090310 Sinergi SmartFren: Langkah Cerdas untuk Bangkit

PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) dan  PT   Smart Telecom (Smart) akhirnya merealisasikan sinergi strategis dalam bidang pemasaran pada awal Maret ini.

Kolaborasi yang dinamakan SmartFren itu diwujudkan secara nyata dalam peluncuran ponsel bundling berbentuk batangan yang dibanderol 255 ribu rupiah dengan kemampuan akses data. Ponsel ini diharapkan bisa laris sebanyak 200 ribu unit. Selain itu, juga diperkenalkan galeri pemasaran SmartFren yang akan menjual produk kedua operator.

Sinergi yang terjadi antara kedua pemain medioker itu tentu tak bisa dilepaskan dari aksi Grup Sinarmas, melalui anak usahanya, PT Gerbangmas Tunggal Sejahtera, yang membeli 19 persen saham  Mobile-8 tahun lalu.

Masuknya Grup Sinarmas ke Mobile-8 menjadikan perusahaan ini secara tidak langsung memiliki dua operator yakni Smart Telecom dan Mobile-8. Saat ini Grup Sinar Mas memiliki 19 persen saham Mobile-8 dari transaksi senilai  211,464 miliar. Sedangkan di Smart Telecom kepemilikan Sinar Mas adalah mayoritas.

Saat ini Smart memiliki 2,5 juta pelanggan dan  Mobile-8 melalui merek dagang Fren dan Hepi memikat   3,5 juta pelanggan.  Smart  memiliki 2 ribu  unit   base transceiver station (BTS), sementara Mobile-8 sekitar  1700 unit BTS. Untuk kanal frekuensi, Smart memiliki  5 kanal  di pita 1900 MHz dan  Mobile-8 menguasai 4 kanal di  pita 800 MHz.

Kolaborasi SmartFren diharapkan bisa memikat 10 juta pelanggan pada akhir tahun nanti, dimana  Mobile-8  mengharapkan jumlah pelanggannya hingga akhir tahun nanti bisa menjadi 5,5 juta pelanggan dan Smart sekitar 4,5 juta pelanggan.

Smart sejak beroperasi telah menghabiskan belanja modal sebesar 300 juta dollar AS. Pada tahun ini perseroan menyiapkan belanja modal sekitar 250 juta dollar AS dengan asumsi biaya investasi satu pelanggan sekitar 75 hingga 200 dollar AS. Sedangkan Mobile-8 belum bisa mengungkap investasinya karena belum melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

“Kami memulai  sesuatu yang baru di industri telekomuniksi Indonesia, dimana dua perusahaan menjalankan pemasaran strategis bersama-sama. Ini bagian dari konsolidasi di industri menghadapi kompetisi yang makin ketat,” ungkap Presiden Direktur Smart Telecom Sutikno Widjaja di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, kolaborasi pemasaran yang akan dilakukan  dalam penggunaan   galeri pemasaran, media, handset bundling, logistik atau pengadaan kartu perdana, media  iklan, dan promosi. Langkah ini diyakini akan mampu memperkuat posisi kedua  perseroan di tengah persaingan industri telekomunikasi.  Direncanakan ada 103 galeri dilebeli SmartFren. Sedangkan untuk BTS akan dimiliki masing-masing karena spektrum teknologi yang digunakan berbeda.

“Langkah strategis ini dilakukan karena SmartFren  ingin mencapai skala ekonomis yang ideal dengan melakukan efisiensi dan efektifitas dalam operasional,” tegasnya.

Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys menegaskan, meskipun sudah bekerjasama secara strategis, tetapi kedua perusahaan tetap memiliki entitas masing-masing dan berdiri sendiri. “Kedua perusahaan tetap ada. Kami hanya bekerjasama mencari uang,” selorohnya.

Menurutnya, langkah sinergi ini membuat keduanya memiliki daya tawar yang kuat kepada suplier karena membeli produk dalam skala besar. “Kita menawar ponsel dari China lebih kuat. Ini menguntungkan pelanggan juga, karena harga ke pelanggan itu bisa kurang sekitar 20 persen atau lebih dari yang ada sekarang,” katanya.

