300310 Mojopia.com: Upaya Menaikkan Nilai Perusahaan

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akhir pekan lalu mengomersialkan secara resmi   situs Mojopia.com setelah hampir lima bulan melakukan uji coba. Situs yang menelan investasi sekitar dua juta dollar AS tersebut digadang-gadang oleh Telkom dalam waktu empat hingga lima tahun ke depan bisa menjadi salah satu pemain besar di dunia maya dan mengembalikan investasi yang dikeluarkan oleh Badan usaha Milik Negara (BUMN) itu.

“Jika portal ini menunjukkan sinyal positif, tidak tertutup kemungkinan akan dibawa ke bursa saham. Tetapi untuk sementara kita mengharapkan dua tujuan utama dari pembangunannya tercapai,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, minggu lalu.
Tujuan pertama adalah mampu menaikkan nilai bisnis Telkom sebagai perusahaan berbasis Telecomunication, Information, Media, dan Edutainment (Time). Sedangkan kedua, adalah mengoptimalkan infrastruktur yang dimiliki Telkom.
”Sebagai perusahaan telekomunikasi, Telkom sudah kuat di pasar lokal atau regional. Tetapi untuk informasi, media, dan edutainment, kita masih lemah. Padahal secara valuasi bisinis, tiga hal itu memiliki nilai lebih tinggi ketimbang telekomunikasi,” jelasnya.
Dikatakannya, di industri jika dilihat secara valuasi bisnis maka sebuah portal memiliki nilai pendapatan sebesar 7,8 kali, media (1,5 kali), sedangkan telekomunikasi (0,9 kali). Telkom sendiri hingga akhir 2009, jumlah pelanggan seluler Telkomsel mencapai sekitar 81 juta nomor, layanan telepon tetap nirkabel (FWA) Flexi 15,5 juta, dan telepon tetap (fixline) sekitar 8,2 juta.
Sementara untuk tujuan mengoptimalkan infrastruktur tak bisa dilepaskan dari gencarnya pembangunan backbone atau last mile yang dilakukan Telkom. “Kami sudah membangun jalur broadband internet. Sayang jika tidak dioptimalkan dengan platform service. Kita tidak mau hanya sebagai penyedia pipa saja,” tegasnya.
Dorong e-commerce
CEO Mojopia.com Shinta Dhanuwardoyo mengungkapkan, situs yang merupakan reinkarnasi dari Plasa.com tersebut  memiliki tiga lini bisnis yaitu e-commerce, komunikasi, dan pusat konten (Content Agregator).
“Kami ingin menjadikan Mojopia sebagai pendorong e-commerce di Indonesia. Saat ini baru tiga persen dari total 31 juta pengguna internet yang menggunakan e-commerce.  Kita harapkan angka itu bisa naik dobel digit dengan adanya situs ini ,” katanya.
Diungkapkannya, saat ini sudah terjaring 160 merchant dengan 8 ribu barang dagangan. Diharapkan hingga akhir tahun nanti ada seribu merchant dan dalam waktu tiga tahun sudah ada satu juta  barang yang diperdagangkan.
Untuk alat pembayaran disiapkan aplikasi berbasis single purpose minded yang bekerjasama dengan anak usaha Telkom lainnya, Finnet. Tahap awal pembayaran berkerjasama dengan BII. Ke depan akan bisa dilakukan melalui digital wallet yang dikembangkan oleh Telkomsel Cash dan Flexi Cash.
Chief Innovation Officer Andi S.Boediman menjelaskan angka satu juta produk yang diperdagangkan merupakan critical mass yang harus dicapai oleh satu portal e-commerce jika ingin masuk pada kategori menguntungkan. ”Di Korea Selatan atau Jepang butuh waktu 10 tahun mencapai critical mass. Kami akan menggencarkan edukasi agar angka crtitcal mass bisa dicapai dalam waktu tiga tahun,” jelasnya.
Andi menjelaskan, sebagai  content agregator, Mojopia menjanjikan  pelanggan menikmati konten hiburan setiap saat dan dimana saja. Sedangkan dalam layanan komunikasi disediakan berbagai aplikasi menarik seputar komunikasi online serta beragam fasilitas layanan iklan sebagai media komunikasi bagi para pebisnis dengan pelanggannya.
Sedangkan untuk content agregator, lanjutnya, Mojopia akan membidik kreator games, content premium, dan musik. Mojopia mengharapkan,  para penyedia konten yang selama ini  memiliki kendala mendistribusikan produknya ke operator dapat dijembataninya.
“Telkom grup itu memiliki 100 juta pelanggan. Ini adalah kekuatan Mojopia, Pasar konten lebih terukur karena bisnisnya antarperusahaan. Bisnis games saja nilainya bisa mencapai 300 miliar rupiah,” jelasnya.
Andalkan Iklan
Bisnis jangka panjang dari Mojopia boleh saja mengandalkan tiga lini bisnis, tetapi untuk jangka pendek, Andi berusaha realistis. Berjualan ruang iklan di internet akan dijadikan alat untuk menopang operasional sehari-hari.
”Kami harus realistis karena Telkom adalah perusahaan publik. Tentu kita tetap harus memberikan pendapatan bagi induk usaha,” katanya.
Angka lima miliar rupiah dari 220 miliar belanja iklan untuk internet tahun ini pun dipatok. Selain itu diharapkan akan ada tambahan nantinya dari mobile advertising sebesar 19,5 miliar rupiah atau sekitar 13 persen dari total 150 milar rupiah total belanja iklan melalui ponsel.
Untuk diketahui, di kalangan Netprenuer (wirausaha berbasis internet) dikenal empat model bisnis internet. Pertama, menjadikan internet sebagai etalase barang dagangan. Pelopor model ini adalah Amazon.com.
Kedua, membuat situs dengan target mendapatkan banyak anggota atau hit ke situs agar ada pemasang iklan yang datang.  Ini model yang paling umum dilakukan di internet. Nama besar seperti  google, yahoo , youtube, dan  facebook pantas diapungkan.
Ketiga,  fee based transaction seperti yang dilakukan oleh bay.com dan paypal.com. keempat,  model bisnis broker (middleman) seperti   yang  oleh alibaba.com. Mojopia sendiri jika ditelaah sepertinya mengambil model bisnis nomor  tiga dan empat.
Berdasarkan kalkulasi website outlook, plasa.com dinilai 171.039 dollar AS dengan jumlah kunjungan 77.355 per hari. Sedangkan detik.com  memiliki nilai  5.3 juta dollar AS dengan jumlah kunjungan  2.417.582 per hari.

