130310 Hengky Setiawan : Seriusi Mainan Baru

Wajah pria berumur 41 tahun ini banyak menghiasi media massa melalui iklan ponsel merek lokal, TiPhone, pada bulan lalu. Bagi mereka yang tidak kenal dekat dengan wajah tersebut, tentu akan beranggapan, pria ini hanyalah salah satu talent yang mempromosikan produk mirip BlackBerry itu.

Namun, sebenarnya pria ini adalah pemilik dari merek ponsel itu. Ya, dialah Hengky Setiawan yang memiliki jabatan resmi sebagai  Presiden Komisaris di TiPhone dan CEO dari Telesindo Shop (PT.Setia Utama Telesindo).

“Ketimbang saya menyewa model iklan yang mahal, lebih baik saya yang mempromosikan sendiri. Selain menghemat biaya, ini juga menunjukkan kepercayaan diri merambah bisnis baru ini,” ungkap Hengky kala ditemui Koran Jakarta, belum lama ini.

Nama penggemar Kuda Jingkrak atau Ferrari itu  di  percaturan industri telekomunikasi sebenarnya tidak asing lagi, terutama jika dikaitkan dengan Telkom Grup. Telesindo Shop yang didirikan oleh mantan calo dan kurir ini pada 1992, merupakan salah satu authorized dealer dengan omzet terbesar yang bekerjasama dengan Telkomsel.

Hal itu dibuktikan dengan keberhasilan   Telesindo Shop menyabet   The Best Dealer selama empat tahun berturu-turut. Belum lagi   jumlah outletnya yang  lebih dari 500 buah di seluruh Indonesia  dengan dukungan tiga ribu  karyawan.
Berdasarkan catatan, tiga tahun lalu omzet dari perusahaan ini mencapai angka  3 triliun rupiah. Belum lam ini majalah bisnis berbahasa Inggris memperkirakan nilai pasar dari Telesindo Shop mencapai 40 juta  dollar AS hanya dari penjualan produk seluler (voucher dan kartu perdana).

“Jika berbicara tentang distributor produk seluler, itu sekarang sudah berjalan baik. Nah, sekarang pasar berubah, industri telekomunikasi mulai masuk ke era mature karena  penetrasi pelanggan mencapai dua pertiga dari populasi,” katanya.

Dampak dari akan datangnya era tersebut adalah, operator akan mencoba mendapatkan pendapatan dari penjualan bundling ponsel. Langkah ini terbukti sukses dilakukan Singapore Telecom (SingTel) dimana berhasil mendapatkan pertumbuhan omzet 8 persen walau penetrasi di wilayah itu sudah 100 persen.

“Ini tentu membuat kami sebagai distributor mengikuti perubahan itu. Saya sudah memulainya sejak triwulan ketiga tahun lalu dengan mengenalkan TiPhone. Tahun lalu saya melihat reaksi pasar, tahun ini akan saya geber merek ini agar  bisa sukses seperti bisnis terdahulu,” katanya.

Serius

Untuk mengembangkan merek TiPhone, pria yang memiliki hobi koleksi Mercy antik ini mulai menyewa 15 line kapasitas satu pabrik di Shenzen, China. Setelah itu menggarap 70 ribu toko untuk menjadi mitra menjual TiPhone di seluruh Indonesia. Tahun ini ditargetkan akan ada 100 ribu toko, dan 2011 akan ada 200 ribu toko.

Sedangkan dari sisi manajemen disiapkan infrastruktur Teknologi Informasi (TI) guna pencatatan pembukuan dan meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan menyewa Mark Plus.

“Cara menjual ponsel berbeda dengan kartu perdana atau voucher pulsa. Kalau dua produk itu tingkat distribusi sudah mencapai asongan atau toko kelontong. Nah, kalau ponsel itu mitra kita reseller tingkat toko selain outlet TelesindoShop.  Karena itu saya merasa perlu SDM harus dicuci otaknya dengan paradigma baru,” katanya.

SDM menjadi perhatian khusus bagi seorang Hengky karena di mata bapak tiga anak ini,   karyawan adalah   partner, bukan sekadar pekerja gajian. Wujud perhatiannya diperlihatkan  dengan secara rutin diberikan motivasi, training serta bonus.

