiah

untuk mensponsori siaran Piala Dunia baik berupa kegiatan on atau off air.[dni]

250510 2012, LCC Angkut 217 juta Penumpang di Asia Pasifik

JAKARTA–Maskapai berbasis layanan Low Cost Carrier (LCC) dalam waktu dua tahun mendatang diperkirakan akan mengangkut 217 juta penumpang di Asia Pasifik karena perkembangan ekonomi dan jaringan internet yang semakin maju di kawasan itu.

“Diperkirakan hingga 2012 level CAGR dari segmen LCC sekitar 16 persen. Hal ini karena pada 2008, segmen ini mengangkut 116 juta penumpang,” ungkap  Country Director Frost & Sullivan Indonesia Eugene van de Weerd di Jakarta, Senin (24/5).

Diungkapkannya, faktor lain pemicu berkembangnya LCC di kawasan Asia Pasifik adalah  tenaga kerja yang murah, pariwisata yang berkembang, dan murahnya biaya sewa pesawat.

Menurutnya, terdapat  korelasi positif tingkat tinggi antara permintaan layanan udara dan aktivitas ekonomi.

Pendapatan perkapita dalam paritas daya beli untuk kawasan Asia Pasifik merupakan yang terendah di dunia. Diharapkan akan meningkat dari 4,181 dollar AS di 2008 menjadi 6,426 dollar AS  pada 2014.

Meskipun pandangan untuk pasar ini terlihat cerah, terdapat beberapa tantangan di dalam pergerakan pasar. Pengeluaran yang tinggi pada bahan bakar dan minyak telah berpengaruh pada keuntungan dari LCC.

Biaya bahan bakar mendekati 40 persen dari pendapatan LCC.”Kenaikan harga minyak mentah akan dapat berdampak buruk pada keuntungan LCC. Selain harga minyak mentah yang berubah-ubah, kurangnya infrastruktur juga berpengaruh pada pelaku pasar,” katanya.

Air Asia
Sementara itu, salah satu pemain LCC di Indonesia,   PT Indonesia AirAsia (IAA), berencana mulai  tahun depan akan secara intensif membicarakan komposisi kepemilika n saham untuk memenuhi kewajiban kepemilikan mayoritas tunggal (single majority) oleh pemodal nasional di perusahan penerbangan.

Salah satu pemilik IAA, Sendjaja Wijaja,  mengatakan masih terlalu dini jika pembicaraan komposisi saham dilakukan pada tahun ini.

“Peraturan itu kan berlakunya masih lama, yakni di 2012. Masih terlalu dini kalau bicara sekarang. Tapi, kami memang sudah diberi tahu kalau itu akan menjadi pembahasan utama, katanya.

Saat ini saham IAA dimiliki oleh AirAsia Group (Malaysia) sebesar 49 persen, sisanya dikuasai oleh pihak Indonesia melalui Sendjaja Wijaja 21 persen , keluarga Harris (Pin Harris) 20 persen, dan PT Fersindo Nusaperkasa 10 persen.

Dengan komposisi demikian, berarti AirAsia Group menjadi pemegang saham tertinggi karena pemegang modal nasional terbagi dalam tiga kepemilikan.

Sesuai dengan UU No. 1/2009 tentang Penerbangan, di Pasal 108 tentang Perizinan Angkutan Udara Niaga terdapat ayat yang menyebutkan maskapai yang beroperasi di Indonesia seluruh atau sebagian besar saham harus dimiliki badan hukum Indonesia atau WNI.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perhubungan Udara KementerianPerhubungan Herry Bakti Singayudha Gumay meminta agar IAAmenyesuaikan dengan komposisi yang diatur oleh UU Penerbangandengan batas waktu akhir 2011.

Sementara Direktur Angkutan Udara Kemenhub, Tri S Sunoko mengatakan,  hingga saat ini IAA belum melapor perubahan pemegangsaham maskapainya. Karena memang sesuai ketentuan dalam UU 1/2009,penerapan single majority akan mulai diberlakukan paling lambat bulan Januari 2012.

Selain IAA, jelasnya, tidak ada maskapai lain yang sama maskapailain di Indonesia. “Setahu kami airline lain tdk ada yg kasusnya sama dengan IAA,” tandasnya.[Dni]

250510 LTE Butuh Kematangan Pasar

JAKARTA—Penerapan teknologi Long Term Evolution (LTE)  memerlukan  kematangan pasar agar inovasi itu benar-benar dibutuhkan  untuk dijalankan di Indonesia.

