010410 Mengembalikan TIK kepada Khittah



Tingkat penetrasi internet di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini lumayan tinggi. Hal itu terlihat dari naiknya akses internet melalui Desktop atau mobile phone yang diperkirakan bisa mencapai 18 persen dari total populasi.

Semaraknya penggunaan akses internet tentu tak bisa dilepaskan dari gencarnya pembangunan backbone atau last mile oleh penyelenggara telekomunikasi.

Sayangnya, internet di Indoensia lebih banyak digunakan untuk sesuatu yang sifatnya hiburan atau konsumtif bukan hal yang produktif. Akhirnya, penyelenggara belum bisa merasakan keuntungan dari hadirnya jasa data dan negara pun belum mendapat pemasukan yang signifikan dari pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Kontribusi data bagi total pendapatan satu operator  di Indonesia baru sekitar 5  persen.  Angka itu kecil sekali. Di Asia rata-rata kontribusi data sudah mencapai  27 persen dan akan menjadi 37 persen dalam lima tahun ke depan

Padahal, menurut kajian yang dilakukan oleh konsultan Deloitte, setiap 10 persen pertumbuhan penterasi infrastruktur broadband seharusnya meningkatkan 1,2 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari satu negara. Sedangkan di Indonesia, penetrasi sudah mencapai di atas 50 persen untuk area rural, tetapi kontribusi ke PDB belum signifikan.

“Semua itu karena ada salah kaprah dalam pemanfaatan TIK. Semua hanya digunakan untuk hal-hal konsumtif seperti mengakses jejaring sosial atau instant messaging. Seharusnya dikembangkan masyarakat berbasis TIK,” ujar Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono kepada Koran Jakarta, Rabu (30/3).

Menurutnya, masyarakat berbasis TIK adalah yang menggunakan teknologi sebagai alat memberikan kemudahan dalam hidup dan meningkatkan kesejahteraan. “Misalanya ada e-education yang membuat masyarakat di pelosok bisa mendapatkan ilmu pengetahuan setara di kota atau aplikasi yang memudahkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk mengakses peluang,” jelasnya.

Regional Manager ConsumerLab MUSEA Business Vishnu Singh menambahkan, TIK bisa menjadi enabler untuk mendorong keuntungan pengusaha mencapai 50 persen dan mengubah konsep penumpukan barang menjadi pemesanan.

Optimalkan UKM

Pengamat koperasi dan UKM, Thoby Mutis menegaskan, jika para penyelenggara telekomunikasi ingin mengembalikan TIK kepada khittahnya, maka   pengusaha    berbasis koperasi dan  UKM harus diajarkan mengoptimalkan penggunaan  (TIK) untuk meningkatkan daya saingnya.

“Di saat krisis ekonomi, koperasi dan UKM yang menggerakkan sektor riil. Saatnya kalangan ini diberdayakan  menggunakan TIK sebagai salah satu  basis kompetensi,” jelasnya.

Menurutnya, jika koperasi dan UKM memanfaatkan TI dengan benar maka akan tercipta efisiensi dalam biaya operasional. Selain itu, TI bisa membuka   peluang pasar, khususnya ke luar negeri   melalui internet. “Pasar koperasi dan UKM itu banyak di luar negeri, khususnya para pengrajin. Bagaimana komunikasi dengan luar negeri jika masih takut TI,” katanya.

Executive General Manager Divisi Business Service (DBS) Telkom Slamet Riyadi mengakui penggunan  TIK secara tepat  sebagai enabler diyakini bisa menekan biaya operasional dari pebisnis skala  UKM hingga 60 persen, sehingga berimbas pada penurunan drastis dari Total Cost of Ownership (TCO).

“Para pelaku UKM dan Koperasi selama ini mengalami hambatan dalam mengembangkan usahanya. Beberapa merupakan hal yang klasik, tetapi dengan pemanfaatan TIK yang tepat, beberapa hambatan bisa diatasi,” jelasnya.

