010410 Memberikan Kail, Bukan Ikan

Industri telekomunikasi di Indonesia memiliki setiap tahunnya memiliki nilai bisnis yang tinggi. Walaupun pada tahun ini jumlahnya diperkirakan sama dengan tahun lalu, tetapi angkanya masih saja menggiurkan yakni sekitar 40 triliun rupiah.

Dampak dari nilai bisnis yang besar itu dirasakan oleh semua pelaku usaha, baik itu skala besar seperti penyedia menara atau perangkat, hingga kelas kecil layaknya penjual voucher pulsa dan kios ponsel.

Operator pun menyadari jika tidak bisa berjalan sendiri dalam membangun industri, berbagai program yang mengajak pengusaha pun dilakukan agar keuntungan dinikmati bersama. Program itu biasanya dikemas dalam konsep Corporate Social Responsibility (CSR) secara benar alias tidak hanya sebatas memberikan dana tetapi memberdayakan ekonomi rakyat.

Contoh nyata dari konsep itu adalah program private cluster yang dilakukan oleh unit Fixed Wireless Access (FWA) Telkom Flexi melalui program Private Cluster. Private Cluster adalah program memberdayakan area yang belum tersentuh oleh operator lain, biasanya di kawasan rural, dimana diler kelas Usaha Kecil dan Menengah (UKM) diajak bekerjasama mengembangkan layanan.

Deputy Commerce Telkom Flexi Judi Achmadi mengungkapkan, dalam program tersebut

UKM yang bergerak di bisnis penjualan kartu perdana dan pulsa diberikan keleluasaan mengembangkan layanan Flexi dengan dukungan penuh dari pemimpin pasar FWA itu.

“Kami memberikan dukungan pemasaran seperti pembuatan kartu perdana sesuai dengan identitas daerah, tarif khusus, dan penawaran pemasaran lainnya. Intinya kita merangsang UKM itu untuk berkompetisi alias tidak memberikan ikan, tetapi kailnya,” jelasnya.

Hasil dari program ini lumayan mengembirakan. Tingkat okupansi dari infrastruktur yang tersedia di 126 kabupaten dengan jumlah 378 BTS meningkat tiga kali lipat seteah sebelumnya hanya berada di level 40 persen. Tingkat isi ulang pulsa juga mengalami   pertumbuhan  90 persen dari  1,56 miliar   menjadi sekitar 3 miliar rupiah.

Penjualan pun naik   4 kali lipat dari    120 ribu menjadi   600 ribu nomor . Hal ini berujung pendapatan di area cluster itu  naik 45 persen dari  1,5 miliar menjadi sekitar    2,2 miliar rupiah.

“Program ini awalnya di Purwakarta Desember 2009. sekarang sudah menjalar ke  126 kabupaten di  Sumatera, Jabar, Jateng, dan  Kalimantan,” katanya.

Selanjutnya Judi menjelaskan, dukungan lain untuk membantu pengusaha kecil adalah memberikan nomor khusus bagi pelaku usaha agar mudah berpromosi. “Kita sedang menggarap komunitas usaha kecil itu untuk menggunakan Flexi. Biasanya nomor khusus itu mahal, bisa mencapai 250 ribu rupiah, tetapi untuk UKM kita berikan harga banting,” katanya.

Contoh lain dari pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil dilakukan Bakrie Telecom  melalui progran  Uber Esia (Usaha Bersama Esia).

Uber Esia sendiri merupakan program kolaborasi Bakrie Telecom, Grameen Foundation dan Qualcomm Inc yang bertujuan untuk dapat memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat pinggiran dengan  menyediakan sarana telekomunikasi sebagai modal usaha kecil mereka di bidang telekomunikasi. Jenis usaha yang dilakukan adalah wartel dan isi ulang elektronik, dimana masyarakat yang menjalankan usaha tersebut mendapatkan dukungan dan bimbingan dari PT RUMA.

“Sejak kami memulai upaya ini dari tahap perobaan hingga perkenalannya secara resmi di bulan Oktober 2009, perkembangan jumlah peminatnya luar biasa. Jumlahnya tumbuh dari 130 hingga 1600 Village Phone Operator (VPO) dan melayani lebih dari 100 ribu pelanggan dalam waktu hanya 6 bulan dan tersebar di wilayah Bekasi, Tanggerang dan Serang“, ujar Direktur Utama PT Bakrie Telecom  Anindya N Bakrie,

Dijelaskannya,  program Uber Esia ini menepis anggapan bahwa berbisnis di kalangan masyarakat dengan pendapatan terbatas tidak memiliki kelayakan usaha. Dengan tambahan pendapatan rata-rata sebesar 100 – 300 ribu rupiah  per bulan diyakini model bisnis ini mampu menunjukkan kontribusi positif bagi penciptaan kemandirian usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat di wilayah pinggiran kota.

Menurut Bank Dunia, pendapatan menengah bawah di Indonesia sebesar  2,5 dollar AS per hari. Sebanyak 63 persen dari 180 juta penduduk   hidup dengan menggantungkan diri pada sektor informal. Kelompok ini   hanya memiliki sedikit daya tawar dan akses ke  mata rantai ekonomi.  Hadirnya industri telekomunikasi diharapkan bisa membuka akses itu.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s