090310 Sinergi SmartFren: Langkah Cerdas untuk Bangkit

PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) dan  PT   Smart Telecom (Smart) akhirnya merealisasikan sinergi strategis dalam bidang pemasaran pada awal Maret ini.

Kolaborasi yang dinamakan SmartFren itu diwujudkan secara nyata dalam peluncuran ponsel bundling berbentuk batangan yang dibanderol 255 ribu rupiah dengan kemampuan akses data. Ponsel ini diharapkan bisa laris sebanyak 200 ribu unit. Selain itu, juga diperkenalkan galeri pemasaran SmartFren yang akan menjual produk kedua operator.

Sinergi yang terjadi antara kedua pemain medioker itu tentu tak bisa dilepaskan dari aksi Grup Sinarmas, melalui anak usahanya, PT Gerbangmas Tunggal Sejahtera, yang membeli 19 persen saham  Mobile-8 tahun lalu.

Masuknya Grup Sinarmas ke Mobile-8 menjadikan perusahaan ini secara tidak langsung memiliki dua operator yakni Smart Telecom dan Mobile-8. Saat ini Grup Sinar Mas memiliki 19 persen saham Mobile-8 dari transaksi senilai  211,464 miliar. Sedangkan di Smart Telecom kepemilikan Sinar Mas adalah mayoritas.

Saat ini Smart memiliki 2,5 juta pelanggan dan  Mobile-8 melalui merek dagang Fren dan Hepi memikat   3,5 juta pelanggan.  Smart  memiliki 2 ribu  unit   base transceiver station (BTS), sementara Mobile-8 sekitar  1700 unit BTS. Untuk kanal frekuensi, Smart memiliki  5 kanal  di pita 1900 MHz dan  Mobile-8 menguasai 4 kanal di  pita 800 MHz.

Kolaborasi SmartFren diharapkan bisa memikat 10 juta pelanggan pada akhir tahun nanti, dimana  Mobile-8  mengharapkan jumlah pelanggannya hingga akhir tahun nanti bisa menjadi 5,5 juta pelanggan dan Smart sekitar 4,5 juta pelanggan.

Smart sejak beroperasi telah menghabiskan belanja modal sebesar 300 juta dollar AS. Pada tahun ini perseroan menyiapkan belanja modal sekitar 250 juta dollar AS dengan asumsi biaya investasi satu pelanggan sekitar 75 hingga 200 dollar AS. Sedangkan Mobile-8 belum bisa mengungkap investasinya karena belum melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

“Kami memulai  sesuatu yang baru di industri telekomuniksi Indonesia, dimana dua perusahaan menjalankan pemasaran strategis bersama-sama. Ini bagian dari konsolidasi di industri menghadapi kompetisi yang makin ketat,” ungkap Presiden Direktur Smart Telecom Sutikno Widjaja di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, kolaborasi pemasaran yang akan dilakukan  dalam penggunaan   galeri pemasaran, media, handset bundling, logistik atau pengadaan kartu perdana, media  iklan, dan promosi. Langkah ini diyakini akan mampu memperkuat posisi kedua  perseroan di tengah persaingan industri telekomunikasi.  Direncanakan ada 103 galeri dilebeli SmartFren. Sedangkan untuk BTS akan dimiliki masing-masing karena spektrum teknologi yang digunakan berbeda.

“Langkah strategis ini dilakukan karena SmartFren  ingin mencapai skala ekonomis yang ideal dengan melakukan efisiensi dan efektifitas dalam operasional,” tegasnya.

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys menegaskan, meskipun sudah bekerjasama secara strategis, tetapi kedua perusahaan tetap memiliki entitas masing-masing dan berdiri sendiri. “Kedua perusahaan tetap ada. Kami hanya bekerjasama mencari uang,” selorohnya.

Menurutnya, langkah sinergi ini membuat keduanya memiliki daya tawar yang kuat kepada suplier karena membeli produk dalam skala besar. “Kita menawar ponsel dari China lebih kuat. Ini menguntungkan pelanggan juga, karena harga ke pelanggan itu bisa kurang sekitar 20 persen atau lebih dari yang ada sekarang,” katanya.

Presiden Komisaris Mobile-8 Henry Cratein Suryanaga mengharapkan, sinergi ini akan membuat perusahaannya bangkit pada  tahun ini setelah tahun lalu berdarah-darah dari sisi keuangan.

