300310 Pejabat Dirjen Postel Diharapkan Memiliki Integritas

JAKARTA—Pejabat Dirjen Postel yang akan dilantik oleh Menkominfo Tifatul Sembiring pada Rabu (31/3) nanti diharapkan memiliki integritas sehingga bisa menjaga industri telekomunikasi.

“Tidak masalah jika latar belakang pendidikannya bukan dari telekomunikasi. Hal yang penting adalah memiliki integritas dan tahu sektor telekomunikasi akan dibawa kemana,” tegas Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P S kepada Koran Jakarta, Senin (29/3).

Sebelumnya, Kementrian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) mengumumkan akan melantik pejabat Dirjen Postel baru yakni M. Budi Setiawan menggantikan Basuki Yusuf Iskandar.

Pria yang pernah menjadi  Deputi II Menpora bidang Pengembangan Kepemimpinan Pemuda era Adhyaksa Dault ini akan menjadi Pelaksana Tugas (PLT) Dirjen Postel dan juga Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) sebagai wakil pemerintah.

Doktor lulusan Tokyo yang mendalami ilmu nuklir ini berdasarkan penelusuran di laman-laman internet tercatat sebagai salah satu deklarator dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga institusi dari Tifatul Sembiring.

Ditjen Postel sendiri memiliki banyak pekerjaan rumah yakni tentang belum bersihnya frekuensi 2,3 GHz untuk penyelenggaraan Broadband Wireless Access (BWA), klarifikasi kepemilikan satelit Indostar II, dan pencabutan izin prinsip Internux yang mangkir membayar kewajiban kepada negara.

Banyak pihak dari komunitas telematika menyayangkan Tifatul tidak mengangkat Dirjen definitif yang diproses melalui Tim Penilai Akhir (TPA) yang diketuai Presiden. Seoarang PLT dianggap tidak bisa mengambil kebijakan strategis dan tak lebih sebagai pejabat administrasi. Padahal sektor telekomunikasi memiliki nilai bisnis lumayan besar yakni 40 triliun rupiah dan tengah menghadapi era konvergensi.[dni]

300310 Laba Bersih Bakrie Telecom Anjlok 28 %

JAKARTA—Laba bersih PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) pada 2009  hanya sebesar  98 miliar rupiah atau mengalami penurunan 28 persen dibandingkan periode sama 2008 sebesar 137 miliar rupiah.

Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk, Anindya N Bakrie menjelaskan, penurunan laba terjadi karena   beban biaya bunga dan depresiasi yang cukup tinggi sehingga laba menjadi terkoreksi.

“Secara umum kinerja perseroan sudah baik. Kami masih tetap fokus untuk pertumbuhan organik,” katanya melalui keteranagn tertulis, Senin (29/3).

Kinerja yang masih positif ditunjukkannya dengan pendapatan usaha selama tahun 2009  sebesar  3,436 triliun rupiah atau naik  22,5 persen  dibanding   2008  sekitar  2,805 triliun rupiah.

Demikian pula pendapatan usaha bersih perseroan yang  meningkat sebesar 24,5 persen . Di tahun 2009 lalu pendapatan usaha bersih tercatat senilai 2,743 triliun rupiah . Sedangkan ditahun sebelumnya pendapatan bersihnya 2,202 triliun rupiah.

Anin menjelaskan, kenaikan pendapatan usaha tersebut terutama didorong oleh laju pertumbuhan pelanggan sebesar 45,2 persen . Jika pada tahun 2008 jumlah pelanggan perseroan tercatat sebesar 7,3 juta pelanggan maka di tahun 2009 jumlah pelanggannya mencapai 10,6 juta.

Hal ini sekaligus menandakan keberhasilan Bakrie Telecom dalam memenuhi target pertumbuhan pelanggan yang memang dipatok sebesar 10,5 juta pelanggan. Untuk tahun 2010 perseroan mencanangkan peningkatan target hingga mencapai 14 juta pelanggan.

