010410 2014, Pasar TI untuk UKM akan Tumbuh 60,3%

JAKARTA—Pertumbuhan belanja solusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TI) yang dilakukan kalangan Usaha Kecil dan Menegah (UKM) hingga empat tahun kedepan mencapai 60,3 persen atau senilai 18,6 triliun rupiah.

“Pada tahun ini diperkirakan belanja TI dari kalangan UKM dan Koperasi bisa mencapai 11,6 triliun rupiah. Sedangkan  pada tahun depan bisa tumbuh 10,9 persen atau senilai 12,87 triliun rupiah,”  ungkap Executive General Manager Divisi Business Service Telkom Slamet Riyadi di Jakarta, Minggu (28/3).

Dijelaskannya, tren positif  belanja TI oleh kalangan pengusaha kelas menengah (Small, medium enterprise/ SME) tak bisa dilepaskan dari berkembangnya teknologi yang menyuburkan akses dan konektifitas dengan dukungan Platform as a Services  dan keberadaan perangkat.

“Sekarang ini sedang tumbuh komunitas SME yang melek  TI dengan kebutuhan solusi dan mobilitas untuk menunjang kelancaran bisnis. Pasar ini hingga sekarang belum ada yang serius oleh pemain lokal. Telkom sebagai operator kelas dunia ingin melayani segmen ini melalui divisi DBS, tidak hanya untuk memberikan solusi TI, tetapi membantu masyarakat memberdayakan ekonominya,” katanya.

Dijelaskannnya, DBS  dibentuk Telkom dikhususkan untuk mengelola pelanggan bisnis yang sebagian besar merupakan segmen UKM. Pada segmen ini, Telkom akan menawarkan beragam solusi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan bisnis melalui penerapan teknologi komunikasi informasi (ICT) yang tepat.

Beberapa aplikasi berbasis platform as as services (PAAS) cloud computing sudah disiapkan Telkom, di antaranya e-UKM, aplikasi untuk BPR (Bank Perkreditan Rakyat), aplikasi untuk pengelolaan koperasi, dan lainnya.

Praktisi telematika Suryatin Setiawan mengakui,   potensi segmen SME  memang besar bagi operator telekomunikasi, namun para pemain tidak boleh menganggap segmen itu hanya sebagai pasar. “Suatu kesalahan kalau dianggap  SME adalah pasar yang sudah matang dan siap untuk digarap. Perlu upaya khusus untuk menggarap pasar SME,” katanya.

Disarankannya, operator harus mengedepankan edukasi tentang pentingnya TIK bagi SME agar pelaku usaha di sektor itu menyadari bahwa inovasi teknologi bisa membuka peluang baru bagi mereka. “Jangan jadikan SME sebagai konsumen. TIK harus menjadi alat pemberdayaan untuk mejadikan SME mandiri,” katanya.

Sementara Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengeaskan,  meningkatkan penetrasi penggunaan TI bagi UKM merupakan bagian dari  kewajiban Indonesia di  World Summit on information Society (WSIS) dan ICT for development  ( ICT4D). “Indonesia meratifikasi hal itu. Sayangnya hingga sekarang belum ada data akurat tentang penggunaan TIK di UKM. Kabar beredar baru satu persen UKM yang optimalkan TI,” sesalnya.

Berdasarkan catatan,  hingga Juni 2009, koperasi di Indonesia telah berjumlah 166.155 unit dengan  permodalan koperasi aktif yang terdiri dari modal sendiri  27,27 triliun rupiah dan modal luar  36,25 triliun rupiah dengan nilai volume usaha  55,26 triliun rupiah.

Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2009 mencatat jumlah UKM di Indonesia sebanyak 520.220 unit. Diperkirakan akan ada 600.000 pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) baru pada 2010. Sementara  dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan sejak Januari 2008-Januari 2010  sekitar  17,541 triliun rupiah untuk 2,4 juta debitur.

Sektor tertinggi investasi yang dilakukan kalangan SME adalah pada bidang  jasa (57%), perdagangan (20%), dan manufaktur (23%).  SME ditengarai memiliki kontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto nasional sebesar 54 persen. [dni]

020410 UKM akan Berkontribusi Bagi PDB 65%

JAKARTA–Usaha kecil dan Menengah (UKM) diperkirakan berkontribusi bagi 60-65 persen bagi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional atau naik 13-22 persen dari 2009 sebesar 53 persen.

