060510 Indonesia Tidak Ingin Jadi Pasar

JAKARTA—Indonesia tidak akan buru-buru mengadopsi satu teknologi akses data karena enggan  hanya menjadi pasar dari penyedia perangkat jaringan broadband luar negeri.

“Sudah cukup kita kecele di 3G atau setengah kemakan di Wimax. Kita harus bisa berdikari menentukan sendiri nasib bangsa,” tegas Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, para penyedia jaringan dari luar negeri selalu datang dengan asumsi jika satu teknologi broadband di adopsi akan mampu meningkatkan pertumbuhan pendapatan negara, sehingga pemerintah menjadi tergoda untuk menjalankannya.

“Asumsi yang diberikan memang indah secara akademis. Tetapi berbeda dengan realitas. Lihat saja 3G, sudah hadir empat tahun kualitas akses masih minim. Terus sekarang dipaksa untuk melompat ke Long Term Evolution (LTE). Kalau begini kita hanya jadi pasar,” ketusnya.

Disarankannya, Indonesia mematangkan satu teknologi yang ada untuk mengembangkan broadband sembari menguatkan manufaktur dalam negeri agar bisa memproduksi sendiri perangkat. “Isu utama kala satu teknologi itu hadir adalah bisa membuat lapangan kerja baru. Lapangan kerja itu bisa diciptakan jika ada pabrik dibuka,” jelasnya.

Masih menurutnya, ada ketidaktransparanan dari penyedia jaringan dalam mengembangkan teknologi dan terkesan memonopoli kebenaran. Dicontohkannya Qualcomm yang mendapatkan posisi paling diuntungkan jika High Speed Access (HSPA) dan Code Division Multiple Access (CDMA) berkembang karena kedua teknologi   menggunakan chipset perusahaan itu.

“Kita harusnya bisa menciptakan perusahaan sekelas Qualcomm itu. Hitung saja berapa keuntungan Qualcomm, jika nanti teknologi mana yang dipilih untuk mengembangkan broadband,” tandasnya.

Sebelumnya, GSMA mendorong pemerintah Indonesia untuk secepatnya membuat peta frekuensi bagi pengembangan teknologi broadband agar adanya kepastian investasi di teknologi LTE.

Gabungan operator GSM dunia itu pun menyakini jika penetrasi mobile broadband di Indonesia bisa mencapai 100 persen akan meningkatkan GDP hingga 3,3 persen. [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s