Untuk TiPhone sendiri, Hengky ingin membidik tiga pemain besar di seluler (Telkomsel, XL, dan Indosat) serta dua pemain CDMA (Flexi dan Esia) bermitra agar   ponsel tersebut menjadi andalan dalam produk bundling para operator. “Kita ingin fokus ke pemimpin pasar. Karena target saya juga menjadikan produk ini sebagai pemimpin pasar. Sekarang masih berada di tiga besar untuk merek lokal,” katanya.

Diungkapkannya, mengingat selama ini dirinya terkenal sebagai distributor dari Telkom grup, maka untuk  pendekatan dengan para operator di luar pemimpin pasar,  diberikan kepada   orang kepercayaanya.

“Saya ini sudah kadung dibilang “Merah” (Warna Telkomsel). Tetapi di bisnis ponsel ini kita tidak boleh membatasi diri. Ini adalah open market. Sukurlah para operator itu percaya dengan perusahan saya. XL, Indosat, Esia sudah mau kerjasama dengan kami,” katanya.

Diungkapkannya, walaupun baru masuk ke pasar ponsel lokal beberapa bulan, omzet dari TiPhone  lumayan menjanjikan yakni mencapai   50 miliar rupiah dengan penjualan sekitar 100 ribu unit per bulan.
“Sekarang penjualan ponsel lokal ini sudah masuk ke dalam perang harga karena ada 50 merek yang ikut bermain. Kami tidak mau bermain di harga. Kami menawarkan sesuatu yang lain,” katanya.

Sesuatu yang lain itu adalah komitmen memberikan purna jual  dengan dukungan outlet dari Telesindo Shop. Sedangkan dari sisi produk dibanjiri dengan fitur yang komplit tetapi harga mendekati kompetitor. “Kunci menjadi pemenang adalah memiliki merek yang kuat dengan dukungan purnajual terpercaya,” tegasnya.

“Selain itu, bisnis ini membutuhkan komitmen jangka panjang. Jika hanya ingin menjadi pedagang, saya bisa saja mengoptimalkan outlet di Jabotabek. Tetapi saya tidak mau, saya memiliki komitmen di industri telekomunikasi karena sektor ini yang membesarkan seorang Hengky,” tambahnya.

Siapkan IPO

Selanjutnya Hengky mengungkapkan, langkah besar lainnya yang disiapkannya untuk Telesindo Shop secara grup adalah melakukan Initial Public Offering (IPO) pada semester kedua tahun ini.

“Sekitar Agustus atau September nanti. Sekarang lagi persiapan semuanya. Ini bagian dari rencana saya mengekspansi perusahaan, khususnya mencari pendanaan untuk mengembangkan TiPhone. Selama ini pendanaan dari bank yang percaya dengan komitmen seorang Hengky,” katanya.

Hengky mengatakan, secara pribadi keinginan untuk melakukan IPO karena dirinya tidak mau kalah melihat sepak terjang dari pesaingnya yang berhasil melakukan hal yang sama. Untuk diketahui, perusahaan distributor seluler yang pertama melakukan IPO adalah  Trikomsel dengan merek dagang OkeShop pada tahun lalu.

“Prinsip hidup saya itu tidak mau kalah. Hari ini kita boleh kalah, besok harus bangkit untuk menang. Kita pelajari strategi pesaing, setelah itu lakukan inovasi. Setiap peluang harus ditangkap untuk dioptimalkan. Jangan menunggu,” tegas pria itu berbagi trik suksesnya.

Akankah Hengky pada tahun macan ini sukses dengan mainan barunya itu? Kita tunggu saja.[dni]

120310 API Desak Rencana Kenaikan TDL Dibatalkan

JAKARTA—Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendesak pemerintah membatalkan rencana menaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang berpotensi semakin menggerus daya saing industri dalam negeri sehingga berujung pada terjadinya  Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.

“Menaikkan TDL itu sama saja menurunkan daya saing industri dalam negeri karena biaya produksi meningkat.  Ini sama saja  sudah jatuh tertimpa tangga,” kata Ketua Umum API, Benny Soetrisno,  di Jakarta, Kamis (11/3).