Disamping pendapatan, lonjakan tinggi juga terlihat pada EBITDA (Earnings Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization) dimana Bakrie Telecom membukukan pertumbuhan sebesar 54,2 persen  year on year. Pada tahun 2008, EBITDA Bakrie Telecom tercatat senilai  823 miliar rupiah , sedangkan periode yang sama tahun berikutnya EBITDA Bakrie Telecom meningkat menjadi 1,269 triliun rupiah.

“Kami akan tetap fokus memberikan  layanan suara dan sms  melalui inovasi yang terbukti selama ini menjadikan Esia diminati pasar,” katanya.

300310 Tender Internet Kecamatan Layak Diulang

JAKARTA—Tender pengadaan internet untuk tingkat kecamatan layak diulang jika sanggahan yang dimunculkan oleh para peserta tidak puas terbukti.

“Saya rasa tender itu layak diulang jika ada bukti kuat dari penyanggah. Apalagi ini menyangkut kepentingan publik,” tegas Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Roy Rahajasa Yamin kepada Koran Jakarta, Senin (29/3).

Sekjen Himpunan Pemerhati Pos Telematika Indonesia (HPPTI) Lukman Adjam mengungkapkan Menkominfo selaku penanggung jawab anggaran tender USO Internet Kecamatan harus bertanggung jawab atas potensi kerugian negara hingga ratusan miliar rupiah akibat penetapan pemenang yang tidak sesuai rencana kerja dan syarat—syarat (RKS).

“Untuk itu, sebaiknya proses tender harus diulang, sehingga keterlibatan penyelenggara jasa Internet dan peserta tender lainnya yang dirugikan akibat proses tender dan sistem penentuan pemenang saat itu bisa diakomodasikan lagi,” ujarnya.

Sebelumnya, dua peserta tender yakni Konsorsium Indonesia Comnet Plus (Icon+) yang didukung PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti)   dan Telkom   melayangkan surat sanggahan terkait keputusan pemenang tender.

Konsorsium itu yakin unggul dalam mengajukan penawaran harga terendah dan nilai aspek teknis tertinggi tetapi kalah dalam tender. Telkom  juga  mempertanyakan kekalahannya di paket 4 atas PT Sarana Insan dan paket 6 atas PT Jastrindo meski duduk di peringkat ke-2.

Dirut PT Inti Irfan Setiaputra,  mengungkapkan pihaknya akan melakukan banding .“Sejak awal kami sangat kecewa dengan pengumuman pemenang tender tersebut, karena kami telah mengajukan penawaran harga terendah dengan nilai bobot total  tertinggi di 6 paket pekerjaan (Paket1,2,3,4,5 dan 6). Kita akan terus mencari keadilan,” ujarnya.

Kepala Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan Kementerian Kominfo Santoso Serad,  menegaskan pihaknya tidak akan terpengaruh dengan wacana tender ulang pengadaan pusat layanan internet kecamatan menyusul ketidakpuasan peserta tender yang mengajukan hak sanggah.

“Pengulangan tender dasarnya apa, panitia menggelar tender USO dengan profesional dan berdasarkan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Penilaian yang kemudian berkembang bahwa tender tersebut berpotensi merugikan negara menurut Santoso sangat subyektif dan menyudutkan panitia tender.

Tender dengan pagu total sekitar 1,4 triliun rupiah  untuk lima tahun itu akan menyediakan jasa akses Internet dengan kecepatan transfer data minimal 256 Kbps (downlink) dan 128 Kbps (uplink) yang akan tersambung untuk pelayanan 5.748 PLIK.

Layanan ini akan melibatkan 28.740 PC (personal computer) client atau komputer pengakses server yang dapat diselenggarakan secara terpusat dan terjamin keberlangsungan layanannya.[dni]

300310 BRTI Tidak Ingin Ciderai Kompetisi

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menegaskan tidak ingin menciderai kompetisi ketat yang telah terjadi di industri dengan masuk ke ranah teknis persaingan.

