090410 Pita Lebar Dijadikan Infrastruktur Dasar

JAKARTA—Pemerintah akan menjadikan pembangunan tulang punggung pita lebar (Backbone Broadband) sebagai infrastruktur dasar karena menyadari fungsinya yang biosa mendorong perekonomian nasional.

“Backbone Broadband suatu yang mutlak harus dibangun untuk perekonomian nasional, khususnya fixed broadband. Kita akan mengusulkan ini masuk ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” tegas Menko Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Kamis (8/4).

Diungkapkannya, selama ini pembangunan backbone broadband  kurang menarik bagi investor swasta karena tidak menjanjikan keuntungan. “Ini akan kita stimulus dengan skema pembiayaan yang menarik,” katanya.

Skema yang sedang dikaji adalah mengalokasikan dana Universal Service Obligation (USO) sekitar 1,3 triliun rupiah setiap tahunnnya,  mengambil dana APBN, atau menawarkan Public Private Partnership (PPP).

“Pemerintah menyadari bahwa perekonomian harus ditingkatkan nilainya dengan memasukkan Teknologi Informasi (TI) dalam pembangunannya. Backbone Broadband ini salah wujud dukungannya,” jelasnya.

Asisten Deputi Menko Perekonomian Bidang Telematika Eddy Satriya menambahkan, untuk alokasi dari APBN dan PPP sedang dikaji besaran dananya. “Paling cepat itu digunakan sebagai start up kapital adalah dana USO. Ini akan dikelola dalam bentuk ICT Fund,” katanya.

PLT Dirjen Postel M.Budi Setiawan mengungkapkan, penterasi yang tinggi dari telekomunikasi akan dititikberatkan pada pemerataan akses. Hal itu diwujudkan dengan membangun telepon dan akses internet di pedesaan.

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P Santosa mengakui, pembangunan fixed broadband signifikan memberikan pengaruh bagi perekonomian.

“Studi yang dilakukan oleh brooking institute menunjukkan setiap satu persen pertumbuhan broadband meningkatkan lapangan kerja sebesar 0,2 hingga 0,3 persen setiap tahun,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, backbone broadband juga memberikan efisiensi bagi sketor-sektor yang termasuk sendi perekonomian seperti listrik, kesehatan, transportasi, dan pendidikan sebesar 0,5 hingga 1,5 persen.

Sementara Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengungkapkann nilai bisnis dari penyediaan akses broadband di Indonesia mendcapai 6 triliun rupiah. “Sedangkan untuk konten dan aplikasi yang berjalan di atas pipa broadband itu senilai dua triliun rupiah,” katanya.

Menurutnya, nilai sebesar itu tidak berarti apa-apa di kinerja operator karena layanan suara dan SMS berkontribusi lebih besar yakni sekitar 80 persend ari total pendapatan operator. “Nah, dengan kondisi seperti ini, harus ada pemikiran yang progresif broadband itu mendorong perekonomian. Jika hanya dipaksa membangun infrastruktur, operator bisa tidak dapat apa-apa,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s