Presiden Komisaris Mobile-8 Henry Cratein Suryanaga mengharapkan, sinergi ini akan membuat perusahaannya bangkit pada  tahun ini setelah tahun lalu berdarah-darah dari sisi keuangan.

“Tahun lalu perseroan terlibat hutang baik dengan pemerintah atau obligor. Sekarang semuanya masih dalam tahap diskusi dan menunjukkan titik terang. Kami harapkan recovery mulai terjadi tahun ini,” katanya.

Berdasarkan catatan, ke pemerintah saja Mobile-8 memiliki hutang pembayaran Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi sebesar 50 miliar rupiah. Belum lagi dengan obligornya yang bermasalah di pengadilan. Smart pun tak lepas dari hutang BHP frekuensi ke negara sekitar 600 miliar rupiah.

Tak Gentar

Menghadapi sinergi yang dilakukan oleh kedua operator, para pemain yang mengusung teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) tak gentar.

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S. Siboro menegaskan, kompetisi sudah ketat sejak dulu. Produk StarOne pun akan tetap menwarkan tarif hemat ke sesama grup (GSM Indosat), bundling handset, dan paket internet unlimited.

Guntur menduga, pengembangan jaringan akan banyak terjadi di Mobile-8 mengingat didukung spektrum frekuensi dan ketersedian Consumer Premis Equipment (CPE). “Pengembangannya pasti akan lebih banyak di Fren karena yang punya dana adalah Smart maka namanya menjadi SmartFren,” katanya

Sementara Wakil Dirut Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengatakan, berkurangnya jumlah pemain akan membuat kompetisi lebih fokus. “Terus terang kami tidak khawatir dengan SmartFren.  Kami hanya melihat pesaing yang lebih besar atau di atas,” katanya.

Erik menegaskan, Bakrie Telecom tetap akan fokus pada jasa suara dan SMS serta akan bermain layanan data untuk area di luar Jabotabek dan Jawa Barat.

Secara terpisah, Praktisi telematika Suryatin Setiawan menjelaskan, keberhasilan kolaborasi dari SmartFren tergantung  tiga hal yaitu produk, mutu layanan, dan jaringan distribusi, serta customer care. “Haru ada   gebrakan spektakular untuk tiga hal tersebut. Jika tidak, sama saja dengan tahun lalu,” katanya.

Diakuinya, menggabungkan jaringan distribusi kedua operator merupakan langkah effisiensi. Namun, kalau targetnya hanya mendapatkan  10 juta pelanggan  dan melupakan   peningkatan   profitabilitas maka penekanan biaya pemasaran bukan isu yang harus dikelola ketat.

Disarankannya, SmartFren melakukan integrasi berbagai fungsi dan infrastruktur dalam perusahaan sehingga biaya operasional dapat lebih efisien agar  lebih kompetitif terhadap pemain  CDMA lainnya. “Langkah SmartFren ingin fokus ke data sudah tepat, sedangkan untuk wilayah kerja  harus ditentukan mau main dimana. Infrastruktru keduanya sangat terbatas sebarannya,” katanya.

Praktisi Telematika lainnya Bayu Samudiyo optimistis SmartFren akan mampu berbicara banyak di industri. “Tantangannya terletak pada  pelaksanaan komitment investasi untuk pengembangan kualitas dan jangkauan jaringan. Kendala lainnya adalah pada menekan ego dari masing-masing pihak saat eksekusi di lapangan. Harus ada penerapan aturan main yang jelas agar pembedaan perlakuan untuk kedua brand  bisa dihindari di lapangan,” katanya.

Bayu menduga, bundling akan menjadi senjata utama dari SmartFren khususnya menyasar pasar data di segmen C dan D. Sedangkan penawaran dari Fren akan diposisikan melawan Bakrie Telecom  “Walaupun Smart memiliki BlackBerry itu hanya sebagai flagship saja. Bisnis inti   tetap di paket bundling ponsel murah,” duganya.