“Kompetisi di sektor telekomunikasi sudah ketat dan sehat sejak dilakukan liberalisasi. BRTI tidak akan masuk ke ranah teknis yang berujung menganggu kompetisi,” tegas Anggota Komite BRTI Nonot Harsono di Jakarta, Senin (29/3).

Menurutnya, BRTI hanya akan menjaga pelanggan tidak tercurangi dari kompetisi yang dilakukan oleh operator dengan mengawasi setiap penawaran dari operator. “Tidak mungkin BRTI sampai mengatur jumlah tarif promosi yang diberikan oleh satu operator. Itu namanya menciderai kompetisi. Tarif promosi itu adalah alat untuk berkompetisi. Kita hanya menjaga penawaran itu tidak bertentangan dengan regulasi,” katanya.

Ditegaskannya, sebagai pengawas lembaganya tergolong moderat. Hal itu bisa dilihat dari kesan dibiarkannya penawaran SMS gratis padahal jelas-jelas melanggar kesepakatan. “Kami ingin bukti juga tentang SMS gratis itu benar membebani jaringan. Sekarang yang mengeluh (Telkomsel) melakukan, nanti kita minta trafik datanya,” katanya.

Sebelumnya, Indonesia Telecommunication Users Group (IDTUG) meminta    operator telekomunikasi tidak menerapkan terlalu banyak tipe tarif karena dinilai membingungkan, bahkan menjebak konsumen.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ini menyarankan  satu operator menerapkan dua atau tiga tipe tarif saja.

Menanggapi hal itu, Nonot meminta IDTUG untuk memberikan kajian teknis dan menyerahkan ke BRTI agar bisa dibahas bersama. “Baiknya tindakannya kongkrit ketimbang beropini di masyarakat,” tegasnya.

Berdasarkan catatan, IDTUG sering mempertanyakan kebijakan satu operator, tetapi  akhir dari cerita jarang yang transparan di media massa. LSM ini pernah mempertanyakan SMS Premium rekanan Telkomsel, CIA Mobile, kebijakan pemotongan bandwitdh Telkomsel Flash, dan terakhir melaporkan Indosat dan mitra SMS Premiumnya ke pihak berwajib.

Salah satu aktivis IDTUG yang menjadi Sekretaris Jenderal,  Muhamad Jumadi Idris tercatat pernah menjadi Calon Legislatif 2009  untuk wilayah Indonesia Timur dari  Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK).

Jumadi sendiri pernah digadang-gadang akan menjadi staf khusus Menkominfo kala pembentukan kabinet Indonesia Bersatu II, namun sayangnya gagal karena Menkominfo diisi oleh wakil dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).[dni]

300310 Mojopia.com: Upaya Menaikkan Nilai Perusahaan

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akhir pekan lalu mengomersialkan secara resmi   situs Mojopia.com setelah hampir lima bulan melakukan uji coba. Situs yang menelan investasi sekitar dua juta dollar AS tersebut digadang-gadang oleh Telkom dalam waktu empat hingga lima tahun ke depan bisa menjadi salah satu pemain besar di dunia maya dan mengembalikan investasi yang dikeluarkan oleh Badan usaha Milik Negara (BUMN) itu.

