290410 Mandala Jajaki Masuk IATA

JAKARTA– maskapai swasta, Mandala Airlines, tengah melakukan penjajakan untuk masuk asosiasi perusahaan transportasi udara internasional (International Air Transport Association).

“Sekarang  masih dalam penjajakan. Melihat keuntungan-keuntungan yang bisa didapatkan. Tetapi belum ada keputusan,” kata Presiden Direktur Mandala, Diono Nurjadin di Jakarta, Rabu (28/4).

Dinyatakannya,  pihaknya telah ditawari untuk bergabung ke IATA setelah Mandala memperoleh sertifikat IOSA beberapa bulan lalu.

Tawaran itu, lanjut dia, disampaikan langsung oleh pimpinan perwakilan IATA di Singapura saat menyerahkan  sertifikat IATA Operational Safety Audit (IOSA) di Jakarta belum lama ini.

“Memang, mereka (IATA) menawari kami bergabung ke IATA. Namun, kami masih mempertimbangkannya,” ucapnya.

Untuk diketahui, Mandala mendapatkan capaian luar biasa saat ini, setelah lepas dari embargo penerbangan Uni Eropa, maskapai ini juga telah mendapatkan IATA IOSA dimana standar keselamatannya telah diakui dunia internasional.

Di Indonesia, hanya ada dua maskapai yang dapat sertifikat IOSA yaitu Garuda Indonesia dan Mandala.

Terakhir, Mandala mampu mengurangi emisi karbon hingga 5 persen. Tidak banyak juga maskapai di dunia yang bisa mengurangi tingkat emisi karbonnya.

Saat ini Mandala tengah merencanakan penerbangan rute regional antara lain negara-negara di ASEAN, Australia dan India.

Di Indonesia sendiri  hanya satu maskapai menjadi anggota IATA yakni PT Garuda Indonesia. Maskapai itu juga telah memperoleh sertifikat IOSA pada pertengahan dua tahun lalu.

Secara global anggota IATA mencapai di atas 400 maskapai yang tersebar di lima benua.[Dni]

290410 Pemerintah Harus Ciptakan Iklim Investasi Kondusif

JAKARTA–Pemerintah harus menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk menarik investor asing menanamkan modalnya di Indonesia.

“Tidak bisa investasi itu dipaksa dengan membuat regulasi yang memaksa bekerja sama dengan perusahaan lokal. Pemerintah harus menciptakan suasana yang kondusif agar modal asing masuk ke domestik,” tegas Chief Government and Regulatory Affairs Officer GSMA, Tom Philips di Jakarta, Rabu (28/4).

Menurutnya, suatu regulasi yang dibuat memaksakan peluang bagi konten lokal justru berbahaya untuk satu negara, apalagi jika investasi dalam manufaktur teknologi informasi. “Kajiannya dari investor asing cukup panjang. Sebenarnya untuk Indonesia lebih cocok pengembangan lokal konten di bidang aplikasi,” jelasnya.

Dikatakannya, untuk pengembangan aplikasi, GSMA yang merupakan asosiasi dari operator pengusung teknologi GSM dari seluruh dunia telah meminta vendor handset untuk membuat standar aplikasi yang bisa dikembangkan oleh semua negara. “Mengembangkan aplikasi lokal itu justru menumbuhkan ekonomi domestik. Apalagi tren ke depan adalah komunikasi dari mesin ke mesin,” tandasnya.

Sementara itu, Menkominfo Tifatul Sembiring mengungkapkan, investasi baru di sektor Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam dua tahun ke depan senilai. 30 triliun rupiah.

“Nilai bisnisnya bisa 300 triliun rupiah. Hanya saja, sangat disayangkan belanja modal di sektor TIK mencapai 70-80 triliun rupiah pertahun porsinya masih banyak dimanfaatkan oleh asing dan sedikit yang dikuasai lokal,” ujarnya.

Ditegaskannya, Indonesia memiliki peluang mengambil untung dari industri kreatif berbasis teknologi informasi yang akan diserap oleh telekomunikasi dan penyiaran.