“Masyarakat harus benar-benar sadar bahwa broadband itu dibutuhkan. Jika dipaksakan LTE hadir tahun depan atau sekarang, itu hanya menjadi hiasan,” ungkap  Head Customer Marketing & Communication Regional Marketing Asia Pacific Nokia Siemens Network (NSN) Harith Menon di Jakarta, Senin (24/5).

Menurutnya, langkah yang tepat untuk mematangkan pasar adalah membuat perangkat yang mendukung broadband semakin masif dengan harga terjangkau dan operator melakukan evolusi jaringan dari 3G ke High Speed Access plus (HSPA+). “Sekarang saja jaringan 3G belum dinikmati oleh semua lapisan. Kalau begini bagaimana mau bicara LTE,” katanya.

Diungkapkannya, NSN sebagai salah satu penyedia jaringan sedang menunggu langkah dari pemerintah terkait hadirnya LTE baik itu berupa standar frekuensi yang digunakan atau ketentuan kandungan lokal. “Laboratorium kami selalu berinovasi, sekarang tinggal menyesuaikan dengan keinginan dari regulator dan operator,’ katanya.

Berkaitan dengan mulai tertekannya pasar NSN untuk perangkat di Indonesia, Harith menegaskan, pergantian infrastruktur (Swap) yang dilakukan oleh operator merupakan haknya. “Swap yang dilakukan itu tidak berdampak besar ke bisnis NSN di Indonesia. Kami adalah perusahaan yang bermain di inovasi dana kan menjalankan bisnis jangka panjang di Indonesia,” jelasnya.

Sebelumnya, tersiar kabar Telkomsel dan Hutchison CP Telecom (HCPT) melakukan swap terhadap perangkat NSN ke Huawei. Tidak hanya itu, HCPT juga menyerahkan managed service jaringannya ke Huawei setelah selama ini dijalankan oleh NSN. Sedangkan Telkomsel melakukan Swap perangkat NSN ke Huawei untuk area Jawa dan menyusul wilayah lainny tak lama lagi.[dni]

250510 WTU Bantah Belum Lunasi Kewajiban

JAKARTA—Wireless Telecom Universal (WTU) membantah belum melunasi kewajibannya kepada negara sebagai pemenang tender Broadband Wireless Access (BWA).

“Kami sudah melunasi semua kewajiban kepada pemerintah. Bahkan denda tiga bulan pun sudah dibayar. Semua bukti setor sudah diberikan ke Kementrian Komunikasi dan Infromatika (KemenKominfo),” tegas Direktur Utama WTU Roy Rahajasa Yamin kepada Koran Jakarta, Senin (24/5).

Roy menyesalkan, masiha danya pernyatan dari pejabat negara yang mengancam akan mencabut izin prinsip dari WTU karena belum memenuhi kewajiban. “Sebaiknya dilakukan dulu koordinasi, agar pelaku usaha tenang,” katanya.

Selanjutnya diungkapkan, perseroan pun berminat untuk mengikuti tender ulang di 7 zona yang ditinggalkan oleh dua pemenang jika lelang dilakukan tahun ini. “Kami siap untuk ikut tender lagi. Masalah harga penawaran dasar sama dengan tahun lalu tidak masalah,” tegasnya Pemerintah akan melakukan tender ulang broadband wireless access

Pada kesempatan lain, Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Kominfo Gatot S. Dewa Broto mengungkapkan, tender ulang BWA untuk 7 zona yang ditinggalkan  Internux dan Comtronics paling lambat September mendatang.

“Kami melakukan pencabutan bersamaan dengan persiapan tender baru untuk tujuh slot pada tujuh zona yang ditinggalkan. Setelah ini aturan akan segera di buat dan tender baru bisa dilaksanakan paling lambat September tahun ini,” ujarnya.

Ketujuh zona yang akan ditender ulang adalah Jabodetabek, Jawa Barat kecuali Bogor, Depok dan Bekasi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kepulauan Riau, Maluku dan Maluku Utara, serta Papua.

Dia menjelaskan tender baru nantinya bersifat terbuka sehingga perusahaan yang memenuhi persyaratan bisa mengikutinya, meskipun bukan pemenang di tender sebelumnya.

Gatot memastikan  Internux dicabut izinnya, sedangkan   Konsorsium PT Comtronics System dan PT Adiwarta Perdania (Comtronics) dan WTU  belum memenuhi kewajiban hingga peringatan ketiga.