Pada kesempatan lain, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengaku tidak kaget dengan aksi yang dilakukan oleh kedua perusahaan. “Mereka sudah melapor ke BRTI. Bagi kami yang penting kewajiban ke negara dilaksanakan, seperti pembayaran pajak frekuensi dan pergelaran jaringan. Keduanya masih ada hutang soal frekuensi, sebaiknya itu cepat dibereskan,” tegasnya.[dni]

090310 Pemerintah Diminta Tidak Merestui Pemindahan Protostar II

JAKARTA—Pemerintah diminta untuk tidak merestui rencana pemindahan satelit Protostar II dari dari slot 107.7 derajat Bujur Timur ke  108,8 derajat  Bujur Timur untuk menjaga kedaulatan Indonesia di angkasa.

“Saya tidak setuju adanya pemindahan slot orbit. Jika itu dilakukan, tidak hanya Indonesia terancam kehilangan filling-nya, tetapi tatanan industri lokal khususnya untuk penyedia jasa internet bisa dirusak oleh pihak asing,” tegas Praktisi Telematika dari Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) Barata Wishnu Wardhana kepada Koran Jakarta, Senin (8/3).

Seperti diberitakan, PT Media Citra Indostar (MCI) sebagai salah satu pemilik  dari satelit Protostar II sedang mengaji kemungkinan untuk memindahkan satelitnya  dari slot orbit  107.7 derajat Bujur Timur ke  108,8 derajat  Bujur Timur guna mengoptimalkan penggunaan Ku-band di alat telekomunikasi itu.

Satelit Protostar II diluncurkan pada 16 Mei 2009 dan baru beroperasi pada 17 Juni 2009 menyusul in-orbit testing. Satelit Protostar II  menyediakan pelayanan kepada MCI dan PT MNC Skyvision, operator layanan televisi satelit Direct To Home (DTH) terbesar di Indonesia dengan merek dagang Indovision.

Satelit tersebut  menempati slot orbit milik Indonesia sesuai registrasi di Interntional telecommunication Union (ITU) yaitu  107,7 derajat  BT dengan  membawa 32 transponder. Dari 32 tranponder yang.dimiliki, 10 transponder aktif dan 3 transponder cadangan akan difungsikan sebagai penguat gelombang frekuensi S-Band untuk menyediakan jasa layanan penyiaran langsung ke rumah-rumah atau (Direct-To-Home/DTH).

Indostar-II juga menggunakan frekeunsi KU-Band (sekitar 20 transponder) yang  didesain untuk layanan  DTH dan telekomunikasi di India. Sedangkan transponder KU-Band lainnya digunakan untuk akses internet berkecepatan tinggi dan layanan telekomunikasi di Filipina , Taiwan maupun Indonesia.

Pada tahun lalu kepemilikan Protostar II berubah seiring bangkrutnya mitra MCI yakni Protostar Ltd. SES World Skies (SES) membeli satelit tersebut seharga  185 juta dollar AS, sehingga kepemilikan satelit sekarang diklaim oleh MCI adalah milik bersama dengan perusahaan Perancis itu.

Barata mengungkapkan, jika pemindahan terjadi maka slot orbit milik Indonesia terancam dicabut oleh ITU dan pemain asing bisa masuk menyelenggarakan jasa internet. “Padahal Indonesia sudah memiliki Satelit Telkom II, Palapa C dan D yang juga menawarkan Ku Band. Kalau begini bisa merusak tatanan industri,” katanya.

Pengamat satelit Eddy Setiawan menyarankan,  pemerintah harus melaporkan rencana pemindahan   tersebut ke  ITU dan menyatakan bahwa dalam waktu 2 tahun slot itu akan diisi satelit atau memakai satelit apa saja asalkan  tidak transmit.

“Kalau benar terjadi pemindahan  ke 108,8oBT bisa saja Indonesia filing S-Band ke ITU di slot tersebut tetapi harus dikoordinasikan dengan filing S-Band negara lain di sekitar slot tersebut. Kalau koordinasi belum selesai,  tidak boleh memancar dulu,” katanya.