Untuk mendukung itu, pemerintah telah mengupayakan sejumlah program. “Diantaranya kami sedang menyusun roadmap dari sisi frekuensi dengan menghitung berapa porsi ideal untuk telekomunikasi, radio dan televisi,” paparnya.

Diungkapkannya, pemerintah telah melobi Ericsson dan Huawei agar mereka memperluas penggunaan konten lokal di Indonesia. Sebagai contoh mengirim tenaga ahli teknologi long term evolution (LTE/4G)ke Indonesia sehingga dapat belajar bersama dibandingkan operator di Indonesia melakukan riset sendiri.

Selain dua vendor itu, menkominfo juga telah bertemu dengan pimpinan Nokia, vendor handset yang akan mendirikan pabrik di China dan India.

“Menurut Nokia, Indonesia punya peluang namun mereka akan memperhitungkannya secara bisnis. Selama industri TIK di Indonesia berkembang dan prospektif, mereka membuka peluang untuk ekspansi di sini,” tegasnya.[Dni]

290410 Meretas Jalan Menuju 4G

Belum lama ini dua operator GSM yang memiliki lisensi 3G mengumumkan kesiapannya untuk menyongsong era 4G.

Kedua operator itu adalah  Indosat dan XL. Indosat mengklaim menjadi operator pertama di Asia yang berhasil menyajikan teknologi Dual Carrier HSPA (HSPA+) yang mampu menghantarkan kecepatan hingga 42 Mbps per pelanggan.

HSPA+ adalah teknologi 3G/ 3,5G hasil evolusi dari Wide Code Division Multiple Access (WCDMA) yang dipercaya mampu  meningkatkan data through put hingga mencapai kecepatan 21 Mbps, 28 Mbs, 42 Mbps, dan seterusnya.

Implementasi HSPA+ umumnya dilakukan dengan mengaktifkan  perangkat lunak di BTS 3G (Node B) dan RNC, di radio network dengan konsekuensi operator harus merogoh kocek membayar  lisensi ke vendor.  Persiapan lain yang harus dilakukan juga design radio   dan menambah bandwidth (backhaul) dari Node B ke RNC, serta ke Core Network.

Indosat membenamkan inovasi terbaru  itu di  lebih  62 Node B di Jakarta untuk  melayani   1,5 juta pelanggan mobile datanya. Pada tahun ini diharapkan ada 2,5 juta pelanggan yang menggunakan mobile broadband seiring HSPA+ dikembangkan ke 5 ribu Node B di 90 kota di Indonesia. Investasi yang dikeluarkan untuk inovasi ini sekitar 0,5 dollar AS per Mbps, per pelanggan.

“Inovasi ini diharapkan bisa membuat kontribusi dari layanan data meningkat pada 2010 bagi total pendapatan. Pada 2009 kontribusi data sekitar 4-5 persen, tahun ini diharapkan menjadi 6-7 persen,” ungkap Group Head and Vas Marketing Indosat Teguh Prasetya di Jakarta, belum lama ini.

Sementara XL menjalin kerjasama dengan penyedia jaringan Ericsson mengaji kesiapan implementasi Long Term Evolution (LTE) selama 6 bulan ke depan. “Kami tidak mau mengulangi kesalahan kala 3G dulu dikomersialkan dimana investasi dua triliun rupiah pada dua tahun pertama seperti mengambang. Kami ingin ketika LTE dikomersialkan sudah ada trafik yang mengalir,” tegas Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi.

LTE adalah evolusi komunikasi seluler menuju jaringan broadband berbasis Internet Protocol (IP) secara menyeluruh. Teknologi ini bisa menghantarkan kecepatan akses data mencapai 100 Mbps dan efisien dalam penggunaan frekuensi. Di dunia, Swedia dan Norwegia adalah negara-negara yang telah mengimplementasikan inovasi itu.