Menurutnya, WTU  memang telah mengirimkan surat resmi untuk melakukan pembayaran, namun pihaknya tetap akan mencabut karena pembayaran belum dilunasi hingga berakhirnya masa peringatan ketiga.

“Kami juga sedang mengonsultasikan masalah PT Berca Handayaperkasa yang telah membayar kewajiban up front fee dan biaya hak penyelenggaraan tahun pertama, namun belum membayar dendanya hingga saat ini kepada Kementerian Keuangan. Apakah mereka boleh tidak membayar denda atau tidak,” ujarnya.[dni]

250510 Murah yang Memberikan Manfaat

Kala Telkomsel melakukan aksi banting harga kartu perdana prabayar simPATI dan As menjelang mulai Maret dan April lalu, banyak pihak yang terkaget-kaget.

Bagaimana tidak, Telkomsel adalah penguasa jasa seluler dengan pangsa pasar sekitar 50 persen. Jika pemimpin pasar ikut meramaikan perang tarif, dikhawatirkan pertumbuhan margin  industri akan tergerus serta Telkomsel akan terpukul kinerja keuangannya.

Lantas, benarkah itu terjadi? Manager Brand Management Kartu As Telkomsel Tengku Ferdi Febrian membantah aksi banting harga itu merusak industri. “Justru ini meningkatkan konektifitas karena harus diingat Telkomsel itu keberadaanya sudah menjangkau 98 persen dari total populasi. Jika kami membanting harga, maka kelompok yang tadinya tidak bisa menikmati komunikasi, bisa meningkatkan taraf hidupnya,” katanya kepada Koran Jakarta, Senin (24/5).

Untuk diketahui, Telkomsel  memiliki 27.200 BTS dan 5 ribu Node B (BTS 3G). Keberadaan infrastruktur anak usaha Telkom ini berada hingga tingkat Ibu Kota Kecamatan di pelosok negeri ini.

Dicontohkannya, salah satu bukti aksi banting harga yang berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat di tingkat pedesaan adalah program  bundling handset murah  yang dilengkapi   fitur-fitur Value Adedd Service (VAS)  yang bisa dinikmati langsug oleh pelanggan. “Contoh kongkrit adalah program Nokia Life Tool (NLT) yang berguna bagi pengguna di pasar rural,” ungkapnya.

NLT adalah sebuah aplikasi yang ditanamkan di ponsel   pengguna Kartu AS yang menggunakan merek Nokia dari seri tertentu. Pelanggan dalam periode tertentu akan mendapatkan seputar informasi pertanian atau sekolah yang diberikan melalui SMS. Tarif menggunakan  NLT per hari per  konten  adalah seribu rupiah. Layanan ini sudah diaktivasi   kurang lebih 210.000  pelanggan  di Jawa

“NLT ini sebagai upaya untuk mendorong perekonomian rakyat melalui telekomunikasi. Di pedesaan itu informasi tentang harga komoditas sangat terbatas. Sekarang Telkomsel jaringannya sudah masuk ke desa-desa. Hadirnya layanan berbasis SMS ini akan bisa mendorong petani mendapatkan harga yang fair atau anak sekolah bisa mendapatkan informasi nilai tanpa harus berjalan jauh,” katanya.

Menurutnya, potensi penggunaan layanan data di area rural sangat besar. “Di perkotaan    consumer premise quipment (CPE) untuk akses internet banyak, mulai modem, laptop, atau computer. Sementara di desa itu cara yang mudah dengan ponsel. Karena itu kami selalu mempersenjatai ponsel bundling dengan akses internet,” katanya.

Dampak dari aksi ini pun bagi perseroan juga positif  mengingat hingga pertengahan Mei ini Kartu As berhasil mendapatkan tambahan 500 ribu pelanggan dari posisi awal tahun 23 juta nomor.

Pengamat telematika Bayu Samudiyo menilai aksi yang dilakukan oleh Telkomsel melalui Kartu As dan NLT lumayan jitu karena penurunan harga diikuti oleh penawaran konten untuk menjaga loyalitas dan pendapatan dari kantong lain.

“Harga perdana dan tarif yang dibanting ditutupi dengan berlangganan konten  membuat arus pendapatan tetap terjaga. Selain itu aksi ini bisa dikatakan melempar satu batu kena dua sasaran yakni retensi dan mendapatkan pelanggan baru,” katanya.