Direktur Kelembagaan Internasional Ditjen Postel Ikhsan Baidirus mengaku belum tahu dengan rencana dari MCI tersebut. “Kami sedang menunggu klarifikasi dari MCI baik itu soal pengajuan pemindahan slot atau bentuk kerjasama mereka dengan SES,” katanya sambil   menegaskan, hingga saat ini dari pemantauan fisik satelit Protostar II masih berada di slot orbit milik Indonesia.[dni]

090310 Belanja Modal Operator Akan Terserap untuk Data

JAKARTA—Belanja modal operator telekomunikasi  tahun ini diperkirakan akan banyak terserap untuk mengembangkan layanan mobile data guna mengantisipasi datangnya era konvergensi.

“Sebagian operator sudah mengumumkan belanja modalnya pada tahun ini. Saya lihat bessarannya sama dengan tahun lalu atau flat. Jika demikian, berarti operator akan meneruskan rencana tahun lalu yaitu mengembangkan jaringan untuk mobile data,” ungkap Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Arun Bansal kepada Koran Jakarta, Senin (8/3).

Menurutnya, teknologi yang akan diperkuat adalah 3G dan evolusinya seperti High Speed Packet Access (HSPA+) atau Long Term Evolution (LTE). “Pengguna sekarang sangat boros konsumsi bandwitdh. Teknologi baru yang dikembangkan bisa membuat operator mulai mendapatkan pendapatan dari jasa data setelah selama ini masih masa edukasi,” katanya.

Untuk LTE, penyedia jaringan dari Swedia ini telah melakukan uji coba dengan operator lokal. Sedangkan kontrak komersial telah dilakukan dengan AT&T dari Amerika Serikat (AS), Verizon di AS, TeliaSonera di Norwegia dan Swedia, MetroPCS di AS, dan DoCoMo di Jepang.

“Pelaksanaan untuk LTE tergantung hasil pengaturan frekuensi oleh pemerintah. Kalau dari hasil ujicoba, operator lokal siap,” katanya.

Disarankannya, operator dalam mengantisipasi teknologi baru tidak gampang tergoda untuk berganti vendor hanya karena ditawari harga perangkat yang murah. “Sebenarnya pemilihan vendor itu tergantung operatornya, tetapi jika pindah vendor hanya karena pengaruh harga, dilihat dari sisi efisiensi itu justru tidak menguntungkan,” katanya.

Selanjutnya dikatakan, masalah akses data akan semakin penting karena nanti  tidak hanya  komputer desktop atau  ponsel yang membutuhkan koneksi, tetapi juga pada peralatan-peralatan pendukung kehidupan manusia.

Berdasarkan catatan perusahaan ini, telah ada empat hingga lima miliar perangkat yang terkoneksi broadband. Sedangkan 10 tahun mendatang jumlah itu meningkat menjadi  50 miliar perangkat.

Ericsson sendiri dalam mengantisipasi fenomena akses data telah meluncurkan e-Store bagi operator. Toko virtual ini menampung 20 ribu aplikasi yang bisa diakses oleh operator bagi penggunanya.[dni]

090310 ATSI Desak Standarisasi Perhitungan Pelanggan

JAKARTA—Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) mendesak perlunya standarisasi perhitungan pelanggan agar azas transparansi bisa dtegakkan.

“Operator sudah banyak yang tercatat di bursa saham. Hingga saat ini tidak ada standarisasi perhitungan pelanggan  sehingga banyak yang meragukan jumlah pelanggan dari operator kala diumumkan,” kata Ketua Umum ATSI Sarwoto Atmosutarno kepada Koran Jakarta, Senin(8/3).

Menurutnya, jumlah pelanggan merupakan komponen yang penting dalam mengukur kinerja satu perusahaan terutama bagi para analis di lantai bursa. Berdasarkan jumlah pelanggan bisa dihitung Average Revenue Per User (ARPU), Revenue Per Minutes (RPM), dan Minute Of Usage.

“Itu semua adalah hal yang mencerminkan kinerja dari satu operator, jika jumlah pelanggannya semu, bisa ketipu semua nanti yang beli saham,” katanya.

