130510 Maskapai Sambut Gembira Tambahan Aviation Park

JAKARTA–Maskapai penerbangan menyambut gembira rencana pemerintah menambah lokasi pembangunan sentra perawatan pesawat di Indonesia (aviation
park) untuk kemajuan industri penerbangan.

“Ide itu sangat baik. Selain bisa membantu industri penerbangan, juga membuka  peluang bagi pemain lokal untuk merawat pesawat asing,” ungkap juru bicara Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang, di Jakarta, Rabu (12/5).

Menurutnya, adanya penambahan bengkel pesawat juga bisa menekan biaya operasional maskapai karena lokasi perawatan yang dekat. “Untuk sekarang Sriwijaya menggunakan bengkel lokal dan hanggar sendiri. Kami pakai Garuda Maintenance Facilities (GMF),” katanya.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menjelaskan, penambahan lokasi bengkel memang dibutuhkan industri penerbangan karena armada akan tumbuh terus ke depannya. “Lion sendiri tengah membangun hanggar di Manado. Sekarang kita melakukan perawatan di Indonesia dan luar negeri,” jelasnya.

Sementara penerbang senior Capt. Noer Effendi mengaku senang adanya penambahan bengkel karena menjadi jaminan bagi penerbang untuk keselamatan.

Sebelumnya,  Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyodorkan empat calon
lokasi pembangunan sentra perawatan pesawat di Indonesia (aviation
park).

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay menyebut empat
lokasi tersebut adalah Cengkareng, Batam, Makassar dan Manado.

“Selama ini kami memang mengarahkan ke Cengkareng karena disana infrastruktur sudah lengkap dan tinggal disiapkan masterplan nya saja. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk dibangun di Batam yang dekat dengan Singapura atau di Manado dan Makassar,” jelasnya.

Namun, Herry meminta Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association (IAMSA) selaku wadah perusahaan perawatan pesawat untuk memikirkan investasi pembangunan kawasan aviasi itu. Karena dengan keterbatasan
pendanaan yang dimiliki saat ini, tidak mungkin bisa mengandalkan
kantong pemerintah.

“Kami hanya memberi kemudahan lokasi dan juga fasilitas perpajakannya. Karena sebagai kawasan berikat, aviation park ini tentu membutuhkan fasilitas. Mungkin nanti yang dikutip disana hanya PPN saja. Tapi hal ini sedang kami konsultasikan dengan Kementerian Keuangan,” ujarnya.

Selain meminta dukungan lahan dan perpajakan, Ketua Umum IAMSA Richard Budihadianto juga meminta pemerintah bisa berperan aktif melobi pabrikan pesawat seperti Boeing dan Airbus untuk mau membuka tokonya di aviation park tersebut.

“Indonesia harus bisa mengundang pabrikan original equipment
manufacture (OEM) untuk membuka warehouse, gudang atau bengkelnya di kawasan tersebut. Sehingga perawatan pesawat di Indonesia bisa
dilakukan dengan cepat dan murah,” ujarnya.

Menurut Richard, saat ini OEM lebih banyak membuka cabangnya di
Singapura. Karena pemerintah sana banyak menyediakan insentif dan
fasilitas berusaha bagi pabrikan tersebut.

“Saat ini harusnya ceritanya lain. Karena justru pasar penumpang dan
maskapai Indonesia yang tumbuh. Harusnya Indonesia bisa minta mereka buka bengkel di Indonesia, sehingga maskapai kita bisa mudah
mendapatkan perawatan. Tetapi untuk mewujudkan aviation park ini butuh otoritas pemerintah,” jelasnya.

Menurut Richard tahun ini ada 300 unit pesawat dari berbagai maskapai
yang beroperasi di Indonesia. Pada 2014 jumlahnya diperkirakan lebih
dari 700 unit.

“Pasar ini kalau tidak diambil bengkel dalam negeri bisa lari ke
negara-negara tetangga,” jelasnya.

Tahun lalu, pasar perawatan di Indonesia sebesar  750 juta dollar AS,  namun
yang bisa diserap bengkel lokal hanya 30 persen  karena keterbatasan kapasitas, infrastruktur dan sumber daya manusia.

Pada 2014 nanti IAMSA menargetkan seluruh anggotanya bisa menyerap pasar maintenance,
repair dan overhaul (MRO) sampai  1,2 miliar dollar AS atau 60 persen  dari total perkiraan belanja perawatan pesawat sebesar 2 miliar dollar AS.[Dni]