Sekjen Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengakui aksi Telkomsel sebagai buah dari  kompetisi yang sehat antar pemain.

“Pameo operator dirugikan karena perang tariff itu tidak benar.  Sebagai spesies yang mencari keuntungan tentu operator sudah berhitung. Biarkan saja kompetisi berjalan dengan sehat karena  pelanggan mulai belajar memilih layanan telekomunikasi yang sesuai dengan kebutuhan dan perilakunya dalam bertelekomunikasi,” katanya.[dni]

250510 Menjinakkan Si Kupu-Kupu

Industri telekomunikasi nirkabel Indonesia pada 2009 mencatat  sekitar 150 juta nomor beredar di pasar. Pada tahun ini diperkirakan ada penambahan sekitar 30-40 juta nomor baru yang diperebutkan oleh 12 operator.

Lantas, apakah semua nomor yang beredar atau calon pelanggan itu akan mampu menyumbang keuntungan bagi kinerja satu operator? Jika menilik pada kenyataan di lapangan, terutama tiga tahun belakangan ini, operator harus waspada dengan munculnya butterfly customer.

Istilah ini muncul karena adanya fenomena pelanggan yang bersifat hanya sementara saja yakni selama masa promosi dari suatu produk berlangsung. Tipikal pelanggan ini hanya akan menggunakan suatu produk ketika operator memberikan promosi yang baik dan menguntungkan, namun ketika oprator tidak menawarkan lagi hal yang menarik, si kupu-kupu akan mencari “bunga” yang lain.

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengungkapkan, dari 150 juta nomor yang diklaim beredar pada tahun lalu, hanya 53 persen ada “orangnya”.

“Hal ini berarti sekitar 60-65 juta nomor itu digunakan oleh orang yang sama alias multi sim. Ini menunjukkan besarnya kategori butterfly karena biasanya selain kartu utama, pengguna akan berganti-ganti produk sesuai promo yang ditawarkan oleh operator,” ungkapnya kepada Koran Jakarta, Senin (24/5).

Menurutnya, fenomena maraknya “kupu-kupu” di jagat telekomunikasi karena harga kartu perdana  makin murah disertai dengan masa aktif yang panjang. Selain itu juga ada handset yang bisa menerima multi SIM dalam satu perangkat.

Akhirnya operator bersaing untuk mendapatkan wallet share, bukan lagi market share. Wallet share adalah  bagian yang didapatkan dari “kantong” pelanggan. Misalnya,  pengeluaran seorang pelanggan untuk berkomunikasi sebulan 50 ribu rupiah, karena pelanggan memiliki 2 kartu dan kebetulan promosi yang dilakukan Indosat lebih kompetitif ketimbang pesaing, maka pengguna menghabiskan pulsa  35 ribu rupiah  untuk  kartu Indosat dan 15 ribu rupiah  dengan kartu pesaing.

GM Marketing XL Axiata Riza Rachmadsyah mengungkapkan, masa kritis menentukan pelanggan itu setia atau tidak adalah pada 45 hari pertama kartu diaktifkan. “Biasanya kita ikat dengan memberikan bonus. Misal isi ulang 100 ribu rupiah, ada akumulasi bonus. Di XL sendiri diperkirakan ada sekitar 15 persen tipe kupu-kupu ini yang harus dijaga kesetiaanya,” ungkapnya.

Manager Brand Management Kartu As Telkomsel Tengku Ferdi Febrian mengaku tidak  bisa menghindari  tipe pelanggan ala kupu-kupu. “Karakter pelanggan Indonesia  pasti akan mencari produk yang paling menguntungkan  buatnya. Secara gradual ada pelanggan yang diberikan perhatian khusus  jika masuk pada kategori minim aktifitas penggunaan,” katanya.

Sementara Sekjen Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi menjelaskan, masuknya industri telekomunikasi ke  rezim persaingan setelah beberapa tahun belakangan sibuk memenuhi  komitmen pembangunan jaringan dan layanan memunculkan fenomena tersebut.

“Operator saling berlomba dalam inovasi dan pemasaran  dengan memanfaatkan teknologi untuk menambah jenis layanan, seperti akses Internet, Multimedia Messaging System (MMS), atau aplikasi permainan (games). Setiap produk diberi kemasan tertentu dan dipromosikan dengan gencar untuk  suatu segmen pasar tertentu. Segmentasi pasar ini dapat dibedakan dari variabel geografis, demografis, maupun perilaku dalam menggunakan jasa telekomunikasi selular,” katanya.