“Jika portal ini menunjukkan sinyal positif, tidak tertutup kemungkinan akan dibawa ke bursa saham. Tetapi untuk sementara kita mengharapkan dua tujuan utama dari pembangunannya tercapai,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, minggu lalu.
Tujuan pertama adalah mampu menaikkan nilai bisnis Telkom sebagai perusahaan berbasis Telecomunication, Information, Media, dan Edutainment (Time). Sedangkan kedua, adalah mengoptimalkan infrastruktur yang dimiliki Telkom.
”Sebagai perusahaan telekomunikasi, Telkom sudah kuat di pasar lokal atau regional. Tetapi untuk informasi, media, dan edutainment, kita masih lemah. Padahal secara valuasi bisinis, tiga hal itu memiliki nilai lebih tinggi ketimbang telekomunikasi,” jelasnya.
Dikatakannya, di industri jika dilihat secara valuasi bisnis maka sebuah portal memiliki nilai pendapatan sebesar 7,8 kali, media (1,5 kali), sedangkan telekomunikasi (0,9 kali). Telkom sendiri hingga akhir 2009, jumlah pelanggan seluler Telkomsel mencapai sekitar 81 juta nomor, layanan telepon tetap nirkabel (FWA) Flexi 15,5 juta, dan telepon tetap (fixline) sekitar 8,2 juta.
Sementara untuk tujuan mengoptimalkan infrastruktur tak bisa dilepaskan dari gencarnya pembangunan backbone atau last mile yang dilakukan Telkom. “Kami sudah membangun jalur broadband internet. Sayang jika tidak dioptimalkan dengan platform service. Kita tidak mau hanya sebagai penyedia pipa saja,” tegasnya.
Dorong e-commerce
CEO Mojopia.com Shinta Dhanuwardoyo mengungkapkan, situs yang merupakan reinkarnasi dari Plasa.com tersebut  memiliki tiga lini bisnis yaitu e-commerce, komunikasi, dan pusat konten (Content Agregator).
“Kami ingin menjadikan Mojopia sebagai pendorong e-commerce di Indonesia. Saat ini baru tiga persen dari total 31 juta pengguna internet yang menggunakan e-commerce.  Kita harapkan angka itu bisa naik dobel digit dengan adanya situs ini ,” katanya.
Diungkapkannya, saat ini sudah terjaring 160 merchant dengan 8 ribu barang dagangan. Diharapkan hingga akhir tahun nanti ada seribu merchant dan dalam waktu tiga tahun sudah ada satu juta  barang yang diperdagangkan.
Untuk alat pembayaran disiapkan aplikasi berbasis single purpose minded yang bekerjasama dengan anak usaha Telkom lainnya, Finnet. Tahap awal pembayaran berkerjasama dengan BII. Ke depan akan bisa dilakukan melalui digital wallet yang dikembangkan oleh Telkomsel Cash dan Flexi Cash.
Chief Innovation Officer Andi S.Boediman menjelaskan angka satu juta produk yang diperdagangkan merupakan critical mass yang harus dicapai oleh satu portal e-commerce jika ingin masuk pada kategori menguntungkan. ”Di Korea Selatan atau Jepang butuh waktu 10 tahun mencapai critical mass. Kami akan menggencarkan edukasi agar angka crtitcal mass bisa dicapai dalam waktu tiga tahun,” jelasnya.
Andi menjelaskan, sebagai  content agregator, Mojopia menjanjikan  pelanggan menikmati konten hiburan setiap saat dan dimana saja. Sedangkan dalam layanan komunikasi disediakan berbagai aplikasi menarik seputar komunikasi online serta beragam fasilitas layanan iklan sebagai media komunikasi bagi para pebisnis dengan pelanggannya.
Sedangkan untuk content agregator, lanjutnya, Mojopia akan membidik kreator games, content premium, dan musik. Mojopia mengharapkan,  para penyedia konten yang selama ini  memiliki kendala mendistribusikan produknya ke operator dapat dijembataninya.
“Telkom grup itu memiliki 100 juta pelanggan. Ini adalah kekuatan Mojopia, Pasar konten lebih terukur karena bisnisnya antarperusahaan. Bisnis games saja nilainya bisa mencapai 300 miliar rupiah,” jelasnya.
Andalkan Iklan
Bisnis jangka panjang dari Mojopia boleh saja mengandalkan tiga lini bisnis, tetapi untuk jangka pendek, Andi berusaha realistis. Berjualan ruang iklan di internet akan dijadikan alat untuk menopang operasional sehari-hari.
”Kami harus realistis karena Telkom adalah perusahaan publik. Tentu kita tetap harus memberikan pendapatan bagi induk usaha,” katanya.
Angka lima miliar rupiah dari 220 miliar belanja iklan untuk internet tahun ini pun dipatok. Selain itu diharapkan akan ada tambahan nantinya dari mobile advertising sebesar 19,5 miliar rupiah atau sekitar 13 persen dari total 150 milar rupiah total belanja iklan melalui ponsel.
Untuk diketahui, di kalangan Netprenuer (wirausaha berbasis internet) dikenal empat model bisnis internet. Pertama, menjadikan internet sebagai etalase barang dagangan. Pelopor model ini adalah Amazon.com.
Kedua, membuat situs dengan target mendapatkan banyak anggota atau hit ke situs agar ada pemasang iklan yang datang.  Ini model yang paling umum dilakukan di internet. Nama besar seperti  google, yahoo , youtube, dan  facebook pantas diapungkan.
Ketiga,  fee based transaction seperti yang dilakukan oleh bay.com dan paypal.com. keempat,  model bisnis broker (middleman) seperti   yang  oleh alibaba.com. Mojopia sendiri jika ditelaah sepertinya mengambil model bisnis nomor  tiga dan empat.
Berdasarkan kalkulasi website outlook, plasa.com dinilai 171.039 dollar AS dengan jumlah kunjungan 77.355 per hari. Sedangkan detik.com  memiliki nilai  5.3 juta dollar AS dengan jumlah kunjungan  2.417.582 per hari.