Sedangkan Telkomsel sejak akhir tahun lalu lebih berani lagi dengan  membenamkan uang 1,3 triliun rupiah untuk mengembangkan HSPA+  di 24 kota pada 2010. Bahkan untuk LTE, Telkomsel bersama SingTel akan melakukan uji coba pada Juni nanti. Semua ini adalah bagian dari proyek Next Generation Flash dimana Telkomsel  ingin mengoptimalisasi penggunaan metro ethernet (transmisi serat optik) miliknya.

Tarik Menarik

Gencarnya operator merintis jalan menuju era 4G, kembali memunculkan isu tarik menarik untuk rute yang dipilih menuju 4G. Pertama, melalui evolusi dengan mengembangkan  HSPA, HSPA+ setelah itu ke LTE. Kedua,  langsung melompat ke LTE.

LTE baru memenuhi skala ekonomis pada 2013 dan  akan   memberikan  kinerja baik bila beroperasi di atas pita  spektrum 3G selebar 10 MHz, serta lebih ideal di  lebar pita 20 MHz.

“HSPA+ dikembangkan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas layanan, serta merupakan evolusi dari teknologi GSM.  Kami ingin memberikan pengalaman dulu ke pelanggan akses kecepatan tinggi sembari menunggu ekosistem dari LTE terbentuk,” ujar Teguh.

Ekosistem yang dimaksud adalah seperti ketersediaan frekuensi, perangkat (handset/modem), kesiapan pasar, layanan, dan bisnis

Direktur Jaringan XL Dian Siswarini mengungkapkan, sebenarnya 10 persen dari   total 2.100 Node B milik  XL sudah ditingkatkan menjadi HSPA+ dan 60 persen mendukung HSPA.

“Sebanyak 25 persen dari belanja modal 450 juta dollar AS dialokasikan untuk pengembangan HSPA. Jadi, sebenarnya kita juga mengikuti evolusi GSM sembari menunggu regulator dan masyarakat siap dengan LTE,” katanya.

Dian memprediksi, teknologi HSPA tidak akan dimasifkan pengembangannya oleh operator karena adanya keterbatasan frekuensi. “HSPA itu hanya untuk menambal bolongnya kecepatan di wilayah yang permintaannya tinggi. Bagaimana pun LTE tetap ditunggu karena menjanjikan kecepatan lebih cepat dan penggunaan frekuensi yang lebih efisien,” katanya.

Hasnul menjelaskan, untuk LTE masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan seperti alokasi spektrum, lisensi, dan ekosistem. “Jika dijalankan di spektrum 3G saat ini tidak ideal karena minimal butuh 20 MHz. Sementara di 3G itu tersisa 15 MHz. Belum lagi jika peminatnya banyak karena pemain CDMA bisa juga mengembangkan LTE. Bisa jadi regulator berfikir untuk mengadakan lelang,” katanya.

Ericsson Regional Head Of South East Asia and Oceania Arun Bansal mengatakan, jika operator ingin LTE sukses di Indonesia maka masalah harga pasar harus diperhatikan.

“Harga pasar ini mulai dari nilai frekuensi hingga perangkat di pelanggan. Jika harga frekuensi saja sudah mahal, tentu tarif retail ke pelanggan ikut naik. Kalau begini susah berkembangnya,” katanya.

Sementara Senior Director PT Qualcomm Indonesia Harry K. Nugraha menegaskan, optimalisasi  HSPA dengan teknik rekayasa memungkinkan operator   menyediakan  teknologi berkecepatan tinggi setara LTE.

Hal ini karena pendekatan secara rekayasa  pada HSPA+ berpeluang menyediakan  kemampuan membawa data dan suara dalam  kapasitas yang lebih baik yaitu 168 Mbps. “Kemampuan ini setara dengan LTE sehingga operator  tidak harus menggunakan  spektrum baru. Secara engineering,  kecepatan 168-300 mbps bisa disediakan  dengan dukungan software upgrade 3G di bandwitdh minimal 10 MHz.  Investasi ini lebih murah dibandingkan menggelar LTE,”  tegasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia M. Ridwan Effendi mengatakan, jika operator ingin mengembangkan LTE di frekuensi eksisting tidak memerlukan lisensi dari pemerintah. “Tetapi syaratnya Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi harus berbasis pita dulu,” katanya.

