040510 Penerapan OMH : Upaya Meningkatkan Penetrasi

Code Division Multiple Access (CDMA) Group belum lama ini mengumumkan pengguna inovasi tersebut di seluruh dunia mencapai setengah miliar pelanggan yang berasal dari 330 operator di 120 negara pada akhir tahun lalu.

Dari jumlah tersebut, sekitar 142 juta pelanggan menggunakan evolusi broadband dari CDMA 2000 yakni Evolution Data Optimized (EV-DO).

Di Indonesia, teknologi yang diusung oleh enam operator tersebut diperkirakan pada tahun lalu digunakan oleh 35 juta pelanggan. Keenam operator itu adalah Telkom Flexi, Indosat StarOne, Bakrie Telecom, Mobile-8 Telecom, Smart Telecom, dan Sampoerna Telekomunikasi.

Pada tahun ini diperkirakan pengguna yang menikmati  teknologi saingan dari global system for mobile communication (GSM) itu naik sekitar enam juta pelanggan alias mencapai 41 juta pengguna. Telkom Flexi akan memimpin pasar dengan menguasai 51 persen pangsa pasar, setelah itu diikuti Bakrie Telecom sekitar 35 persen dan sisanya direbutkan oleh empat pemain lainnya.

VP Marketing CDMA Development Group (CDG) Joe Lawrence mengatakan teknologi CDMA tetap akan diminati oleh pengguna walaupun GSM telah lebih dulu hadir dan menguasai pasar. “GSM hadir terlebih dahulu. Tetapi keberadaan CDMA tidak bisa dianggap enteng melihat pertumbuhannya setiap tahun. Apalagi di Indonesia baru sedikit kelebihan CDMA yang dieksploitir,” jelasnya di Jakarta, belum lama ini.

Untuk diketahui, CDMA sebenarnya di belahan dunia lain lebih dikenal sebagai teknologi akses data yang mumpuni. Di Indonesia, teknologi ini lebih banyak digunakan untuk basic telephony seperti suara dan SMS. Hal ini tak bisa dilepaskan dari keterbatasan kanal dan investasi yang lebih murah ketimbang GSM.

Diungkapkannya, berdasarkan kajian yang dilakukan belum lama ini kebutuhan akan akses data mulai meningkat sejak dua tahun lalu seiring tingginya permintaan ponsel pintar (Smartphones).

“Diperkirakan mulai 2008 hingga 2010   CAGR smartphone bisa mencapai 3,8 persen. Ini artinya ke depan kebutuhan akan ponsel yang bisa mendukung akses data itu harus dipenuhi oleh semua teknologi,” katanya.

OMH

Dijelaskannya, guna mengantisipasi hal tersebut para pengembang teknologi CDMA mulai mengembangkan Open Market Handset (OMH) sejak dua tahun lalu dan diluncurkan pertama kali Agustus tahun lalu.

OMH merupakan  salah satu standar ponsel internasional   yang mengatur konfigurasi jaringan serta data pengguna dari memori internal ponsel ke sim card, sehingga pengguna dapat menggunakan semua tipe ponsel berbasis CDMA tanpa harus melakukan pengaturan awal pada handset. Platform ini tidak hanya bisa mendeteksi standar layanan dari satu operator, tetapi juga memudahkan pengguna menjalankan layanan akses data.

Indonesia menjadi negara kedua setelah India yang menggunakan teknologi simcard OMH. Empat operator yakni  Bakrie Telecom, Telkom Flexi, Smart Telecom Smart dan Mobile-8.  menyatakan mendukung OMH.

Dijelaskannya, keuntungan dari diterapkannya sistem ini bagi operator  bisa mengurangi biaya distribusi dan resiko membeli handset, disamping bisa meningkatkan Average Revenue Per User (ARPU) karena operator mulai bermain di akses data.

Sedangkan bagi distributor ponsel bisa mempercepat penetrasi ponsel baru masuk ke pasar sehingga tercapai sekala ekonomi yang menguntungkan. Terakhir bagi pelanggan bisa memiliki pilihan ponsel yang beragam dan mengeksplorasi layanan dari operator.