Tantangan Berat

Secara terpisah, Praktisi telematika Suryatin Setiawan mengatakan, untuk mengembangkan mojopia lumayan berat tantangannya. Hal itu dimulai dari budaya masyarakat Indonesia yang masih menikmati proses tawar-menawar dan melihat langsung barang sebelum melakukan jual-beli, hingga factor standar angka critical mass.

“Angka satu juta produk itu tidak ada standar yang jelas. Untuk mencapai  critical mass harus dibangun secara  bertahap melalui  jumlah pengunjung portal, merchant yang mendaftar, dan   volume transaksi. Tetapi saya rasa itu bias dicapai dengan dukungan nama besar Telkom dibelakangnya,” katanya.

Jika dihitung, angka 1 juta produk memang tidak relevan dengan asumsi nilai transaksi 100 ribu rupiah dan  fee 5 persen. Dalam waktu tiga tahun baru terkumpul uang lima miliar rupiah. Jauh dari investasi awal dua juta dollar AS.

Menurut Praktisi telematika lainnya, Mochammad James Falahuddin, mojopia  harus berusaha keras untuk membentuk pasar  yang mau membeli dari situs itu  karena pesaing lama sudah banyak “Mojopia   harus bisa memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh  online store yang sudah bertebaran,” jelasnya.[dni]

300310 Andalkan UKM

Mojopia.com bisa dikatakan sebagai situs yang beruntung dibandingkan para pemain sejenis. Bagaimana tidak? Walaupun bagian dari PT Metranet, tetapi induk usaha dari portal ini adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

Basis pasar dan dukungan dana yang besar tentu akan diberikan oleh Telkom kepada super portal ini karena menyangkut reputasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu  di bisnis internet.

Untuk menunjukkan dukungannya, Telkom memberikan pintu masuk bagi Mojopia menggarap sekitar 32 ribu mitra  Usaha Kecil dan Menegah (UKM) yang dibina oleh Telkom.

“Portal ini memang menjadikan UKM sebagai basis merchant. Kami telah melakukan pemetaan mitra UKM mana yang sudah melek internet dan memberikan  program  pemberdayaan  untuk mendukung mereka memanfaatkan portal ini sebagai alat membuka peluang pasar baru,” ungkap Chief Innovation Officer Andi S.Boediman di Jakarta, belum lama ini.

Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo mengungkapkan, Telkom mulai fokus melayani segmen Small, Medium Enterprise (SME) karena sadar sebagai perusahaan yang sahamnya dimiliki negara punya kewajiban mendukung ekonomi rakyat. ”Kami sudah membentuk Divisi Business Service (DBS). Diperkirakan dengan adanya divisi ini pertumbuhan pendapatan dari SME untuk Telkom bisa mencapai 40 persen tahun ini,” katanya.