Dijelaskannya, industri TPT merupakan sektor yang sangat terpengaruh dampak kenaikan TDL mengingat penggunaan listriknya sekitar 20-50 persen dari total biaya produksi.

“Saya minta diadakan rapat besok di kantor Menko Perekonomian soal kenapa listrik harus naik. Targetnya TDL tidak naik,” ujarnya.
Disarankannya,  adanya perubahan pola subsidi listrik agar diutamakan pada rakyat kecil yang menggunakan listrik 450 watt per bulan dan industri saja.

“Konsumen industri 450 watt dan industri tarifnya seharusnya lebih murah dari konsumsi seperti mal dan kantor,” katanya.

Benny mengingatkan pemerintah bahwa kenaikan TDL seharusnya dibahas terlebih dahulu dengan DPR untuk mendapatkan persetujuan.
Ia menambahkan kenaikan TDL mengharuskan industri melakukan efisiensi biaya produksi yang bisa berujung pada PHK.

“Tarif multiguna dan daya maksimum untuk industri itu salah, itu men-discourage orang untuk mencetak lapangan kerja. Apalagi sekarang menjelang 1 Mei (hari buruh), ini ada rasa was-was pekerja kena PHK. Ini bisa jadi gerakan massif yang bolanya jadi politis,” tuturnya.

Diungkapkannya,  pengusaha dan PLN akan melakukan pertemuan informal untuk menghitung kemungkinan penghapusan daya maksimum dan tarif multiguna pada

Ia mengharapkan adanya penyelesaian yang saling menguntungkan antara PLN dan industri. “Kita mau menghitung, daya maks dan tarif multiguna dihilangkan posisinya bagaimana, dia juga kehilangan income, kita diperkuat dimananya,” ujarnya.

Menurut Benny, PLN sebenarnya menyanggupi untuk tidak menaikkan TDL, asalkan mendapat pasokan bahan baku dari pemerintah.

“Contohnya, batubara itu royalti pemerintah kan 13,5 persen, tapi diterima dalam bentuk uang. Lebih baik 13,5 persen itu berikan saja pada PLN,” tuturnya.[dni]

120310 IFFINA Targetkan Transaksi US$ 350 Juta

// <![CDATA[// JAKARTA—Ajang  International Furniture and Craft Fair Indonesia (IFFINA) 2010 yang diadakan di Jakarta Internatinal Expo (JI Expo) Kemayoran, Jakarta diharapkan mampu mencatat nilai transaksi mencapai 250 hingga 350 juta dollar AS dengan jumlah pembeli sekitar tiga ribu orang.

”Tahun lalu ada sekitar 1.721 orang selama pameran berlangsung dengan nilai transaksi sebesar 170 juta dollar AS. Tahun ini kta harapkan lebih,” ungkap  Ketua Umum Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), Ambar Tjahyono di Jakarta, Kamis (11/3)..

IFFINA merupakan ajang pameran  yang diadakan Asmindo  mulai 11-14 Maret 2010 dan telah  menjaring sekitar 2.500 pembeli yang mendaftarkan diri secara on-line sebelum acara tersebut digelar. Tercatat, lebih dari 2000 diantaranya berasal dari 106 negara dari seluruh  dunia.

IFFINA merupakan pameran yang orientasi ekspor business to business terbesar di Indonesia. Pameran ini juga menjadi langkah Asmindo dalam menghadapi pasar bebas menyusul diberlakukannya Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China Free Trade Agreement pada 2010 ini.

Diharapkannya,  melalui IFFINA 2010 ini akan terbangun kemitraan dengan importir China sehingga produk-produk Indonesia bisa masuk ke pasar China. Dia yakin, produk-produk mebel dan kerajinan yang dipamerkan akan menarik para buyer, termasuk importir dari China

“Sebab produk-produk mebel dan kerajinan yang dipamerkan di IFFINA ini asli buatan Indonesia. Semua bahan baku dan SDM-nya berasal dari Indonesia. Kualitasnya lebih unggul dari produk China dan memiliki nilai seni sebagai salah satu nilai jual,” jelasnya.[dni]