070510 KPPU Dianggap Tidak Paham Industri Penerbangan

JAKARTA— Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dianggap tidak memahami industri penerbangan dengan memutuskan 9 maskapai bersalah karena menerapkan biaya tambahan bahan bakar (Fuel Surcharge) secara kartel selama 2006-2009.

“Putusan yang diambil KPPU mencerminkan tidak memahami industri penerbangan. Praktik fuel surcharge itu lazim di industri dan dipayungi regulasi,” tegas Pengamat Penerbangan Kamis Martono kepada Koran Jakarta, Kamis (6/5).

Diungkapkannya, regulasi yang mengatur tentang fuel surcharge dipayungi oleh Undang-undang (UU) No 1/2009 tentang Penerbangan sedangkan implementasinya dibuat dalam putusan menteri.

“Besaran dari fuel surcharge itu sudah ditentukan oleh pemerintah. Jadi, ini kebijakan pemerintah, tidak sepantasnya di salahkan ke operator,” katanya.

Dijelaskannya, pemerintah dalam mengatur tarif memiliki domain di kelas ekonomi, sedangkan untuk non ekonomi diserahkan ke maskapai untuk mencari margin keuntungan. “Ini yang dinamakan kebijakan neo liberal,” katanya.

Dipaparkannya, pola penentuan tarif di penerbangan biasanya melalui mekanisme yang disepakati maskapai setelah itu diserahkan ke pemerintah. “Ketika pemerintah menyetujui, itu namanya putusan regulator,” jelasnya.

Kamis pun menyoroti, kebijakan KPPU yang hanya fokus pada masalah tarif. Padahal tarif itu tidak bisa dilepaskan dari jenis pesawat, frekuensi dan kapasitas penerbangan. “Jadi, kalau disorot hanya tarif tentu tidak adil,” katanya.

Selanjutnya Kamis pun menyoroti masalah harus dikeluarkannya ganti rugi oleh maskapai karena tidak jelas kompensasi disalurkan untuk siapa. “Subyek yang dirugikan itu siapa? Penentuannya bagaimana,” jelasnya.

Berkaitan dengan masalah ganti rugi sendiri menjadi perdebatan diantara tiga komisioner KPPU yang memeriksa kasus tersebut. Dr. Anna Maria Tri Anggraini memiliki dissenting opinion terhadap masalah ganti rugi tersebut.

Sebelumnya,   KPPU menghukum 9   maskapai nasional harus memberikan ganti rugi ke konsumennya akibat menikmati tarif terlalu tinggi dari penetapan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) selama periode 2006-2009.

Kesembilan maskapai itu berikut masing-masing ganti rugi yang harus dikeluarkan  adalah Garuda Indonesia (Rp 25 miliar), Sriwijaya Air (Rp 9 miliar), Merpati Nusantara Airlines (Rp 8 miliar), Mandala Airlines (Rp 5 miliar), Travel Express Aviation Service (Rp 1 miliar), Lion Air (Rp 17 miliar), Wings Air ( Rp 5 miliar), Kartika Airlines (Rp 1 miliar), dan Batavia Airlines (Rp 9 miliar).

“Ganti rugi itu dihitung dari total kerugian konsumen selama periode 2006-2009 sekitar 5,81 hingga 13,8 triliun rupiah. Dana ganti rugi nantinya digunakan untuk peningkatan fasilitas bandara-bandara,” ungkap Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Benny Pasaribu.

Dikatakannya, selain menetapkan harus memberikan ganti rugi melalui rekening negara, sembilan maskapai tersebut dinyatakan melanggar  Pasal 5 UU No 5/99 tentang persaingan usaha tidak sehat dalam tindakan kartel fuel surcharge periode 2006-2009

Pasal tersebut menyatakan pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yanh harus dibayar oleh konsumen pada pasar bersangkutan.

Akibatnya sembilan maskapai dipaksa membatalkan perjanjian penetapan fuel surcharge secara tertulis dan membayar denda senilai total 80 miliar rupiah kepada negara.

Komisioner lainnya M. Nawir Messi menyarankan, belajar dari kasus ini regulator penerbangan tidak lagi memberikan wewenang bagi maskapai untuk menetapkan harga atau tarif. “Apalagi perilaku ini masih terjadi walau revisi tarif batas atas yang ditetapkan pada 24 April melalui KM No 26/2010 telah berlaku. Sembilan maskapai masih menetapkan fuel surcharge secara bersama-sama,” sesalnya..[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s