Dijelaskannnya, DBS  dibentuk Telkom dikhususkan untuk mengelola pelanggan bisnis yang sebagian besar merupakan segmen UKM. Pada segmen ini, Telkom akan menawarkan beragam solusi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan bisnis melalui penerapan teknologi komunikasi informasi (ICT) yang tepat.

Beberapa aplikasi berbasis platform as as services (PAAS) cloud computing sudah disiapkan Telkom, di antaranya e-UKM, aplikasi untuk BPR (Bank Perkreditan Rakyat), aplikasi untuk pengelolaan koperasi, dan lainnya.

Executive General Manager DBS  Telkom Slamet Riyadi menjelaskan, mojopia.com adalah main content SME online untuk mendukung operasionalisasi SME Center melalui layanan e-commerce. “Keuntungan dari SME online adalah UKM bisa menambah item dan kategori produk dan menjangkau pasar global,”jelasnya.

SME Center adalah pusat layanan pengembangan UKM yang didirikan Telkom dengan tujuan meningkatkan kompetensi dan daya saing pengusaha kecil melalui penyediaan solusi TI sebagai business enabler. Rencananya akan ada 13 SME Center di seluruh Indonesia.

Praktisi telematika Suryatin Setiawan mengakui,   potensi segmen SME  memang besar bagi operator telekomunikasi, namun para pemain tidak boleh menganggap segmen itu hanya sebagai pasar. “Suatu kesalahan kalau dianggap  SME adalah pasar yang sudah matang dan siap untuk digarap. Perlu upaya khusus untuk menggarap pasar SME,” katanya.

Disarankannya, operator harus mengedepankan edukasi tentang pentingnya TIK bagi SME agar pelaku usaha di sektor itu menyadari bahwa inovasi teknologi bisa membuka peluang baru bagi mereka. “Jangan jadikan SME sebagai konsumen. TIK harus menjadi alat pemberdayaan untuk mejadikan SME mandiri,” katanya.

Berdasarkan catatan, belanja solusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TI) yang dilakukan kalangan Usaha Kecil dan Menegah (UKM) hingga empat tahun kedepan mencapai 60,3 persen atau senilai 18,6 triliun rupiah.

Pada tahun ini diperkirakan belanja TI dari kalangan UKM dan Koperasi bisa mencapai 11,6 triliun rupiah. Sedangkan  pada tahun depan bisa tumbuh 10,9 persen atau senilai 12,87 triliun rupiah, dengan nilai Compound Annual Growth Rate (CAGR) 12,83 persen.

.Berdasarkan catatan,  hingga Juni 2009, koperasi di Indonesia telah berjumlah 166.155 unit dengan  permodalan koperasi aktif yang terdiri dari modal sendiri  27,27 triliun rupiah dan modal luar  36,25 triliun rupiah dengan nilai volume usaha  55,26 triliun rupiah.

Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2009 mencatat jumlah UKM di Indonesia sebanyak 520.220 unit. Diperkirakan akan ada 600.000 pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) baru pada 2010. Sementara  dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan sejak Januari 2008-Januari 2010  sekitar  17,541 triliun rupiah untuk 2,4 juta debitur.

Sektor tertinggi investasi yang dilakukan kalangan SME adalah pada bidang  jasa (57%), perdagangan (20%), dan manufaktur (23%).  SME ditengarai memiliki kontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto nasional sebesar 54 persen. [dni]

290310 Axiata Batal Lepas 20% Saham

JAKARTA–Axiata Group Berhad batal melepas 20 persen sahamnya di PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan lebih memilih  melepas 18 persen  saham (1,531,440,000 lembar)  ke pasar di harga  3.300 rupiah per saham.

Total dana yang akan diperoleh Axiata Berhad sekitar  5 triliun rupiah.