Disarankannya,  regulator untuk secepatnya menyusun standarisasi perhitungan jumlah pelanggan. Misalnya dengan menentukan masa aktif atau daur ulang satu nomor. Hal ini untuk mengatasi aksi  sapu jagad alias menghidupkan nomor perdana menjelang tutup buku  agar jumlah pelanggan membengkak.

Untuk diketahui, belum lama ini di industri telekomunikasi sendiri heboh dengan isu keraguan dari raihan pelanggan yang didapat oleh Indosat.

Anak usaha Qatar Telecom (Qtel) itu  pada periode kuartal IV 2009  berhasil mendapatkan 4,4 juta pelanggan baru sehingga pada akhir 2009 berhasil meraih 33,1 juta pelanggan. Angka itu melonjak 15 persen dibandingkan kuartal III 2009 dimana perseroan meraih 28,7 juta pelanggan.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono melihat lonjakan pelanggan yang didapat Indosat  sebagai sesuatu yang semu. “Tak lebih dari kosmetik manajemen baru yang menjabat sejak pertengahan 2009 lalu,” ketusnya.

Menurut Nonot, jika mengikuti mekanisme penjualan kartu perdana seluler, maka selama kuartal keempat 2009 Indosat menjual sekitar 22 juta nomor, hal ini mengingat biasanya setiap lima nomor terjual, hanya satu yang menjadi pelanggan.

“Ini pemborosan penomoran namanya demi mengejar kosmetik sesaat. Ke depan regulator akan meminta semua data nomor yang vacum baik untuk jangka waktu satu, dua, atau tiga bulan guna mengetahui jumlah pelanggan riil dari operator,” tegasnya.

Indosat sendiri dalam keterangan resminya menegaskan tambahan 4,4 juta pelanggan   dalam triwulan keempat  2009 mendorong peningkatan pendapatan usaha selular lebih dari 12 persen dibandingkan triwulan III periode sama.

Tetapi, kinerja secara perseroan secara keseluruhan mengalami penurunan dimana pendapatan usaha 2009  sebesar 18.393 triliun rupiah atau turun 1,4 persen dibanding 2008. Sedangkan Qtel dalam laporan keuangannya mengumumkan  terjadi kenaikan pelanggan di sejumlah anak usahanya seperti di Ieak, Algeria, dan Indonesia.[dni]



090310 Andorid Pun Ikut Dilirik

Kolaborasi SmartFren yang dilakukan oleh Mobile-8 dan Smart diwujudkan dalam bentuk penawaran ponsel akses data dengan harga murah meriah. Langkah ini dianggap tepat oleh banyak pihak karena saat ini segmen yang masih terbuka untuk diakuisisi adalah kalangan menengah bawah.

Bicara akses data, sebenarnya ada peluang lain yang bisa digarap oleh sinergi ini yaitu Andorid. Android adalah sebuah platform terbuka untuk smartphone dari open handset alliance berbasis pada   Linux dan Java. Pengguna  android dapat mengunduh dan meng-install aplikasi via  toko online  android .

Ponsel jenis ini menggunakan layar sentuh dan   multitasking yang memungkinkan aplikasi untuk berjalan di latar belakang sehingga pengguna dapat diberitahu tentang pesan masuk dan aktivitas. Platform ini adalah pesaing terberat dari I-phone besutan Apple dan BlackBerry milik Research in Motion (RIM).

“Kami memang akan menggarap Android, sekarang dalam tahap diskusi dengan pabrikan ponsel,” ungkap Division Head Core Product & Branding Smart Telecom Ruby Hermanto kepada Koran Jakarta belum lama ini.

Smart sangat percaya diri menggeber jasa data karena kapasitas jaringannya belum optimal digunakan. Belum lagi, operator ini sangat serius mengembangkan teknologi data EVDO Rev A dan Rev B tahun ini.

Jika SmartFren nantinya menggarap Android, maka akan bersaing dengan Indosat, Telkomsel, dan XL. Telkomsel telah memulainya pada pertengahan tahun lalu, tetapi belakangan terlihat Indosat yang kencang menggeber platform yang identik dengan Google tersebut.