Menurutnya, variasi layanan telekomunikasi dapat ditawarkan karena adanya  seperangkat sistem komputer yang dilengkapi dengan hardware dan software untuk mengidentifikasi peluang pada ceruk pasar yang perlu digarap secara intensif.

“Operator dituntut untuk semakin jeli. Mereka mulai memerhatikan perbedaan – perbedaan yang melekat di pelanggan, seperti ada yang lebih sering ber-SMS, suka berbicara, suka membayar di belakang (post paid), bicara dengan pelanggan sesama operator, dan lain sebagainya,” katanya.

Upaya Menahan

Guntur mengungkapkan, menghadapi fenomena ini sedang  terus mencari cara terbaik untuk tetap kompetitif dengan menjaga profitabilitas. “Susah memang membuat keseimbangannya. Sekarang semua berlomba menciptakan persepsi murah.  Sampai saat ini Indosat belum merespon perang kartu perdana dua ribu rupiah karena ingin menjaga industri. Jika diikuti, bisa-bisa kartu perdana menajdi gratis,” katanya.

Ferdi menjelaskan, untuk menjaga si kupu-kupu agar setia di satu “bunga”. Telkomsel melalui Kartu As muncul dengan filosofi produk yang   jujur dan simple.

“Salah satunya dengan program seribu rupiah. Kami menawarkan satu tarif untuk semua jenis komunikasi. Selain itu juga ditawarkan program bundling dengan layanan data yang benar-benar terjangkau. Hal lain adalah melakukan   micro campaign yang memberikan bonus tertentu kepada para pelanggan dengan klasifikasi khusus,” katanya.

Sementara Riza mengakui, penawaran gratis adalah senjata utama menahan kupu-kupu di satu bunga karena harga kartu perdana sudah kebanting murah. “Penawaran gratis tergantung daerahnya. Jika di Sumatera dan Jawa Tengah, lebih senang SMS gratis, di Kalimantan lebih senang suara digratiskan. Sementara di Jabodetabek lebih ke data,” katanya.

Wakil Dirut Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengaku tidak ada cara khusus untuk menjaga pelanggan yang tak setia. “Kami lebih fokus kepada pelanggan jangka panjang, karena itu kami jarang mengubah-ubah penawaran yang diberikan,” katanya.

Sedangkan Head Of Core Product and Branding Smart Telecom Ruby Hermanto mengungkapkan, akan segera meluncurkan program berbonus untuk menetralisir dampak membanjirnya penawaran yang dilakukan oleh pesaing. “Sebelumnya dirasa tidak diperlukan karena handset untuk layanan Smart itu langka. Tetapi kalau kami berdiam diri, pelanggan bisa beranggapan Smart itu mahal karena tidak ada promosinya,” katanya.

Pada kesempatan lain, Praktisi Telematika Suryatin Setiawan menyarankan, jika pelanggan   hanya mau “hinggap” atas dasar promo yang paling menarik dan murah,  tidak perlu dijinakkan. “Ini hanya soal segmentasi. operator harus mulai tajam dan serius dalam loyality program untuk pelanggannya yang bukan kategori Butterfly,” katanya.

Jika pun operator memaksakan diri untuk menggoda segmen Butterfly, lanjutnya, sebaiknya dilakukan dengan   penanganan khusus agar tidak rugi. “Dibatasi  saja sesuai perhitungan. Misal, untuk segmen ini dibuat kartu perdana 5 ribu rupiah dengan spesifikasi semuanya khusus. Soalnya, setelah promo usai pasti dibuang,” katanya.[dni]

240510 Infrastruktur Bandara Harus Didukung

JAKARTA—Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) meminta layanan yang diberikan kepada infrastruktur bandara Soekarno_Hatta harus didukung karena menyangkut kepada aspek keselamatan penerbangan dan obyek vital yang harus dilindungi.

“Bandara itu bisa disamakan sebagai simbol negara layaknya. Harusnya infrastrukturnya didukung untuk tetap berjalan. Jangan malah diganggu, seperti adanya aksi sepihak Telkom  yang mematikan sambungan telepon di Bandara Soekarno Hatta pada Jumat (21/5) pukul 01.45 hingga 07.15 WIB,” ungkap Anggota Komisi V DPR RI, Yudi Widiana Adia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurutnya, aksi Telkom sangat gegabah dan membahayakan keselamatan penerbangan. Pasalnya sambungan telepon  sangat vital dan digunakan terutama untuk komunikasi dan koordinasi jalur internasional air traffic system (ATS) Colombo Srilanka dan ATS Chenai, India.