Mendorong Penetrasi

Wakil Dirut Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer optimistis, platform OMH akan memicu  perpindahan pelanggan di industri  bergerak positif ke CDMA karena inovasi ini hadir untuk   menambah jumlah   ponsel  di segmen menengah ke atas.

“Kami optimistis cukup banyak pengguna ponsel CDMA yang ingin up grade handset. Apalagi konsumen Indonesia sangat peka harga. Perpindahan bisa saja terjadi seperti dulu GSM mengalami hype. Esia sendiri telah memasarkan 1,4 juta SIM card OMH sejak awal tahun ini,” katanya.

Dikatakannya, standar ini akan memperluas pasar CDMA dengan membuat para produsen ponsel  berani memproduksi lebih banyak dan variatif handset  dengan harga lebih murah karena pasti bisa dipasarkan secara standar di seluruh dunia. “Dulu operator kesulitan mencari handset. Bukan rahasia lagi target pelanggan operator selalu melebihi ketersediaan handset. Untuk menutupi hal itu operator terpaksa membeli sendiri handset. Sekarang saling melengkapi berkat OMH,” katanya.

Deputy Executive General Manager Commerce Telkom Flexi   Iskriono Windiarjanto menambahkan OMH  membuat bisnis menjadi lebih mudah, sederhana, serta hemat waktu dan biaya. “Perpindahan pelanggan pasti terjadi, namun dengan masuknya segmen kelas menengah atas, maka ARPU juga terdongkrak dan pendapatan perusahaan bertambah. Flexi mulai memasarkan perdana dengan simcard OMH mulai bulan depan sebanyak 400.000 unit,” ujarnya.

Group Division Head Vas and Brand Marketing Indosat Teguh Prasetya mengungkapkan, konsep OMH bisa membuat harga smartphone CDMA bisa turun sebesar 10 persen di pasar. “Untuk murahnya tergantung nominal harga retail yang ditetapkan vendor dan persepsi murah di mata pelanggan,” katanya.

Division Head Core Product and Branding Smart Telecom Ruby Hermanto memprediksi hadirnya OMH tidak hanya  memperketat persaingan antara GSM dan CDMA, tetapi juga sesama pemain CDMA karena handset sudah bisa dipakai untuk semua operator. “Bahkan Smart yang selama ini terkendala bermain di spektrum 1.900 MHz bisa menganggu operator di 800 MHz berkat chipset seri hipset QC1110, QC1100, dan OMH yang dikembangkan Qualcomm,” katanya.

Ruby memprediksi, hingga dua tahun ke depan semua SIM Card milik operator akan berbasis OMH, sedangkan  pasar handset tetap terbagi dua yakni mendukung platform OMH dan tidak mendukung OMH. “Ini karena operator ingin melindung investasi karena subsidi handset sehingga margin tipis maka impor tanpa OMH dan single band tetap terjadi. Jika OMH ingin sukses di Indonesia, tidak bisa hanya membidik segmen atas, harus terbuka untuk semua pasar. Segmen atas itu hanya 6 persen dari pasar CDMA,” jelasnya.

Sementara Director Product Development Divison PT Metrotech Jaya Komunika sebagai prinsipal ponsel Nexian, Isnur Rochmad  mengungkapkan,  pihaknya berencana meluncurkan ponsel berlisensi OMH pada kuartal III tahun ini. “Tahap awal akan masuk dua hingga tiga tipe ponsel dengan harga masih di bawah 1 juta rupiah  per unit,” ujarnya.

Direktur Utama Metrotech Jaya Komunika Martono Jaya Kusuma menambahkan, prinsip high end di matanya adalah ponsel QWERTY dan didukung aplikasi jejaring sosial. “Sekarang kami sedang tes terus supaya tidak ada komplain,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, Praktisi telematika Bayu Samudiyo meragukan jika OMH disasar untuk menengah atas karena di Indonesia sudah kadung dipersepsikan segmen itu untuk GSM. “Agak janggal kalau pengguna  CDMA yang rata-rata  kelas ekonomi menengah ke bawah tapi handsetnya high end. Dibutuhkan   edukasi pasar, meskipun berpeluang utk mendapat pangsa pasar sendiri, tapi pasti penetrasinya  tidak besar. Ini dengan syarat harga handsetnya tidak semahal GSM,” jelasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s