Pelepasan saham ini juga mengalami kelebihan permintaan (oversubsribe ) 3-4 kali. Axiata Group juga mempunyai kemungkinan untuk upsized dalam bentuk green shoe sebesar 153 juta saham atau setara dengan 1,8% dari total saham.

Sebelumnya,   Axiata berniat melepas  20 persen  sahamnya di XL dan diperkirakan  menghasilkan lebih dari 2,2 miliar Ringgit atau sekitar  6,094 triliun rupiah. Saat ini XL Axiata tercatat memberikan kontribusi hingga 36% EBITDA Axiata.

“Harga yang ditetapkan di harga tertinggi,  3.300 rupiah per saham, dengan oversubsribe mencapai 3-4 kali. Pelepasan saham ini merupakan rekor yang pernah dilakukan di Indonesia dalam 10 tahun terakhir,” ujar Presiden dan CEO Group Axiata Dato’ Sri Jamaludin Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Minggu (28/3)

Diungkapkannya, selaku penjamin emisi dalam pelaksanaan penjualan saham ini terdiri dari lima pihak. Diantaranya Goldman Sachs selaku lead offering , kemudian disusul dengan CIMB Investment Bank Berhard (Join Bookrunners), PT Mandiri Sekuritas, J.P Morgan Securities Ltd dan Morgan Stanley Services Limited.

Investor publik domestik dipastikan mendapat porsi 50-80 persen  dari penawaran saham. Sayangnya, manajemen XL  belum bisa memastikan penggunaan dana hasil penjualan saham 1,531 miliar saham, karena crossing -nya sendiri baru dilakukan pada tanggal 1 April 2010.

“Kita belum diberi keterangan dari Axiata, karena crossing sendiri baru dilakukan pada Kamis, jam 4 sore,” papar Presdir XL Hasnul Suhaimi.

Proses bookbuilding  ini juga dilakukan selama 10 hari ke belakang, dengan melakukan roadshow ke beberapa kota, diantaranya Jakarta, Singapura, New York, Boston, Washington, Hongkong, London dan Edenberg.

“Sebelum di Jakarta, kita lakukan free marketing di Kamis (18/3/2010),” tambah Direktur Mandiri Sekuritas Iman Rachman.

Sebelumnya, dalam Bursa Malaysia dilaporkan Axiata memasang harga pada kisaran  3.000 – 3.300 rupiah per saham. Total dana yang akan diperoleh Axiata Berhad sekitar  5,104 – 5,615 triliun rupiah.

Disebutkan bahwa harga final masih bisa berubah bahkan berada di luar kisaran di atas seiring dengan proses bookbuilding . Proses penawaran awal (bookbuilding) diperkirakan bakal selesai pada 22 Maret 2010.

Axiata Berhad merupakan pemilik 7,359 miliar saham EXCL atau setara dengan 86,5 persen  dari total saham EXCL sebanyak 8,508 miliar saham. Pemegang saham EXCL lainnya adalah ETISALAT sebanyak 1,131 miliar saham (13,3%) dan sisanya publik 17,016 juta saham (0,2%)

Sebelumnya, pada tahun lalu XL  melakukan right issue (penerbitan saham baru)  senilai 2,836 triliun rupiah atau sebanyak 1,418 juta lembar saham guna membayar hutang perseroan.

Dana hasil right issue tersebut akan digunakan untuk membayar utang sindikasi perseroan yaitu DBS Bank Ltd, Export Development Canada, The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ Ltd, dan Chinatrust Commercial Bank.

Selain itu juga untuk melunasi utang kepada Bank Mandiri, PT Bank Mizuho Indonesia, DBS Bank Ltd, dan pinjaman Export Kreditnamden (EKN) Buyer Credit Facility yang didanai Swedish Export Credit Corporation.

XL sendiri pada tahun ini memiliki  total hutang jatuh tempo sebesar 1,7 triliun rupiah. Perseroan telah menetapkan tidak akan berhutang dan akan membayar hutang dengan dana internal.[Dni[