040510 SKTT Harus Tetap Jalan

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mendesak  Sistem Kliring Trafik Telekomunikasi (SKTT) harus tetap jalan meskipun PT Pratama Jaringan Nusantara (PJN) sedang mengalami kendala internal.

“SKTT harus tetap jalan. BRTI dan pemerintah akan mengawasi jalannya program tersebut,” tegas Anggota Komite BRTI Heru Sutadi kepada Koran Jakarta, Senin (3/5).

SKTT merupakan sistem kliring yang telah diagendakan oleh pemerintah sejak 2004 lalu untuk menggantikan sistem otomatisasi kliring interkoneksi (SOKI) milik operator.  Posisi regulator dalam pelaksanaan sistem kliring sebagai pengawas, sedangkan untuk pelaksanaanya diserahkan pada operator yang meng-outsourcing pekerjaan tersebut pada PJN.

PJN sedang mengalami masalah internal seiring Direktur Utama,  Mas Wigrantoro mundur dari jabatan direktur utama PT Pratama Jaringan Nusantara (PJN) pekan lalu.

Sejak penunjukkannya, PJN terus diterpa masalah, mulai dari ketidaksetujuan DPR, operator yang menolak memberikan data, hingga PJN harus merelakan penyelenggara SKTT diserahkan ke operator di mana PJN hanya sebagai pelaksana, sampai pemailitan Gunawan Tjandra, pemilik lama PJN, yang berimbas pada kelangsungan operasional perusahaan.

Mundurnya sang direktur utama dikabarkan karena adanya pemailitan salah satu pemilik oleh Rabo Bank. Operator sendiri yang tergabung dalam Asosiasi Kliring Trafik Telekomunikasi (Askitel) saat ini sedang membentuk badan usaha untuk mengikat kerjasama dengan PJN.

Badan usaha dibentuk untuk membentengi masalah keuangan PJN tidak merembet ke para operator. Selain itu harga fee Call Data Record (CDR) pun mengalami perubahan dari kesepakatan awal yakni 0,4 dollar AS menjadi semakin kecil karena PJN menggunakan perangkat Askitel.

Menurut Heru, dijalankannya SKTT  membuat data trafik real dapat diketahui. Sedangkan  bagi operator pun  settlement  dalam hal interkoneksi bisa lebih cepat dan transparan. “Kami pun sewaktu-waktu  dan periodik akan dapat melakukan monitoring terhadap trafik,”jelasnya.

Secara terpisah, Mas Wig mengungkapkan, terdapat gelombang besar yang memaksa dirinya untuk mundur. “Ibarat nakhoda kapal, gelombang yang datang sangat besar, hingga akhirnya saya menyerah,“ ujarnya.  .

Diuakuinya,  gelombang yang datang bukan hanya dari operator, tetapi juga datang dari pemerintah meski sangat kecil.

“Saya meminta maaf kepada semua pihak yang menaruh perhatian kepada SKTT karena telah gagal untuk menghidupkannya. Saya sudah mengajukannya kepada pemegang saham, tetapi belum dikabulkan,” ujarnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s