Sedangkan untuk alokasi frekuensi lainnya, Ridwan mengungkapkan, pemerintah sedang mengaji alokasi spektrum TV analog yang dimigrasi ke digital untuk dimanfaatkan oleh LTE. “Kalau di spektrum baru tentu ada lelang. Masalahnya migrasi dari analog ke digital itu belum selesai dijalankan,” katanya.

Menanggapi hal itu, GM Corporate Communication Telkomsel Ricardo Indra mengatakan idealnya lisensi ke depan bersifat teknologi netral walau frekuensi yang dipakai sekarang  dipakai untuk teknologi lain. Sedangkan untuk harga frekuensi perlu diadakan studi banding   agar dapat dipilih mekanisme yang paling tepat dalam pemberian.

Pada kesempatan lain, Ketua Bidang Pengembangan Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan  mengatakan,  perubahan dari HSPA langsung ke LTE akan membuat biaya operasional operator membengkak karena banyak  mengganti perangkat yang ada, padahal utilisasi dari infrastruktur itu belum balik modal.

“Dengan HSPA+ yang sudah mulai dibangun semua arsitek jaringan berbasis  IP  yang mudah murah dan cepat digelar, maka  pada waktunya ketika penggunaan dan permintaan sudah tinggi, migrasi ke LTE akan lebih optimal,” katanya.

Taufik mengingatkan, operator jangan terburu-buru memilih satu teknologi karena selalu ada agenda besar dari satu inovasi. “Harus diingat ada permainan vendor yang seolah-olah menciptakan kebutuhan. Ini yang namanya market driven by vendor. Praktik ini harus dihentikan jika sebenarnya tidak ada kebutuhan masyarakat akan inovasi itu,” tegasnya.[dni]

Tabel Evolusi Teknologi GSM

Sumber: Wireless Intelligence

290410 Operator CDMA Mulai Bidik Segmen Premium

JAKARTA—Operator telekomunikasi yang mengusung teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) mulai bisa membidik segmen pelanggan premium seiring diperkenalkannya inovasi sim card berbasis Open Market Handset (OMH) di Indonesia.

OMH yang juga telah ditetapkan sebagai salah satu standar ponsel internasional ini merupakan sebuah teknologi yang mengatur konfigurasi jaringan serta data pengguna dari memori internal ponsel ke sim card, sehingga pengguna dapat menggunakan semua tipe ponsel berbasis CDMA tanpa harus melakukan pengaturan awal pada handset.

Saat ini, empat operator seluler di Indonesia telah mengadopsi teknologi OMH tersebut. Keempat operator tersebut adalah PT Bakrie Telecom Tbk (Esia), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Flexi), PT Smart Telecom (Smart) dan PT Mobile-8 Tbk (Fren). Indonesia adalah negara kedua yang menjalankan platform ini setelah India.

“Selama ini pemain CDMA agak kewalahan dengan ketersediaan handset. Realitanya, target operator dengan suplai handset itu tidak seimbang, apalagi untuk kelas premium. Adanya OMH diharapkan bisa menolong operator keluar dari kondisi sulit ini. Esia telah mendistribusikan sebanyak 1,4 juta simcard OMH sejak awal tahun ini,” ungkap Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Erik Meijer kepada Koran Jakarta, Rabu (28/4).

Group Head Vas and Brand Marketing Indosat Teguh Prasetya menambahkan, selama ini di persepsi masyarakat diidentikkan teknologi CDMA itu dengan ponsel dan tarif murah. “Padahal ini sebenarnya teknologi canggih dengan kemampuan menghantarkan data yang cepat. OMH akan membuat kelangkaan ponsel pintar untuk segmen premium bisa terpecahkan. Saya prediksi harga ponsel pintar CDMA bisa turun menjadi 10 persen nantinya,” jelasnya.

Deputy Executive General Manager Commerce Flexi  Iskriono Windiarjanto,  menilai OMH membuat bisnis menjadi lebih mudah, sederhana, serta hemat waktu dan biaya.