Tantangan Berat

Secara terpisah, Praktisi telematika Suryatin Setiawan mengatakan, untuk mengembangkan mojopia lumayan berat tantangannya. Hal itu dimulai dari budaya masyarakat Indonesia yang masih menikmati proses tawar-menawar dan melihat langsung barang sebelum melakukan jual-beli, hingga factor standar angka critical mass.

“Angka satu juta produk itu tidak ada standar yang jelas. Untuk mencapai  critical mass harus dibangun secara  bertahap melalui  jumlah pengunjung portal, merchant yang mendaftar, dan   volume transaksi. Tetapi saya rasa itu bias dicapai dengan dukungan nama besar Telkom dibelakangnya,” katanya.

Jika dihitung, angka 1 juta produk memang tidak relevan dengan asumsi nilai transaksi 100 ribu rupiah dan  fee 5 persen. Dalam waktu tiga tahun baru terkumpul uang lima miliar rupiah. Jauh dari investasi awal dua juta dollar AS.

Menurut Praktisi telematika lainnya, Mochammad James Falahuddin, mojopia  harus berusaha keras untuk membentuk pasar  yang mau membeli dari situs itu  karena pesaing lama sudah banyak “Mojopia   harus bisa memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh  online store yang sudah bertebaran,” jelasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s