220410 Retensi Angkat ARPU Pontap Kabel 8,6%

JAKARTA–Program retensi yang digelar PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) untuk pelanggan telepon tetap kabel (pontap) berhasil mengangkat Average Revenue Per User (ARPU) jasa tersebut pada kisaran 4 hingga 8,6 persen hingga kuartal pertama 2010.

“Posisi akhir tahun ARPU pontap kabel berada di kisaran 105-110 ribu rupiah. Sekarang sudah di sekitar 115 ribu rupiah,” ungkap Direktur Konsumer Telkom I Nyoman G Wiryanata di Jakarta, Rabu (21/4).

Dijelaskannya, program retensi yang digelar untuk pelanggan pontap kabel adalah Telkom Poin Rejeki Tumpah (TPRT).

Program ini ditujukan bagi pelanggan yang aktif tanpa tunggakan mencakup pelanggan PSTN, Flexi Home, Speedy, YesTv, dan Paket Tagihan Tetap (PTT).

Kemudahan yang akan diperoleh pelanggan dari program ini adalah menukarkan poin yang dimiliki pelanggan dengan hadiah langsung yang tersedia sesuai dengan jumlah poin tertentu atau benefit tidak langsung berupa undian berhadiah yang akan dilakukan pada periode tertentu yaitu 3 dan 6 bulanan serta grand prize yang disediakan di akhir periode. Sedangkan grand prize yang ditawarkan adalah mobil mewah, laptop, TV, dan pesawat telepon.

Hadiah langsung yang disediakan voucher belanja, wisata, dan barang-barang rumah tangga.
“Program ini diikuti 85 persen dari total 7,3 juta pelanggan pontap kabel perumahan. Sedangkan total pelanggan pontap kabel adalah 8,3 juta layanan jika segmen korporasi dimasukkan,” katanya.

Selanjutnya dikatakan, Telkom memiliki tantangan untuk mempertahankan jasa pontap kabel karena di dunia layanan ini terus mengalami penurunan.

“Kami berusaha agar layanan ini tidak terus turun kurvanya. Minimal landai dengan mempertahankan jumlah pelanggan sama dengan tahun lalu,” jelasnya.[Dni]

220410 Menghindari Pembajakan

Isu pembajakan masih menjadi topik hangat dikalangan pemusik, khususnya di era majunya teknologi informasi yang memungkinkan terjadinya digitalisasi.

“Kondisi industri musik Indonesia sangat memprihatinkan, karena kurangnya dukungan dari pemerintah, terutama dengan semakin majunya teknologi, sehingga terdapat banyak portal yang bisa mengunduh   musik secara gratis,” ungkap Komisaris Utama Generasi Indonesia Digital (GENiD) Heru Nugroho kepada Koran Jakarta, Rabu (21/4)

Menurutnya,  industri musik di Indonesia harus diselamatkan dan teknologi informasi yang bisa membuat kondisi pembajakan makin parah. “Teknologi itu harus menjadi alat  bagi peningkatan nilai bisnis, bukan menghancurkan. Kita di GENiD mencoba mengembalikan fungsi teknologi itu ke khittahnya,” jelasnya..

GENiD adalah perusahaan yang mencoba mengembangkan  sistem kliring musik digital atau gudang digital sejak dua tahun lalu di Indonesia dengan menggandeng 11 label besar (anggota Asosiasi Industri Rekaman Indonesia/ASIRI) yang menguasai 80 persen industri musik.

Sistem kliring digital sendiri adalah fungsi  menghubungkan antara label musik besar dengan reseller yang meliputi operator telekomunikasi, penyedia portal Internet, konten, dan penyedia aplikasi ponsel.

Saat ini sudah lebih dari 70 retailer yang sudah tersambung dengan digital warehouse tersebut dan lebih dari 60.000 full track song, dengan 16 tipe konten. Retailer besar yang sudah bergabung adalah seluruh operator telekomunikasi selain Axis, kapanlagi.com, dan Nokia Ovi Music Store.

“Konsep ini bisa menekan pembajakan karena satu pintu untuk membeli lagu. Kami optimistis ada satu juta lagu diunduh sehari dengan harga seribu rupiah,” jelasnya.

Chief Executive Officer GENiD M. Gopal Utiarrachman mengungkapkan, peralihan era fisik menuju era digital yang  relatif cepat membuat pemilik lagu harus bisa mengadaptasinya.

Menurutnya, adanya gudang musik digital akan memberikan keuntungan bagi label, yaitu dapat menghitung atau memonitor penjualan musik digital mereka secara real time hingga ke luar negeri.