“Pada 2009 nilai transaksi dari UKM di Indonesia mencapai 2 ribu triliun rupiah, itulah yang memicu sumbangan ke PDB besar. Tahun ini akan naik, tetapi belum bisa diprediksi,” ungkap Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan di Jakarta, Kamis (1/4).

Dijelaskannya, sektor UKM yang mampu meningkatkan kontribusi bagi PDB adalah kerajinan, kelautan, dan pertanian karena Indonesia adalah negara agribisnis.

“Ketiga sektor itu harus didorong untuk berkembang. Permasalahan klasik harus diatasi. Salah satunya dengan memberikan solusi teknologi informasi (TI),” katanya.

Permasalahan yang biasa dihadapi UKM adalah  pemodalan, pengelolaan manajemen bisnis, standar mutu produk, kesulitan penetrasi pasar dan promosi, kesulitan distribusi produk, dan belum menggunakan TIK yang tepat.

“Diperlukan keberpihakan dari semua stakeholder untuk mendukung UKM agar sektor ini bisa memajukan perekonomian,” katanya.

Salah satunya, lanjutnya, dengan mendorong konseling dalam bidang pemasaran, distribusi, pembiayaan dan advokasi. “Sekarang Telkom masuk melayani UKM. Ini sinyal untuk menyelesaikan masalah hambatan TI,” katanya.

Executive General Manager Divisi Business Service (DBS) Telkom Slamet Riyadi mengakui penggunan  TIK secara tepat  sebagai enabler diyakini bisa menekan biaya operasional dari pebisnis skala  UKM hingga 60 persen, sehingga berimbas pada penurunan drastis dari Total Cost of Ownership (TCO).

“Para pelaku UKM dan Koperasi selama ini mengalami hambatan dalam mengembangkan usahanya. Beberapa merupakan hal yang klasik, tetapi dengan pemanfaatan TIK yang tepat, beberapa hambatan bisa diatasi,” jelasnya.

DBS  dibentuk Telkom dikhususkan untuk mengelola pelanggan bisnis yang sebagian besar merupakan segmen UKM. Pada segmen ini, Telkom akan menawarkan beragam solusi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan bisnis melalui penerapan teknologi komunikasi informasi (ICT) yang tepat.

Beberapa aplikasi berbasis platform as as services (PAAS) cloud computing sudah disiapkan Telkom, di antaranya e-UKM, aplikasi untuk BPR (Bank Perkreditan Rakyat), aplikasi untuk pengelolaan koperasi, dan lainnya. Cloud computing  adalah pemanfaatan teknologi internet untuk menyediakan sumber komputing.

Berdasarkan catatan di situs Kementerian Koperasi, hingga Juni 2009, koperasi di Indonesia telah berjumlah 166.155 unit dengan  permodalan koperasi aktif yang terdiri dari modal sendiri  27,27 triliun rupiah dan modal luar  36,25 triliun rupiah dengan nilai volume usaha  55,26 triliun rupiah.

Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2009 mencatat jumlah UKM di Indonesia sebanyak 520.220 unit. Diperkirakan akan ada 600.000 pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) baru pada 2010. Sementara  dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan sejak Januari 2008-Januari 2010  sekitar  17,541 triliun rupiah untuk 2,4 juta debitur.

Sementara pertumbuhan belanja solusi  TI yang dilakukan kalangan UKM hingga empat tahun kedepan diperkirakan mencapai 60,3 persen atau senilai 18,6 triliun rupiah dengan nilai Compound Annual Growth Rate (CAGR) 12,83 persen.

Sektor tertinggi investasi yang dilakukan kalangan UKM adalah pada bidang  jasa (57%), perdagangan (20%), dan manufaktur (23%)

Direktur Enterprise and Wholesale Telkom Arief Yahya menambahkan, perseroan menargetkan bisa menggandeng 40 ribu UKM menggunakan solusi TI yang ditawarkan Telkom.[Dni]