200510 Azas Cabotage Buka Peluang Usaha

JAKARTA— Penerapan azas cabotage di industri pelayaran Indonesia dianggap bisa membuka peluang usaha baru bagi pengusaha lokal.

Azas cabotage adalah ketentuan muatan domestik diangkut kapal-kapal berbendera nasional. Azas ini berlaku untuk  kapal-kapal jenis cair dan lepas pantai pada  tahun 2010 dan 2011.

“Penerapan regulasi ini membuat banyak pengusaha lokal yang ingin memiliki kapal sendiri untuk melakukan bisnis pelayaran. Ini bagus bagi Indonesia karena selama ini banyak kapal berbendera Indonesia di luar negeri,” ungkap Chairman & Group CEO Thome Groud, Olav Thorstensen di Jakarta, Rabu (19/5).

Thome Group adalah   perusahaan manajemen perkapalan yang berbasis di Singapura. Perusahaan ini memberikan jasa manajemen, solusi teknologi informasi, dan advokasi lainnya di bidang pelayaran.

“Kami melihat pasar di Indonesia menjanjikan, apalagi jika pengusaha lokal menggandeng manajemen pelayaran seperti Thome. Perusahaan ini bisa menaikkan daya saing dan mempermudah bisnis di luar negeri,” jelasnya.

Olav menjelaskan Thome membuka kantor cabang di Indonesia. Karena tingginya kebutuhan kapal di Indonesia. Sebagai contohnya, industri migas dan logistik tumbuh pesat di Indonesia. “Potensi tersebut yang coba kami ambil”, ujarnya.

Sebagai ahli  manajemen pelayaran, jelasnya, investasi di Indonesia tidak membutuhkan modal banyak. Pihaknya hanya menjadi pihak ketiga yang memfasilitasi pengadaan kapal dari si produsen dengan perusahaan yang membutuhkan kapal tersebut.

Diungkapkannya,  investasi Thome berkisar 400 ribu dollar AS hingga 500 ribu dollar saja. Krunya juga tidak banyak hanya sekitar enam orang staf per kantor. Mereka akan berusaha menyiapkan jasa pihak ketiga di kapal kargo dan kapal lepas pantai.

Dia menjelaskan, dengan semakin banyaknya permintaan kapal di Indonesia, maka para perusahaan manajemen kapal asing wajar bila melirik negeri ini untuk ekspansi. “Selama ada potensi pasti ada yang akan investasi,” tandasnya.

Presiden Thome Offshore Management Pte Ltd, Claes Eek Thorstensen menambahkan, beberapa proyek yang digarap adalah pertambangan gas lepas pantai di laut dalam Makassar. “Blok di Selat Makassar itu dimiliki oleh BP Indonesia, ExxonMobil dan StatOil,” jelasnya.

Thome Group menyediakan kapal angkut gas maupun kapal pendukung logistik untuk proyek tersebut dari perusahaan lokal.

Secara terpisah, Ketua Umum  Indonesia Shipowner Association (ISA) Jaka A Singgih mengingatkan, pemilik kapal lokal harus waspada dengan jasa konsultan yang ditawari oleh perusahaan asing dengan memanfaatkan azas cabotage. “Harus jelas dulu jenis bantuan yang diberikan. Di negara mana pun azas cabotage itu untuk  kapal dari negara bersangkutan dan kepentingan nasional,” katanya.

Jaka mengaku tidak enggan dengan bantuan konsultan asalkan memberikan kontribusi yang jelas bagi industri pelayaran, misalnya membuka lapangan kerja, penghematan devisa, dan meningkatkan keterampilan anak buah kapal melalui pelatihan. “Kalau itu tidak diberikan, perusahaan konsultan itu tak lebih dari makelar saja. Bahkan ini bisa berbahaya karena menyuburkan perusahaan pelayaran bodong,” katanya. [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s