“Akan ada perpindahan pelanggan baik dari pemain GSM atau pengguna CDMA lama yang ingin upgrade. Jika  segmen kelas menengah atas digarap, maka Average Revenue Per User (ARPU)  juga terdongkrak dan pendapatan perusahaan bertambah. Flexi rencananya  mulai memasarkan kartu  perdana dengan simcard OMH mulai bulan depan sebanyak 400 ribu  unit,” ujarnya.

VP Marketing CDMA Development Group (CDG) Joe Lawrence mengatakan,  pihaknya mengembangkan teknologi OMH untuk menciptakan kemudahan bagi semua pihak, mulai dari vendor penyedia ponsel, operator telekomunikasi, hingga pelanggan.

“Pelanggan menjadi sangat diuntungkan karena bisa menggunakan handset dari mana saja selama sudah berlisensi OMH, di Indonesia saat ini mayoritas ponsel CDMA merupakan produk segmen kelas bawah, padahal di dunia banyak ponsel CDMA untuk pasar menengah ke atas dan kelas atas,” ujarnya.

Director Product Development Divison PT Metrotech Jaya Komunika Isnur Rochmad,  mengungkapkan, sebagai prinsipal ponsel Nexian  berencana meluncurkan ponsel berlisensi OMH pada kuartal III tahun ini. “Tahap awal akan masuk dua hingga tiga tipe ponsel dengan harga masih di bawah Rp1 juta per unit,” ujarnya.

Berdasarkan catatan, pengguna teknologi CDMA di Indonesia pada tahun lalu sebesar 35 juta nomor dimana Flexi menguasai 51 persen pangsa pasar. Pada tahun ini diperkirakan pengguna melonjak menjadi 41 juta nomor.[dni]

290410 Kue Tart yang Tidak Pernah Dicicipi

Evolusi dari teknologi 3G (baca: triji) sudah dilakukan oleh operator sejak inovasi ini hadir. Awalnya adalah High Speed Data Packet Access (HSDPA) selanjutnya High Speed Access (HSPA), dan terakhir HSPA+.

Teknologi 3G bisa menghantarkan kecepatan hingga 2 Mbps, sementara HSDPA bisa mencapai 7,2 Mbps. Sedangkan HSPA+ bisa mencapai  21 Mbps, 28 Mbs, 42 Mbps, dan seterusnya.

Entah kebetulan atau tidak, Indosat adalah yang selalu pertama memperkenalkan teknologi data kecepatan tinggi itu di Indonesia. Kala empat tahun lalu 3G diluncurkan dimana Telkomsel dan XL seperti adu cepat mengeluarkan layanan, Indosat terlihat seperti ketinggalan.

Namun, walau datang belakangan,  Indosat menawarkan kecepatan 3,5G melalui HSDPA. Sekarang, ketika teknologi 3G mulai menemukan model bisnisnya di Indonesia yakni sebagai jasa akses internet,  anak usaha Qatar Telecom itu   mencoba menggebrak pasar dengan menjanjikan  mampu menghantarkan data hingga  42 Mbps.

“Kami berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik bagi pelanggan. Inovasi ini adalah buktinya,” tegas Chief Wholesale and Infrasturktur Officer Indosat Fadzri Sentosa di Jakarta, belum lama ini.

Janji manis boleh saja dilontarkan, tetapi kenyataan berbicara lain. Kecepatan dan kenyamanan yang dianalogikan sebagai kue tart oleh para pengguna internet tidak pernah dinikmati secara konsisten dan berkesinambungan oleh pelanggan Indosat. Bahkan untuk mencapai kecepatan minimum broadband yakni 256 Kbps di area penyangga atau padat trafik sangatlah susah.

Kembali ke HSPA+,   janji   Indosat untuk    mengomersialkan HSPA + dengan kecepatan 21 Mbps pada akhir 2009 di Jabotabek pun ternyata jika ditelisik tidak bisa dipenuhi. Layanan ini baru akan tersedia pada Mei nanti seiring modem ZTE dijual di pasar dengan kisaran harga satu juta rupiah.

