130510 Kemenkominfo Dinilai Tidak Adil Perlakukan Teknologi

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dinilai tidak adil memperlakukan satu teknologi sehingga bisa berujung membunuh industri manufaktur dalam negeri.

“Kemenkominfo sangat memanjakan teknologi yang didukung oleh Asosiasi GSM dunia yakni Long Term Evolution (LTE). Padahal, Indonesia akan mengomersialkan Wimax sebentar lagi. Kedua teknologi ini sama-sama mengusung 4G,” tegas Pengamat Telematika dari Universitas Indonesia Gunawan Wibisono kepada Koran Jakarta, Rabu (12/5).

LTE adalah evolusi komunikasi seluler menuju jaringan broadband berbasis Internet Protocol (IP) secara menyeluruh. Teknologi ini bisa menghantarkan kecepatan akses data mencapai 100 Mbps dan efisien dalam penggunaan frekuensi. Di dunia, Swedia dan Norwegia adalah negara-negara yang telah mengimplementasikan inovasi itu.

Wimax secara sederhana dikatakan teknologi berbasis data yang bekerja pada spektrum pita lebar layaknya Wi-Fi namun dengan jangkauan lebih luas dan kemampuan transmisi lebih cepat yakni mencapai 75 Mbps.

Menurutnya, keluarnya pernyataan dari Kemenkominfo yang membolehkan uji coba LTE tanpa rambu-rambu seketat wimax misalnya pemenuhan konten lokal bisa berujung mematikan industri manufaktur dalam negeri.

“Perusahaan manufaktur dalam negeri sudah berinvestasi membuat perangkat wimax. Jika LTE dibiarkan tanpa kandungan konten lokal, tentu saja ini bisa melibas produk dalam negeri. Apalagi pengguna LTE itu dalam skala ekonomi lebih menjanjikan,” katanya.

Masih menurutnya, kebijakan pemerintah yang berubah-ubah mencerminkan tidak adanya roadmap kebutuhan teknologi dan spektrum bagi industri telekomunikasi.

“Jika begini operator wimax yang akan komersial bisa beralih ke LTE. Soalnya mereka membayar frekuensi berbasis pita yang artinya bisa untuk teknologi netral,” katanya.

Anggota Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) Barata Wisnu Wardhana memnita, pemerintah untuk melakukan kajian lebih mendalam sebelum memutuskan diperbolehkannya uji coba LTE. “Khususnya tentang alokasi spektrum yang akan digunakan. Jika di 2,5 GHz, harus jelas dulu posisi Media Citra Indostar (MCI) akan diapakan sebagai penyelenggara TV berbayar,” katanya.

Sebelumnya, PLT Dirjen Postel M.Budi Setiawan mengungkapkan, terdapat  tiga operator seluler yang resmi mengajukan permohonan untuk menjajal  LTE. Ketiga operator itu adalah Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata.

“Sudah tiga operator yang ajukan proposal untuk trial LTE. Mereka langsung mengajukan ke menteri, dan dia (Menkominfo Tifatul Sembiring) menyuruh saya untuk follow up,” katanya.

Menurutnya, jika pun ujicoba dilakukan tahun ini, teknologi itu baru bisa dikomersialkan   paling cepat mulai tahun 2012-2013 nanti. “Jika LTE digelar,  kemungkinan besar pemerintah Indonesia tidak jadi menggelar tender frekuensi untuk Wimax Mobile yang semula dijadwalkan pada 2011.Itu salah satu alternatif agar tidak tumpang tindih teknologi,” katanya.

Menurut dia, Wimax Mobile yang menggunakan standardisasi 16.e itu tidak diprioritaskan untuk digelar di Indonesia karena sama-sama mobile dengan LTE. Lagipula, pemerintah telah memilih standar 16.d untuk jaringan broadband wireless access (BWA) tersebut.

Sementara   Anggota Komite  Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, operator tetap mungkin melakukan trial LTE sepanjang mengikuti prosedur dan aturan ketentuan yang berlaku, termasuk ketersediaan frekuensi, bersifat sementara dan area terbatas.

“Uji coba bukan jaminan perangkat tertentu lolos sertifikasi dan juga LTE tidak otomatis dialokasikan pada frekuensi yang diujicobakan,” kata dia.

Untuk mengimpelementasikan LTE, lanjut Heru, ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian, yakni spektrum frekuensi. Sebab, untuk 700 MHZ masih dipakai oleh TV analog dan 2,5 GHz digunakan oleh Media Citra Indostar (MCI) sebesar 150 MHz untuk siaran televisi berbayar.

“Spektrum ini perlu harmonisasi dan persiapan perangkat CPE (customer premise equipment) dalam interoperbilitas. Kemudian domestik konten di mana adanya kontribusi lokal dalam perangkat LTE yang sudah dimulai di BWA (broadband wireless access),” jelasnya.[dni]