060510 Putusan KPPU Dikhawatirkan Ganggu Perekonomian Nasional

JAKARTA—Keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menghukum 9 maskapai dalam kasus kartel biaya tambahan bahan bakar (Fuel Surcharge) dikhawatirkan bisa menganggu perekonomian nasional.

“Denda dan ganti rugi yang ditetapkan oleh KPPU sangat besar. Semua maskapai kondisi keuangannya sedang tidak bagus. Jika dipaksa untuk membayar, bisa mempengaruhi arus kas dan opersional. Ujung-ujungnya perekonomian nasional terganggu,” ketus Sekjen
Asosiasi Penerbangan Nasional/INACA, Tengku Burhanuddin di Jakarta, Kamis (5/5).

Menurutnya, putusan yang diambil oleh KPPU tidak tepat karena tidak menimbang data dan fakta yang ada di lapangan. “Praktik fuel surcharge itu biasa di dunia penerbangan. Bahkan ini diketahui oleh regulator penerbangan, dalam hal ini Ditjen Hubungan Udara, Kemenhub,” katanya.

Diakuinya, pada awalnya ada surat kesepakatan mengatur fuel surcharge, tetapi belum seminggu berjalan, KPPU mengeluarkan surat, dan akhirnya asosiasi membatalkan semua isi surat itu. “Jadi tidak benar itu ada kesepakatan untuk menjalankan tarif karena isi surat yang dibuat tidak pernah dijalankan,” katanya.

Tengku pun memastikan semua maskapai yang terkena hukuman dari KPPU akan melakukan banding dari putusan yang dikeluarkan pada Selasa (4/5) lalu karena tidak puas dengan hasilnya.

Ketua INACA Emirsyah Satar meminta regulator untuk mendukung operator dalam menyajikan data ke KPPU agar lembaga itu bisa melihat permaslahan lebih jernih. “Kita akan minta bantuan juga ke regulator untuk memberikan data yang lebih valid,” katanya.

Secara terpisah, Menteri Perhubungan Freddy Numbery mempersilakan kepada maskapai penerbangan untuk melakukan aksi banding. “Sebaiknya keputusan itu dihargai. Biarkan  semua berjalan dengan proses hukum,” katanya.

Wakil Menhub Bambang Susantono menyatakan Kemenhub akan membantu maskapai penerbangan yang akan melakukan naik banding dengan menyediakan data-data yang ada. “Jika ini berdampak pada perekonomian nasional, tentu kita akan bantu dengan data-data,” katanya.

Sebelumnya,   KPPU menghukum 9   maskapai nasional harus memberikan ganti rugi ke konsumennya akibat menikmati tarif terlalu tinggi dari penetapan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) selama periode 2006-2009.

Kesembilan maskapai itu berikut masing-masing ganti rugi yang harus dikeluarkan  adalah Garuda Indonesia (Rp 25 miliar), Sriwijaya Air (Rp 9 miliar), Merpati Nusantara Airlines (Rp 8 miliar), Mandala Airlines (Rp 5 miliar), Travel Express Aviation Service (Rp 1 miliar), Lion Air (Rp 17 miliar), Wings Air ( Rp 5 miliar), Kartika Airlines (Rp 1 miliar), dan Batavia Airlines (Rp 9 miliar).

“Ganti rugi itu dihitung dari total kerugian konsumen selama periode 2006-2009 sekitar 5,81 hingga 13,8 triliun rupiah. Dana ganti rugi nantinya digunakan untuk peningkatan fasilitas bandara-bandara,” ungkap Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Benny Pasaribu.

Dikatakannya, selain menetapkan harus memberikan ganti rugi melalui rekening negara, sembilan maskapai tersebut dinyatakan melanggar  Pasal 5 UU No 5/99 tentang persaingan usaha tidak sehat dalam tindakan kartel fuel surcharge periode 2006-2009

Pasal tersebut menyatakan pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yanh harus dibayar oleh konsumen pada pasar bersangkutan.

Akibatnya sembilan maskapai dipaksa membatalkan perjanjian penetapan fuel surcharge secara tertulis dan membayar denda senilai total 80 miliar rupiah kepada negara.

Komisioner lainnya M. Nawir Messi menyarankan, belajar dari kasus ini regulator penerbangan tidak lagi memberikan wewenang bagi maskapai untuk menetapkan harga atau tarif. “Apalagi perilaku ini masih terjadi walau revisi tarif batas atas yang ditetapkan pada 24 April melalui KM No 26/2010 telah berlaku. Sembilan maskapai masih menetapkan fuel surcharge secara bersama-sama,” sesalnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s