“Label mempunyai internal report independen atas penjualan konten mereka, sehingga tidak bisa dibohongi oleh retailer,” ujarnya.

Adapun keuntungan retailer dengan adanya gudang musik tersebut adalah bisa dengan mudah melakukan kerja sama dengan label dalam penjualan konten digital terutama dari sisi administrasi konten dan teknis manajemen konten.

Diungkapkannya,   setelah membangun gudang musik digital, masih ditemukan kendala untuk memperluas distribusi musik digital seperti halnya perlunya investasi yang cukup besar untuk pembuatan Digital Music Store seperti i-Tunes.

Secara terpisah, praktisi telematika Mochammad James Falahuddin menilai, GENiD jeli melihat peluang dari bisnis musik. “Istilah  “lembaga kliring” itu  biar keliatan keren saja. Pada dasarnya model seperti ini tidak dibutuhkan karena bisnis   RBT ataupun full track download sudah berjalan,” tukasnya.

Menurutnya, GENiD akan menghadapi masalah dalam mengembangkan bisnisnya   dengan tren harga yang semakin turun. “Perusahaan ini  butuh volume yang sangat besar untuk survive. Mereka bikin jargon kliring itu  untuk menarik pihak-pihak  yang berkepentingan,” katanya.

Sementara praktisi telematika I Made Hartawijaya mengatakan, untuk mengembangkan bisnis ini GENiD harus mendapatkan komitmen yang jelas dari para label musik. “Ini kan ibarat toko. Masalahnya label itu walau sudah memberikan barangnya ke pemilik toko, tetapi dia masih berjaga di depan pintu. Kalau begini bagaimana cara pemilik toko berkreatifitas,” katanya.[dni]

220410 Full Track Digital Musik Alat Penyelamat Kreatifitas

Belum lama ini lembaga riset Gartner mengumumkan  belanja aplikasi pengguna ponsel  diperkirakan mencapai 6,2 juta dollar AS dengan jumlah konten yang diunduh sekitar delapan miliar pada tahun ini

Sedangkan pada tahun lalu Gartner mengungkapkan  tercatat belanja aplikasi pengguna ponsel di dunia mencapai sekitar  4,2 miliar dollar AS dan diperkirakan pada 2013  akan meningkat menjadi 29,5 miliar dollar AS.

VP Digital Music & Content Management Telkomsel Krish Pribadi mengungkapkan, di Indonesia bisnis konten pun diprediksi bakal meraup banyak keuntungan tahun  ini.

Salah satu indikatornya adalah maraknya aplikasi mobile seperti Facebook, Twitter, e-banking dan e-commerce, serta masih berjayanya bisnis Ring Back Tone (RBT).

” RBT telah sukses menjadi ‘pahlawan’ di industri rekaman. Di tahun 2005, dulu pembajakan musik telah menguasai 87 persen  industri rekaman Indonesia. Saat itu RBT bak menjadi pahlawan, sebagai bentuk bisnis baru hingga kini,” paparnya di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya,  pertumbuhan industri konten  diprediksi bakal tumbuh pesat antara 35-50 persen  pada tahun ini. “Sebagai informasi, pada tahun 2009 lalu industri konten meraup keuntungan dari  2 triliun menjadi  2,5 triliun rupiah,” jelasnya.

Full Track

Krish mengungkapkan, konten yang berbau musik tetap akan menjadi primadona dari pengguna karena sifatnya yang menghibur. “Saat ini saja RBT di Telkomsel sudah digunakan oleh sekitar 7 juta pengguna. Sedangkan full track digital musik menggaet 10 ribu pengguna. Full track ini akan menggantikan tren RBT dalam waktu tiga tahun mendatang,” ungkapnya.

Untuk diketahui RBT adalah konten yang memungkinkan memperdengarkan potongan lagu bagi pihak yang menelpon. Sedangkan full track digital musik adalah lagu diunduh utuh dan didengarkan sendiri oleh pengguna. Layanan full track ada yang ditawarkan oleh portal musik atau langsung dari operator. Konten ini membutuhkan dukungan jaringan data yang extensive kala mengunduh satu lagu.

Menurutya, antara full track digital dan RBT bukanlah industri yang identik sehingga ada peluang dan tantangan yang berbeda mengembangkannya. “RBT lebih close environment sedangkan full track itu lebih terbuka. Artinya alternatif terhadap pengembangan full track lebih terbuka mulai dari compact disc hingga portal,” katanya.

