290310 Telkom Tegaskan Tidak Proaktif Akuisisi Operator

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menegaskan tidak akan proaktif dalam aksi mengakuisisi operator lain karena perseroan ingin lebih fokus menguatkan segmen Teknologi Informasi (TI), Media, dan Edutainment.

“Saya tegaskan, kalau untuk aksi akuisisi operator yang berarti bisnis telekomunikasi, kami tidak akan proaktif. Tetapi untuk tiga bidang di atas dimana Telkom masih belum kuat, kita agresif,” tegas Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah kepada Koran Jakarta, Minggu (28/3).

Rinaldi mengakui, perseroan menyiapkan dana sebesar satu triliun rupiah untuk aksi akusisi di 2010, namun lebih dititikberatkan untuk membeli perusahaan yang mendukung Telkom di bisnis TI, media, dan edutainment.

“Kalau telekomunikasi atau operator, kami sudah kuat. Namun, saya akui kita ada bincang-bincang dengan beberapa operator, tetapi itu bukan artinya kita agresif. Kita lebih banyak menunggu,” jelasnya.

Sebelumnya, Komisaris Utama Telkom, Tanri Abeng mengungkapkan, seiring dipisahnya  unit usaha Fixed Wireless Access (FWA), Flexi, sudah ada  tiga perusahaan telekomunikasi dalam negeri maupun luar negeri ingin berkonsolidasi  dalam  bentuk merger.

Tanri mengungkapkan, saat ini Telkom tengah melakukan kajian terhadap tawaran konsolidasi dari Esia, Smart, dan sebuah perusahaan telekomunikasi berbasis CDMA asal Korea Selatan (Korsel).

Masih menurut Tanri,   Bakrie Telecom   menjadi peminang potensial selain  perusahaan CDMA asal Korsel yang  sudah melakukan pendekatan sejak tahun lalu. ”Mereka serius dan tawaran itu sudah sejak lama. Kajiannya harus selesai sebelum akhir tahun,” katanya.

Sementara Executive General Manager Telkom Flexi Triana Mulyatsa mengaku tidak tahu menahu dengan aksi korporasi yang akan dilakukan terhadap Flexi. “Wah, itu urusan para pimpinan di atas. Saya hanya fokus mengembangkan usaha ini menjadi profit center bagi perusahaan,” katanya.

Triana mengungkapkan, salah satu aksi yang dilakukannya untuk menjadikan Flexi memiliki 18 juta pelanggan pada akhir 2010 adalah dengan  membidik pasar komunitas yakni melalui produk Flexi-SPSI. “Kita membidik dua juta pelanggan dari komunitas SPSI hingga akhir 2011. Saat ini pemesanan sudah mencapai 56.000 unit,” jelasnya.

Ponsel Flexi-SPSI   merupakan perangkat telepon dengan aplikasi pintar yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkan pekerja antara lain tentang informasi upah minimum, penyelesaian perselisihan, Jamsosteknas  dan info bursa kerja.

Flexi pada 2009 memiliki  15,7 juta pelanggan dengan dukungan 5.500 unit BTS. Unit usaha ini ditargetkan Telkom mampu menghasilkan omset sebesar 4 triliun rupiah pada 2010.

Jaringan kabel laut
Berkaitan dengan pembangunan dari infrastruktur yang dimiliki Telkom, Rinaldi mengungkapkan, perseroan menyiapkan dana 160 hingga 170 juta dollar AS untuk membangun jaringan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) JaKa2LaDeMa yang menghubungkan  Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Denpasar, dan Mataram. Proyek ini akan selesai pada September nanti.

Dikatakannya, untuk pembangunan infrastruktur itu Telkom mendapatkan pinjaman dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) hampir 60 juta dolar AS. Terdiri dari, 60 persen pinjaman langsung dan 40 fasilitas Mizuho Corporate Bank, Ltd dengan jangka waktu pinjaman selama 5 tahun dan   bunga sangat kompetitif. Sedangkan Sisa dana pembangunana  akan diambil dari dana internal Telkom.[dni]

290310 KPPU akan Terbitkan Pedoman Integrasi Vertikal

JAKARTA—Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) akan menerbitkan pedoman integrasi vertikal untuk mencegah praktik persaingan tidak sehat pada akhir April nanti.

Integrasi vertikal adalah perjanjian yang bertujuan untuk menguasai beberapa unit usaha yang termasuk dalam rangkaian produksi barang dan atau jasa tertentu. Integrasi vertikal bisa dilakukan dengan strategi penguasaan unit usaha produksi ke hulu dimana perusahaan memiliki unit usaha hingga ke penyediaan bahan baku maupun ke hilir dengan kepemilikan unit usaha hingga ke distribusi barang dan jasa hingga ke konsumen akhir.

“Integrasi vertikal itu memiliki dampak positif dan negatif bagi persaingan usaha. Untuk menjaga semua berjalan pad koridornya, pedoman ini perlu diterbitkan,” ungkap Direktur Komunikasi KPPU A. Junaidi di Jakarta, Minggu (28/3).

Menurutnya, sisi positif dari aksi korporasi itu adalah  dapat membatasi margin ganda sehingga konsumen dapat diuntungkan karena bisa mendapatkan produk dengan harga yang lebih murah. Perusahaan juga diuntungkan dengan strategi ini melalui pemanfaatan efisiensi teknis dan efisiensi biaya transaksi sehingga laba total yang didapatkan akan lebih besar dibandingkan bila mereka harus membeli bahan baku dari perusahaan lain atau mendistribusikan produknya lewat perusahaan lain.

Sedangkan sisi negatifnya adalah   menghambat persaingan karena dapat meningkatkan biaya yang harus ditanggung pesaing untuk mengakses bahan baku atau jalur distribusi yang dibutuhkan untuk menjual produknya. Selain itu,   juga dapat mengurangi ketersediaan bahan baku dan meningkatkan modal yang dibutuhkan untuk masuk ke pasar.

“Integrasi vertikal juga memicu terjadinya  transfer pricing untuk menghambat pesaing baru masuk ke pasar  dengan kekuatan integrasi vertikalnya. Ini harus dihindari,” katanya.

Transfer pricing adalah praktik  memberikan harga yang lebih rendah kepada perusahaan yang terintegrasi dibawahnya dengan tujuan membuat biaya produksi lebih rendah sehingga mengakibatkan harga jual yang lebih rendah dibanding pesaingnya karena biaya produksi yang relatif lebih rendah.

Tujuannya adalah menekan biaya yang terjadi di level terbawah (dari unit ritel ke tangan konsumen) yang akan menjadi relatif lebih rendah dibandingkan dengan biaya produk yang tidak berasal dari proses integrasi vertikal.[dni]