090410 Proyek Jembatan Selat Sunda Ditawarkan Ke China

JAKARTA—Proyek pembangunan jembatan Selat Sunda (JSS) akan ditawarkan ke investor dari China oleh pemerintah untuk mendukung pengadaan infrastruktur nasional.
“China mengalokasikan dana untuk investasi di Asean sebesar 15 miliar dollar AS. Kita berharap sebagian dana itu ada yang dialokasikan untuk Indonesia, salah satunya membangun JSS,” ungkap Menko Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Kamis (8/4).
Diungkapkannya, pemerintah akan menawarkan kerjasama dalam bentuk Public Private Partnership (PPP) atau insentif pemodalan. “JSS itu signifikan mendorong perekonomian nasional. Karena itu kita dorong investor swasta atau asing menggarapnya,” jelasnya.
Selain proyek JSS, ungkapnya, sektpor transportasi, Pekerjaan Umum (PU) juga akan ditawarkan untuk menyedeot dana yang dialokasikan oleh China tersebut. “ Kita sedang giat membangun konektifitas transportari. Sektor Kereta Api sudah ada komitmen pembangunan untuk dobel track,” jelasnya.
Untuk diketahui, proyek pembangunan Jembatan Selat Sunda dengan diperkirakan  membutuhkan dana investasi sekitar  100 triliun rupiah mulai ditawarkan pemerintah  melalui buku Private Public Partnership, yang berarti masuk dalam  kerangka kerja sama pemerintah dan swasta.
Saat ini pemerintah sedang menyiapkan pembentukan Tim Nasional yang
merupakan gabungan dari orang-orang di Sumatera dan Jawa dalam
menyiapkan proyek Jembatan Selat Sunda.
Pemerintah sudah memegang lima kajian pembangunan jembatan
Selat Sunda. Selain opsi jembatan, ada juga alternatif akses berupa
terowongan dasar laut atau terapung di bawah permukaan laut, seperti
terowongan yang menghubungkan Inggris dan Perancis saat ini.
Jika opsi terowongan yang dipakai, nilai investasinya lebih
rendah, yakni 49  triliun rupiah , tetapi jangka waktu pemakaiannya sangat  singkat, yakni sekitar 20 tahun.
Adapun opsi jembatan membutuhkan investasi hingga  117 triliun rupiah, tetapi daya tahannya sanggup  menampung lonjakan kendaraan hingga 100 tahun.
Data Direktorat Bina Teknik, Ditjen Bina Marga Departemen PU
menunjukkan, tahun 2050 akan ada lalu lintas yang tidak tertampung
sebanyak 57.600 kendaraan per hari jika Sumatera-Jawa masih bergantung
pada feri. Sebab, kapasitas maksimal feri saat ini hanya 18.000
kendaraan per hari.[dni]

090410 Pita Lebar Dijadikan Infrastruktur Dasar

JAKARTA—Pemerintah akan menjadikan pembangunan tulang punggung pita lebar (Backbone Broadband) sebagai infrastruktur dasar karena menyadari fungsinya yang biosa mendorong perekonomian nasional.

“Backbone Broadband suatu yang mutlak harus dibangun untuk perekonomian nasional, khususnya fixed broadband. Kita akan mengusulkan ini masuk ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” tegas Menko Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Kamis (8/4).

Diungkapkannya, selama ini pembangunan backbone broadband  kurang menarik bagi investor swasta karena tidak menjanjikan keuntungan. “Ini akan kita stimulus dengan skema pembiayaan yang menarik,” katanya.

Skema yang sedang dikaji adalah mengalokasikan dana Universal Service Obligation (USO) sekitar 1,3 triliun rupiah setiap tahunnnya,  mengambil dana APBN, atau menawarkan Public Private Partnership (PPP).

“Pemerintah menyadari bahwa perekonomian harus ditingkatkan nilainya dengan memasukkan Teknologi Informasi (TI) dalam pembangunannya. Backbone Broadband ini salah wujud dukungannya,” jelasnya.

Asisten Deputi Menko Perekonomian Bidang Telematika Eddy Satriya menambahkan, untuk alokasi dari APBN dan PPP sedang dikaji besaran dananya. “Paling cepat itu digunakan sebagai start up kapital adalah dana USO. Ini akan dikelola dalam bentuk ICT Fund,” katanya.

PLT Dirjen Postel M.Budi Setiawan mengungkapkan, penterasi yang tinggi dari telekomunikasi akan dititikberatkan pada pemerataan akses. Hal itu diwujudkan dengan membangun telepon dan akses internet di pedesaan.