Lihatlah aksi Indosat yang mengumumkan telah bekerjasama dengan enam pabrikan ponsel dan membuka toko aplikasi virtual Android pertama di Indonesia yang dilabeli i-store.

Division Head BlackBerry & Customer Device Indosat Agung Wijanarko menegaskan, aksi perseroan menggeber Android karena  ingin menantang Telkomsel dalam berjualan iPhone. “Apple sebagai prinsipal iPhone salah strategi dengan menerapkan kontrak eksklusif dalam berjualan produknya. Android dengan sistem open market akan menjadi topik hangat tahun ini,” katanya.

Group Head Vas Marketing Indosat Teguh Prasetya mengatakan, Indosat pun akan membawa ponsel besutan Google ke Indonesia, Nexus One, tak lama lagi. “Ini bentuk keseriusan Indosat menggarap Android,” katanya.

Citra

Langkah Indosat yang ingin dicap paling bernafsu menggeber Indosat ternyata dianggap ringan oleh kompetitornya. “Bagi saya itu tak lebih sebagai pencitraan di pemasaran.   Kalau bicara BlackBerry, persaingan kan sudah  berat. Nah, sekarang ada mainan baru, reputasi sebagai inovator ingin dibangun,” kata  General Manager Direct Sales XL Axiata, Handono Warih.

Warih menegaskan, meskipun juga akan menggarap Android, tetapi pihaknya ingin mencermati perkembangan pasar terlebih dulu. “Ponsel dan perangkat yang menggunakan platform Android  membutuhkan konsumsi bandwidth yang sangat besar. Apalagi  ketersediaan perangkatnya juga masih sangat terbatas. Buat apa terburu-buru kalau pasar butuhnya ponsel bundling murah untuk akses data,” katanya.

Ucapan Warih mungkin ada benarnya jika menilik baru 250 unit ponsel Android  yang terjual di booth Indosat saat pameran komputer beberapa waktu lalu. Bandingkan dengan ponsel bundling XL yang terjual sekitar 4 ribu unit  di ajang yang sama.

VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo mengatakan, hal yang dibutuhkan sekarang adalah adanya pembicaraan antara Google, operator, dan pengembang aplikasi untuk memasarkan Android.

“Jika itu tidak dilakukan, nantinya ponsel terjual, tetapi tidak diutilisasi. Hanya untuk gaya saja. Seandainya dibiarkan, pihak paling diuntungkan hanya pengembang aplikasi, operator merana karena jaringan “diperkosa” oleh konsumsi bandwitdh yang boros,” katanya.

Telkomsel pun mengaku tidak khawatir dengan langkah Indosat yang terlihat menggebu-gebu menjual Android karena sudah memiliki pengalaman sejak tahun lalu. “Biar saja itu dilakukan, justru bagus untuk edukasi pasar. Kami sendiri sudah menyiapkan beberapa hal untuk mengembangkan Android dan pastinya kita mengajak pengembang aplikasi mendengar kebutuhan pengguna, agar platform itu benar-benar bisa sukses di pasar,” tegasnya.[dni]

090310 KPPU Tunda Pemeriksaan Kartel Obat

JAKARTA— Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menunda pemeriksaan terhadap PT Pfizer Indonesia dalam rangka dugaan kartel obat karena kendala teknis.

“Pemeriksaan ditunda karena Pfizer meminta penundaan jadwal. Nanti akan dicarikan jadwal baru,” kata Direktur Komunikasi KPPU A.Junaidi kepada Koran Jakarta, Senin (8/3).

Sebelumnya, KPPU menjadwalkan untuk memeriksa Pfizer Indonesia pada Senin (8/3) terkait dugaan kartel obat kelas amplodipine yang  dilakukan  PT Pfizer Indonesia (PF) dan PT Dexa Medica (DM).

Dihubungi secara terpisah,   Public Affairs & Communications Director PT Pfizer Indonesia Chrisma A. ALbandjar mengakui meminta penundaan waktu pemeriksaan kepada KPPU karena manajemen memiliki kesibukan yang padat.

