090310 ATSI Desak Standarisasi Perhitungan Pelanggan

JAKARTA—Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) mendesak perlunya standarisasi perhitungan pelanggan agar azas transparansi bisa dtegakkan.

“Operator sudah banyak yang tercatat di bursa saham. Hingga saat ini tidak ada standarisasi perhitungan pelanggan  sehingga banyak yang meragukan jumlah pelanggan dari operator kala diumumkan,” kata Ketua Umum ATSI Sarwoto Atmosutarno kepada Koran Jakarta, Senin(8/3).

Menurutnya, jumlah pelanggan merupakan komponen yang penting dalam mengukur kinerja satu perusahaan terutama bagi para analis di lantai bursa. Berdasarkan jumlah pelanggan bisa dihitung Average Revenue Per User (ARPU), Revenue Per Minutes (RPM), dan Minute Of Usage.

“Itu semua adalah hal yang mencerminkan kinerja dari satu operator, jika jumlah pelanggannya semu, bisa ketipu semua nanti yang beli saham,” katanya.

Disarankannya,  regulator untuk secepatnya menyusun standarisasi perhitungan jumlah pelanggan. Misalnya dengan menentukan masa aktif atau daur ulang satu nomor. Hal ini untuk mengatasi aksi  sapu jagad alias menghidupkan nomor perdana menjelang tutup buku  agar jumlah pelanggan membengkak.

Untuk diketahui, belum lama ini di industri telekomunikasi sendiri heboh dengan isu keraguan dari raihan pelanggan yang didapat oleh Indosat.

Anak usaha Qatar Telecom (Qtel) itu  pada periode kuartal IV 2009  berhasil mendapatkan 4,4 juta pelanggan baru sehingga pada akhir 2009 berhasil meraih 33,1 juta pelanggan. Angka itu melonjak 15 persen dibandingkan kuartal III 2009 dimana perseroan meraih 28,7 juta pelanggan.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono melihat lonjakan pelanggan yang didapat Indosat  sebagai sesuatu yang semu. “Tak lebih dari kosmetik manajemen baru yang menjabat sejak pertengahan 2009 lalu,” ketusnya.

Menurut Nonot, jika mengikuti mekanisme penjualan kartu perdana seluler, maka selama kuartal keempat 2009 Indosat menjual sekitar 22 juta nomor, hal ini mengingat biasanya setiap lima nomor terjual, hanya satu yang menjadi pelanggan.

“Ini pemborosan penomoran namanya demi mengejar kosmetik sesaat. Ke depan regulator akan meminta semua data nomor yang vacum baik untuk jangka waktu satu, dua, atau tiga bulan guna mengetahui jumlah pelanggan riil dari operator,” tegasnya.

Indosat sendiri dalam keterangan resminya menegaskan tambahan 4,4 juta pelanggan   dalam triwulan keempat  2009 mendorong peningkatan pendapatan usaha selular lebih dari 12 persen dibandingkan triwulan III periode sama.

Tetapi, kinerja secara perseroan secara keseluruhan mengalami penurunan dimana pendapatan usaha 2009  sebesar 18.393 triliun rupiah atau turun 1,4 persen dibanding 2008. Sedangkan Qtel dalam laporan keuangannya mengumumkan  terjadi kenaikan pelanggan di sejumlah anak usahanya seperti di Ieak, Algeria, dan Indonesia.[dni]



Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s