DBS  dibentuk Telkom dikhususkan untuk mengelola pelanggan bisnis yang sebagian besar merupakan segmen UKM. Pada segmen ini, Telkom akan menawarkan beragam solusi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan bisnis melalui penerapan teknologi komunikasi informasi (ICT) yang tepat.

Beberapa aplikasi berbasis platform as as services (PAAS) cloud computing sudah disiapkan Telkom, di antaranya e-UKM, aplikasi untuk BPR (Bank Perkreditan Rakyat), aplikasi untuk pengelolaan koperasi, dan lainnya. Cloud computing  adalah pemanfaatan teknologi internet untuk menyediakan sumber komputing.
Berdasarkan catatan, UKM di Indonesia  telah menjadi yang paling berkembang dalam adopsi teknologi bersama Filipina dan Thailand. Pertumbuhan belanja solusi  TIK yang dilakukan kalangan UKM hingga empat tahun kedepan diperkirakan mencapai 60,3 persen atau senilai 18,6 triliun rupiah dengan nilai Compound Annual Growth Rate (CAGR) 12,83 persen.

UKM ditengarai memiliki kontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto nasional sebesar 54 persen. Sektor tertinggi investasi yang dilakukan kalangan UKM adalah pada bidang  jasa (57%), perdagangan (20%), dan manufaktur (23%).

Slamet mengungkapkan, untuk melayani pasar UKM, DBS akan melakukan segmentasi pasar berdasarkan industri dan komunitas, serta membangun solusi sesuai dengan kebutuhan komunitas dalam format PAAS yang akan menjadi bisnis enabler

“Kami juga akan memberikan coaching clinic dengan membagun 13 Small Medium Enterprise (SME)  center di seluruh Indonesia. Ini akan signifikan membantu UKM karena banyak kegiatan bisa dilakukan di situ, misalnya virtual office,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, Praktisi Telematika Mochammad James Falahuddin menilai  langkah Telkom membentuk DBS untuk menggarap UKM sebagai hal yang tepat mengingat operator itu memiliki segalanya mulai dari backbone hingga platform service hasil kerjasama dengan pihak ketiga atau dikembangkan sendiri. “Pemain global sudah banyak yang menggarap UKM ini, Telkom harus bisa mengejar ketertinggalannya,” katanya.

Menurutnya, penyediaan solusi TIK  bagi UKM yang  menggunakan  konsep cloud computing  (melalui internet) masih memiliki pangsa pasar yang besar . “Jika berhasil,  dampak ekonominya untuk skala nasional juga besar. Ini baru namanya pembangunan broadband itu mendorong perekonomian. Bukan seperti sekarang yang tak lebih buat akses jejaring sosial,” tegasnya.

Diingatkannya,  karena sasaran adalah UKM, maka   harga layanan haruslah   terjangkau. “Inilah alasan  pendekatan delivery layanan dengan konsep cloud computing, karena diharapkan beban akan bisa di bagi bersama-sama oleh para UKM,” katanya.

Disarankannya, agar solusinya memikat UKM,  harus  ditawarkan solusi generik yang dibutuhkan, semakin generik solusinya,  potensi pasar akan semakin besar. “Selai itu  perlu melakukan pengelompokan terhadap jenis UKM yang akan disasar , lalu membuat paket solusi yang lebih spesifik. Ini membuat UKM bisa mendapatkan satu paket solusi TIK  sesuai spesifikasi merek,” katanya.

Pengamat Telematika Suhono S. Supangkat mengatakan, peluang Telkom lumayan besar memberdayakan UKM karena pesaing dari luar hanya sebagai penyedia perangkat layanan, sedangkan Telkom menguasai bisnis TIK dari hulu hingga hilir. “Pihak asing itu bisa jadi rekanan dalam melayani UKM. Sekarang tergantung Telkom memanfaatkan sumber dayanya untuk bangsa,” katanya [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s