“Beberapa petinggi kita sedang ada kegiatan yang tidak bisa ditunda. Kita minta jadwal diubah menjadi Rabu (10/3). Kita tunggu dari KPPU kepastiannya,” katanya.

Chrisma menegaskan, aksi meminta pengunduran jadwal bukan karena perseroan takut akan tudingan  kartel. “Kami tidak kartel. Kami selalu patuh dengan perundangan maupun kode etik hukum yang berlaku,” katanya.

Dijelaskannya, Pfizer adalah perusahaan pertama yang mematenkan obat amplodipine sehingga wajar menjadi pemimpin pasar. “Pada 2007 masa paten habis dan muncul pemain baru. Ada puluhan pemainnya. Kami tetap menjaga harga yang ditawarkan ke pengguna, apa itu salah?. Ini kan strategi harga saja,” katanya.

Untuk diketahui, KPPU tengah menyelidiki dugaan kartel oleh dua perusahaan farmasi  karena  melanggar  Pasal 5 UU anti persaingan tidak sehat soal penetapan harga, isu  kartel yang tercantum pada Pasal 11, dan

Penyalahgunaan Posisi Dominan yang tercantum pada Pasal 25. Ini merupakan perkara inisiatif keenam yang dtangani oleh lembaga tersebut.

Kasus ini diselidiki  dalam tahap pemeriksaan pendahuluan dengan perkara nomor 17/KPPU-I/2010   yang dimulai pada 18 Februari 2010 dan akan berakhir pada 5 April 2010. Majelis Komisi   dalam perkara ini antara lain A. R. Siregar selaku ketua, Erwin Syahril, dan Didik Akhmadi.

Perkara itu berawal dari monitoring yang dilakukan oleh lembaganya mengingat industri farmasi merupakan sektor yang strategis bagi perekonomian nasional ditinjau dari potensi pengembangan pasar domestik.

Kinerja industri farmasi ditandai dengan fenomena konsentrasi industri dan tingginya beberapa harga untuk jenis obat-obatan tertentu di Indonesia secara relatif dibandingkan dengan harga produk sejenis di beberapa negara lain.

Hal tersebut merupakan indikasi awal dari potensi persaingan usaha tidak sehat dalam industri yang bersangkutan. Kegiatan monitoring terhadap industri farmasi yang dilakukan KPPU, khususnya dilakukan terhadap kelas terapi dengan trend setelah habisnya masa paten obat originator.

Hasil monitoring menunjukkan  untuk  obat kelas amplodipine yang terdiri dari merk obat NV dan TS dengan konsentrasi pasar PT PF 55,8 persen dan PT DM 30 persen dengan rasio konsentrasi (CR4) sebesar 93 persen dan Hirschman-Herfindahl Index (HHI) sebesar 4.050 yang melebihi standar batas konsentrasi pasar kompetitif.  “Sebagai perbandingan, dalam aturan merger, jika ada merger yang mengakibatkan konsentrasi pasar di atas 1800 HHI berpotensi besar untuk ditolak atau dibatalkan,” jelasnya.

Produk Amlodipine merupakan obat obatan yang mengandung dihydropyridine derivative calcium-channel blockers yang digunakan secara spesifik untuk jenis penyakit yang terkait dengan kardiovascular dan habis masa patennya pada tahun 2007.

Untuk kelas Amlodipine dengan dua merk utama yaitu Norvask (PF) dan Tensivask (DM)  harganya jauh melebihi harga obat generik nya. Merk NV dijual dengan harga 2.39 kali lipat dari harga obat generiknya (atau 239 persen diatas harga obat generik yang merupakan substitusinya). Merk TS dijual dengan harga 2.13 x dari harga generik atau 213 persen. Dengan demikian, ada dua indikasi yaitu pangsa pasar yang sangat tinggi berikut excess harga dibanding harga generik yang begitu besar.

