150510 Dirjen Hubud Siap Bersaksi

    //
JAKARTA—Dirjen Hubungan Udara (Dirjen Hubud) Kementrian Perhubungan Herry Bakti Singayudha Gumay siap menjadi saksi ahli dalam sidang banding terhadap putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tentang kasus kartel biaya tambahan bahan bakar (Fuel Surcharge) yang akan dilaksanakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).

“Saya siap saja jika dipanggil sebagai saksi ahli jika memang dibutuhkan. Soalnya ini kan berkaitan juga dengan regulasi yang dikeluarkan Kemenhub,” tegasnya kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, maskapai yang terlibat dalam kasus yang ditudingkan oleh KPPU telah bertemu regulator dan meminta bantuan untuk menjelaskan duduk masalah ke KPPU. “Ada pertemuan belum lama ini. Kita hormati proses hukum yang berlaku,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Komunikasi KPPU A. Junaidi menyesalkan adanya salah persepsi  di masyarakat yang membuat seolah-olah lembaganya   menguji  peraturan menteri perhubungan tentang eksistensi fuel surcharge. “Kami tidak menguji itu. KPPU mencermati   praktek kesepakatan untuk menerapkan harga eksesif fuel surcharge atau penerapan margin di atas fuel surcharge oleh pelaku usaha,” katanya.

Menurutnya, tidak  tepat bila beberapa pihak menganggap bahwa seakan-akan harga eksesif di atas fuel surcharge yang terbukti disepakati dan dilakukan oleh 9 maskapai dalam rentang waktu tahun 2006-2009 dibenarkan karena melaksanakan peraturan  menteri perhubungan.

Junaidi juga mempertanyakan dampak dari sanksi itu  adanya  kerugian atau kehancuran maskapai di Indonesia dengan argumentasi bahwa denda dan ganti rugi itu mengancam keseimbangan cashflow perusahaan.

“Bukankah fuel surcharge memang sejatinya bukan untuk perusahaan penerbangan tapi sekedar “peralihan langsung” uang konsumen kepada penyedia avtur. Munculnya opini yang mempertanyakan  justru   mempertegas fakta bahwa eksessif fuel surcharge seperti yang selama ini dikenakan pada konsumen sebenarnya telah beralih fungsi menjadi “pendapatan perusahaan” dan bukan sekedar margin kompensasi yang dibayarkan langsung konsumen-penyedia avtur,” katanya.

Sebelumnya,   KPPU menghukum 9   maskapai nasional harus memberikan ganti rugi ke konsumennya akibat menikmati tarif terlalu tinggi dari penetapan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) selama periode 2006-2009.

Kesembilan maskapai itu berikut masing-masing ganti rugi yang harus dikeluarkan  adalah Garuda Indonesia (Rp 25 miliar), Sriwijaya Air (Rp 9 miliar), Merpati Nusantara Airlines (Rp 8 miliar), Mandala Airlines (Rp 5 miliar), Travel Express Aviation Service (Rp 1 miliar), Lion Air (Rp 17 miliar), Wings Air ( Rp 5 miliar), Kartika Airlines (Rp 1 miliar), dan Batavia Airlines (Rp 9 miliar).

“Ganti rugi itu dihitung dari total kerugian konsumen selama periode 2006-2009 sekitar 5,81 hingga 13,8 triliun rupiah. Dana ganti rugi nantinya digunakan untuk peningkatan fasilitas bandara-bandara,” ungkap Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Benny Pasaribu.

Dikatakannya, selain menetapkan harus memberikan ganti rugi melalui rekening negara, sembilan maskapai tersebut dinyatakan melanggar  Pasal 5 UU No 5/99 tentang persaingan usaha tidak sehat dalam tindakan kartel fuel surcharge periode 2006-2009

Pasal tersebut menyatakan pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yanh harus dibayar oleh konsumen pada pasar bersangkutan.

Akibatnya sembilan maskapai dipaksa membatalkan perjanjian penetapan fuel surcharge secara tertulis dan membayar denda senilai total 80 miliar rupiah kepada negara.

Pemeringkatan
Sementara itu, berkaitan dengan pemeringkatan keselamatan maskapai, Herry mengungkapkan,  Garuda Indonesia masih menjadi maskapai dengan peringkat keselamatan paling tinggi. “Garuda masih menjadi maskapai paling safety diantara yang ada di kategori I,” ungkapnya.

Menurut Herry, pemeringkatan keselamatan maskapai hingga saat ini masih tetap diterapkan oleh regulator penerbangan. Hasilnya pun terus berubah.

Namun Herry tak mau menjelaskan sifat dinamis dari pemeringkatan tersebut apakah ada maskapai yang turun kelas atau tidak.

Pemeringkatan keselamatan maskapai yang terakhir dirilis oleh Kemenhub adalah pada Juni 2009 lalu. Setelah itu Kemenhub tidak merilis kepada publik, bahkan  rilis peringkat yang sebelumnya dimuat di situs resmi Kemenhub pun turut terhapus.

Pada kesempatan lain, Direktur Angkutan Udara Tri S Sunoko mengungkapkan, pelaksanaan pemeringkatan layanan oleh maskapai ditunda hingga tahun depan karena  kurangnya kerjasama dari pihak penyelenggara.

“Bandara-bandara tidak mau melaporkan layanan maskapai, sehinggakita kesulitan mendapatkan data,” katanya.

Menurutnya penyelenggara bandara yaitu PT Angkasa Pura (AP) I dan II masih enggan bekerjasama memberi data layanan-layanan maskapai terutama pada bandara-bandara besar di Indonesia. Padahal informasi seperti ketepatan waktu penerbangan  pesawat dan layanan lainnya sangat penting.

Karena sulit bekerjasama dengan pihak bandara, Kemenhub akan melakukan pola lain berdasarkan  yang telah dilakukan dalam mekanisme International Air Transport Association (IATA). “Mungkin modelnya nanti seperti yang dilakukan Skytrax yaitu dengan sistem pembintangan atau dengan model lainnya, kita sedang membahasnya,” ujarnya.

Herry mengatakan, saat ini beberapa  maskapai sudah  mengajukan pilihan kategori layanan. Tiga maskapai mengajukan untuk menjadi  medium service. Ketiga maskapai itu adalah  Mandala Airlines, Merpati, dan Indonesia AirAsia.

Dia menyatakan hanya maskapai Garuda Indonesia saja yang telah memasukkan pilihan menjadi maskapai layanan penuh (full service), sedangkan sisanya memilih layanan medium dan sebagian kecil layanan minimum (no frills).

Herry menambahkan sebagian kecil saja yang belum memasukkan pilihan jenis pelayanan penumpang selama penerbangan. “Hanya satu atau dua maskapai saja yang belum memasukkan. Prinsipnya dalam minggu ini harus sudah memasukkan,” ucapnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s