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P Santosa mengakui, pembangunan fixed broadband signifikan memberikan pengaruh bagi perekonomian.

“Studi yang dilakukan oleh brooking institute menunjukkan setiap satu persen pertumbuhan broadband meningkatkan lapangan kerja sebesar 0,2 hingga 0,3 persen setiap tahun,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, backbone broadband juga memberikan efisiensi bagi sketor-sektor yang termasuk sendi perekonomian seperti listrik, kesehatan, transportasi, dan pendidikan sebesar 0,5 hingga 1,5 persen.

Sementara Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengungkapkann nilai bisnis dari penyediaan akses broadband di Indonesia mendcapai 6 triliun rupiah. “Sedangkan untuk konten dan aplikasi yang berjalan di atas pipa broadband itu senilai dua triliun rupiah,” katanya.

Menurutnya, nilai sebesar itu tidak berarti apa-apa di kinerja operator karena layanan suara dan SMS berkontribusi lebih besar yakni sekitar 80 persend ari total pendapatan operator. “Nah, dengan kondisi seperti ini, harus ada pemikiran yang progresif broadband itu mendorong perekonomian. Jika hanya dipaksa membangun infrastruktur, operator bisa tidak dapat apa-apa,” katanya.[dni]

090410 Telkom Proyeksi Petumbuhan Pendapatan 10%

JAKARTA–PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) memproyeksi pertumbuhan pendapatan usahanya sebesar 7-10 persen pada tahun ini.

“Pertumbuhan secara grup itu akan ditopang oleh jasa seluler, internet, dan new wave,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Kamis (8/4).

Diungkapkannya, pada tahun lalu kinerja perseroan menunjukkan hasil positif baik dari sisi pendapatan operasi, laba bersih, dan Earning Before Interest Tax Depreciation, and Amortization (EBITDA).

Tercatat, pada 2009 pendapatan operasi mencapai 64,6 triliun rupiah atau tumbuh sebesar 6,4 persen dibandingkan pencapaian periode 2008 yang mencapai 60,7 triliun rupiah.

Dari sisi EBITDA pada 2009 sebesar 36,6 triliun rupiah atau tumbuh 5,6 persen dari 2008 sebesar 34,6 triliun rupiah. Sedangkan laba bersih pada 2009 mencapai 11,3 triliun rupiah atau tumbuh 6,7 persen dari periode 2008 senilai 10,6 triliun rupiah.

“Laba bersih seharusnya bisa tumbuh sebesar 8,5 persen. Tetapi terpangkas karena adanya program pensiun dini sebesar satu triliun rupiah,” jelasnya.

Dijelaskannya, kinerja yang positif karena ditopang tumbuhnya pendapatan dari jasa seluler yang mencapai 7,4 persen dari 25,3 triliun rupiah (hanya dari suara) pada 2008 menjadi 27,2 triliun rupiah pada 2009.

Sedangkan pertumbuhan pendapatan data, internet, dan Teknologi Informatika (TI) tumbuh 25,8 persen dari 14,7 triliun menjadi 18,5 triliun rupiah.

“Pertumbuhan ini menahan menurunnya pendapatan dari telepon tetap sebesar 11,2 persen dari 9,7 triliun rupiah menjadi 8,6 triliun rupiah,” katanya.

Belanja Modal
Pada kesempatan sama, Direktur Keuangan Sudiro Asno mengungkapkan, sebanyak 75 persen belanja modal dari total dua miliar dollar AS sudah terpenuhi melalui EBITDA dan kas internal.

Selain itu juga ada kredit ekspor senilai 60 juta dollar AS dan vendor financing 90 juta dollar AS.

“Ditambah rencana menerbitkan obligasi oleh Telkom senilai dua hingga tiga triliun rupiah dan Telkomsel dua triliun, semua sudah terpenuhi,” katanya.

Sementara total hutang yang dimiliki perseroan sebesar 23 triliun rupiah dimana komposisinya 70 persen (Rupiah) dan 30 persen (dollar AS). “Setiap tahun ada hutang jatuh tempo senilai 6,5 triliun rupiah,” jelasnya.

Rinaldi menambahkan, perseroan punya kewajiban kepada pemerintah dalam bentuk pinjaman two step loan dalam bentuk Rekening Dana Investasi (RDI/ sub loan agreement/SLA) 3,5 triliun rupiah untuk tahun ini. Hutang ini dalam bentuk dollar AS, Yen, dan rupiah, jatuh tempo hingga 2024.