Pada periode 2008-2009, zat aktif amlodipine yang merupakan kandungan generik, mengalami penurunan harga dari range 120 ribu menjadi 90 ribu. Tapi, penurunan tersebut tidak diikuti dengan penurunan harga baik originator maupun branded generik. Bahkan dua merk yaitu NV dan TS malah tercatat mengalami kenaikan harga.[dni]

090310 Kinerja Indosat Suram

JAKARTA–Kinerja PT Indosat Tbk (Indosat) pada tahun lalu merupakan yang tersuram dibandingkan dua pemain besar seluler  lainnya, PT Telkomsel dan PT XL Axiata Tbk (XL)

Anak usaha Qatar Telecom (Qtel) tersebut tidak berhasil mencatat laporan keuangan positif selama 2009. Tercatat, Pendapatan usaha 2009 sebesar 18,393 triliun rupiah atau turun 1,4 persen ketimbang periode sama tahun lalu sebesar 18,659,1 triliun rupiah.

Penurunan terbesar juga terjadi pada laba  bersih 2009 yang anjlok 20,2 persen atau sebesar 1,498,2 triliun rupiah. pada 2008 laba perseroan mencapai 1,878,5 triliun rupiah.

Penurunan lain juga terjadi pada Earning Before Income Tax, Depreciation and Amortization (EBITDA) 2009 sebesar 8,774,4 triliun atau turun 5,6 persen ketimbang periode 2008 sebesar 9,289,2 triliun rupiah. Ini berujung pada  EBITDA margin 2009 hanya sekitar 47,7 persen atau turun 2,1 persen dibanding 2008 sebesar 49,8 persen.

Hal yang lebih menyedihkan adalah turunnya pelanggan seluler sebesar 9,3  persen dari   36,5 juta pelanggan pada tahun 2008 menjadi 33,1 juta pelanggan di 2009.

Namun, hasil suram tersebut tetap membuat para pimpinan Indosat sumringah. “Kami telah memperlihatkan perbaikan dalam parameter operasional maupun keuangan, dimana telah mulai menunjukkan hasilnya sejak triwulan ketiga, dan berlanjut hingga akhir tahun 2009,” kata President Director dan CEO Indosat Harry Sasongko melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (8/3).

Menurutnya,  perbaikan-perbaikan positif  bukti nyata atas kekuatan Indosat untuk mampu mengimplementasikan strategi berdasarkan pelanggan yang berkualitas secara berimbang. “Tambahan 4,4 juta pelanggan selular dalam triwulan keempat tahun 2009 mendorong peningkatan pendapatan usaha selular lebih dari 12 persen dibandingkan triwulan sebelumnya,” jelasnya.

Harry pun menegaskan, tetap   menyesuaikan dan fokus terhadap penawaran   dalam rangka menyediakan inovasi produk dan layanan dengan kualitas terbaik dalam industri  yang akan meningkatkan nilai bagi pelanggan dan para stakeholder.

Sebelumnya,  XL   pada 2009 berhasil mencetak laba sebesar  1,7 triliun rupiah  atau naik dibandingkan pencapaian 2008 dimana  mengalami kerugian  15,109 miliar rupiah.

Peningkatan laba yang signifikan ini didukung oleh peningkatan pendapatan usaha perseroan sebesar 14 persen menjadi  13,9 triliun rupiah  sepanjang tahun 2009.

EBITDA perseroan juga mengalami peningkatan 21 persen menjadi  6,2 triliun rupiah dibandingkan pencapaian di 2008. Sedangkan pada tahun ini XL menargetkan   pertumbuhan pendapatan mencapai 15 persen atau diatas rata-rata industri dengan EBITDA margin sekitar 45 persen.

Sedangkan pemimpin pasar seluler nasional, Telkomsel, berhasil meraup pendapatan sebesar 40 triliun rupiah pada 2009 atau naik sekitar 10 persen dibanding perolehan tahun sebelumnya. Pada tahun ini perseroan menargetkan   pertumbuhan pendapatan sama dengan tahun lalu atau sebesar 10 persen.

Saat ini penguasa pasar seluler ada Telkomsel dengan 82 juta pelanggan, disusul Indosat (33,1 juta), dan XL (31,4 juta).[dni]