Berdasarkan hasil koordinasinya dengan pihak AP II,   insiden itu   tidak perlu terjadi karena pihak pengelola  tidak melakukan keterlambatan pembayaran. Pihak AP II mengklaim sudah melakukan  pembayaran  sejak Rabu (19/5) sore. Sedangkan berdasarkan aturan Telkom, tagihan selambat-lambatnya harus dibayar pada tanggal 20 setiap bulannya, kalau tidak otomatis mati.

“Menurut Direktur Utama AP II,  pihaknya sudah menghubungi pihak PT Telkom sejak Jumat dini hari tadi pukul 01.45 WIB untuk klarifikasi,” katanya.

Meskipun kejadian tersebut tidak sampai menyebabkan kecelakaan penerbangan, namun Yudi menyesalkan, bagaimanapun keselamatan dan layanan bagi penumpang sangat penting. terlebih Bandara Soekarno Hatta merupakan Bandara Internasional yang menjadi bagian dari wajah penerbangan Indonesia. Untuk Bandara sesibuk Soekarno Hatta, back-up sistem telpon yang ada tidak akan maksimal menggantikan sistem utama. “Semestinya diupayakan agar di bandara tidak mati baik telepon ataupun PLN, ” sesalnya.

Sementara Vice President Public and Marketing Communication TELKOM, Eddy Kurnia memastikan hubungan telepon ke dan dari Bandara Soekarno Hatta sudah bisa beroperasi secara normal. ”Ada kendala teknis yang berada di luar policy perusahaan yang saat ini masih dalam penelitian. Tetapi saya tegaskan tidaka da  tidak ada kerusakan jaringan telepon di area bandara tersebut,” tegasnya.

Eddy memastikan,  kejadian terputusnya saluran komunikasi di Bandara Soekarno-Hatta tidak akan terulang lagi. ”Sebagai pelanggan utama Telkom, Bandara Soekarno-Hatta dalam hal ini PT AP II, tentunya harus mendapatkan perhatian khusus,” katanya.

Sebelumnya dilaporkan sistem navigasi di bandara Soekarno-Hatta, Jumat (21/5) terganggu selama enam jam sejak pukul 01.00 Wib akibat matinya saluran telepon di bandara internasional tersebut.

Dampak dari matinya  telepon di Soekarno-Hatta maka daya komunikasi pengaturan jangkauan akan berkurang. Biasanya bisa mengatur lalu lintas dalam wilayah luas meliputi seluruh Indonesia, maka kalau dengan komunikasi back-up hanya meliputi Indonesia bagian barat saja.

Batavia Air
Pada kesempatan lain, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengharapkan hadirnya  Batavia Air melayani Jakarta – Jeddah tidak memicu perang tarif sehingga terjadinya predatory pricing.

“Resminya Batavia Air masuk ke rute potensial ini diharapkan bisa  menjadi batu loncatan untuk penerbangan ke pasar Timur Tengah. Semoga terjadi kompetisi yang sehat  dengan  kualitas yang bersaing,” jelasnya.

Diungkapkannya, jalur Jakarta-Jeddah bisa dikatakan rute  yang gemuk. Untuk tahum 2009 saja, jalur ini mengangkut sekitar 120.000 penumpang one way dengan load factor 70 persen. “Sangat jarang load factor di bawah 50 persen. Ini menunjukkan. Jalur ini sangat potensial,” ungkapnya.

Direktur Komersial Batavia Air Hasudungan Pandiangan, mengatakan, pihaknya sudah merencanakan jalur ini sejak Agustus 2009.  Batavia menyediakan dua armada Airbus A330-200 dengan kapasitas 302 penumpang  yang akan dipergunakan menerbangkan penumpang.

“Batavia akan memberikan tarif promo 769 dollar AS pulang pergi hingga tanggal 14 Juni 2010,” katanya.

Mulai tanggal 15 Juni, tarif akan menjadi normal yaitu 866 dollar per penumpang. Sedangkan untuk. Tenaga Kerja Indonesia (TKI) harga tiket satu kali perjalanan sebesar 353 dollar per penumpang.

“Batavia tidak memberikan harga yang rendah untuk menjaga agar tidak terjadi perang tarif,” katanya.[dni]