250310 Tak Selamanya Indah

Aksi korporasi merger atau akuisisi sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru di industri telekomunikasi. Banyak kasus merger atau akusisi yang terjadi. Ada yang berakhir manis atau pahit   bagi pelakunya.

Sebutlah merger yang dilakukan Komselindo, Metrosel dan Telesera pada awal 2000 yang menghasilkan Mobile-8 Telecom Tbk. Operator ini mengalami kesulitan keuangan sejak dua tahun lalu, dan berujung pada disuntiknya dana oleh Sinar Mas Grup, sehingga menghasilkan sinergi  Smart-Fren.

Smart Telecom (Smart) pun merupakan gabungan dua operator yakni Wireless Indonesia dan Primasel. Operator ini terlihat fokus dalam pemasaran dengan bermain data. Namun, Smart masih menyisakan hutang kepada negara berupa setoran Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi sekitar 600 miliar rupiah sebelum penggabungan terjadi.

Akusisi lainnya yang terjadi dalam waktu tiga tahun belakangan ini terjadi di Natrindo Telepon Seluler (NTS).  Sebelumnya operator ini sahamnya dikuasai Lippo Telecom, pada 2007 dijual ke   Maxis dari Malaysia sebesar 44 persen. Dan pada kuartal ketiga 2007, Saudi Telecom  masuk ke NTS dengan membeli saham Maxis group di Malaysia. Transaksi tersebut menjadikan Saudi Telecom menguasai saham NTS sebesar 51 persen.

Lantas, setelah pemegang saham baru masuk bergairahkah NTS?. Jika dilihat dari gebrakan pemasaran dan ekspansi jaringan, pemegang merek dagang Axis ini terlihat garang. Diperkirakan, sejak beroperasi dua tahun lalu tujuh juta pelanggan telah diraih.

Sayangnya, untuk kestabilan manajemen belum terjadi di perusahaan itu. Kabar beredar, pekerja lokal tidak diberikan porsi yang sentral oleh Saudi Telecom, sehingga turn over karyawan lumayan tinggi di operator itu walau untuk ukuran kesejahteraan, Axis dianggap lumayan tinggi di industri.

Bahkan, mundurnya Chief Marketing Officer (CMO) Johan Buse atau rumor mundurnya Chief Technical Officer Muslim Khan, tidak membuat jabatan penting dialihkan ke orang lokal. Saudi Telecom kabarnya akan menunjuk seorang ekspatriat menduduki jabatan Chief Operating Officer (COO).

Senada dengan yang terjadi di NTS, Indosat sejak dikuasai sahamnya oleh Qatar Telecom (Qtel) sebesar 65 persen, karyawan lokalnya  juga menghadapi masa suram. Jajaran direksi Indosat dimana sebelumnya dikuasai oleh anak negeri, digusur dan hanya menyisakan dua orang di jabatan puncak.

Para punggawa lokal Indosat pun banyak yang berpindah ke operator lain dengan alasan mencari kesejahteraan atau kenyamanan bekerja. Walaupun manajemen Indosat pada tahun lalu membantah adanya isu demo karyawan, tetapi secara kasat mata tidak bisa menutupi bergeletakannya poster-poster di sekeliling gedung  sebagai  tumpahan kekecewaan karyawan.

Kinerja Indosat pun pada tahun lalu bisa dikatakan paling suram dibanding dua pemain besar lainnya, Telkomsel dan XL.   Pendapatan usaha Indosat pada tahun lalu  sebesar 18,393 triliun rupiah atau turun 1,4 persen ketimbang periode sama tahun lalu sebesar 18,659,1 triliun rupiah.

Sedangkan XL mengalami peningkatan pendapatan usaha  sebesar 14 persen menjadi  13,9 triliun rupiah  sepanjang tahun 2009. Telkomsel juga  berhasil meraup pendapatan sebesar 40 triliun rupiah pada 2009 atau naik sekitar 10 persen dibanding perolehan tahun sebelumnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, aksi akuisisi atau merger harus diwaspadai karena tidak selamanya menguntungkan. “Pihak yang diuntungkan itu pemilik lama karena sahamnya dibeli. Sedangkan untuk karyawan atau negara, harus melihat dulu komitmen dari pemilik baru,” katanya.

Praktisi telematika Bayu Samudiyo mengatakan, para investor asing di satu perusahaan harus memahami kearifan lokal kala ingin mengembangkan usahanya. “Tidak selamanya ekspatriat itu tahu segalanya. Kesalahan dari ekspatriat itu biasanya menerapkan standar yang dimilikinya untuk pasar lokal. Padahal, orang lokallah yang paling tahu kebutuhan domestik,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s