“Tahun lalu perseroan terlibat hutang baik dengan pemerintah atau obligor. Sekarang semuanya masih dalam tahap diskusi dan menunjukkan titik terang. Kami harapkan recovery mulai terjadi tahun ini,” katanya.

Berdasarkan catatan, ke pemerintah saja Mobile-8 memiliki hutang pembayaran Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi sebesar 50 miliar rupiah. Belum lagi dengan obligornya yang bermasalah di pengadilan. Smart pun tak lepas dari hutang BHP frekuensi ke negara sekitar 600 miliar rupiah.

Tak Gentar

Menghadapi sinergi yang dilakukan oleh kedua operator, para pemain yang mengusung teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) tak gentar.

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S. Siboro menegaskan, kompetisi sudah ketat sejak dulu. Produk StarOne pun akan tetap menwarkan tarif hemat ke sesama grup (GSM Indosat), bundling handset, dan paket internet unlimited.

Guntur menduga, pengembangan jaringan akan banyak terjadi di Mobile-8 mengingat didukung spektrum frekuensi dan ketersedian Consumer Premis Equipment (CPE). “Pengembangannya pasti akan lebih banyak di Fren karena yang punya dana adalah Smart maka namanya menjadi SmartFren,” katanya

Sementara Wakil Dirut Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengatakan, berkurangnya jumlah pemain akan membuat kompetisi lebih fokus. “Terus terang kami tidak khawatir dengan SmartFren.  Kami hanya melihat pesaing yang lebih besar atau di atas,” katanya.

Erik menegaskan, Bakrie Telecom tetap akan fokus pada jasa suara dan SMS serta akan bermain layanan data untuk area di luar Jabotabek dan Jawa Barat.

Secara terpisah, Praktisi telematika Suryatin Setiawan menjelaskan, keberhasilan kolaborasi dari SmartFren tergantung  tiga hal yaitu produk, mutu layanan, dan jaringan distribusi, serta customer care. “Haru ada   gebrakan spektakular untuk tiga hal tersebut. Jika tidak, sama saja dengan tahun lalu,” katanya.

Diakuinya, menggabungkan jaringan distribusi kedua operator merupakan langkah effisiensi. Namun, kalau targetnya hanya mendapatkan  10 juta pelanggan  dan melupakan   peningkatan   profitabilitas maka penekanan biaya pemasaran bukan isu yang harus dikelola ketat.

Disarankannya, SmartFren melakukan integrasi berbagai fungsi dan infrastruktur dalam perusahaan sehingga biaya operasional dapat lebih efisien agar  lebih kompetitif terhadap pemain  CDMA lainnya. “Langkah SmartFren ingin fokus ke data sudah tepat, sedangkan untuk wilayah kerja  harus ditentukan mau main dimana. Infrastruktru keduanya sangat terbatas sebarannya,” katanya.

Praktisi Telematika lainnya Bayu Samudiyo optimistis SmartFren akan mampu berbicara banyak di industri. “Tantangannya terletak pada  pelaksanaan komitment investasi untuk pengembangan kualitas dan jangkauan jaringan. Kendala lainnya adalah pada menekan ego dari masing-masing pihak saat eksekusi di lapangan. Harus ada penerapan aturan main yang jelas agar pembedaan perlakuan untuk kedua brand  bisa dihindari di lapangan,” katanya.

Bayu menduga, bundling akan menjadi senjata utama dari SmartFren khususnya menyasar pasar data di segmen C dan D. Sedangkan penawaran dari Fren akan diposisikan melawan Bakrie Telecom  “Walaupun Smart memiliki BlackBerry itu hanya sebagai flagship saja. Bisnis inti   tetap di paket bundling ponsel murah,” duganya.

Pada kesempatan lain, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengaku tidak kaget dengan aksi yang dilakukan oleh kedua perusahaan. “Mereka sudah melapor ke BRTI. Bagi kami yang penting kewajiban ke negara dilaksanakan, seperti pembayaran pajak frekuensi dan pergelaran jaringan. Keduanya masih ada hutang soal frekuensi, sebaiknya itu cepat dibereskan,” tegasnya.[dni]

1 Komentar

  1. jadi smartfren nih di frekuensi berapa yah?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s