Dikatakannya, konten ini dilihat industri kreatif sebagai salah satu penyelamat   ciptaanya terdistribusi dan tidak dibajak. Sedangkan dari sisi masyarakat sudah mulai ada kesadaran  perlunya memiliki hasil kreatifitas yang legal. “Itulah kenapa operator berlomba menyajikan full track digital musik. Tren ke arah sana,” jelasnya.

Wakil Dirut Bakrie Telecom Bidang Pemasaran  Erik Meijer mengakui, full track digital musik memiliki harapan sebagai salah satu mesin uang bagi operator. Hal itu dibuktikan dengan aplikasi yang dikembangkan oleh perusahaan ini melalui Esia MusicBox.

“Kami memiliki konsep sendiri dalam berjualan konten ini. Kita melakukan rental, karena Esia ingin masuk ke pasar dengan cara dan harga yang baik,” ungkapnya.

Diungkapkannya, pola yang ditawarkan Esia adalah menawarkan satu lagu selama 30 hari seharga seribu rupiah, setelah itu pengguna boleh mengunduh kebali atau memilih lagu ainnya.

“Ketimbang dijual putus satu lagu 5 ribu rupiah, itu susah menarik pelanggan. Soalnya setiap bulan pengguna itu berubah-ubah seleranya. Hasil dari pola seperti ini berhasil membetot sebesar 50 persen dari 100 ribu semua ponsel yang memiliki   Esia MusicBox,” katanya.

Hambatan

Pada kesempatan lain, Praktisi telematika I Made Hartawijaya mengatakan, mengembangkan aplikasi full track digital musik memliki berbagai hambatan, salah satunya dari label musik tempat pemusik bernaung.

“Pola pikir label itu memiliki egoisme yang tinggi. Di satu sisi menitipkan lagu ke operator, disisi lain, dia jualan lagi ke pihak lainnya.   Padahal sekarang bisnis mereka 70 persen dari operator telekomunikasi, misalnya melalui RBT itu. Masih banyak yang bisa diekploitasi dari industri musik ini jika ada kerjasama yang baik,” katanya.

Menurutnya, industri musik harus bisa berfikir ala digital dan meninggalkan berjualan  bisnis musik tradisional. “Isu pembajakan dan mengukur sukses atau tidaknya lagu juga berbeda. Apalagi pola bagi hasilnya,” katanya.

Sementara Wakil Ketua Komite Tetap Informatika Kadin Iqbal Farabi mengakui full track digital musik   sangat bagus untuk proteksi hak cipta dan  royalti  karena hitungan dan nilainya sdh jelas di depan. “Melalui mobile itu ada Digital Right Management (DRM)  sehingga valid  untuk  bagi hasilnya,” katanya.

Menurutnya, tantangan mengembangkan aplikasi ini adalah harga retail, infrastruktur dan aplikasi yang masih mahal, serta  sosialisasi  masih minim dari operator. “Investasi untuk mengembangkan portal ini sekitar 50 ribu dollar AS. Pemilik portal biasanya minim budget. Sekarang operator mulai melirik bisnis ini, semoga bisa booming beberapa tahun ke depan,” jelasnya.

Sedangkan praktisi telematika lainnya, Andi S. Boediman mengungkapkan, masalah kecepatan mengunduh dan kemudahan  memilih lagu juga menjadi hambatan bagi aplikasi full track digital musik. “Belum ada player yang sederhana seperti iTunes milik Apple,” katanya.

Buah Unbundling

Pada kesempatan lain, peneliti dari Lirne William H Melody menjelaskan, maraknya penawaran aplikasi di jasa telekomunikasi tak bisa dilepaskan dari dilakukannya unbundling layanan yang selama ini dimonopoli oleh operator.

“Kompetisi berubah dari pasar vertikal menjadi horizontal. Pemain-pemain aplikasi mulai tumbuh seiring operator memberikan jalan memanfaatkan infrastruktunya digunakan,” katanya.

Praktisi telematika Suryatin Setiawan menyarankan, menghadapi fenomena itu operator memiliki dua pilihan. Pertama , mengubah infrastruktur jaringan untuk merebut pusat kepintaran dari unit pelanggan (ponsel) , menjadikan infrastruktur jaringan menjadi platform yang dapat diakses oleh pengembang aplikasi independen   kemudian mendukung operator memberi  sumber pendapatan baru.

Sedangkan pilhan ke dua adalah mengubah diri dan menggeser fokus menuju ke arah pengelolaan yang menyeluruh dan intense segala macam aplikasi dan konten dan layanan internet serta layanan data di internet ( cloud computing). “Dua pilihan ini harus diambil untuk menghindari operator hanya menjadi sebagai penyedia pipa dan berujung pada berdarah-darahnya keuangan,” katanya.[dni]