Banyak kalangan percaya, Indosat buru-buru mengumumkan kesiapannya menjalankan HSPA+ dengan kecepatan 21 Mbps di Jabotabek pada November 2009 karena ingin menutup langkah Telkomsel yang benar-benar mengomersialkan itu pada bulan yang sama.

Hal yang sama juga berlaku di  HSPA+ dengan kecepatan hingga 42 Mbps yang diklaim sebagai pertama di Asia. Ternyata layanan ini baru ada di beberapa   titik di Jakarta Pusat. Lebih ironis lagi, consumer premise equipment (CPE) untuk layanan ini baru ada di pasar pada kuartal kedua nanti. Artinya, layanan ini baru dikomersialkan pada Juni atau Juli nanti.

Lantas kenapa Indosat seperti bernafsu ingin dicap sebagai yang pertama? Jika ditelisik ternyata ini tak lebih dari perang pemasaran dengan dua pemain besar yakni  Telkomsel dan XL.

Untuk diketahui, Telkomsel melalui proyek Next Generation Flash telah menyediakan layanan HSPA+ bagi pelanggan kartu Halo. Layanan ini telah dinikmati sekitar 2,1 juta pelanggan di 8 kota besar yakni  Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Manado, Bandung, dan Pontianak.

Sementara XL pada hari bersamaan dengan pengumuman kesiapan Indosat  menyajikan HSPA+ dengan kecepatan 42 Mbps menyatakan tengah mengaji menjalankan teknologi Long Term Evolution (LTE) bersama penyedia jaringan yang juga menjadi mitra Indosat yakni Ericsson.

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi menegaskan, inovasi HSPA+ hanya merupakan gimmick pemasaran karena hingga saat ini belum ada perangkat untuk pelanggan yang mendukung. “Itu hanya permainan pemasaran. Kami sendiri mengembangkan HSPA+, tetapi tidak mau gembar-gembor karena pelanggan belum bisa menikmati kecepatan sebenarnya akibat keterbatasan perangkat di  CPE,” katanya.


GM Corporate Communication Telkomsel Ricardo Indra mengatakan, pihaknya bisa saja menghadirkan HSPA+ dengan kecepatan 42 Mbps karena lebih dulu memiliki dua kanal untuk teknologi 3G. “Itu tidak kami lakukan karena sadar CPE belum beredar di pasar.  Bagi kami lebih menawarkan sesuatu yang realistis ke pelanggan ketimbang menciptakan citra di pasar, tetapi tidak bisa direalisasikan,” katanya.

Praktisi telematika Raherman Rahanan mengakui, akan sulit mencicipi  kecepatan ideal dari teknologi HSPA+ karena sifat dari mobile broadband yang sangat tergantung pada jumlah pengakses, kedekatan dengan BTS, dan jumlah frekuensi.

“Seharusnya operator jujur mengakui  kecepatan ideal itu  tidak bisa  dinikmati jika akses dilakukan bersamaan. Itu sudah sifatnya mobile. Pelanggan jangan diberikan janji surga yang ternyata tidak bisa dipenuhi,” tegasnya.[dni]

Info Telkomsel:

Kartu As  Rp 2.000

290410 Info Telkomsel: Kartu As Rp 2.000

Telkomsel kini menyediakan paket perdana Kartu As cuma dengan Rp 2.000. Pelanggan yang mengaktifkan perdana Kartu As Rp 2.000 langsung dikenakan satu tarif murah ke semua operator, yakni nelpon Rp 15 perdetik, SMS Rp 115, dan MMS Rp 1.000, serta internet Rp 5 per kb.

Paket perdana Kartu As Rp 2.000 berisi pulsa senilai Rp 2.000 dengan masa aktif dan masa isi ulang masing-masing 30 hari. Pelanggan juga memperoleh beragam paket serba Rp 1.000 melalui akses *100#, seperti: paket SMS dan nelpon murah, paket internet murah, paket chatting dan Facebook, paket hemat panggilan internasional, konten Ridho Rhoma, SMS konten religi, horoskop, dan info lowongan pekerjaan, serta download aplikasi, ringtone, truetone, dan games.