“Kewajiban pembayaran untuk hutang ini 300 miliar rupiah tiap tahun,” kata Rinaldi.

Sudiro menambahkan, perseroan akan mempercepat pembayaran ke pemerintah. “Tetapi harus mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan,” katanya.

COO Telkom Ermady Dahlan mengungkapkan, sebanyak 60 persen dari alokasi belanja modal akan digunakan untuk pembangunan backbone broadband.

Divestasi
Selanjutnya Rinaldi mengungkapkan, dalam waktu tiga hingga enam bulan ke depan dua anak usaha yakni PT Citra Sari Makmur (CSM) dan Patrakom akan didivestasi.

“Patrakom akan dilepas 40 persen, sedangkan CSM 25 persen. Sudah ada 4-5 perusahaan yang berminat,” katanya.

Rinaldi menjelaskan, dua anak usaha dilepas karena bisnis yang dijalankan juga dilakukan oleh anak usaha lainnya seperti Metra-Sat yakni penyewaan jasa VSAT.

Berkaitan dengan kinerja dari anak usaha hasil akuisisi  di luar Telkomsel, Rinaldi mengatakan, terjadi pertumbuhan yang luar biasa. Tercatat, Sigma Cipta Caraka memperoleh pendapatan sebesar 400 miliar rupiah pada 2009 dibandingkan 2008 senilai 298,5 miliar rupiah.

Finnet memiliki omzet 69 miliar rupiah (2009) dari 22,9 miliar rupiah (2008), Metra pada 2009 sebesar  240,1 miliar rupiah dari 160,1 miliar rupiah (2008), Admedika dari 24,8 miliar rupiah (2008) menjadi 29,1 miliar rupiah (2009).

Sedangkan Telkom Internasional Indonesia (TII) mengalami penurunan dari 713 miliar  rupiah (2008) menjadi 607 miliar rupiah (2009). “Penurunan di TII karena ada perubahan bisnis model. Pendapatan dari trafik dipisahkan. TII hanya fokus untuk backbone internasional,” ungkap Ermady.[Dni]

090410 Lion Air Buka Rute Baru

JAKARTA—Maskapai swasta, Lion Air mulai mengoperasikan  rute baru Jakarta-Tarakan p.p dan rute Jakarta-Palangkaraya p.p. menggunakan pesawat Boeing 737-900 ER berkapasitas  213 penumpang.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan, rute baru tersebut  diterbangkan sekali sehari (daily) mulai 5 April 2010 yang transit di Balikpapan.  Sedangkan rute Jakarta-Palangkaraya p.p dioperasikan sekali sehari (daily)  mulai 7 April 2010.

“Pengembangan operasi ini  dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di pulau terbesar di Indonesia  dan meningkatkan pelayanan khususnya kenyamanan penerbangan, mengembangkan pangsa pasar (market share) serta meningkarkan pendapatan (revenue),” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Rabu (7/4).

Menurutnya,  adanya penerbangan ke Tarakan dan Palangkaraya maka mempermudah penumpang untuk terbang ke kota lainnya (rute domestic) yang dilayani  Lion Air.

Disamping itu mempermudah penumpang yang akan melakukan ibadah Umroh karena dapat dilayani oleh Lion Air dengan terbang langsung dari Tarakan dan Palangkaraya melalui Cengkareng ke Jeddah menggunakan pesawat Boeing 747-400. Mengingat di kedua kota tersebut cukup potensial market penumpang Umroh ke Jeddah.

Diprediksikannya,  load factor (tingkat isian penumpang pesawat) akan mencapai 90 persen dengan  target penumpangnya dari semua kalangan (segmen). Pengembangan operasi penerbangan di kedua kota tujuan tersebut akan dilakukan dengan penambahan frekuensi penerbangan dan juga menambah rute baru lainnya.

Lion Air saat ini mengoperasikan 51 armada yang terdiri dari 2 pesawat Boeing 747-400, 34  pesawat Boeing 737-900ER, 9 pesawat Boeing 737-400,  2 pesawat Boeing 737-300, 4 pesawat MD-90.

Lion Air sudah mengoperasikan 32 pesawat dari 178 pesawat Boeing 737-900ER yang sudah dipesan dari pabrik Boeing di Seattle Amerika dan direncanakan sampai pertengahan tahun 2010 akan diterima lagi 6 pesawat baru Boeing 737-900ER.[dni]