Pelanggan yang mengaktivasi perdana Kartu As di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Maluku, dan Papua memperoleh gratis 1.000 SMS. Cukup kirim SMS seperti biasa hingga pemakaian Rp 1.000, lalu bonus tersebut dapat digunakan ke seluruh pelanggan operator selular se-Indonesia sepanjang hari hingga pukul 24.00. Pelanggan baru Kartu As di wilayah lain dan seluruh pelanggan existing Kartu As memperoleh gratis 1.000 SMS dengan menekan *100# dengan biaya Rp 1.000.

Pelanggan Kartu As di wilayah Sumatera, Jabodetabek, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi dapat menikmati Kartu As Jagoan Serbuuu yang menyediakan paket gratis 1.000 SMS ke semua operator dan paket gratis nelpon 100 menit ke sesama pengguna Telkomsel. Cukup beli paket murah seharga Rp 1.000 paling lambat pukul 17.00, hanya dengan menekan *100#, di mana seluruh gratis SMS dan nelpon dalam paket ini dapat digunakan hingga pukul 24.00 setiap harinya

280410 Pemerintah Berencana Perbaharui Kerjasama Rute Penerbangan

JAKARTA—Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana memperbaharui kerjasama rute penerbangan dengan dua negara untuk memperlancar ekspansi maskapai lokal. Kedua negara yang dibidik adala Rusia dan India.

“Kedua negara sebenarnya sudah memiliki kerjasama resiprokal. Namun saat ini sudah kadaluarsa, sehingga harus diperbaharui lagi. Dulu pernah ada payungnya, tetapi harus diperbaharui berdasarkan
kondisi sekarang,” ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay di Jakarta, Selasa (27/4).

Menurutnya  , untuk rute ke India setidaknya ada dua maskapai nasional yang berminat terbang kesana. “Mandala dan Batavia mau ke India, sementara maskapai sana yang mau ke Indonesia salah satunya Jet Air,” katanya.

Sebelumnya, pada Februari lalu, Direktur Angkutan Udara Tri S Sunoko memastikan Jet Airways asal Mumbai, India tertarik membuka rute baru ke Indonesia.  kemungkinan untuk kembali membuka izin penerbangan bagi maskapai India sangat terbuka. Pasalnya, India masih memiliki slot
penerbangan yang tidak digunakan sejak Air India tidak lagi terbang ke Indonesia.

“Untuk rute menuju Bombay dan Calcutta bisa langsung diterbangi oleh maskapai Indonesia. Tapi khusus untuk rute ke Madras, Chennai harus dilakukan kembali perjanjian kerjasama kedua belah pihak.
Masing-masing per kota tujuan harus memenuhi kapasitas sebanyak 1.000 kursi,” katanya.

Bagi maskapai India, kota yang boleh langsung dituju adalah Jakarta sementara untuk ke Denpasar harus ada perjanjian lagi.

Sedangkan  untuk kerjasama rute penerbangan dengan Rusia, Herry mengaku telah mengirimkan satu tim ke Rusia kemarin untuk menyempurnakan rancangan kerjasama tersebut.

“Garuda dulu pernah kesana, tapi saat ini belum ada rencana. Tetapi ada maskapai carter Rusia yang ingin terbang secara reguler ke Indonesia,” tambahnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Transportasi Rusia Andrew Medosekov mengungkapkan keinginan salah satu maskapai Rusia, TransAero untuk membuka penerbangan berjadwal langsung menuju Indonesia. Selama ini TransAero hanya melayani rute Moskow-Denpasar dengan penerbangan sewa.

Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Tengku Burhanudin mendukung upaya pemerintah memperbaharui  kesepakatan penerbangan dengan dua negara tersebut.

“Pasar penumpang ke Rusia dan India memang besar. Tetapi jumlah penumpang yang bepergian dari dan ke Indonesia menuju sana sangat sedikit,” katanya.[dni]